NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Pagi hari Sabtu itu menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus sela-sela tirai jendela, memberikan kesan hangat yang kontras dengan gejolak batin Maya. Udara pagi begitu segar, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam dan harum bunga kamboja yang bermekaran di taman belakang. Dari lantai dua rumah, Maya bisa mendengar suara tawa riang Naya yang menggema dari area kolam renang mini di sudut halaman.

​Maya berdiri di dekat jendela besar kamar tamu, memandangi pemandangan di bawah sana dengan tatapan yang sulit diartikan. Naya sedang bersenang-senang, bermain air dengan ceria bersama Bik Nana yang tampak begitu sabar menyiramkan air ke bahu anak itu dengan gayung kecil.

Pemandangan itu seharusnya menjadi kedamaian bagi seorang ibu, namun di hati Maya, rasa sesak itu justru semakin menjadi-jadi.

​Ia tidak bisa terus begini. Menumpang hidup, menerima segala kebaikan, dan membiarkan Naya tumbuh di lingkungan yang bukan miliknya. Ada harga diri yang perlahan tergerus, dan yang paling berat adalah rasa tidak enak hati yang selalu menghantui setiap kali ia menatap wajah Ibra.

​Maya membetulkan letak jilbab instannya, menarik napas panjang, lalu memantapkan langkah menuju lantai bawah. Ia melihat Ibra sedang duduk santai di teras belakang, ditemani sebuah cangkir kopi panas dan tumpukan majalah bisnis. Pria itu tampak sangat berbeda di akhir pekan ini; ia tidak mengenakan setelan jas kaku, melainkan kaos polo berwarna navy yang pas di badannya, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan rileks.

​Maya melangkah mendekat dengan ragu. Sepatu flat-nya berdecit pelan di atas lantai kayu teras. Ibra yang menyadari kehadirannya, langsung menoleh dan menyunggingkan senyum hangat.

​"Pagi, Maya," sapanya dengan suara yang lembut. "Naya sedang asyik sekali di sana. Kamu mau bergabung atau ingin secangkir teh?"

​Maya tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung di depan Ibra, matanya sempat melirik ke arah kolam sebentar sebelum akhirnya menatap Ibra dengan tatapan yang serius dan sedikit sendu.

​"Kak Ibra... bisa kita bicara sebentar?" suara Maya terdengar bergetar, namun ada ketegasan di sana.

​Ibra meletakkan majalahnya, lalu menatap Maya dengan perhatian penuh. Pria itu tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran wanita di hadapannya. "Tentu saja. Silakan duduk, Maya."

​Maya duduk di kursi rotan yang berseberangan dengan Ibra. Ia meremas ujung gamisnya, mencoba mencari keberanian untuk mengutarakan niatnya.

​"Kak Ibra, sebelumnya saya benar-benar berterima kasih atas segala kebaikan yang Kakak berikan. Saya, Naya, semua fasilitas ini... saya benar-benar tidak tahu bagaimana membalasnya," Maya memulai dengan nada yang berat. "Tapi... setelah saya pikirkan matang-matang, saya sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini."

​Ibra tertegun. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi pria itu. "Pergi? Maksudmu, kamu mau pindah?"

​"Iya, Kak," jawab Maya mantap. "Saya merasa sudah terlalu banyak memanfaatkan kebaikan Kakak. Saya merasa tidak pantas ada di sini. Saya juga merasa tidak enak dengan orang-orang yang mungkin saat ini sedang menjalin hubungan dengan Kakak, dan keberadaan saya di sini hanya akan menyulitkan posisi Kakak."

​Ibra terdiam sejenak, ia tampak mencerna kata-kata Maya dengan serius. "Orang yang sedang menjalin hubungan denganku? Siapa yang kamu maksud?"

​Maya menunduk, pipinya terasa panas karena menahan rasa canggung.

"Maksud saya... Rachel. Saya merasa keberadaan saya di sini mungkin membuat posisi Kakak dan Rachel jadi tidak nyaman. Saya tidak ingin menjadi pengganggu di antara hubungan Kakak."

​Mendengar nama Rachel disebut, Ibra justru mengeluarkan tawa kecil yang terdengar sangat lepas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tampak tidak menyangka Maya berpikiran sejauh itu.

​"Rachel?" tanya Ibra sekali lagi untuk memastikan.

​Maya mengangguk pelan. "Ya, Rachel. Saya dengar dari teman-teman lama Kakak di kampus dulu, kalian sering terlihat bersama. Saya tidak ingin menjadi orang ketiga yang merusak kebahagiaan kalian."

​Ibra menarik napas panjang, lalu menatap Maya dengan tatapan yang begitu tulus. "Maya, dengar. Rachel itu hanyalah sahabat baikku. Hubungan kami hanyalah hubungan profesional dan persahabatan murni. Isu yang kamu dengar saat kuliah dulu tentang kami berpacaran itu hanyalah omong kosong anak-anak yang dibesar-besarkan oleh orang lain."

​Ibra memajukan tubuhnya sedikit, suaranya terdengar sangat meyakinkan. "Bahkan saat ini, Rachel sudah menikah dan menetap di luar negeri bersama suaminya. Dia sudah hidup bahagia dengan keluarganya sendiri. Jadi, tidak ada hubungan apa pun di antara saya. Keberadaanmu di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Rachel, atau siapa pun."

​Maya terpaku. Ia merasa lega mendengar penjelasan itu, namun alasan untuk pergi bukan hanya soal Rachel. Masih ada rasa sungkan yang lebih dalam.

