Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Ayah..." Aruna akhirnya memberanikan diri bersuara lembut namun tulus. "Jika boleh aku meminta tolong jangan terburu-buru memberikan tanda tangan pada surat atau perjanjian apa pun yang ditawarkannya besok."
Alis Duke terangkat tinggi. "Mengapa kau berkata demikian?"
Aruna menyunggingkan senyum canggung. "Entahlah... mungkin hanya firasat buruk yang tiba-tiba muncul," jawabnya menghindar, sementara dalam hati tertawa kecil, [Mana mungkin aku jujur bahwa semua ini aku tahu dari membaca cerita?]
Namun jawaban singkat yang tak terduga itu justru terdengar dari bibir Duke: "Baik, Ayah janji akan memikirkannya baik-baik."
Keterkejutan Aruna sungguh tak terlukiskan. [Hah? Sungguh? Semudah itu ia mau mendengarkan saranku?]
Sudut bibir pria paruh baya itu hampir membentuk senyum tipis yang bangga melihat wajah polos penuh takjub itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa nasihat putrinya layak didengarkan dan dipegang teguh.
"Jika tak ada lagi yang ingin kau sampaikan, kau boleh kembali ke kamarmu," ucapnya mengakhiri pertemuan itu.
"Terima kasih, Ayah," jawab Aruna sambil membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dengan hati yang jauh lebih lega.
Begitu pintu tertutup rapat kembali, suara rendah namun tegas terdengar memecah kesunyian ruangan itu. "Masuklah."
Dari balik tirai gelap dan sudut tersembunyi, muncullah sosok pria yang mengenakan pakaian serba hitam yang adalah kepala pasukan pengawal rahasia yang setia dan tangguh milik keluarga Ashcroft.
"Apa perintah Yang Mulia?" tanyanya singkat dan siap bertindak.
"Selidiki segala hal tentang Duke Harold," perintah Arthur tajam. "Periksa setiap usaha dagangnya, hitung kekayaan aslinya, telusuri siapa saja orang yang pernah bersekutu dengannya, dan cari tahu apa yang sebenarnya ia sembunyikan. Pastikan tak ada satu hal pun yang luput. Dan lakukan semua ini tanpa diketahui sedikit pun oleh orang yang bersangkutan."
"Siap dilaksanakan," jawab sosok itu, lalu lenyap kembali ke dalam bayangan secepat ia muncul.
Duke Arthur kembali berdiri menatap jauh ke luar jendela, membiarkan pikirannya melayang. Entah bagaimana cara putrinya mengetahui hal-hal yang belum terjadi itu, namun satu keputusan bulat sudah tertanam kuat di sanubarinya bahwa jika suara hati gadis itu benar-benar mampu melihat masa depan dan menyelamatkan mereka, ia tak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kemuliaan keluarga Ashcroft yang ia cintai.
***
Fajar menyingsing membawa kesibukan luar biasa yang menyelimuti setiap sudut kediaman megah keluarga Ashcroft. Langkah para pelayan tampak tergesa namun tetap teratur, membawa piring-piring porselen halus dan menyajikan teh pilihan terbaik yang harumnya menguar lembut memenuhi ruangan.
Kepala pelayan sendiri mengawasi setiap hal dengan teliti, memastikan tak ada kesalahan sekecil apa pun yang bisa merusak kehormatan tuan rumah saat menyambut tamu terhormat hari ini.
Karena hari ini Duke Harold akan datang berkunjung.
Di kamarnya yang luas dan terang, Aruna berdiri diam memandangi gaun berwarna hijau muda yang telah tersiap rapi di atas sandaran kursi. Hatinya terasa berat mengingat lembaran cerita yang pernah ia baca.
Jika semuanya masih berjalan sesuai alur yang tertulis... hari inilah yang menjadi titik awal kehancuran keluarga Ashcroft, batinnya bergelisah. Pria itu akan datang membawa tawaran menggiurkan tentang tambang emas yang konon kaya akan hasil di utara.
Ayah akan terbuai kepercayaan lama, langsung menyetujuinya dan menandatangani lembar perjanjian tanpa keraguan sedikit pun. Enam bulan kemudian... kenyataan pahit akan terbuka bahwa tambang itu sudah lama tandus tak berharga, sementara kekayaan yang dikumpulkan susah payah akan lenyap seketika.
Aruna menghela napas panjang, berdoa dalam hati sekuat tenaga. Namun aku sudah memberi peringatan kemarin... "Semoga Ayah sungguh mendengarkan dan mengingatnya baik-baik."
Di ruang tamu utama yang megah dan dingin, Duke Arthur, Ibu Helena, Adrian, dan Cedric telah duduk menunggu dengan wibawa yang tenang. Tak lama kemudian, pintu terbuka lebar dan muncullah sosok pria paruh baya berambut pirang gelap itu.
Senyumnya terukir manis dan tulus, sorot matanya memancarkan keramahan yang sulit dicurigai, seolah ia adalah orang paling tulus di muka bumi ini. Tak ada sedikit pun bayangan kejahatan yang tampak dari penampilan sempurnanya.
"Arthur, sahabatku! Sudah lama rasanya kita tidak duduk bersua seperti ini," ucapnya hangat sambil menyambut uluran tangan Duke.
"Benar sekali. Silakan duduk," jawab Arthur sopan namun terukur.
Dari lantai dua, di balik celah pagar balkon yang aman, Aruna diam-diam mengintip setiap gerak-gerik pria itu dengan tatapan tajam yang penuh kebencian.
[Nah, itulah dia... penjahat ulung yang pandai menyamar laksana malaikat pembawa kedamaian, keluhnya dalam hati. Lihatlah senyumnya yang tampak tulus itu! Siapa pun yang tak tahu isi kepalanya pasti akan percaya ia orang mulia, padahal satu-satunya hal yang ia puja hanyalah kepingan emas dan harta orang lain.]