NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Rencana di Balik Senyum

Suasana kelas terasa ramai begitu bel istirahat berbunyi. Beberapa siswa bergegas keluar menuju kantin, sebagian lainnya memilih tetap di dalam kelas sambil berbincang dengan teman sebangkunya. Rara dan Aisyah baru saja hendak beranjak dari tempat duduk mereka, ketika mata Rara tanpa sengaja menangkap sosok Laras yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju bangku di sudut ruangan.

Di sana duduk Citra, siswi yang sejak awal masuk sekolah sudah terlihat akrab dengan Laras. Laras menepuk bahu Citra dengan antusias, lalu duduk di bangku kosong di depannya, mencondongkan tubuh seolah ingin berbisik rahasia besar. Rara yang masih berdiri di dekat mejanya, tak sengaja mendengar percakapan mereka.

"Ra, tunggu sebentar ya," ucap Rara pelan pada Aisyah. "Aku mau lihat sebentar mereka mau ngobrolin apa."

Aisyah mengangguk pelan, lalu ikut berdiri di samping Rara sambil pura-pura merapikan buku di atas meja.

"Cit, gue mau ngomong sesuatu sama lo," buka Laras dengan nada berbisik namun penuh semangat. Matanya melirik sekilas ke arah bangku tengah tempat Dimas sedang duduk bersama Arga dan Bima, lalu kembali menatap Citra dengan senyum penuh harap. "Lo tahu kan siapa Dimas? Cowok yang ganteng itu, duduk di sana."

Citra mengangguk pelan sambil mengikuti arah pandangan Laras. "Tahu lah, siapa yang nggak kenal Dimas. Dia memang paling menonjol di kelas kita. Kenapa emangnya?"

Laras tersenyum malu-malu, pipinya sedikit merona. "Jujur ya Cit... gue naksir berat sama dia. Dari hari pertama masuk sekolah gue sudah perhatiin dia. Dia nggak cuma ganteng lho, tapi kelihatan cerdas, sopan, dan pasti punya masa depan yang cerah. Gue yakin banget dia punya potensi besar buat jadi orang sukses nanti. Pas banget kalau dia sama gue."

Citra terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu. "Wah, percaya dirinya tinggi sekali ya lo. Tapi memang benar sih, Dimas itu tipe idaman banyak cewek di sini."

"Nah makanya itu!" Laras menepuk pelan tangan Citra. "Itulah kenapa gue butuh bantuan lo. Lo kan kenal banyak orang, pasti lebih gampang buat lo ngomong sama dia. Tolong ya Cit, bantu gue minta nomor HP Dimas. Bilang aja buat keperluan tugas kelompok atau PR, biar terlihat wajar dan nggak mencurigakan. Jadi kalau ada tugas atau pekerjaan rumah, kita bisa saling kirim materi dan diskusi lewat HP. Pasti dia nggak akan menolak alasan sebaik itu kan?"

Citra menatap Laras ragu sejenak. "Boleh saja sih aku bantu... tapi kamu yakin nggak apa-apa? Biasanya cowok kalau tahu ada yang sengaja minta nomornya karena naksir, kadang malah jadi risih lho."

"Ah enggak kok!" potong Laras cepat dengan wajah yakin. "Lo kan bilang aja itu buat keperluan pelajaran, urusan tugas. Lagian gue kan cuma minta nomornya aja dulu, nanti sisanya aku yang usahain sendiri. Pasti berhasil deh!"

Dari kejauhan, Rara mendengar semua percakapan itu dengan perasaan yang tidak enak. Ia mengerutkan kening, matanya menatap tajam ke arah Laras. Hatinya rasanya panas melihat tingkah perempuan itu.

"Kamu lihat nggak, Aisyah?" bisik Rara dengan nada kesal. "Kemarin saja dia baru saja berbuat seenaknya, menyuruh teman lain pindah tempat duduk dan bersikap seolah dia yang paling berkuasa di sini. Belum seminggu, kok sekarang sudah centil-centil mendekati Dimas? Padahal belum lama ini dia memberikan kesan yang sangat buruk buat semua orang."