​"Bukan hanya soal itu, Kak," suara Maya kembali merendah. "Saya merasa tidak enak dengan orang-orang di sekitar Kakak. Kakak adalah pria yang terpandang, pria sukses yang diincar banyak wanita. Sementara saya... saya hanya wanita dengan status yang belum jelas, wanita yang baru saja hancur rumah tangganya. Saya merasa tidak layak untuk terus-menerus merepotkan Kakak. Saya harus mandiri, saya harus belajar berdiri di kaki saya sendiri."

​Ibra menatap Maya dalam-dalam, mengamati keraguan dan rasa minder yang terpancar dari wajah wanita itu. Ia tahu persis bahwa Maya sedang berjuang melawan rasa rendah dirinya sendiri.

​"Maya," suara Ibra berubah lebih dalam dan serius. "Aku tidak pernah merasa direpotkan. Kehadiranmu dan Naya di sini justru membuat rumah ini terasa seperti rumah sungguhan. Tapi, aku mengerti kalau kamu merasa sungkan. Aku mengerti kalau ada beban moral yang kamu rasakan, apalagi soal status kita."

​Ibra menghentikan bicaranya sejenak, lalu ia menatap lurus ke mata Maya dengan tatapan yang membuat jantung Maya berdebar kencang.

​"Ada satu hal lagi yang mungkin mengganjal di pikiranmu, bukan? Soal status kita. Aku pria, kamu wanita. Kita tinggal di rumah yang sama, dan kita bukan mahram. Aku tahu kamu wanita yang sangat menjunjung tinggi agama dan kehormatan. Dan jujur saja, aku pun merasa tidak tenang membiarkanmu tinggal di sini tanpa ada ikatan yang sah di mata agama."

​Maya terdiam, ia merasa wajahnya memanas hingga ke telinga. Ia memang memikirkan hal itu, namun ia terlalu malu untuk mengutarakannya secara gamblang. Ia merasa keberadaannya di rumah Ibra memang sangat riskan dan bisa memancing fitnah.

​Ibra beranjak dari kursinya, ia berdiri dan menatap Maya dengan tatapan yang sangat tegas dan penuh penekanan.

​"Jika memang rasa sungkan dan rasa 'tidak enak' itu yang membuatmu merasa tidak pantas berada di sini, dan jika memang status kita yang bukan mahram ini membuatmu merasa terbebani setiap harinya..." Ibra menarik napas dalam, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh dunianya Maya seolah berhenti berputar.

​"Apakah kamu sudah siap jika saya menikahi kamu?"

​Dunia seolah berhenti. Suara tawa Naya di kejauhan mendadak senyap di telinga Maya. Angin pagi yang berhembus di teras belakang seakan mati. Maya menatap Ibra dengan mata yang terbelalak lebar, bibirnya terbuka namun tak ada kata yang mampu terucap.

​Ia tidak salah dengar, bukan?

​Pria di depannya ini, pria yang selama ini hanya ia kenal sebagai Kak Rayhan yang pendiam dan kini bertransformasi menjadi Pak Ibra yang sukses, baru saja melamar dirinya? Di saat Maya baru saja memulai proses gugatan cerainya yang bahkan belum mencapai sidang pertama?

​"Apa... apa maksud Kakak?" suara Maya bergetar hebat, hampir seperti bisikan.

​Ibra tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, dengan tatapan yang begitu menuntut sebuah jawaban dari kedalaman hati Maya. Ia tidak sedang bercanda. Ibra benar-benar serius dengan ucapannya.

​"Saya tidak sedang menawarkan sesuatu yang mudah untuk dijalani, Maya. Saya tahu proses hukummu belum selesai. Tapi saya tahu, perlindungan yang saya berikan tidak akan pernah cukup jika status kita masih seperti ini. Jika kamu merasa tidak nyaman dengan kebaikan saya tanpa adanya ikatan, maka mari kita buat ikatan itu menjadi sah."

​Maya merasa kepalanya berdenyut. Pertanyaan itu menggantung di udara, begitu berat dan nyata. Ia memandang Ibra, mencari sisa-sisa candaan di balik wajah tegas itu, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni dan keberanian yang luar biasa.

​Apakah dia sudah siap? Bagaimana dengan Bayu? Bagaimana dengan proses perceraiannya? Bagaimana dengan hatinya sendiri yang bahkan belum sempat pulih sepenuhnya?

​"Kak... ini terlalu cepat," lirih Maya, matanya mulai berkaca-kaca karena bingung.

​Ibra melangkah mendekat, namun ia tetap menjaga jarak sopan. "Saya tahu ini mengejutkan. Tapi saya ingin kamu memikirkannya. Saya tidak memaksa. Tapi saya hanya ingin memastikan, bahwa jika ada satu hal yang membuatmu merasa tidak pantas berada di dekat saya, maka saya akan menghapus hal itu dengan cara yang paling terhormat."

​Ibra kembali duduk, ia tidak mendesak Maya untuk menjawab saat itu juga. Ia kembali menyesap kopinya, membiarkan keheningan mengambil alih. Namun bagi Maya, keheningan itu justru menjadi suara paling bising yang pernah ia dengar.

​Di bawah langit biru yang cerah di hari Sabtu pagi itu, Maya merasa seolah-olah seluruh hidupnya baru saja ditabrak oleh sebuah kepastian yang tidak pernah ia sangka-sangka. Ia memandangi Naya yang masih asyik bermain, lalu kembali menatap Ibra yang menunggu jawabannya dengan kesabaran luar biasa.

​Apa yang harus ia jawab? Apakah ini adalah akhir dari pelariannya, atau justru awal dari badai baru yang jauh lebih besar?

1
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!