Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Suasana di dalam butik mendadak sunyi.
Anindiya masih berdiri mematung di depan etalase kaca. Tatapannya sama sekali tak teralihkan dari gaun putih gading itu. Semakin lama memandangnya, rasa ingin memiliki gaun tersebut justru makin meletup-letup di dadanya.
Sementara itu, pemilik butik berkebaya cokelat berdiri beberapa langkah di dekatnya. Raut wajahnya nampak serba salah. Perempuan tua itu mengembuskan napas berat berkali-kali, seakan sedang menimbang sebuah beban yang teramat sangat.
"Nak," panggilnya pelan, suaranya bergetar. "Saya mohon, pilih gaun yang lain saja."
Anindiya menggeleng pelan namun tegas. "Saya benar-benar ingin yang ini, Bu."
"Masih banyak gaun lain di depan yang jauh lebih baru," bujuk perempuan itu lagi.
"Saya kurang tertarik, Bu."
Pemilik butik menunjuk ke arah barisan gantungan di sisi kanan ruangan. "Nah, yang itu model trend terbaru. Bahannya impor, harganya juga lebih mahal dari yang ini."
Anindiya hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap gaun di dalam kaca. "Bagus, Bu. Tapi bukan itu yang saya cari."
Perempuan paruh baya itu menatap Anindiya heran. "Kenapa harus gaun yang ini?"
Anindiya tersenyum tipis, matanya berbinar ganjil. "Saya juga tidak tahu, Bu. Begitu pertama kali melihatnya, perasaan saya langsung bilang kalau gaun ini harus jadi milik saya."
Jawaban polos tapi keras kepala itu membuat pemilik butik menundukkan kepala perlahan, kehilangan kata-kata.
Rina yang berdiri di samping Anindiya mulai merasa suasana makin tidak enak. Rasa canggung yang makin menebal membuatnya menyenggol lengan Anindiya.
"Mbak Anin..." bisik Rina pelan.
"Kenapa, Rin?"
"Udah yuk, kita lihat-lihat ke butik lain aja."
"Nggak mau."
"Di kota masih banyak butik langganan kita, Mbak."
"Tapi aku cuma mau yang ini, Rina."
Rina menghela napas panjang. Ia sudah bekerja bersama Anindiya selama tiga tahun dan hafal betul watak atasannya. Jika Anindiya sudah kepincut pada satu barang yang dinilainya punya nilai seni tinggi, akan sangat sulit untuk membalikkan pikirannya.
"Mbak, kita jangan maksa," bisik Rina lagi, mencoba bersuara sangat pelan. "Ibu ini kan sudah bilang dari tadi kalau gaunnya nggak dijual."
"Aku nggak memaksa, Rin. Aku cuma mau beli secara profesional," potong Anindiya ringan sebelum kembali menatap sang pemilik butik. "Bu, kalau memang masalah harga, kita bisa bicarakan baik-baik. Saya serius."
Perempuan itu menggeleng lambat. "Bukan masalah uang, Nak."
"Lalu karena apa?"
"Saya hanya... tidak ingin gaun ini berpindah tangan."
Dahi Anindiya berkerut. "Kenapa?"
Perempuan tua itu kembali terdiam. Keheningan merayap cukup lama di antara mereka. Akhirnya, sebuah kalimat pelan keluar dari bibirnya yang pucat, "Ada beberapa barang di dunia ini yang memang lebih baik tetap berada di tempatnya."
Kalimat itu terdengar janggal dan membingungkan. Namun, alih-alih membuat Anindiya mundur, pernyataan misterius itu justru semakin membakar rasa penasarannya.
"Bu, saya ini MUA," janji Anindiya bersungguh-sungguh. "Saya jamin gaun ini bakal dirawat dengan sangat baik di sanggar saya."
Pemilik butik tersenyum hambar. "Saya percaya kamu orang baik, Nak."
"Kalau begitu, boleh ya saya beli?"
"Tetap tidak bisa."
