Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 – Undangan Akademi Lumina dan Masalah di Perbatasan.
"Jadi begitu...?"
Raja Nolan mengelus janggut tebalnya, tampak tenggelam dalam takaran informasi yang baru saja ia terima.
"Kalau begitu, aku akan meminta Jenderal Vermont untuk menyelidiki masalah ini secara langsung. Kerja bagus, Edward."
"Terima kasih atas pujiannya, Ayahanda," ucap Edward sambil menundukkan kepalanya takzim.
Raja Nolan bangkit berdiri dari singgasana megahnya. Langkah kakinya terdengar mantap saat ia menuruni anak tangga altar, berjalan mendekati putra angkatnya.
"Sebelum kau pergi, ada satu hal penting lain yang harus kusampaikan," ucap Sang Raja sembari merogoh saku jubah kebesarannya, lalu mengeluarkan sebuah pucuk surat dengan segel lilin yang terlihat mewah.
Edward menegakkan tubuhnya dan menerima surat tersebut dengan dahi mengernyit. "A-apa ini, Ayahanda?"
"Itu adalah undangan resmi untuk masuk ke Akademi Lumina. Dalam dua minggu lagi, kau akan menimba ilmu di sana."
Deg.
Seketika itu juga, baik Edward maupun Bernard yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung tersentak kaget. Suasana di dalam ruang audiensi yang luas itu mendadak diselimuti keheningan yang tegang.
"A-apa Ayahanda yakin? Aku sama sekali...." Edward menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Ia menundukkan kepala, menatap nanar ke arah surat di tangannya.
"Tidak punya Mana?" tebak Sang Raja langsung, memotong keraguan putranya dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.
Edward mengangguk pelan, tidak bisa membantah fakta pahit tersebut.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Tujuanmu ke sana hanyalah untuk menimba ilmu secara umum.”
Raja Nolan menepuk pundak kokoh Edward, mencoba menyalurkan ketenangan dari telapak tangannya.
“Kau tidak perlu memaksakan diri masuk ke kelas sihir atau faksi yang berhubungan dengan itu. Kelas utamamu adalah kelas-kelas reguler seperti pelajaran bahasa, matematika, tata krama, dan ilmu strategi ekonomi.”
Sang Raja tersenyum tipis.
“Namun, jika kau memang tertarik, kau bebas menghadiri kelas sihir mereka sekadar untuk mencari pengalaman baru.”
Edward terdiam.
Ia meremas pelan pinggiran surat undangan di tangannya. Kertas pembungkus yang mewah itu sedikit berkerut akibat tekanan jarinya.
“Tapi tetap saja, Ayahanda... kemampuan sihir adalah syarat mutlak di sana,” jelas sang Pangeran, mencoba bersikap realistis.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap langsung ke mata sang Ayah.
“Tanpa setitik pun Mana, para penguji akan langsung mendepakku keluar bahkan sebelum aku sempat melangkahi pintu gerbang mereka.”
Edward tahu betul bagaimana dunia luar memandang dirinya. Dan akademi itu bukanlah tempat yang ramah bagi orang biasa, apalagi seorang pangeran tanpa sihir.
“Ayahanda juga tahu sendiri, kan? Otoritas Akademi Lumina berjalan secara independen. Mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh politik praktis, maupun campur tangan dari pihak kerajaan dan gereja.”
Edward sekali lagi menatap surat di tangannya.
“Dan bukankah aneh mereka mengirim undangan padaku? Aku rasa surat ini bukan ditujukan untukku.”
Edward sudah pasti merasa curiga.
Sejak upacara pembaptisan beberapa tahun lalu, namanya sudah terkenal ke berbagai pelosok negeri. Dan bukan tidak mungkin pihak akademi tidak akan mengetahui berita sebesar itu.
Sebelas tahun lalu.
Tahun di mana pemuda itu dipermalukan di hadapan publik.
Otoritas Gereja yang mengetahui Edward tidak memiliki inti Mana ketika upacara berlangsung, segera mencap dirinya sebagai anak terkutuk yang diberkahi Iblis.
Ia masih ingat benar tatapan mata orang-orang di sana. Begitu sinis, dingin, dan penuh penghinaan.
Tetapi berbeda dengan kedua orang tuanya. Mereka dengan cepat membela Edward.
Terutama Ratu Tiana. Wanita itu adalah orang pertama dan yang paling depan berdiri langsung untuk melindunginya.
Raja Nolan sebenarnya juga sangat kesal, tetapi ia masih bisa bersikap tenang dan berusaha mengendalikan emosinya agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk di aula suci tersebut.
Berbeda dengan Ratu Tiana, yang bahkan hampir mendeklarasikan perang pada pihak gereja jika saat itu Nolan tidak segera menahan dan menenangkan istrinya.
Mengingat hal itu, Edward menghela napas pendek.
“Memang benar.”
Raja Nolan memecah lamunan Edward.
“Surat itu sebenarnya ditujukan untuk Kakakmu. Tapi karena dia memilih masuk ke akademi militer, jadi dia berkata jika surat itu diberikan untukmu saja.”
Sang Raja mengulas senyum tipis.
“Katanya, ini kesempatan bagus bagimu untuk menambah pengalaman baru di luar sana.”
Edward kembali menunduk.
“Tapi tetap saja—”
“Kalau tidak mau ya sudah.”
Raja Nolan dengan gerakan cepat menyambar surat itu dari tangan putranya.
