NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Suara erangan dari arah belakang berubah menjadi pekikan melengking, memekakkan telinga. Angin kencang mendadak dari arah pemakaman tua, hingga bertabrakan satu sama lain. Bau belerang dan amis darah membuncah di udara, bercampur dengan aroma tanah basah.

"Anya, tahan! Jangan pasrah!" jerit Bu Mimi. Dengan cekatan, ia berlutut di hadapan Anya. Tanpa ragu, ia memukul dada Anya pelan dengan telapak tangan yang dilapisi sisa belerang dan ramuan kunyit.

"BISMILLAH!" Suara Bu Mimi nyaring.

CTAK!

Anya batuk hebat. Dari mulutnya keluar cairan hitam pekat, berbau busuk meresap ke tanah lumpur. Cengkeraman tak kasat mata di lehernya mendadak mengendur, menyisakan rasa panas seperti terbakar. Urat-urat hitam di lehernya berhenti menjalar, meski warnanya masih pekat menakutkan.

"Tio! Wulan! Bantu papah Anya! Tari, pegang Serra!" perintah Bu Mimi cepat, matanya melirik liar ke arah pepohonan kamboja.

Di antara batu nisan tua, kabut kelabu menyeberangi jalan setapak dan menyatu dengan bayangan kamboja. Dari balik kabut yang makin menebal, tampak sesosok bayangan tinggi meliuk-liuk, menyerupai manusia dengan jemari memanjang hingga menyentuh tanah, bergerak merayap melintasi pematang.

"Jalan! Jangan ada yang berhenti! Tinggal sedikit lagi!" teriak Bu Mimi sambil terus menaburkan sisa-sisa belerang dan garam ke pematang sawah. Setiap kali butiran itu menyentuh tanah, timbul letupan kecil berdesis yang menahan gerak sosok bayangan tersebut selama beberapa detik.

Tio dan Wulan merangkul bahu Anya yang terkulai lelah, sementara Tari menuntun Serra. Mereka menerobos sisa-sisa ilalang di ujung pematang dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Lantunan ayat suci dari arah rumah bertingkat itu kian terdengar jelas, menggema bagaikan benteng pelindung:

Begitu kaki Bu Mimi memijak halaman tanah keras di area pemukiman desa, bayangan hitam yang mengejar mereka mendadak berhenti tepat di batas pematang sawah. Makhluk itu merongrong gusar, tetapi tak mampu menembus garis gaib tak kasat mata yang membentang dari arah rumah kayu bertingkat di hadapan mereka.

Pintu depan rumah kayu itu terbuka lebar. Seorang pria paruh baya berpeci hitam dan bersarung hijau melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Di tangannya, ia memegang sebotol air jernih.

"Bu Mimi! Cepat bawa anak-anak naik ke teras!" panggil Ustadz Haris dengan suara tenang namun tegas.

Tio dan Tari setengah menyeret Anya dan Serra menaiki tangga kayu rumah. Begitu mereka semua menapakkan kaki di atas papan teras, Anya dan Serra ambruk bersimpuh. Suara erangan dari arah pematang sawah perlahan menyusut, berganti dengan desir angin.

Hening. menyisakan deru napas mereka yang memburu dan lega yang tertahan. Ustadz Haris mendekat, melirik lebam hitam di leher Anya, dan luka goresan di pipi Serra. Wajahnya mengeras penuh keprihatinan.

"Terlambat sedikit saja, 'jangkar' itu akan merobek sukma mereka dari dalam," ujar Ustadz Haris pelan.

Ia menyiramkan sedikit air jernih ke telapak tangannya, lalu mengusap dahi Anya dan Serra secara bergantian. Rasa dingin merayap di tengkuk Anya, digantikan rasa hangat. menenangkan. Urat-urat hitam di lehernya perlahan memudar. Meninggalkan bekas lebam biasa.

Anya menyandarkan kepalanya di tiang kayu rumah, matanya terpejam rapat. Di sisinya, Serra menangis sesenggukan. Bukan karna rasa sakit, tapi karna sadar. Mereka baru saja lolos dari maut.

Ustadz Haris berlutut di dekat mereka, lalu menyerahkan cangkir berisi air doa yang masih mengepulkan uap tipis. "Minum ini! Habiskan," instruksinya lembut.

Anya meraih cangkir dengan tangan gemetar. Begitu tegukan pertama membasahi tenggorokannya yang terasa kering, rasa hangat mengalir cepat hingga ke ujung dada. Serra yang duduk di sampingnya juga menenggak air hingga habis.

Di sudut teras, Tio, Tari, dan Wulan bersandar pada dinding kayu. Napas mereka mulai teratur, meski mata mereka masih menatap liar ke arah pematang sawah di bawah sana.

Di batas pematang, kabut keabu-abuan itu tidak sepenuhnya hilang. Kabut itu hanya bergulung pasif, membentuk gumpalan pekat di bawah naungan pohon kamboja tua. seperti predator yang bersembunyi mencari mangsa.

"Apa...makhluk itu sudah pergi, Ustadz?" tanya Tio dengan suara serak, menyapu keringat dingin di dahinya.

Ustadz Haris berdiri, matanya menatap lurus ke arah gumpalan kabut di kejauhan. Wajahnya tampak serius.

"Belum," jawab Ustadz Haris tenang namun sarat peringatan. "Makhluk itu tidak pergi. Ia hanya menunggu. 'Jangkar' yang dipasang di leher Anya dan pipi Serra memang sudah dilemahkan, tapi ikatan gaibnya belum sepenuhnya terputus. Tempat ini hanya menahannya agar tidak mendekat selama matahari masih melintasi puncak kepala."

Bu Mimi menghembuskan napas panjang, mendudukkan dirinya di amben kayu teras sambil memijat betisnya yang pegal. "Racikan belerang dan garam saya sudah habis, Ustadz. Kalau bukan karena pertolongan Gusti Allah dan doa dari rumah ini, kami sudah diseret ke pemakaman tua tadi."

"Ibu sudah berusaha sangat baik membawa mereka sampai ke sini," puji Ustadz Haris tulus. Ia kemudian menoleh ke arah Anya dan Serra. "Perjalanan kalian belum selesai. mahkluk itu masih mengincar kalian."

Anya tersentak. Kepalanya mendongak menatap Ustadz Haris."Tapi kenapa dia mengincar kami ustadz."

Sebelum Ustadz Haris sempat jawab, suara gelegar guntur mendadak memecah langit siang yang cerah. Dari arah timur, awan hitam pekat merayap sangat cepat memakan warna biru langit....menuju tepat ke atas rumah bertingkat.

Hawa dingin sempat hilang kini merayap kembali, merengkuh tengkuk mereka satu per satu.

Ustadz Haris menutup mata sejenak, ia menghembuskan napas berat. "Masuklah ke dalam rumah. Bersihkan diri kalian. Kita harus memutus ikatan 'jangkar' itu sebelum kegelapan buatan ini menutup cahaya matahari sepenuhnya."

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!