NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 14: "Pacar nya kak Alya, Ya?"

Selesai menuju gedung kelas dua belas mulai ramai oleh hilir mudik siswa. Bel masuk pertama memang masih lima belas menit lagi, tetapi sebagian besar murid sudah berdatangan dan memenuhi koridor.

Arga melangkah santai menuju kelas XII IPA 1.

Di bahu kanannya tergantung tas ransel hitam miliknya. Sedangkan di bahu kirinya, menggantung ransel pink pastel milik Nadira dengan berbagai gantungan stroberi dan kelinci mungil yang menari-nari ikutan bergoyangnya langkah Arga.

Tangan kanannya pun menenteng kotak bekal pink.

Pemandangan unik itu otomatis menyedot perhatian beberapa siswa yang melintas.

Siswa-siswi senior yang sudah kebal dengan pemandangan itu hanya mengulas senyum simpul. Bagi mereka, ini sudah jadi bagian dari atraksi harian.

"Kapten Basket lagi tugas negara bawa tas Bu Ketos," celetuk seorang anak IPS. "Sudah langganan harian itu mah," sahut temannya. "Iya, kalau Ketua OSIS lagi mode panik piket gerbang, porter pribadinya pasti langsung turun tangan."

Arga cuma tersenyum tipis mendengar selorohan yang berseliweran di sepanjang selasar. Bagi Arga, tidak ada yang aneh. Sudah biasa.

Namun... saat Arga baru saja melintasi area taman tengah sekolah...

"Haiii, Kak Arga!" panggil sebuah suara nyaring khas siswi baru dari arah belakang.

Arga menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan.

Tiga siswi kelas sepuluh tampak berdiri ragu di tepi jalan selasar sambil memeluk buku panduan orientasi siswa. Wajah-wajah mereka memancarkan kepolosan khas murid baru yang masih malu-malu.

"Pagi," sapa Arga ramah dengan senyum hangat.

"Pagi, Kak!" balas mereka hampir serentak.

Salah satu siswi yang tampaknya paling pemberani memberanikan diri maju satu langkah. "Kak Arga..."

"Iya? Kenapa?"

Siswi itu melirik tas ransel pink penuh gantungan boneka yang bergantung di pundak kiri Arga, lalu bertukar pandang dengan kedua temannya sambil menahan sengihan geli.

"Kak..."

"Iya?"

"...Kakak pacarnya Kak Ketua OSIS, ya?" tanya siswi itu polos, matanya berbinar penasaran.

Arga sempat mematung dua detik. "Hah?"

Siswi kedua menimpali dengan antusias, "Iya! Soalnya kalian berdua kelihatan cocok banget. Romantis gitu... Kak Arga sampai rela bawain tas pink Kak Nadira ke kelas."

Ketiga siswi itu menatap Arga penuh harap, bersiap mendengar konfirmasi dari rumor manis yang beredar di angkatan mereka.

Arga justru tak bisa menahan tawa renyahnya. Bukan karena risih atau tersinggung, melainkan karena pertanyaan semacam itu sudah ratusan kali mampir ke telinganya sejak jaman putih-biru SMP.

Arga menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan, Dek."

Mata ketiga siswi itu kompak berkedip bingung. "Hah? Bukan pacaran, Kak?"

"Bukan," kekeh Arga ramah. "Kita sahabat dekat. Dari masih bocah."

"Dari kecil?!"

"Iya. Rumah kita cuma berjarak lima langkah, cuma terpisah pagar. Dari umur empat tahun kita udah main pasir bareng. Orang tua kita juga sahabat lama," jelas Arga santai.

Siswi yang berdiri di tengah langsung menyikut lengan temannya pelan. "Tuh kan! Apa aku bilang! Kata Kakak kelas kemarin mereka emang temanan dari kecil!"

Temannya yang memprovokasi tadi mengerucutkan bibir, masih agak tidak percaya. "Tapi... Kak Arga perhatian banget sampai mau bawain tas cewek serba pink begini..."

Arga tertawa kecil seraya menepuk pelan ransel pink di bahunya. "Lah... kalau sahabat sendiri lagi riweuh urusan tugas sekolah, ya dibantu. Prinsipnya simpel aja."

"Tapi vibes-nya romantis banget, Kak..."

Arga menyunggingkan senyum tipis. "Nggak juga kok. Kalau kalian udah berteman lama banget sama seseorang, hal-hal kayak gini bakal terasa biasa aja. Nggak ada canggungnya sama sekali."

Arga melanjutkan, "Malah kalau Arga lagi mabuk latihan basket menjelang kejurda, Nadira yang gantian sibuk. Dia yang ngingetin catatan tugas, ngatur jadwal rapat OSIS biar nggak bentrok sama jadwal tanding Arga, sampai nyiapin minum. Kita cuma saling jaga aja."

Ketiga siswi kelas sepuluh itu mengangguk-angguk paham, terpukau dengan ritme hubungan dua seniornya. "Oalah... gitu ya..."

"Iya. Nanti kalian juga bakal nemuin sahabat kayak gitu di SMA ini. Teman yang udah berasa kayak saudara sendiri," tutur Arga manis.

Siswi yang bertanya pertama kali tersenyum lebar. "Kak Arga baik banget ya. Beruntung banget Kak Ketua punya sahabat kayak Kakak."

"Alhamdulillah," balas Arga rendah hati. "Yaudah, Arga ke kelas duluan ya. Nanti keburu bel."

"Siap, Kak! Semangat latihan basketnya ya!"

"Makasih ya!"

Baru saja Arga membalikkan badan untuk melangkah, siswi tadi memanggilnya kembali. "Eh, Kak Arga!"

Arga menoleh lagi. "Iya?"

"Tolong sampein ke Kak Ketua OSIS ya... beliau cantik banget hari ini!" seru siswi itu sambil menyengir.

Tawa Arga kembali pecah. "Siap, nanti disampaiin ke Kanjeng Ratu. Makasih ya!"

Arga melanjutkan langkahnya menyusuri koridor. Di belakangnya, ketiga siswi kelas sepuluh itu masih memperhatikan punggung tegap Arga yang berjalan santai menenteng tas pink.

"Walaupun bukan pacaran... tetep gemes banget nggak sih vibes-nya?" bisik salah satu siswi. "Iya! Vibes childhood best friends yang saling jaga gitu. Kalau dijadikan novel fiksi pasti rame banget!" "Ih, bener banget!"

Mereka bertiga tertawa geli sebelum akhirnya berjalan menuju kelas mereka masing-masing.

Sementara itu, di depan meja piket dekat gerbang utama SMAN 1 Yogyakarta...

Nadira sedang sibuk mencatat barisan nama siswa yang terlambat, memegang pulpen dengan raut wajah tegas namun ramah.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri, baru saja ada tiga adik kelas yang secara gamblang mengira dirinya dan Arga adalah sepasang kekasih.

Dan Arga... baru saja meredam dugaan itu lewat satu kalimat sederhana yang selalu ia pegang teguh:

"Kami sahabatan dari kecil."

Sebuah kalimat yang saat itu diucapkan Arga dengan sangat santai tanpa beban. Kalimat konfirmasi yang terasa biasa saja di usia mereka yang baru tujuh belas tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!