“Eh, aku mau, aku mau!”
Sret!
Edward seketika merebut kembali surat itu dari cengkeraman sang Raja. Ia memeluk kertas itu erat-erat, menatapnya dengan mata yang mendadak berbinar-binar penuh semangat.
Raja Nolan hanya bisa terkekeh geli memandang kelakuan putranya yang berubah dalam sekejap.
“Kalau begitu, persiapkan dirimu baik-baik. Untuk masalah persyaratan masuk, kau tidak perlu khawatir. Ayah sebenarnya sudah membicarakan hal ini langsung dengan Kepala Akademi, dan dia sudah menyetujuinya.”
“Woah... Terima kasih, Ayahanda! Kau memang yang terbaik!” ujar Edward kegirangan.
“Sudah, cepat bersihkan dirimu. Sebentar lagi makan malam akan dihidangkan. Jangan sampai terlambat masuk ke ruang makan.”
Edward mengangguk mantap dengan senyum lebar. Ia berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya dengan perasaan riang, diikuti oleh Bernard yang setia mengekor di belakang.
Sang Raja tersenyum simpul, menatap punggung putranya hingga menghilang di balik pintu aula, sebelum akhirnya berjalan kembali menuju singgasananya.
Sejenak, pikiran pria paruh baya itu menerawang jauh ke depan.
Ia menantikan hal menarik macam apa yang akan dilakukan oleh putranya di akademi itu nanti.
Nolan berharap, dengan langkah ini Edward bisa menemukan dunia yang baru. Sebuah tempat di mana orang-orang bisa mengenal siapa sosok Edward yang sebenarnya, terlepas dari status "Anak Tanpa Mana" yang terus membebani pundak kecilnya selama bertahun-tahun.
...****************...
Keesokan harinya, Edward berniat untuk kembali melakukan patroli.
Sebenarnya, urusan patroli wilayah seperti ini adalah tugas rutin milik kakaknya. Namun, karena lelaki itu sedang mengemban tugas militer di luar negeri, Edward pun ditunjuk oleh sang Ayah untuk menggantikan posisinya menjaga perbatasan.
Di saat dirinya sedang sibuk merapikan pakaian di depan cermin, matanya melirik sepucuk surat yang tergeletak di atas rak kecil di samping tempat tidur.
Ia mengambil surat undangan Akademi Lumina tersebut, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
“Aku pasti akan mengguncang dunia. Lihat saja nanti!” katanya mantap, penuh keyakinan.
Tok! Tok! Tok!
“Tuan Muda, apakah Anda sudah bangun? Jenderal Vermont berkata ingin menemui Anda,” suara Bernard terdengar dari balik pintu kamar.
“Iya, aku keluar sekarang.”
Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, Edward membuka pintu kamarnya. Bernard sudah berdiri di sana dengan sikap takzim seperti biasa.
“Beliau saat ini sedang menunggu Anda di aula utama,” ujar sang pelayan tua.
Kedua orang itu pun lantas segera melangkah pergi untuk menemui sang Jenderal.
Jenderal Vermont.
Ia adalah sosok lelaki gagah perkasa yang sangat disegani, baik di dalam maupun di luar negeri. Rangkaian prestasi militernya telah mengukir namanya hingga melambung tinggi, membuahkan sebuah julukan yang selalu berhasil membuat musuh-musuhnya gemetar ketakutan.
The Sword of Aureliania.
Seorang kesatria sihir Lingkaran 5. Salah satu tingkatan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia biasa, hanya bermodalkan kerja keras murni tanpa adanya bakat alami sejak lahir.
Di medan peperangan, Jenderal Vermont dikenal tak terkalahkan. Ia adalah seorang ahli strategi sekaligus penyusun taktik yang jenius. Kontribusi besarnya pada negara tidak hanya membuahkan julukan keren, namun juga membuatnya diangkat langsung oleh Raja Nolan menjadi seorang Duke.
Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seseorang yang terlahir sebagai rakyat jelata di sebuah desa terpencil.
Edward bersama pelayan setianya akhirnya tiba di aula utama. Di sana, Raja Nolan dan Jenderal Vermont rupanya sudah berdiri menunggu kehadirannya.
Edward menelan ludah.
Jika sampai masalah ini melibatkan Ayandahanya secara langsung, maka situasi di luar sana pasti sedang tidak baik-baik saja.
“Salam, Yang Mulia. Salam, Jenderal Vermont,” sapa sang Pangeran dengan busur hormat yang sopan.
“Ah, Edward, kau sudah sampai. Ada hal penting yang ingin dibicarakan Duke Vermont padamu,” ucap Raja Nolan langsung pada inti masalah.
Jenderal Vermont meletakkan tangan kanannya di dada, lalu membungkuk hormat. “Salam, Pangeran muda. Maaf karena telah mengganggu waktu Anda.”
“Tidak apa-apa. Sebenarnya ada apa ini? Apakah ini berkaitan dengan laporan yang kukirim kemarin?”
“Intuisi Anda memang menakjubkan, Pangeran.”
Jenderal Vermont mengangguk tegas, tatapan matanya menajam.
“Mengikuti laporan Anda kemarin, saya beserta para prajurit langsung bergerak ke perbatasan guna mencari tahu penyebab sebenarnya.”
“Di sana... kami menemukan sesuatu.”
Jangan lupa ke naskah aku juga ya