Nindy adalah siswi yang slalu bermasalah di sekolah dan Bryan adalah ketua OSIS yang tegas dari dari permasalahan yang selalu melibatkan keduanya di sekolah hingga perjodohan yang memaksa mereka bersama menumbuhkan benih cinta
tapi banyak masalah dan ujian yang harus mereka hadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ai laelasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 21
Di hari Minggu yang cerah Nindy sedang bermalas malasan
Nindy hanya terbaring di sofa dengan cemilan di atas perutnya
Bryan menggeleng melihat Nindy yang jadi malas semenjak hamil
" Gak baik yang tiduran Mulu, lari pagi ayo" ucap Bryan seraya membangunkan Nindy
" Lemes kalo suruh jalan, boboan aja yuk" jawab Nindy memeluk Bryan kembali berbaring
Bryan yang berada di atas Nindy karena di peluk erat oleh Nindy
"Ya udah aku mau pergi sendiri aja di sanakan banyak cewek yang bodynya uuhhh" ucap Bryan seraya bangkit
" Stooppppppp, kalo masih mau pergi aku gak mau ngomong sama kamu lagi" ucap Nindy dengan tangan bersila di dada dan memalingkan wajahnya
" Makanya ikut, ayo cepetan ganti baju" ujar Bryan
"Iya oke tunggu bentar" ujar Nindy masuk ke kamarnya
Nindy selesai berganti pakaian dia memakai legging sport dan atasan kaos agak kebesaran
dengan handuk kecil di leher dan rambut yang di cempol di atas
" Gak ada celana lain?" tanya Bryan
" Ini udah pas pake ini, emang kenapa? " ucap Nindy
" Ganti pake celana training aja itu terlalu seksi" jawab Bryan
"Arrrggghhhhh repot banget sih" ucap Nindy seraya berbalik
Kini Nindy sudah mengganti celananya dengan wajah yang cemberut menghampiri Bryan
" Ini baru bener, let's go" ucap Bryan menggandeng tangan Nindy
Nindy yang malas bukannya berlari tapi berjalan sangat pelan mengikuti Bryan yang agak jauh di depannya
tiba tiba ada seseorang yang menabrak bahunya
Nindy melirik orang tersebut dan orang itu pun melakukan hal yang sama
Nindy merasa heran dengan orang yang menabraknya
meskipun dia memakai Hoodie dengan upluk dan masker tapi Nindy bisa melihat tatapan matanya seolah menatap sinis membuat Nindy teringat sesuatu
" Gak, enggak please pergi pergiiiiiii" teriak Nindy menutupi telinganya dengan mata yang tertutup dan kepala menggeleng
Semua orang menatap aneh pada Nindy pasalnya dia berteriak sendiri
Bryan yang menyadari Nindy tidak ada di belakangnya kembali ke jalan tadi yang di laluinya
Bryan terkejut melihat Nindy yang histeris dengan orang orang di sekelilingnya
ada ibu ibu yang berusaha menenangkannya
Bryan segera berlari menghampiri Nindy
" Maaf semuanya jadi ngerepotin biar saya bawa dia pulang" ucap Bryan
" Iya nak kasian dia gak bisa di tenangkan" ucap ibu ibu itu lalu semuanya bubar kembali melanjutkan lari paginya
"Hey kamu kenapa? liat aku kamu aman ada aku disini" ucap Bryan membuka tangan Nindy dari telinganya
Bryan seakan sudah mengerti apa yang terjadi pada Nindy
sampai sekarang Bryan belum menemukan siapa yang selalu meneror Nindy
" Aku takuuuuutttt, dia.. dia.. ddia tadi ada disini" ucap Nindy lalu Bryan memeluknya
" Gak apa apa kita akan cari siapa dia sebenarnya, aku janji secepatnya orang itu akan di tangkap" ucap Bryan mengelus rambut Nindy
Nindy masih merasa takut dan lemas sampai dia pulang di gendong oleh Bryan
Meira yang melihat itu mengepalkan tangannya
dia sengaja memotret Nindy dan Bryan untuk kepentingannya
"Kayaknya kalo kasih sedikit percikan akan semakin seru" gumam Meira
Sampai sore Nindy masih enggan keluar dari apartemen dia hanya berbaring dengan hotpants dan tank topnya
" Cari makan yu?" ajak Bryan
" Gak deh pesan aja ya aku males keluar" jawab Nindy
" Aku pesenin nasi goreng di depan mau gak?" tanya Bryan
" Aku pa aja deh " ujar Nindy
Setelah kepergian Bryan tidak lama suara ketukan pintu membuat Nindy kesal
Nindy merasa Bryan selalu menjahilinya
lalu Nindy membuka pintu sembari marah marah
" Apa lagi sih? aku udah bilang beli apa aja aku makan kok" ucap Nindy tanpa melirik siapa yang ada di hadapannya
" Lo ngapain disini? pake baju kayak gitu lagi, mau goda Bryan ? " tanya Meira
" Ka..kkalian" ucap Nindy gugup melihat Meira dan Maria ada di apartemennya
"Dia itu sepupunya Bryan mungkin lagi main disini iya kan?" tanya Maria seraya memegang lengan Nindy
" I... iya, kak Maria juga udah taukan dari Bryan " ucap Nindy yang di angguki Maria
Belum cukup sampai disitu Meira mengambil ponselnya dan hendak memperlihatkan sebuah Poto pada Maria
" Ini Lo bisa liat sendiri, kalo mereka sodara apa mereka akan seintim itu?" tanya Meira?
