Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sesuai tradisi sekolah, kandidat yang kalah dalam pemilihan ketua OSIS tetap mendapat kesempatan untuk bergabung sebagai anggota pengurus, mengingat suara dukungan yang mereka terima cukup signifikan. Rean menerima tawaran itu tanpa ragu, meski sempat merasa canggung memikirkan harus bekerja sama langsung dengan Kieran setiap hari.
Hari pertamanya di ruang OSIS terasa berbeda dari yang ia bayangkan. Ruangan itu rapi, dipenuhi papan jadwal kegiatan dan rak dokumen tersusun sistematis — jauh berbeda dari suasana santai ruang klub sastra yang biasa ia kunjungi.
"Selamat datang," sapa Sophia ramah, menyodorkan map berisi panduan tugas anggota baru. "Kamu akan bertanggung jawab membantu koordinasi acara amal bulan depan."
"Terima kasih," jawab Rean, menerima map itu dengan hati-hati.
Kieran, yang duduk di meja utama sebagai ketua, mengangkat kepala sejenak ketika Rean masuk. Ada jeda singkat sebelum ia akhirnya bersuara.
"Kalau ada yang belum kamu paham soal alur kerja OSIS, tanya saja ke Sophia atau anggota lain," katanya, nadanya profesional namun tidak sedingin yang Rean khawatirkan sebelumnya.
"Baik, terima kasih," jawab Rean sopan, mengangguk singkat.
Suasana canggung sempat menyelimuti ruangan selama beberapa hari pertama, dengan keduanya lebih banyak berinteraksi seperlunya saja terkait tugas. Namun perlahan, seiring rutinitas kerja bersama yang tidak bisa dihindari, komunikasi di antara mereka mulai mencair dengan sendirinya.
"Menurutmu, lokasi acara amal sebaiknya di lapangan utama atau aula?" tanya Kieran suatu sore, ketika mereka berdua kebetulan ditugaskan menyusun proposal acara bersama.
"Lapangan mungkin lebih baik," jawab Rean, mempertimbangkan sejenak. "Lebih luas, bisa nampung lebih banyak stan donasi sekaligus."
"Setuju," Kieran mengangguk, mencatat masukan itu di kertasnya. "Kamu punya ide bagus soal detail teknis kayak gini."
Pujian singkat itu membuat Rean sedikit terkejut, tidak menyangka mendapat pengakuan langsung dari orang yang selama ini terlihat cukup berjarak dengannya.
"Terima kasih," jawabnya tulus, tersenyum kecil.
Kieran tidak membalas senyum itu secara terbuka, namun ada sesuatu dalam dirinya yang mulai mempertanyakan gambaran yang selama ini ia bentuk sendiri tentang sosok Rean — bukan pesaing licik yang berusaha merebut segalanya, melainkan hanya seseorang yang tulus menjalani setiap kesempatan yang datang padanya.
---
Di sisi lain sekolah, kabar Rean bergabung dengan OSIS bersama Kieran sampai juga ke telinga Elora, yang menyambutnya dengan perasaan campur aduk.
"Kamu satu ruangan tiap hari sama Kieran sekarang?" tanyanya penasaran, saat mereka bertemu di ruang klub sastra yang kini jarang mereka kunjungi bersama karena kesibukan masing-masing.
"Iya, tapi dia baik, kok," jawab Rean santai. "Awalnya aku kira bakal canggung banget, tapi ternyata kita bisa kerja sama dengan lancar."
Elora tersenyum tipis mendengar jawaban itu, meski ada rasa lega yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan — lega karena tidak ada konflik terbuka di antara keduanya, namun juga sedikit khawatir mengetahui betapa banyak waktu yang kini dihabiskan Rean bersama Kieran dibanding dengannya.
"Kamu jangan terlalu sibuk sampai lupa main ke sini, ya," candanya, meski nada suaranya menyimpan harapan yang lebih dalam dari sekadar candaan biasa.
"Nggak akan," Rean tersenyum lebar, meyakinkan. "Klub sastra tetap kegiatan favoritku."
Jawaban itu membuat kekhawatiran Elora sedikit mereda, meski ia tetap menyadari bahwa dunia Rean kini semakin luas, semakin banyak orang yang mulai mengenalnya, semakin banyak pula kesempatan bagi orang lain untuk mendekatinya — sesuatu yang, entah kenapa, membuatnya semakin ingin memastikan posisinya sendiri tetap istimewa di mata Rean.
