Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
Cambuk tulang bermata sembilan milik Zhao Yan melesat bagai ular berbisa yang kelaparan. Setiap mata pisau di ujung cambuk itu memancarkan aura darah kental, membawa suara jeritan hantu yang mampu merobek kewarasan kultivator biasa.
Zhao Yan tidak menahan diri lagi. Kultivasi Pondasi Awal Puncaknya meledak sepenuhnya, mengubah udara di atas panggung menjadi pusaran merah yang mencekik. "Mati saja, bocah sialan! Kau akan menjadi pupuk untuk anjing-anjingku!"
Lin Tian tidak mundur. Matanya yang hitam pekat menatap lintasan cambuk itu dengan tenang. Ia mengangkat pedang hijau bergeriginya, menebaskan bilah korosif tersebut tepat ke arah cambuk yang menerjang.
Klang! Sssssss!
Benturan itu tidak menghasilkan percikan api, melainkan asap hijau pekat yang mendesis nyaring. Bilah pedang Lin Tian yang diselimuti qi hitam keemasan dan racun korosif langsung menggigit cambuk tulang tersebut. Mata pisau di ujung cambuk meleleh seperti lilin yang terkena besi panas, meneteskan cairan kental yang berbau busuk ke lantai obsidian.
"Apa?!" Zhao Yan terbelalak, merasakan koneksi spiritualnya dengan senjatanya terputus paksa. Cambuk tulang yang ditempa dari tulang belakang monster tingkat tinggi itu kini keropos dan hancur di bagian ujungnya.
"Senjata sampah," komentar Lin Tian dingin. Ia tidak memberi Zhao Yan waktu untuk menarik kembali senjatanya. Dengan satu tarikan kasar, Lin Tian justru menarik Zhao Yan mendekat melalui cambuk yang masih melilit pedangnya.
Zhao Yan panik, melepaskan pegangan cambuknya dan mundur sambil membentuk segel tangan. Qi darah mengembun di telapak tangannya, membentuk cakar raksasa yang menerjang ke arah dada Lin Tian. Ini adalah serangan fisik murni yang dipadatkan dengan qi Pondasi Awal Puncak, cukup kuat untuk menghancurkan batu granit menjadi debu.
Lin Tian menyambut cakar darah itu dengan tinju kanannya yang telanjang. Qi hitam berurat emas melilit lengannya, membentuk siluet sisik naga samar.
Bum!
Tinju dan cakar bertabrakan. Gelombang kejut menyapu panggung, menghancurkan peti-peti kayu di sekitarnya dan membuat para penonton di bangku depan terpental karena tekanan angin.
Namun, saat asap sirna, Zhao Yan menatap tangannya dengan tatapan ngeri. Cakar darah miliknya hancur berkeping-keping. Lebih mengerikan lagi, tinju Lin Tian tidak berhenti. Pukulan itu menembus pertahanan qi-nya dan menghantam dada kirinya.
Krak!
Suara tulang dada yang retak terdengar jelas di tengah keheningan aula. Zhao Yan terpental ke belakang, memuntahkan darah segar yang bercampur dengan serpihan organ dalam. Ia berguling di lantai obsidian, wajahnya pucat pasi dan penuh dengan ketidakpercayaan.
"Kau... monster macam apa kau ini?! Kau baru di ranah Pengumpulan Qi!" Zhao Yan terbatuk, mencoba bangkit namun kakinya gemetar hebat. Qi hitam keemasan yang masuk ke tubuhnya melalui pukulan tadi kini mulai merayap di meridiannya, menggerogoti qi murninya seperti rayap yang memakan kayu.
Lin Tian melangkah mendekat, suara langkah kakinya bergema seperti lonceng kematian. "Ranah kultivasi hanyalah angka bagi orang yang tidak paham esensi kekuatan. Dan kau, Zhao Yan, hanyalah anjing yang kebetulan diberi tulang oleh tuannya."
Lin Tian menginjak dada Zhao Yan, menahannya agar tetap terbaring di lantai. Qi hitam dari telapak kakinya langsung menembus pakaian dan kulit Zhao Yan, menyebabkan rasa sakit yang seolah-olah darahnya sedang direbus dengan paku panas.
"Aaargh! Lepaskan aku!" Zhao Yan menjerit, mencoba memukul kaki Lin Tian, namun pukulannya lemah dan langsung dipatahkan oleh Lin Tian dengan satu hentakan.
"Aku akan memberimu kematian yang cepat jika kau menjawab pertanyaanku," suara Lin Tian terdengar tanpa emosi, menatap turun ke arah eksekutor yang kini merintih di bawah kakinya. "Siapa dalang sejati di balik pembantaian keluarga Lin? Di mana markas utama Istana Langit Hitam?"
