NovelToon NovelToon
Sistem Keuntungan Usaha

Sistem Keuntungan Usaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.

Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.

Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Pak Bima pusing

Di luar jendela, pemilik botol minum itu langsung melotot panik. "Itu punyaku!!!"

​Tanpa peduli, Arga melemparkan botol minum itu sekuat tenaga ke arah muka Hendra dan Devan. Kedua senior itu refleks melotot dan bergerak menghindar.

​Momen teralihkan itu dimanfaatkan Arga sepenuhnya. Ia menyambar sebuah kursi kosong di dekatnya dan melemparkannya tepat ke arah Devan dan Hendra.

​Brak!

​"C-curang banget, bangke!" umpat Devan yang terkena dorongan kursi.

​"Banyak omong!" balas Arga tajam.

​Arga merangsek maju sebelum Devan sempat memulihkan posisinya. Ia melayangkan kombinasi pukulan bertubi-tubi tepat ke wajah Devan.

​Bugh! Bugh!

​"Rasakan ini, sialan! Gak bisa apa kalian diam dan biarkan aku hidup damai?!" teriak Arga melampiaskan seluruh rasa frustrasinya.

​Melihat Devan dipukuli, Hendra tidak tinggal diam. Ia menyerang Arga dari belakang, menghantam punggung dan kepala Arga tanpa ampun.

​Pertarungan itu berjalan brutal tanpa aturan. Arga yang menahan rasa sakit di punggungnya memutar badan, lalu dengan cepat mengunci leher Devan menggunakan pitingan lengan yang sangat kuat.

​Devan meronta-ronta hebat. Matanya mendelik dan ia mulai kesulitan bernapas karena pasokan oksigennya terhenti.

​Hendra yang melihat kondisi Devan mulai membiru panik setengah mati. "Lepaskan kakakmu, goblok! Dia bisa mati!"

​"Akh! Berisik!" bentak Arga makin memperketat kunciannya.

​Hanya dalam beberapa detik, tubuh Devan melemas dan akhirnya pingsan tidak berdaya di atas lantai.

​Arga melepaskan kuncian itu dan berdiri dengan napas terengah-engah. Meskipun wajah dan tubuhnya dipenuhi memar, Arga menatap Hendra dengan pandangan tajam. Kini, tersisa satu lawan satu.

​Namun, sebelum mereka kembali bertabrakan, pintu kelas mendadak didobrak dan dibuka dengan sangat keras dari luar.

​BRAK!

​"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! BIKIN KERIBUTAN TERUS DI SEKOLAH!" teriak suara tegas seorang guru yang berdiri di ambang pintu dengan wajah murka.

​Pak Bima berdiri tegak di ambang pintu kelas dengan napas memburu dan wajah merah padam menahan murka.

Arga dan Hendra mendadak menghentikan gerakan mereka, lalu perlahan menoleh menatap sang guru bimbingan konseling tersebut.

​Para murid yang berkerumun di luar jendela menelan ludah. Beberapa di antara mereka merasa tontonan ini semakin seru, sementara yang lainnya mulai panik takut ikut terseret masalah.

​Hendra berdecak sebal sambil melirik kerumunan murid yang semakin ramai. "Sialan, beraninya ada yang melapor," gerutunya pelan.

​Pak Bima melangkah masuk ke dalam kelas. Raut wajahnya tampak sangat lelah, lelah menghadapi tiga murid bermasalah yang seolah tidak pernah kehabisan cara untuk membuat keributan di sekolah.

​"Kalian bertiga, ikut saya ke ruang BK sekarang juga! Kalian benar-benar harus diberi hukuman berat kali ini!" tegas Pak Bima dengan suara berat menggelegar.

​Arga berdiri dari posisinya, menepuk-nepuk seragamnya yang kusut, lalu memasang kembali dasinya dengan santai. "Salahkan dua orang ini, Pak. Mereka duluan yang ganggu saya terus dari tadi."

​"Arga! Diam kamu!" bentak Pak Bima.

​"Oke..." sahut Arga pendek sambil mengangkat kedua tangannya.

​Pandangan Pak Bima kemudian beralih mengedari ruangan kelas 2-B.

Kondisinya benar-benar berantakan bagai dihantam angin puting beliung, meja-meja bergeser berantakan dan beberapa kursi kayu tampak mengalami kerusakan akibat terbentur.

​"Sebelum pergi ke ruang BK, bereskan kelas ini sampai rapi seperti semula!" perintah Pak Bima menunjuk meja dan kursi yang berserakan.