"Dari mana Lo dapet Poto itu?" tanya Nindy
" Gue Poto sendirilah, dan Lo juga gak bisa ngelak lagi gue sodara tirinya Nindy jadi gue tau persis kalo Nindy gak punya hubungan sodara sama sekali sama Bryan " ucap Meira
semua Poto kemesraan Nindy dan Bryan ada disana
yang terakhir Poto Nindy mencium bibir Bryan di depan rumah sakit
dan Poto Nindy di gendong Bryan saat lari pagi
" Gue gak nyangka kalian bohongin gue" ucap Maria dengan mata yang sudah mengembun
"Gue bisa jelasin ini gak seperti yang Lo pikir, kalian udah lama putus dan.. dan gue pacaran sama Bryan udah lama " ucap Nindy
plakkk
Satu tamparan melayang di pipi Nindy
Nindy memegangi pipinya yang terasa perih
air matanya sudah menggenang, tidak ada Bryan Nindy tidak tau harus berbicara apa lagi
dengan kemarahan Maria dan Meira yang terus mengomporinya Nindy semakin tersudut
" Gue bisa jelasin, ayo kita cari Bryan biar dia yang jelasin sama Lo" ucap Nindy
" Gak perlu gue udah cukup tau, dan Lo cewek murahan sebaiknya Lo jauh jauh dari Bryan" ucap Maria
" Lo udah tamat Nindy, Lo mau maunya di jadiin selingkuhan gak punya malu" ucap Meira
" Lo juga udah tau kan Meira kalo gue pacaran sama Bryan udah lama, dan Bryan gak punya pacar lain selain gue" ucap Nindy
"Mana gue tau, gue aja gak yakin sama cerita Lo" ucap Meira
Karena sangat marah Maria menarik tangan Nindy ke luar apartemen
mendengar keributan tetangga apartemennya keluar untuk melihat
Maria mencengkram erat lengan Nindy, Nindy memegangi perutnya karena takut terjadi sesuatu pada kandungannya
Maria menyeret tangan Nindy untuk pergi saat Maria membuang tangan Nindy kasar
Nindy yang tidak siap pun hampir jatuh tapi untunglah Bryan segera datang menangkap tubuh Nindy
Nindy memegangi perutnya yang keram seraya menggigit bibir bawahnya
Bryan yang melihat itu panik dan langsung menggendong Nindy menuju kamarnya
Maria dan Meira tertegun melihat Bryan yang terlihat panik melihat Nindy
mereka ikut masuk mengikuti kemana Bryan pergi
" gak apa apa kan sayang?" tanya Bryan
" tunggu aku ambil air hangat " lanjutnya lalu pergi ke dapur
" sebenarnya apa yang terjadi sama Lo sampe Bryan panik gitu?" tanya Meira tapi Nindy todak menjawab
Bryan kembali membawa air hangat dan handuk kecil
Bryan meletakkan handuk hangat itu ke perut Nindy
"Lo liat itu Maria? perutnya seperti membesar akhir akhir ini, apa mungkin dia hamil?" bisik Meira pada Maria
" Lo sama Nindy tinggal bareng?" tanya Meira
" Bukan urusan Lo, sekarang kalian pergi atau gue harus seret kalian" ucap Bryan dengan nada marah
" Ta.. tttaapi sayang, bukannya dia sodara Lo ?" tanya Maria terbata bata melihat kemarahan Bryan
"Siapa pun dia gak ada urusan sama Lo, dan inget satu hal kita udah lama putus kalo bukan karena Lo hilang ingatan gue muak berdekatan sama Lo" ucap Bryan
Ucapan Bryan bak panah yang menusuk jantung Maria
dia luruh di lantai dengan air mata yang berderai
sementara Meira mematung di tempat karena yang terjadi malah lebih buruk dari rencananya
" Lo jahat Bryan gara gara wanita sialan ini Lo udah buang gue, Lo bohong kan soal hubungan kita? Ki.. kkita masih pacaran kan? " tanya Maria
Bryan hanya diam dan Nindy ketakutan jika kehamilannya dan hubungannya dengan Bryan di ketahui oleh mereka
Nindy hanya diam memainkan kuku jemarinya
" Dan Lo, pasti Lo udah goda Bryan kan? supaya dia mau nidurin Lo terus dia tanggung jawab iya kan?" tanya Maria berapi api
" Atau Lo malah rela hamil di luar nikah supaya dapet anak orang kaya iya??" lanjut Maria mencengkram erat tangan Nindy
Nindy yang meringis kesakitan berusaha melepaskan tangannya
Bryan yang geram melepaskan paksa tangan Maria dari Nindy lalu mendorongnya hingga terjatuh
" Jangan Lo berani sentuh Nindy, sampe sehelai rambutnya jatuh gara gara lo gue gak akan tinggal diem" ucap Bryan
