NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kehidupan di Pondok Terpencil.

Delapan tahun telah berlalu sejak malam kelam di lereng Gunung Lawu. Di sebuah ceruk tersembunyi di bagian barat hutan lereng gunung, berdiri sebuah pondok kayu kecil yang sederhana, hampir tertutup oleh rimbunnya pohon bambu. Di sinilah Erlang, yang kini telah tumbuh menjadi pemuda berusia lima belas tahun, menghabiskan hari-harinya bersama Ki Suro.

Pagi itu, asap tipis mengepul dari dapur pondok. Erlang sedang sibuk mengaduk bubur di atas tungku tanah liat, sementara dari bilik sebelah, terdengar suara batuk yang kering dan berat bersahut-sahutan.

"Uhuk! Uhuk! Erlang... apakah airnya sudah hangat, Nak?" panggil sebuah suara parau dari dalam bilik.

Erlang segera mematikan api tungku, memindahkan bubur ke mangkuk kayu, lalu melangkah cepat ke bilik Ki Suro sambil membawa sebaskom air hangat dan selembar kain blacu.

"Sudah, Paman. Ini air hangatnya. Buburnya juga sudah matang, agak encer sedikit supaya Paman lebih mudah menelannya," kata Erlang sambil meletakkan baskom di amben bambu, lalu membantu Ki Suro untuk duduk bersandar pada dinding.

Ki Suro menatap pemuda di depannya dengan pandangan sayu. Wajah pria tua itu pucat, garis-garis penuaan dan penyakit paru-paru yang dideritanya bertahun-tahun membuat tubuh kekarnya dulu kini tampak ringkih. "Terima kasih, Erlang. Merepotkanmu setiap pagi seperti ini. Harusnya di usiamu sekarang, kau sedang gagah-gagahnya bermain di luar."

Erlang tersenyum tipis, memeras kain hangat lalu menyeka wajah dan lengan paman gurunya dengan telaten. "Bicara apa toh, Paman? Siapa lagi yang merawat Paman kalau bukan aku? Paman sudah menyelamatkanku dulu, merawatku sampai sebesar ini. Ini belum seberapa."

"Uhuk! Iya, tapi pamanmu ini rasanya makin hari makin jadi beban saja. Tubuh ini sudah seperti kayu lapuk," keluh Ki Suro sambil menerima mangkuk bubur yang disodorkan Erlang.

"Jangan berkata begitu, Paman. Minum dulu ramuan jamunya setelah makan bubur ini, nanti siang pasti badannya agak enakan," sahut Erlang menenangkan.

"Jamu pahit itu lagi? Rasanya lidahku sudah mati rasa, Erlang," gurau Ki Suro dengan tawa lemah yang langsung dipotong oleh batuk kecil.

"Pahit itu tandanya obatnya manjur, Paman. Ayo, dihabiskan buburnya," desak Erlang ramah.

Sembari menunggu Ki Suro menyelesaikan makannya, Erlang merapikan pakaian-pakaian kering di pojok ruangan. Ki Suro memperhatikan gerak-gerik keponakan seperguruannya itu. Pemuda itu memiliki wajah yang rupawan, mewarisi ketampanan mendiang ayahnya, namun pembawaannya sangat polos dan rendah hati.

"Erlang, setelah ini, jangan lupa latihan silatmu di halaman," kata Ki Suro setelah meletakkan mangkuk kosongnya.

Erlang berbalik, dahinya agak berkerut. "Latihan jurus yang kemarin lagi, Paman? Jurus Tapak Angin SePOI dan Langkah Bambu Gurun?"

"Iya, kenapa? Kau bosan?" tanya Ki Suro sambil menaikkan alisnya.

Erlang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak sungkan. "Bukan bosan, Paman. Tapi... rasanya jurus-jurus itu biasa saja. Hanya memukul lurus, menangkis ke bawah, lalu melangkah ke kiri dan ke kanan. Waktu aku melihat pemburu desa sebelah tempo hari, gerakan mereka bahkan terlihat lebih cepat dan mantap daripada jurus yang Paman ajarkan."