​Hendra memasang wajah malas dan bersedekap dada. "Halah, Pak. Nanti orang tua saya bisa sewa orang buat membereskan ini semua. Saya malas."

​"Tidak ada alasan! Berani bertindak, berani bertanggung jawab!" balas Pak Bima tak mau dibantah.

​Sebelum Hendra sempat membalas lagi, Arga dari belakang langsung menarik kasar kerah bagian belakang seragam Hendra hingga cowok itu tersedak.

​"Kerjakan saja, bego! Ini semua kan gara-gara kamu yang duluan cari masalah!" bisik Arga tajam di telinganya.

​"Akh! Lepasin, bangsat...!" Hendra memegangi lehernya yang tercekik sambil memelototi Arga.

​Mau tidak mau, mereka berdua akhirnya mulai membereskan kelas yang berantakan itu.

Selama 15 menit, proses pembersihan diwarnai pertengkaran dan adu mulut yang tidak ada habiskannya.

Hendra yang sedang menggeser meja mendadak menghentikan gerakannya, menatap Devan yang masih tergeletak pingsan di atas lantai.

​"Enak banget nih anak malah enakan tiduran. Gak bantuin apa-apa," gerutu Hendra iri.

​Pak Bima yang berdiri di dekat pintu sambil memijat pelipisnya menggelengkan kepala frustrasi. 'Ya ampun, kenapa bisa ada murid-murid seperti mereka di sekolah ini? Tiap kali ketemu pasti bikin ulah,' batin sang guru lelah.

​Setelah kelas kembali rapi, Arga dan Hendra dihampiri Pak Bima untuk membawa Devan.

​"Ayo gotong kakakmu itu! Gotong yang benar, kalau dia jatuh bagaimana?!" omel Hendra saat mereka berdua memegang tangan dan kaki Devan.

​Arga yang memegang bagian atas tubuh Devan sengaja melepaskan cengkeramannya begitu saja.

​Thump!

​"Ups, lepas. Gimana dong?" ucap Arga dengan wajah polos tanpa rasa bersalah.

​Hendra yang jengkel melihat kelakuan Arga ikut-ikutan melepaskan pegangannya pada kaki Devan. Tubuh Devan langsung terhempas ke lantai keras, membuat kepalanya membentur lantai hingga membentol.

​"Aduh!"

​Devan mendadak tersadar dari pingsannya akibat rasa sakit di kepala. Ia duduk sambil memegangi kepalanya yang benjol, meringis saat merasakan seluruh otot tubuhnya terasa remuk dan pegal.

​Pak Bima melotot menyaksikan kelakuan dua murid di depannya. "Arga! Hendra! Devan! Cepat jalan ke ruang BK!"

​Arga dan Hendra yang sedang saling tarik-tarikan seragam langsung menoleh ke arah Pak Bima, lalu saling dorong satu sama lain.

​"Gara-gara orang ini nih, Pak!" tuduh Arga menunjuk Hendra.

​"Si Arga biang kerok aslinya, Pak!" balas Hendra tidak mau kalah.

​"Berisik kalian bocah-bocah nakal! Ikut saya sekarang dengan tenang, atau saya tambahkan hukuman kalian dua kali lipat!" potong Pak Bima tegas, melangkah duluan memimpin jalan menuju ruang BK.

1
Raka Ar
sempurna 🌟
Sistem one: Terima kasih banyak😍😍😍👍pantengin terus kak
total 1 replies
Jujun Adnin
lemah
GHEAN RAKHENZA
g seru
Sistem one: Thank you kak👍
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Jujun Adnin
uang nya di buang terus
Sistem one: hehe, nanti di tabung kak/Smile/🙏
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Sistem one: siapp kak🙏
total 1 replies
Jujun Adnin
lagi
Jujun Adnin
ok
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣ngadepin orang kayak mereka emang harus licik🤣🤣🤣🤣
Wega Luna: mantap👍
total 2 replies
Jujun Adnin
up yang banyak
Jujun Adnin
lanjut
Zzzz: 🥳/Coffee/
total 1 replies
Gege
yoklaah Arga... putar balikkan keadaan dengan sistem milikmuuh..🤣🤭 cari Luna di laut siapa tau bikin restoran lagi..😄🤭
Sistem one: gak ada si dugong Luna di sini wkwk😂
total 1 replies
Gege
ada duyungnya engga ini Thor.. itu duyung belom di temukan lagi kah Thor..
Sistem one: sudah tamat kok yang duyung wkwk. sudah ketemu lagi di Bab bonus.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!