Zhao Yan tertawa berdarah, matanya penuh dengan kebencian dan kegilaan. "Kau pikir aku akan mengkhianati Istana? Kau hanya seekor semut yang mencoba melawan langit! Tuan kami akan mengirimkan pasukan untuk membakarmu hidup-hidup—"
Lin Tian tidak membiarkannya selesai. Ia memutar telapak kakinya sedikit, membiarkan Segel Dewa Penelan Langit aktif dan mulai menyedot qi dari dantian Zhao Yan secara paksa.
Rasa sakit akibat dantian yang terkoyak dari dalam membuat mata Zhao Yan hampir keluar dari rongganya. Jeritannya kali ini terdengar seperti binatang yang sedang dikuliti hidup-hidup, membuat ratusan kultivator sesat di bawah panggung merinding dan menutup telinga mereka.
"Bicara!" bentak Lin Tian, suaranya kini membawa tekanan jiwa yang membuat mental Zhao Yan runtuh.
"A-aku bicara! Hentikan! Hentikan!" Zhao Yan menangis, air mata dan ingus bercampur dengan darah di wajahnya yang dulu begitu arogan. "Adalah Tetua Xue Tu! Tetua Darah Xue Tu! Dia berada di Ibu Kota Kekaisaran!"
Lin Tian menyipitkan matanya. "Di mana tepatnya?"
"Di bawah... di bawah Kuil Leluhur Kekaisaran!" Zhao Yan terengah-engah, memuntahkan rahasia terbesar faksinya demi menghentikan rasa sakit itu. "Istana Langit Hitam bersembunyi di katakomba bawah tanah Kuil Leluhur! Tetua Xue Tu menggunakan darah Penjaga Kunci untuk menyedot Urat Naga Bumi Kekaisaran. Dia... dia sedang mencoba menembus ranah Inti Emas dan membentuk Tubuh Iblis Darah! Tolong... ampuni aku..."
Lin Tian menatap pria yang hancur di bawah kakinya. Informasi ini sangat berharga. Kuil Leluhur Kekaisaran adalah tempat paling suci dan paling dijaga di seluruh negeri. Bersembunyi di bawah hidung Keluarga Kekaisaran menunjukkan betapa dalamnya akar Istana Langit Hitam di ibu kota.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Lin Tian pelan.
Zhao Yan menghela napas lega, matanya berbinar penuh harapan. "Jadi... kau akan membiarkanku pergi?"
"Aku tidak pernah berkata demikian."
Lin Tian mengangkat pedang hijaunya. Dengan satu tebasan horizontal yang bersih dan cepat, kepala Zhao Yan terlepas dari lehernya. Darah menyemprot tinggi, mewarnai langit-langit gua dengan merah pekat. Kepala sang eksekutor menggelinding dan berhenti tepat di tepi panggung, matanya masih terbuka lebar menatap kekosongan dengan sisa-sisa keputusasaan.
Aula Gedung Darah sunyi senyap. Tidak ada satu pun orang yang berani bersuara, bahkan napas pun ditahan. Mereka baru saja menyaksikan seorang pemuda berjubah abu-abu menghancurkan seorang eksekutor Istana Langit Hitam dan memenggalnya di depan umum, di atas panggung lelang yang seharusnya netral.
Lin Tian membungkuk, mengambil cincin spasial dari jari mayat Zhao Yan dan menyimpannya. Ia juga mengambil sisa cambuk tulang yang masih utuh, meskipun ujungnya sudah hancur oleh racun.
Ia menoleh ke arah dua Tetua Penegak Hukum Gedung Darah yang masih berdiri kaku di sudut panggung, wajahnya pucat seperti mayat.
"Sampaikan pesan ini kepada Tetua Xue Tu dan anjing-anjing Istana Langit Hitam lainnya," suara Lin Tian bergema tenang, namun terdengar jelas di telinga setiap orang di dalam gua raksasa itu. "Hantu dari Kota Qingshui telah kembali. Suruh mereka mencuci leher dan menunggu di Kuil Leluhur. Aku akan datang untuk menagih kepala mereka satu per satu."
Tanpa menunggu respons, Lin Tian melangkah turun dari panggung. Kerumunan kultivator sesat yang brutal dan kejam itu secara otomatis membelah jalan, menundukkan kepala dan mundur ketakutan, memberi jalan bagi sang iblis muda untuk keluar dari Gedung Darah.
Malam ini, nama Lin Tian tidak hanya menjadi legenda di Sekte Pedang Perak, tetapi juga menjadi mimpi buruk baru yang akan mengguncang seluruh dunia bawah tanah Kota Qilin Hitam. Dan di ufuk utara, Ibu Kota Kekaisaran menanti dengan rahasia gelapnya yang terkubur di bawah Kuil Leluhur.