"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
"Julian! Kak Vito! Bangun! Tolong!"
Greb!
Astra dalam tubuh Julian langsung terduduk tegak. Suara jeritan panik Yisla memutus keheningan pagi itu. Tanpa babibu, ia bangkit dan berlari ke ruang tengah bersamaan dengan Vito yang keluar dari kamarnya.
Di dekat tungku, Yisla sedang bersimpuh memeluk tubuh kecil rubah salju itu di dekapan dadanya. Air mata sudah membanjiri pipi gadis itu. Sementara tubuh si rubah tampak lunglai dan kaku.
"Kak Vito... Julian... rubahnya udah nggak bangun lagi," tangis Yisla pecah, sesenggukan parah. "Badannya dingin banget... semalam masih napas, tapi sekarang udah enggak..."
Vito menghela napas panjang, mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Sudah Kakak bilang dari semalam, Yisla. Lebih baik hewan ini dijual ke pasar. Kita bisa dapat tiga koin emas untuk stok makanan, dan dia tidak perlu mati sia-sia di gubuk ini."
"Tapi aku nggak mau dia dijual buat dipotong, Kak! Aku cuma mau dia hidup!" bantah Yisla di sela tangisnya, makin erat memeluk jasad kaku hewan malang tersebut.
Astra mematung, lidahnya terasa kelu. Sialan... Animus sama Anima nggak bohong. Rubah ini beneran mati karena aku nolak rute fantasi. Rasa bersalahnya langsung menggunung melihat air mata Yisla.
Julian melangkah maju, lalu berlutut di samping Yisla dan menyentuh pundaknya yang gemetaran.
"Yisla... sudah, ya? Jangan menangis lagi," bisik Julian lembut. "Kak Vito benar, tapi kamu juga gak salah karena udah berusaha ngerawat dia semalam. Sekarang... dia udah nggak kesakitan lagi."
Yisla mendongak dengan mata memerah, menatap Julian dengan tatapan yang tampak rapuh.
Julian memaksakan senyum tipis, lalu mengulurkan tangan mengambil alih tubuh kaku si rubah salju dari dekapan Yisla.
"Ayo... kita kuburkan dia dengan layak di belakang rumah."
...***...
Srek! Srek!
Julian mengayunkan sekop dengan sisa tenaganya, mencoba membelah lapisan tanah yang membeku di halaman belakang rumah. Napasnya memburu, mengeluarkan uap putih tebal di udara pagi yang menusuk.
Vito enggan ikut. Pria pragmatis itu memilih tinggal di dalam rumah untuk merapikan sisa barang dagangan, menganggap ritual ini hanya buang-buang energi yang tidak menghasilkan koin emas.
Yisla berdiri beberapa langkah di samping Julian, memeluk jasad si rubah yang sudah dibungkus kain rajut dengan pandangan kosong.
Julian berhenti sejenak, ia menancapkan sekopnya ke tanah lalu menyeka keringat dingin di dahinya. Ia menatap lubang galiannya, lalu beralih menatap wajah sembab Yisla yang tampak begitu terpukul.
Maaf ya, Yisla... mungkin ini emang yang terbaik buat kita semua, batin Astra menghela napas berat, mencoba meredam rasa bersalahnya sebagai seorang author.
Kalau aku terima rute fantasi demi nyelamatin rubah ini, taruhannya nyawa kita bertiga. Dunianya bakal berubah jadi tempat penyihir gila dan monster siluman yang saling bantai. Fisik Julian yang kerempeng begini jelas nggak bakal selamat. Maaf, aku terpaksa bunuh karakter rubah ini demi rute survival yang aman buat kita, Yisla.
Julian kembali memegang gagang sekopnya, lalu mendongak menatap Yisla dengan sorot mata sehangat mungkin.
"Yisla, lubangnya sudah siap. Sini, biar aku yang baringkan dia ke dalam."
Yisla melangkah maju dengan pelan. Tangannya yang gemetar perlahan menurunkan bungkusan kain rajut berisi rubah salju itu ke dalam uluran tangan Julian. Begitu berat jasad kaku itu berpindah, Julian bisa merasakan dingin yang menjalar, seolah-olah kematian hewan kecil itu sedang menghakimi keputusan-nya semalam.
