NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — LIONTIN LAMA

​Matahari pagi menyusup malu-malu di balik awan mendung yang tersisa dari badai semalam. Udara di Paviliun Barat terasa begitu dingin dan lembap. Di dalam kamar utama, Alena berlutut di samping tempat tidur kayu mahoninya, merapikan tumpukan pakaian dan barang-barang pribadi yang dibawanya dari Desa Bellmare.

​Pikirannya masih terombang-ambing oleh pertengkaran hebat dengan Adrian semalam. Rasa lelah yang mental dan fisik membuat matanya tampak sembap, dikelilingi bayangan kehitaman yang samar.

​"Ibu, batu kristalku ada di mana?" panggil Elian dari luar kamar, suaranya riang saat bermain bersama Mira di ruang tengah.

​"Di atas meja kecil dekat jendela, Sayang!" jawab Alena pelan, mencoba memulihkan suaranya agar tidak terdengar parau.

​Alena meraih sebuah kantong kain blacu kusam yang tersimpan di dasar peti kayunya. Kantong itu terikat kencang dengan tali benang linen. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alena melonggarkan ikatan tali tersebut dan mengeluarkan isinya.

​Sesuatu yang berkilau menangkap pantulan cahaya pagi.

​Sebuah liontin perak berukir halus dengan batu permata Saphira berwarna biru legam berbentuk kelopak mawar di tengahnya. Batu itu memancarkan pendar dingin yang begitu familier—pusaka pribadi keluarga Valerian yang diserahkan Adrian padanya di Taman Mawar tujuh tahun lalu.

​Alena menggenggam batu mawar perak itu di telapak tangannya. Permukaan logamnya terasa dingin di kulitnya. Setiap kali Alena berada di titik terendah dalam hidupnya, setiap kali rasa sepi dan ketakutan membesarkan Elian seorang diri hampir mematahkan semangatnya, liontin inilah satu-satunya benda yang ia usap untuk mengingatkan dirinya bahwa cinta dalam hidupnya bukanlah sekadar mimpi belaka.

​Tiba-tiba, tanpa ada ketukan atau peringatan dari pelayan luar, pintu kamar utama terdorong terbuka.

​Alena terkejut, refleks membalikkan badan dengan cepat.

​Pangeran Adrian berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak mengenakan seragam kebesaran militer maupun jubah hitamnya yang biasa. Ia hanya mengenakan kemeja linen putih longgar dengan kancing atas terbuka dan celana penunggang kuda berwarna cokelat gelap. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan raut wajahnya yang tegas memancarkan kelelahan akibat tidak tidur semalaman.

​"Adrian?" Alena berdiri spontan, matanya membelalak kaget. "Bagaimana bisa Anda masuk tanpa—"

​Adrian tidak mendengarkan keluhannya. Matanya yang berwarna abu-abu pekat langsung terkunci pada jemari Alena yang terkepal rapat di depan dadanya. Tatapan Adrian yang tajam dan terlatih melirik kilatan rantai perak tipis yang menyembul dari balik celah jemari wanita itu.

​Langkah kaki Adrian terasa kaku saat ia maju mendekat. Suara sepatu boot kulitnya menepuk lantai kayu kamar dengan bunyi bergema.

​"Apa yang ada di tanganmu, Alena?" tanya Adrian, suaranya merendah, dipenuhi keheningan yang berbahaya.

​"Bukan apa-apa!" sahut Alena cepat. Dalam kepanikannya, Alena berusaha memasukkan kembali liontin itu ke dalam kantong kainnya.

​Namun gerakan Adrian jauh lebih cepat. Dengan refleks seorang prajurit elite, Adrian meraih pergelangan tangan Alena, menahannya dengan genggaman yang kuat namun cukup hati-hati agar tidak menyakiti kulit wanita itu.

​"Lepaskan aku, Adrian!" teriak Alena dalam bisikan, berusaha menarik tangannya kembali.

​"Buka tanganmu, Alena," perintah Adrian, suaranya bergetar oleh gejolak emosi yang mendadak meledak di dalam dadanya.

​"Tidak! Ini barang pribadiku! Anda tidak berhak—"

​Adrian tidak memberi ruang untuk perdebatan. Dengan jemarinya yang kekar, ia membuka secara paksa genggaman jemari Alena satu per satu. Dan di sana, di atas telapak tangan Alena yang halus dan hangat, terbaring liontin batu mawar perak.

​Waktu seakan-akan berhenti berputar seketika.

​Adrian membeku. Pupil matanya melebar lebar. Udara di dalam kamar terasa mendadak hilang dari paru-parunya saat ia menatap pusaka keluarganya itu—benda yang ia berikan sebagai ikrar cinta terakhir mereka di bawah naungan pohon eboni tujuh tahun lalu.

​Genggaman Adrian pada pergelangan tangan Alena melonggar pelan, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya. Jemari Adrian yang gemetar terangkat, menyentuh batu Saphira biru legam yang memantulkan cahaya pagi tersebut.

​Benda ini... benda yang dikiranya telah dibuang Alena ke dalam sungai atau dihancurkan bersama surat kejam yang ditinggalkannya tujuh tahun lalu... ternyata masih utuh. Tersimpan rapi, dirawat dengan sangat hati-hati hingga ukiran peraknya tidak berkarat sedikit pun.

​Adrian mendongak perlahan, menatap lurus ke dalam mata hijau hazel milik Alena. Ada badai emosi yang sangat hebat di mata abu-abu sang pangeran—campuran antara kebingungan, luka yang mendalam, dan kebenaran manis yang menghantam seluruh pertahanan mentalnya.

