Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu
Sore harinya, area taman dalam griya tawang yang dipenuhi dengan tanaman hias eksotis dan sebuah kolam ikan koi besar telah disulap menjadi area pemotretan semi-formal. Tim dari majalah Elite Society telah tiba, dipimpin oleh seorang jurnalis wanita senior bernama Renata dan seorang fotografer muda berwajah tampan bernama Kevin.
"Tuan Adrian, Nyonya Alya... terima kasih banyak atas kesempatan luar biasa ini," sapa Renata dengan senyum lebar penuh rasa hormat saat mereka berkumpul di sofa rotan taman.
Adrian hanya mengangguk formal, wajahnya memasang ekspresi ramah tamah khas seorang pebisnis papan atas di hadapan media. Sementara Alya tersenyum manis, memposisikan dirinya duduk di sebelah Adrian dengan tangan kiri yang sengaja ia letakkan di atas paha Adrian—menampilkan cincin berlian kontrak mereka agar terekam dengan jelas oleh mata kamera.
Leon dan Lulu, yang kondisinya sudah jauh lebih baik setelah beristirahat seharian, tampak duduk di antara mereka. Kehadiran Alya di samping mereka membuat kedua bocah itu tampak sangat tenang dan ceria, sesekali mereka bercanda dan tertawa sambil memegangi jemari Alya.
"Luar biasa... interaksi kalian berdua sangat alami," puji Kevin, sang fotografer muda, dari balik lensa kameranya. Ia berkali-kali menekan tombol rana, menangkap setiap momen kedekatan Alya dan anak-anak.
Namun, di tengah-tengah sesi pemotretan, Kevin tiba-tiba menurunkan kameranya. Ia menatap Alya dengan dahi berkerut, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu yang sangat penting.
"Maaf... Nyonya Alya," panggil Kevin ragu-ragu, membuat semua orang di area taman menoleh ke arahnya. "Apakah... apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah Anda terasa sangat akrab di ingatan saya."
Mendengar pertanyaan Kevin, jantung Alya mendadak berdesir aneh. Ia menatap wajah Kevin lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah ia mengenal pria ini di masa lalunya yang sederhana sebagai seorang pekerja paruh waktu di berbagai tempat. "Maaf, Mas Kevin. Sepertinya tidak. Saya belum pernah bertemu dengan Anda sebelumnya."
Kevin menggelengkan kepalanya kecil, masih tampak tidak puas dengan jawaban Alya. "Aneh sekali... saya merasa pernah mengambil foto Anda di suatu tempat beberapa tahun lalu. Di sebuah acara pameran seni atau... ah, sudahlah, mungkin saya hanya salah orang."
Meskipun Kevin menganggap itu hanya salah orang, atmosfer di sekitar Adrian mendadak berubah drastis. Sepasang mata elang sang CEO langsung menyipit tajam, menatap Kevin dengan pandangan menilai yang penuh dengan kecurigaan dan aura dingin yang mengancam. Pria itu menaruh perhatian penuh pada kalimat Kevin tadi.
Adrian mempererat rangkulannya di pinggang Alya, menarik tubuh wanita itu lebih dekat ke dadanya dengan posesif yang berlebihan hingga Alya bisa merasakan ketegangan di otot-otot lengan Adrian.
"Kevin," panggil Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, sanggup membuat senyum di wajah Kevin memudar seketika. "Fokuslah pada pekerjaanmu. Kami tidak memiliki banyak waktu untuk membahas nostalgia yang salah alamat."
Kevin menelan ludah dengan gugup, merasakan intimidasi luar biasa yang dipancarkan oleh sang penguasa Vasillo Group. "M-maaf, Tuan Adrian. Mari kita lanjutkan sesi fotonya."
Alya melirik Adrian dari samping, merasakan ketegangan yang luar biasa dari tubuh suaminya. Mengapa Adrian bereaksi se-sensitif itu hanya karena pertanyaan sederhana dari seorang fotografer? Apakah ada hal lain yang ditakutkan oleh pria ini selain bocornya kontrak pernikahan mereka?
Sesi foto sore itu akhirnya selesai dengan hasil yang memuaskan bagi tim majalah, namun menyisakan misteri baru yang menggantung di udara. Setelah semua kru media berpamitan dan pulang, area taman kembali menyisakan keheningan yang tegang antara Adrian dan Alya, sementara anak-anak sudah dibawa masuk oleh Bik Sum untuk bersiap makan malam.
Alya melepaskan tangan Adrian dari pinggangnya, lalu berdiri menghadap pria itu dengan melipat tangan di dada. "Mengapa Anda bersikap sekasar itu pada fotografer tadi, Adrian? Dia hanya bertanya hal yang wajar."
Adrian bangkit berdiri dari sofa rotan, menatap Alya dengan pandangan mata yang sedingin malam kutub. Ia melangkah mendekati Alya, mengunci tubuh wanita itu di antara dirinya dan pagar pembatas taman.
"Dengar, Alya," bisik Adrian dengan nada yang penuh dengan ancaman tersirat. "Setiap orang yang mendekatimu atau mencoba menggali masa lalumu adalah ancaman bagi kontrak kita. Aku tidak peduli apakah fotografer itu benar-benar mengenalmu atau tidak. Tugasmu hanyalah memastikan bahwa tidak ada satu pun benang merah masa lalumu yang bisa ditarik oleh media untuk menghancurkan apa yang sudah kita bangun di rumah ini."
Alya menatap lurus ke dalam mata Adrian, menolak untuk mundur meski aura pria itu begitu menekan. "Masa lalu saya bersih, Adrian. Saya hanya seorang wanita sederhana yang berjuang demi ibunya. Jika ada yang perlu ditakutkan tentang masa lalu... tampaknya itu adalah masa lalu Anda sendiri dengan 'wanita itu', bukan saya."
Jawaban berani Alya sukses membuat rahang Adrian kembali mengeras. Untuk beberapa detik yang menegangkan, keduanya saling mengunci pandangan dalam keheningan yang sarat akan percikan emosi yang meledak-ledak.