Aisyah menghela napas pelan, lalu menatap Laras dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sabar ya, Rara. Itu kan urusan perasaan orang lain, kita nggak bisa melarang siapa saja yang mau menyukai siapa. Tapi memang cara yang dipakai Laras itu agak kurang tepat sih. Seharusnya dia mulai dari sikapnya dulu, baru kemudian mendekati orang lain dengan tulus."

"Tapi kan caranya nggak gitu juga!" Rara masih belum bisa menahan kekesalannya. "Dia mau pakai alasan tugas dan PR cuma biar bisa dapat nomor HP? Itu kan bohong namanya. Padahal dia sendiri yang kemarin malah menyepelekan aturan sekolah dan menyusahkan orang lain. Kok sekarang tiba-tiba seolah-olah dia rajin belajar dan butuh bantuan pelajaran? Rasanya nggak pas banget lihatnya."

Sambil terus berbisik, Rara tidak mengalihkan pandangannya dari Laras. Ia melihat Laras terus membujuk Citra dengan wajah memelas namun matanya memancarkan tekad yang kuat. Citra yang tidak tega menolak akhirnya mengangguk pelan, menyetujui permintaan itu.

"Baiklah, nanti gue coba tanyain ke Dimas," ucap Citra akhirnya.

Laras langsung bersorak gembira, lalu memeluk lengan Citra dengan senyum lebar. "Makasih banyak ya Cit! Lo memang sahabat terbaik gue! Gue tunggu kabarnya ya!"

Setelah itu Laras berjalan pergi dengan langkah ringan menuju kantin, meninggalkan Citra yang masih menatap punggungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.

Rara menghela napas panjang, lalu menatap Dimas yang masih asyik mengobrol dengan Arga dan Bima di sudut lain kelas. Dimas tertawa mendengar cerita Arga, senyumnya tetap ramah dan tulus seperti biasanya. Rara bertanya-tanya dalam hati, apakah Dimas akan tahu kalau ada yang berniat mendekatinya dengan cara yang tidak jujur seperti itu?

"Yuk kita ke kantin saja," ajak Aisyah menyadarkan Rara dari lamunannya. "Kita nggak usah terlalu memikirkan apa yang dilakukan orang lain. Yang penting kita tetap jadi diri sendiri dan bersikap jujur kepada siapa saja."

Rara mengangguk pelan, meski rasa tidak sukanya terhadap sikap Laras masih tersisa di hati. Ia tahu benar bahwa ketulusan jauh lebih berharga daripada segala cara yang dibuat-buat. Dan melihat Dimas yang begitu baik hati, Rara yakin suatu saat nanti Dimas pun akan bisa melihat siapa yang tulus dan siapa yang hanya memakai topeng manis demi kepentingan sendiri.

Mereka berjalan beriringan keluar kelas, meninggalkan suasana kelas yang perlahan mulai sepi, namun menyisakan satu hal yang pasti hari-hari pertama di SMA ini memang penuh dengan kejutan, baik yang menyenangkan maupun yang menyisakan rasa heran.

“Ra, kamu enggak usah sedih kayak gitu dong kita kan baru masuk SMA? Kamu benar benar suka sama Dimas ya? Kelihatan banget dari raut wajah kamu!”

Rara tersenyum dengan apa yang diucapkan oleh Aisyah bisa bisanya baru aja masuk SMA eh udah kayak cinta cinta orang dewasa! Ia pun tersenyum dengan apa yang diucapkan oleh Aisyah bisa bisanya berpikiran kayak begitu. Lalu menggelengkan kepala mengatakan ada sesuatu hal yang biasa aja, udah enggak usah dipikirkan hal yang kayak gitu batinnya dalam hati berkata seperti itu! “enggak kok enggak ada sesuatu gimana gimana santai aja.”

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!