Lalu Bryan menarik tangan Maria sampai berdiri dan menarik paksa tangan Maria dan Meira mendorongnya keluar dari apartemen
sebelum pergi Bryan kembali membalikkan tubuhnya menatap mereka satu persatu
"Jangan pernah ganggu gue sama Nindy, dan jangan pernah sakitin dia atau Lo berdua akan tau akibatnya" ucap Bryan seraya menunjuk mereka lalu membanting pintu dengan keras
"Arrrrrrrggghhhhh.... Nindy brengsek dasar ****** gue akan bikin perhitungan sama Lo" teriak Maria lalu pergi dari sana
Meira tersenyum senang dia merasa menang bisa menyalakan api permusuhan di antara Maria dan Nindy
sekarang dia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menghancurkan Nindy
" Sayang kamu gak apa apa kan?" tanya Bryan yang duduk di sebelah Nindy
" Gak apa apa aku cuma kaget mereka kesini dengan penampilan aku yang seperti ini" ucap Nindy
" Aku takut mereka menyebar gosip yang bukan bukan di sekolah" lanjut Nindy dengan wajah murung
"Kalo mereka bilang yang macem macem kita jujur ya" ucap Bryan seraya merapikan anak rambut Nindy ketelinganya
" Tapi gimana sekolah aku? sekarang aku gak bisa main ketemu sama temen temen aku gara gara kamu larang larang, masa gak bisa ketemu di sekolah lagi?" ucap Nindy menyeka air matanya
" Ya.. ya mereka kan bisa main kesini kapanpun, mereka bisa nemenin kamu aku izinin kok" ucap Bryan
" Tapi aku masih mau main sama mereka, kamu aja bisa keluyuran tapi aku gak bisa kemana mana" ujar Nindy
" Jadi kamu maunya gimana?" tanya Bryan
" Kamu bolehin aku main keluar sama temenku tanpa kamu, aku mau kamu kasih aku waktu buat main sebelum perut aku makin gede" ucap Nindy
"Oke oke tapi harus inget waktu jangan kelamaan main, dan harus izin dulu, jangan main sama cowok lain dan harus selalu komunikasi" ujar Bryan
Nindy hanya melongo dengan syarat yang di ajukan Bryan
lalu Nindy memeluk Bryan dengan erat tapi Bryan berusaha menjauhkan tubuhnya
membuat Nindy kesal
" Kamu udah gak mau aku peluk?" tanya Nindy marah marah
" Bukan gitu sayang aku takut baby kejepit kalo peluknya kenceng gitu" ucap Bryan membuat Nindy tersenyum
" Sekarang jangan pikirin apa apa lagi, ayo makan baby butuh nutrisi biar cepetan gede" ucap Bryan lalu mencium bibir Nindy sekilas
Di tempat lain Meira masih mengekor pada Maria yang sedang marah marah
Meira seperti menyiramkan bensin pada api yang berkobar
dia selalu mengompori maria
"Gue juga gak suka sama si Nindy dan gengnya itu, mereka suka kecentilan'' ucap Meira
"Gue gak terima Bryan sama wanita j*l*ng itu, gue bakal lakuin apa pun buat nyingkirin si j*l*ng itu dari hidup Bryan " ucap Maria dengan senyum jahatnya
Meira merinding melihat kemarahan Maria
dia memang suka menjahati Nindy tapi tidak sampai berniat membunuh hanya melakukan kejahatan kecil
" jangan jangan ni orang psycopath lagi, duh gimana nih" gumam Meira dalam hati seraya menggigiti kukunya
" Lo harus bantu gue, kalo enggak Lo juga bakal bernasib sama kayak Nindy " ancam Maria membuat Meira gelagapan
" I... Iyya gue bantuin" ucap Meira
malam semakin larut tapi tidak membuat dua orang ini memejamkan matanya
mereka masih membicarakan tentang rencana untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan
" pah pokoknya kita harus segera minta harta Gono gini dari si Dessy itu" ucap Tamara
" sabar dulu mah rumah itu milik Dessy dari orang tuanya, sementara usahanya juga di bangun oleh orang tua nya" ucap suaminya
ya itu adalah Tamara dan suaminya yang ingin harta ibu Dessy setelah bisnisnya mengalami kebangkrutan
mereka ingin sebagian harta ibu Dessy yang sebenarnya itu peninggalan orang tua ibu Dessy itu sendiri
" Kalo papa gak bisa biar mama aja, papa gak bisa di andelin" ujar Tamara berbaring membelakangi suaminya
"Baiklah besok aku akan pergi kesana" ucap suaminya lalu Tamara berbalik dan memeluknya
Kunjungi juga cerita othor yang lain 😍😍
seru ceritanya.
dan tak favorit juga.