Ia belum tahu bahwa perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya kini bukan lagi sekadar rasa gemas atau penasaran sederhana seperti pertama kali mereka bertemu — melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan sulit ia kendalikan sepenuhnya.
-----
Sebagai bagian dari kegiatan tahunan sekolah, turnamen olahraga antar kelas digelar dengan berbagai cabang lomba — basket, voli, lari estafet, hingga catur. Seluruh lapangan sekolah dipenuhi sorak-sorai penonton dari berbagai kelas yang mendukung tim masing-masing.
Kelas 10-B memutuskan mendaftarkan Rean untuk cabang lari estafet, mengingat semangat dan kegigihannya yang selalu terlihat setiap kali mencoba hal baru, meski kemampuan fisiknya masih jauh dari kata mahir.
"Kamu yakin aku cocok?" tanya Rean ragu, saat pelatih kelas menempatkannya sebagai pelari kedua dalam tim.
"Yakin banget," jawab Ethan, yang menjadi pelari pertama. "Kamu udah latihan seminggu penuh, larimu jauh lebih cepat dari awal semester."
Rean mengangguk, mencoba menghilangkan kegugupannya. Ini adalah pengalaman pertamanya berkompetisi secara fisik di depan banyak orang, jauh berbeda dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yang lebih mengandalkan pemikiran dan ketulusan.
Perlombaan dimulai dengan sorak riuh dari seluruh penonton. Ethan berlari kencang di etape pertama, berhasil mempertahankan posisi tim di barisan tengah sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada Rean.
Rean berlari sekuat tenaga, jantungnya berdebar kencang bukan hanya karena kelelahan fisik, melainkan juga semangat yang menggebu untuk tidak mengecewakan timnya. Meski beberapa kali hampir tersandung karena belum terbiasa berlari dengan kecepatan tinggi, ia berhasil mempertahankan posisi tim hingga menyerahkan tongkat ke pelari berikutnya.
"Kamu keren banget!" seru Lucas begitu Rean menyelesaikan etapenya, menyambutnya dengan botol air minum.
Tim kelas 10-B akhirnya berhasil finis di posisi ketiga, bukan yang terbaik namun cukup membanggakan mengingat persaingan ketat dari kelas-kelas lain yang sudah lebih berpengalaman.
Di tribun penonton, Elora bersorak paling keras setiap kali giliran Rean berlari, tepuk tangannya nyaris tidak berhenti sepanjang perlombaan berlangsung.
"Kamu semangat banget dukung dia," celetuk Lily jahil, menyenggol lengan Elora yang masih sibuk bertepuk tangan.
"Ya iyalah, dia kan temanku," jawab Elora, meski pipinya sedikit merona menyadari betapa jelas antusiasmenya terlihat di mata sahabat-sahabatnya.
---
Cabang lomba lain juga berlangsung meriah sepanjang hari. Kieran, yang mewakili kelasnya di cabang basket, tampil dominan seperti biasa, membawa timnya melaju hingga babak final dengan mudah.
Namun di sela pertandingannya, ia sesekali melirik ke arah lapangan lari, memperhatikan momen ketika Rean berhasil menyelesaikan etapenya dengan susah payah namun penuh semangat. Sorakan Elora yang begitu lantang mendukung Rean tidak luput dari perhatiannya, meski ia berusaha keras untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Fokus, Kieran!" tegur Adrian dari pinggir lapangan, menyadari sedikit penurunan konsentrasi rekan setimnya.
Kieran mengangguk cepat, kembali memusatkan perhatian pada pertandingan basketnya. Timnya berhasil memenangkan babak final dengan skor telak, disambut sorak-sorai meriah dari pendukung kelasnya sendiri.
Usai pertandingan, ketika kedua kelompok besar siswa berkumpul di tengah lapangan untuk upacara penutupan turnamen, Rean dan Kieran sempat berpapasan di antara kerumunan.
"Selamat menang basket," kata Rean tulus, tersenyum lebar meski masih terlihat lelah dari perlombaan lari sebelumnya.
"Kamu juga, larimu lumayan bagus buat pemula," balas Kieran, nadanya lebih santai dari biasanya.
Percakapan singkat itu terasa lebih ringan dibanding interaksi-interaksi canggung mereka sebelumnya, sebuah tanda kecil bahwa waktu yang mereka habiskan bersama di OSIS perlahan mulai mencairkan sebagian jarak yang selama ini terbentuk di antara keduanya — meski di balik itu semua, ada perasaan lain yang masih tersembunyi rapat, belum sepenuhnya siap untuk diakui oleh pemiliknya sendiri.