​"Kau... kau masih menyimpannya?" bisik Adrian, suaranya pecah dan goyah.

​Alena mengepalkan tangannya kembali secara refleks, menyembunyikan liontin itu di balik punggungnya. Pipi dan hidungnya memerah, ketakutan dan keputusasaan melebur jadi satu.

​"Saya... saya lupa membuangnya," bohong Alena, suaranya terengah-engah dan sangat tidak meyakinkan. "Benda ini terselip di dalam peti tua dan saya baru menemukannya kemarin—"

​"Jangan berbohong padaku lagi, Alena!" potong Adrian, suaranya membentak pelan namun sarat akan rasa sakit yang tak terbayangkan. "Benda ini dibersihkan dengan minyak kayu! Ukiran peraknya tidak kusam! Kau memegangnya setiap hari, bukan?!"

​"Tidak! Anda salah!" pangkas Alena, mencoba melangkah mundur, tetapi punggungnya menabrak tiang ranjang mahoni.

​Adrian melangkah maju, menghimpit jarak di antara mereka. Pria itu menyandarkan satu tangannya di tiang ranjang di samping kepala Alena, menundukkan wajahnya hingga jarak di antara bibir mereka hanya tersisa beberapa inci.

​"Jika kau benar-benar tidak pernah mencintaimu... jika hubungan kita tujuh tahun lalu hanyalah 'kebodohan musim panas' seperti yang kau katakan dalam suratmu..." suara Adrian berbisik tepat di depan wajah Alena, parau dan memohon, "mengapa kau menyimpan benda ini selama tujuh tahun di desa terpencil, Alena? Mengapa kau membawa jiwa dan ikrarku bersamamu saat kau melarikan diri?!"

​Alena memalingkan wajahnya ke samping, menolak menatap mata abu-abu yang seolah sanggup membongkar seluruh isi hatinya itu. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan rasa panas yang membakar matanya.

​"Itu hanya perhiasan perak biasa yang punya nilai jual, Adrian," bohong Alena dengan kata-kata paling kejam yang bisa ia karang saat itu. "Saya menyimpannya untuk dijual jika keadaan finansial kami di Bellmare memburuk."

​Adrian tertawa pelan—sebuah tawa penuh kepahitan yang terdengar begitu menyedihkan dari seorang Putra Mahkota yang tak tertandingi.

​"Nilai jual?" ulang Adrian. Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Alena dengan lembut, memaksa wanita itu berpaling kembali menatap matanya. "Kau kelaparan di Bellmare, Alena. Laporan kependudukan menyatakan kau harus menenun kain hingga tengah malam dan menjual obat herbal hanya untuk membeli beras dan susu untuk Elian. Jika benda ini hanya bernilai jual bagimu... kenapa kau tidak memanjatkannya ke pedagang perhiasan saat kau kesulitan memberi makan anakmu?!"

​Kalimat itu menghantam Alena tepat di dadanya.

​Semua kebohongan, semua benteng pertahanan yang dirancangnya dengan darah dan air mata selama bertahun-tahun, mendadak runtuh tak berbekas di hadapan logika sederhana yang diucapkan Adrian.

​Alena mematung. Bibirnya terkatup rapat, tetapi ia tak lagi mampu menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya. Satu tetes air mata hangat meluncur melintasi pipinya, menetes tepat di atas jemari Adrian yang masih memegang dagunya.

​Adrian menatap tetesan air mata itu. Kemarahan dan kekecewaannya mendadak menguap, digantikan oleh kesadaran yang teramat menyakitkan sekaligus melegakan.

​Alena tidak pernah membencinya. Alena tidak pernah berhenti mencintainya.

​Setiap kata kejam di dalam surat tujuh tahun lalu, setiap penolakan dingin yang diucapkan Alena sejak kembali ke istana ini... semuanya adalah kebohongan yang dipaksakan. Alena menyimpan liontin ini karena wanita inilah yang menanggung seluruh beban cinta dan pengorbanan mereka seorang diri di dalam kegelapan.

​"Kau masih mencintaiku..." bisik Adrian, suaranya bergetar hebat oleh rasa harum dan penyesalan yang mendalam. "Tuhan, Alena... kau tidak pernah berhenti mencintaiku."

​Alena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menundukkan kepalanya, membiarkan tangisnya yang pecah bergema pelan di dalam kamar. Jemarinya yang meremas liontin batu mawar perak di balik punggungnya makin mengetat, seolah-olah seluruh jiwa dan penderitaannya tertumpuk pada benda kecil tersebut.

​Adrian mengangkat kedua tangannya, melingkarkannya di sekeliling tubuh Alena. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun yang menyiksa, sang Putra Mahkota Aveloria mendekap erat wanita yang paling dicintainya ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alena yang hangat dan berbau wangi lavender.

​Alena sempat mematung, menahan nalurinya untuk membalas pelukan itu. Namun pertahanan hatinya telah hancur sepenuhnya. Dengan isak tangis yang tak terhentikan, Alena menyandarkan keningnya di dada tegap Adrian, membiarkan air matanya membasahi kemeja putih pria itu.

​Mereka berdiri membisu di dalam kamar yang dingin, saling merengkuh di balik bayang-bayang masa lalu yang belum usai. Namun di tengah momen emosional itu, Adrian menyadari satu hal yang pasti: jika Alena mempertahankan kebohongan ini demi melindunginya dan Elian, maka kini gilirannya untuk menjadi pedang dan perisai yang akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyakiti keluarga kecilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!