Anindiya mengusap permukaan kaca etalase yang dingin. Pantulan wajahnya berbayang samar di atas kaca. Di balik rintangan tebal itu, gaun putih gading tersebut seolah melambai-lambai padanya. Ia sudah bisa membayangkan gaun ini dipajang paling depan di studio sanggarnya. Pasti akan membuat calon pengantin terpana, bahkan bukan tidak mungkin mereka rela mengantre berbulan-bulan hanya demi mengenakannya.
Aku harus punya gaun ini, batin Anindiya mantap.
"Mbak..." tegur Rina yang bisa membaca arti tatapan mata atasannya.
"Aku serius, Rin."
"Jangan impulsif gitu, Mbak. Dipikirin lagi."
"Aku sudah mikir, Rin."
Pemilik butik kembali bersuara, memecah ketegangan di antara kedua wanita muda itu. "Nak... masih ada puluhan gaun lain di butik saya. Silakan pilih mana saja. Kalau mau yang depan, saya kasih potongan harga khusus."
Anindiya tersenyum sopan. "Terima kasih banyak atas tawaran Ibu. Tapi hati saya tetap di gaun ini."
Perempuan tua itu menarik napas panjang, tampak lelah dan kehabisan alasan untuk bertahan. Rina yang merasa kasihan melihat raut frustrasi ibu pemilik butik akhirnya angkat bicara sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
"Ibu, maafkan Mbak Anin ya," ujar Rina ramah. "Atasan saya ini memang suka nekat kalau sudah jatuh cinta sama satu gaun. Susah banget dilarangnya."
Anindiya melirik temannya sambil menahan tawa. "Rin, jangan buka kartu dong."
"Lho, kan memang kenyataannya begitu," seloroh Rina.
Suasana sempat mencair sejenak. Namun, pemilik butik sama sekali tidak ikut tertawa. Matanya tetap tertuju lurus pada gaun di balik kaca, lalu menatap Anindiya dengan dalam.
"Nak..." panggilnya dengan suara amat pelan. "Saya tanya sekali lagi. Kamu benar-benar yakin ingin membelinya?"
Anindiya mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Sangat yakin, Bu."
"Benar-benar yakin? Apapun yang terjadi nanti?"
"Iya, Bu."
"Setelah gaun ini keluar dari butik ini..." Perempuan itu menggantung kata-katanya. Ia menahan napas, seolah menelan kembali kalimat buruk yang nyaris terlontar.
Anindiya menunggu dengan alis terangkat. "Kenapa, Bu? Ada syarat khusus?"
Perempuan itu menggeleng lesu. "Tidak... tidak ada."
Anindiya lantas membuka tas bahunya, mengeluarkan kartu debit dan buku cek usahanya. "Berapa pun harganya, katakan saja, Bu. Saya siap bayar hari ini."
Pemilik butik itu nampak ragu sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia berjalan perlahan ke arah meja kasir tua di depan, merogoh sebuah laci kayu, lalu mengambil buku catatan kusam. Setelah membalik beberapa halaman, ia kembali menghampiri Anindiya.
Ia lalu menyebutkan sebuah angka nominal.
Rina yang mendengar angka tersebut seketika membelalakkan mata. "Mbak Anin! Itu... mahal banget!" serunya kaget.
Anindiya sendiri sempat tersentak kaget. Angka yang disebutkan memang jauh melampaui perkiraan tawaran tertingginya. Kepala dinginnya sempat mencoba menghitung matematis: jika membeli gaun ini, modal tabungan sanggar akan terkuras cukup dalam, dan rencana membeli dua gaun lain dipastikan batal.
Namun, begitu matanya kembali melirik kilau lembut payet gaun di dalam etalase, seluruh pertimbangan logis itu menguap begitu saja. Ada rasa tidak rela yang sangat besar jika ia harus pulang dengan tangan kosong.
"Baik, Bu. Saya ambil," ucap Anindiya mantap.
Rina menoleh kaget. "Mbak, seriusan?! Uangnya kan—"
"Nggak apa-apa, Rin. Kita cukup beli gaun ini satu aja untuk musim ini."