Ki Suro tersenyum misterius, meskipun di dalam hatinya ada rasa perih. Ia tahu betul ilmu silat yang diajarkannya pada Erlang memang hanya ilmu silat kelas bawah, ilmu biasa yang didapatnya dari sisa-sisa pelajaran perguruan dulu, bukan ilmu tingkat tinggi. "Silat itu bukan soal terlihat hebat atau cepat di luar, Erlang. Yang penting adalah ketekunanmu. Lakukan saja seratus kali setiap gerakan pagi ini."

"Baiklah, Paman. Aku akan latihan di halaman sekarang. Kalau Paman butuh sesuatu, panggil saja aku ya," ujar Erlang patuh.

Erlang melangkah ke halaman pondok yang beralaskan tanah keras. Udara gunung yang dingin menusuk kulit, namun pemuda itu langsung mengambil kuda-kuda rendah. Ia mulai menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke depan dengan perlahan, lalu menariknya kembali. Gerakannya sangat standar, tidak ada hawa sakti yang menderu, tidak ada debu yang berterbangan. Benar-benar seperti latihan pemuda desa pada umumnya.

Satu... dua... tiga... Erlang menghitung dalam hati, mengulangi gerakan pukulan lurus dan tangkisan dasar itu berulang-ulang hingga keringat mulai membasahi pelipisnya.

Dari balik jendela bilik, Ki Suro memperhatikan dengan dada yang terasa sesak. Ia berbisik lirih pada dirinya sendiri, "Maafkan Paman, Erlang. Hanya ini ilmu biasa yang bisa kuajarkan padamu. Tubuhku yang ringkih ini tidak sanggup lagi menuntunmu lebih jauh, dan ilmuku memang tidak seberapa dibanding mendiang ayahmu."

Setelah menyelesaikan seratus hitungan, Erlang beristirahat di bawah pohon dewandaru dekat pondok. Ia mengatur napasnya yang agak memburu. Ia memandangi kedua telapak tangannya sendiri dengan perasaan bimbang.

“Kenapa rasanya hambar sekali ya? Setiap kali aku memukul, rasanya tidak ada tenaga yang tersalurkan dengan benar. Ah, mungkin memang aku yang kurang berbakat,” batin Erlang sambil menghela napas panjang.

"Erlang! Sini sebentar, Nak!" panggil Ki Suro dari dalam pondok. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa.

Erlang langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam gubuk. "Ada apa, Paman? Ada yang sakit?"

Ki Suro menggeleng, menunjuk ke arah gentong air di dapur yang sudah mulai kosong. "Air di dapur sudah hampir habis. Tolong ambilkan air ke sendang di bawah bukit sekarang, ya? Paman mendadak merasa sangat haus dan ingin membasuh kaki."

"Oh, siap, Paman. Aku ambil jeriken dulu," jawab Erlang cekatan. Ia mengambil dua buah jeriken bambu berukuran besar dan mengikatnya di bilah kayu untuk dipikul.

"Hati-hati di jalan, jangan melamun," pesan Ki Suro dari tempat tidurnya.

"Iya, Paman. Tidak lama kok, sendangnya kan dekat," sahut Erlang sambil melangkah keluar dari pondok dengan langkah yang ringan.

Keseharian seperti inilah yang dijalani Erlang selama bertahun-tahun. Menumbuk jamu, memasak bubur, menyeka tubuh paman gurunya yang sakit, lalu dilanjutkan dengan latihan gerak silat dasar yang terasa monoton di halaman. Bagi Erlang, kehidupan di pondok terpencil ini adalah dunianya yang sekarang. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut lebih, dan selalu menjalaninya dengan penuh rasa ikhlas demi merawat satu-satunya orang tua yang tersisa di hidupnya.

Erlang berjalan menyusuri jalan setapak di antara semak belukar menuju mata air, membawa serta kepolosan dan ketidaktahuannya tentang betapa luas dan kejamnya dunia persilatan di luar sana, yang suatu hari nanti harus ia hadapi.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!