Dengan ekstra hati-hati, Julian memosisikan tubuh si rubah di dasar lubang galian yang dikelilingi tanah berwarna hitam dan salju.
"Tidur yang tenang ya, Cung," bisik Astra teramat lirih dalam hati, memberikan salam perpisahan terakhir pada karakter figuran yang umurnya terpaksa ia pangkas demi keselamatan bersama.
Julian kembali meraih gagang sekopnya. Perlahan tapi pasti, ia menyekop tanah bercampur butiran salju, menimbun bungkusan kain itu sedikit demi sedikit sampai permukaannya rata kembali. Yisla hanya diam membisu, air matanya menetes satu-persatu, langsung membeku begitu menyentuh tanah dingin di bawah kakinya.
Setelah gundukan tanah itu selesai dirapikan, Julian menancapkan sekopnya ke samping. Ia membersihkan tangannya, lalu berdiri tegak tepat di hadapan Yisla.
"Sudah selesai, Yisla," ujar Julian lembut, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Yisla menatap gundukan tanah baru tersebut cukup lama, sebelum akhirnya ia mendongak menatap Julian. Kehampaan di matanya perlahan digantikan oleh seulas senyum yang teramat tipis—senyum yang dipaksakan agar tidak membuat cowok di depannya makin khawatir.
"Terima kasih banyak ya, Julian," bisik Yisla, suaranya parau. "Kalau nggak ada kamu yang membantuku... aku mungkin nggak akan sanggup menguburnya sendirian. Kak Vito pasti lebih memilih membuangnya ke hutan."
Mendengar ucapan tulus itu, dada Astra rasanya seperti ditusuk belati tak kasatmata. Aku sama sekali nggak berhak dapet ucapan terima kasih darimu, Yisla. Aku yang secara nggak langsung bikin dia mati... batinnya menjerit bersalah.
Wush.
Suhu udara mendadak bergeser turun secara abnormal untuk kesekian kalinya. Di atas dahan pohon ek yang meranggas di sudut halaman belakang, Duo Hemisphere kembali menampakkan wujudnya.
"Lihat itu, Author," cibir Animus dingin, melirik gundukan kuburan baru dengan pandangan datar tanpa simpati.
"Pengorbanan pertama demi rute survival yang kaudewakan. Selamat, setidaknya kepalamu masih aman dari incaran penyihir untuk bab-bab ke depannya."
"Tapi kasihan sekali Yisla, Sayangku~" timpal Anima, menatap Julian dengan senyum menggoda yang bercampur iba.
"Rute romansa kita jadi agak mendung pagi ini. Tapi tenang, setelah kesedihan ini, biasanya tokoh utama pria akan menjadi sandaran emosional bagi sang female lead. Ayo, hibur dia lagi!"
Julian buru-buru memalingkan muka dari arah pohon itu, ia tidak sudi meladeni godaan maupun sindiran dari dua hemisphere-nya yang hobi muncul tanpa diundang itu.
Ia memfokuskan kembali perhatiannya pada Yisla, meraba saku mantelnya dan merasakan tiga koin perunggu hasil "jarahan" dari lapak pasar kemarin masih tersimpan aman di sana. Tekadnya seketika membulat.
"Yisla," panggil Julian, membuat gadis itu menoleh. "Jangan sedih lagi, ya? Nanti... kalau keadaan sudah aman dan aku punya rezeki lebih, aku janji bakal belikan kamu pakaian baru yang paling bagus di pasar. Bagaimana?"
Yisla mengerp-erjapkan matanya yang masih sembab, tampak terkejut mendengar janji dadakan yang agak melompat jauh dari topik kuburan itu. Namun tak urung, pipinya sedikit bersemu merah muda karena perhatian Julian yang tak terduga.
"Kamu ini... ada-ada saja, Julian," sahut Yisla, kali ini senyumnya terasa sedikit lebih lepas dan hidup. "Uang dari mana? Jangan aneh-aneh ah. Ayo kita masuk, udara di luar makin dingin."
Julian terkekeh kaku sambil mengusap tengkuknya, menyembunyikan seringai puasnya dalam hati karena berhasil mengalihkan kesedihan Yisla.
Yes! Poin romansa pelan-pelan terkumpul, dan tiga koin perunggu kemarin akhirnya punya tujuan yang mulia! batin Astra bersorak di tengah duka pagi itu.