"Mbak yakin? Budget perlengkapan sanggar gimana?"
"Nanti bisa kita atur lagi," potong Anindiya mantap, tidak ingin diperdebatkan lagi.
Rina menghela napas pasrah. Ia tahu jika Anindiya sudah pada tahap ini, tidak ada satu orang pun yang bisa membatalkan keputusannya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, pemilik butik memasukkan kunci perak ke lubang slot etalase. Bunyi klik mekanis berbunyi cukup keras di ruangan yang hening itu. Pintu kaca perlahan terdorong terbuka.
Perempuan tua itu mengelus pelan bagian lengan gaun kain putih gading tersebut. Matanya mendadak berkaca-kaca, persis seperti seseorang yang harus berpisah selamanya dengan hal paling berharga dalam hidupnya.
"Maafkan saya..." bisiknya amat lirih, hampir tak terdengar.
Anindiya yang sibuk menyiapkan pembayaran tidak menyadari bisikan itu. Ia hanya memperhatikan pemilik butik yang mengangkat gaun tersebut dari manekin dengan sangat hati-hati.
Namun, tepat saat gaun itu terlepas dari tubuh manekin, entah mengapa pendingin ruangan seolah bekerja berlebihan. Hawa dingin yang aneh tiba-tiba menusuk kulit.
Rina refleks mengusap kedua lengan atasnya yang mendadak merinding. "Kok... tiba-tiba dingin banget ya, Mbak?"
"Mungkin AC-nya baru kerasa," sahut Anindiya santai. Rina hanya mengangguk heran, walau perasaannya mengatakan hawa dingin ini sangat tidak wajar.
Pemilik butik melipat gaun itu dengan gerakan sangat perlahan—bukan seperti melipat pakaian biasa, melainkan penuh kehati-hatian seolah kain itu sangat rapuh. Gaun itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan kayu berlapis kain putih, lalu diikat rapi menggunakan pita satin cokelat.
"Rawat baik-baik ya, Nak," pesan perempuan itu seraya menyerahkan kotak yang lumayan berat tersebut.
Anindiya menerimanya dengan senyum puas yang mengembang lebar. "Pasti, Bu. Terima kasih banyak!"
Perasaan lega langsung memenuhi dada Anindiya. Keinginannya tercapai. Meski harus merogoh kocek sangat dalam, ia tidak merasa menyesal sedikit pun. Bagi seorang MUA berselera tinggi, gaun ini adalah sebuah mahakarya.
Rina membantu membawakan kotak gaun tersebut menuju bagasi mobil putih mereka. Sambil berjalan keluar toko, Rina berbisik pelan, "Mbak... semoga gaun ini beneran bisa cepat balik modal ya."
Anindiya terkekeh pelan sembari membuka pintu mobil. "Pasti, Rin. Dipakai beberapa kali aja kita sudah balik modal kok."
Rina ikut tersenyum tipis, meski di dasar hatinya, ganjalan aneh itu belum juga hilang.
Sementara itu, dari balik pintu kaca butik, perempuan paruh baya tersebut berdiri mematung. Senyum ramah yang tadi sempat tersisa kini sirna sepenuhnya, berganti dengan tatapan sendu penuh penyesalan. Ia menggenggam kedua tangannya sendiri dengan sangat erat.
"Semoga keputusanku ini tidak membawa petaka..." bisiknya pilu pada angin sore.
Begitu mobil putih milik Anindiya melaju dan menghilang di belokan jalan, perempuan itu langsung memutar papan petunjuk di pintunya menjadi TUTUP dan mengunci pintu butiknya lebih awal dari biasanya. Dadanya terasa sesak oleh firasat buruk yang sudah puluhan tahun tak pernah ia rasakan lagi.
Dan jauh di dalam bagasi mobil yang sedang melaju tenang...
Di dalam kotak putih berikat pita satin, gaun pengantin itu terbaring dalam kegelapan. Diam, anggun, dan menyimpan rahasia kelam yang bersiap untuk terbangun kembali.