Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Tetap Diam
Matahari subuh belum sepenuhnya membiaskan cahaya di ufuk timur, meninggalkan warna keunguan yang dingin di balik jendela kaca kamar kerja Arga. Di ruangan berdinding kayu jati itu, keheningan terasa mencekam.
Asap rokok tipis membumbung dari asbak kristal di sudut meja. Arga mengamati dua lembar dokumen yang terhampar di hadapannya.
Dokumen pertama adalah draf gugatan cerai dan berkas pelaporan tindak pidana penggelapan uang atas nama Reza dan Nabila. Satu tanda tangan saja dari Arga pagi ini, maka polisi akan menjemput Reza di kantornya, dan Nabila akan langsung diusir dari rumah megah ini tanpa membawa sepeser pun harta.
Jemarinya menggenggam pena berujung emas. Otak dan harga dirinya berteriak untuk segera membubuhkan tanda tangan. Hancurkan mereka sekarang. Akhiri sandiwara memuakkan ini, bisik suara di dalam kepalanya.
Namun, Arga memejamkan mata erat-erat. Ia menghirup napas dalam-dalam, merasakan dada dan dadanya yang sesak oleh emosi yang bergolak.
Jika ia menandatanganinya sekarang, Reza hanya akan dipenjara beberapa tahun lalu bebas. Nabila hanya akan menyandang status janda miskin yang menangisi nasibnya, mungkin mencari pria kaya lain untuk dimanfaatkan. Hukuman itu terlalu ringan. Terlalu cepat. Dan rasa sakit yang dirasakan Arga tidak akan pernah terbayarkan hanya dengan ledakan emosi sesaat.
Pembalasan terbaik bukanlah ledakan amarah yang cepat padam, melainkan penderitaan yang merambat perlahan, batin Arga. Pikirannya yang tajam dan analitis sebagai pengusaha sukses mengambil alih. Ia ingin melihat mereka jatuh dari puncak tertinggi, kehilangan kehormatan, harta, dan yang paling penting: saling menyalahkan serta saling menghancurkan saat fondasi kebohongan mereka runtuh.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh kendali, Arga meletakkan penanya kembali ke tempatnya. Ia mengambil berkas gugatan cerai dan laporan polisi itu, lalu memasukkannya ke dalam mesin penghancur kertas. Suara mesin yang menderu pelan memotong kertas-kertas itu menjadi serpihan halus seolah memotong sisa-sisa empati dan kelemahan di dalam jiwa Arga.
Arga memilih untuk tetap diam.
Pintu ruang kerja perlahan terbuka. Nabila melangkah masuk dengan gaun tidur tipis, membawakan secangkir kopi hangat. Wajahnya tampak segar, lengkap dengan senyuman lembut yang dulu selalu menjadi penawar lelah Arga.
"Mas... kok sudah bangun pagi-pagi sekali?" tanya Nabila halus. Ia meletakkan cangkir kopi di meja, lalu berjalan ke belakang kursi Arga. Tangannya terulur, memijat lembut bahu tegap suaminya. "Masih kepikiran pekerjaan?"
Arga membiarkan jemari istrinya menelusuri otot bahunya yang tegang. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, menatap Nabila dari bawah. Chemistry di antara mereka terasa begitu dekat dan intim di permukaan, namun ada jurang tak berdasar yang memisahkan jiwa mereka.
"Hanya memikirkan masa depan kita, Nabila," jawab Arga, suaranya terdengar begitu berat dan dalam, dipenuhi kehangatan palsu yang menggetarkan dada Nabila.
Nabila tersenyum manis, memiringkan kepalanya dan mencium pipi Arga. "Masa depan kita kan sudah sempurna, Mas. Ada Mas Arga yang sukses, rumah mewah, dan kita saling mencintai."
Arga mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Nabila yang ada di bahunya. Ia meremasnya lembut—sebuah cengkeraman yang terasa penuh kasih sayang bagi Nabila, padahal itu adalah janji tak terucap dari Arga bahwa ia akan menggenggam takdir istrinya hingga hancur.
"Ya," bisik Arga seraya menyunggingkan senyum tipis yang misterius. "Masa depan yang baru saja dimulai."
Diamnya Arga pagi ini bukanlah tanda menyerah atau ketakutan. Diamnya Arga adalah batu pertama dari fondasi neraka yang sedang ia bangun untuk orang-orang yang telah menghancurkan hatinya.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt