Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Sinar matahari mulai masuk melalui jendela kamar bagas,Jam di meja samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 05.30,Bagas perlahan membuka matanya,Bagas masih memegang ponselnya.
Layar ponsel itu masih menyala dengan videocall yang belum terputus,Di layar terlihat ayla masih tertidur pulas,Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya setengah tertutup bantal,Bagas menatap layar itu beberapa detik.
"Cantik,lama sekali bangunya"gumam bagas pelan sambil melihat jam lagi.
"Kalau nggak dibangunkan dia bisa telat sekolah."
Bagas mendekatkan ponselnya sedikit.
"Sayang."
Tidak ada respon.
"Sayang."
Masih tidak ada respon.
Bagas menghela napas kecil.
"Sayang,Bangun."
Di layar,Ayla hanya bergerak sedikit lalu memeluk bantalnya lebih erat.
Bagas mengangkat alis.
"Keras kepala bahkan saat tidur."
Bagas mencoba lagi kali ini suaranya sedikit lebih tegas.
"Sayang bangun."
Ayla akhirnya bergerak sedikit tapi matanya masih tertutup.
"Umm."
Bagas berkata lagi.
"Kamu mau telat sekolah?."
Ayla masih setengah sadar.
"Iya."
Bagas langsung mengerutkan alis.
"Iya?."
Beberapa detik kemudian ayla baru sadar,Matanya terbuka sedikit lalu melihat layar ponsel.
"Gas?."
"Iya."
Ayla langsung menutup wajahnya dengan bantal.
"Astaga kita masih videocall?."
"Iya."
"Semalaman?."
"Iya."
Ayla langsung duduk dengan rambut yang masih berantakan.
"Kenapa kamu gak matiin?."
"Kamu yang bilang jangan dimatiin."
Ayla langsung mengingat.
"Oh iya."
Bagas melihat jam lagi.
"Sudah hampir jam enam."
Ayla panik langsung buru-buru turun dari tempat tidur.
"Hah aku bisa telat sekolah!."
Bagas menatapnya tenang dari layar.
"Makanya aku bangunkan."
Ayla buru-buru merapikan rambutnya.
"Kamu sudah bangun dari tadi?."
"Baru"jawab Bagas singkat.
"Makasih yah sudah bangunin aku."
"Hmm."
Ayla tersenyum manis.
"Selamat pagi."
Bagas menatap layar ponselnya sebentar lalu menjawab pelan.
"Pagi."
"Aku matiin yah,Lebih baik kita siap-siap,Aku mau mandi dulu."
"Hmm,jangan lupa makan."
"Iya."jawab ayla singkat.
"Video."
"Hah."
"Video pas kamu makan."
"Ihh iya iya aku video dasar posesif,Bay-bay."
Tut Tut
Setelah ayla mematikan videocall,Ayla bergegas ke kamar mandi.
...••••••...
Bel sekolah akhirnya berbunyi panjang,Siswa-siswi mulai keluar dari kelas dengan riuh,Alya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan rapi seperti biasa.
"Sayang!"suara seseorang memanggil dari depan kelas.
Alya menoleh,Matanya langsung membesar ketika melihat bagas berdiri di depan pintu kelas dengan santai,Tangan dimasukkan ke saku celananya.
Bagas berjalan mendekat.
"Ayo,Aku antar kamu pulang."
Rina dan salsa yang dari tadi menguping langsung mendekat dengan mata berbinar.
"Ayla jemputan datang!"kata Salsa menggoda.
"Mobil sport loh."tambah Rina.
Ayla langsung menatap mereka tajam.
"Kalian diam nggak?."
Bagas hanya tersenyum tipis.
"Ayo."
Ayla akhirnya menghela napas.
"Iya,Iya"
Mereka berjalan keluar sekolah.Di parkiran,Mobil sport bagas sudah menunggu,Beberapa siswa langsung melirik ketika bagas membuka pintu mobil untuk ayla,Mobil pun melaju meninggalkan sekolah.
Di dalam mobil suasana sempat hening.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan panti asuhan tempat Alya tinggal.
Ayla membuka sabuk pengaman.
"Makasih ya."
Alya hendak turun, tapi Bagas tiba-tiba berkata.
"Sayang."
Ayla menoleh.
"Malam ini kamu ada acara?."
Ayla berpikir sebentar.
"Nggak ada sih,Emang kenapa?."
Bagas menatapnya sebentar lalu berkata dengan tenang.
"Dinner."
Ayla langsung melotot.
"Hah?."
Bagas mengangguk pelan.
"Aku jemput jam tujuh."
"Tunggu dulu!Aku belum jawab!."
Bagas tersenyum tipis.
"Aku anggap iya."
"Bagas!."
Namun bagas sudah menyalakan kembali mobilnya dan pergi,Ayla berdiri di depan gerbang panti dengan wajah masih kaget
"Ini orang kenapa sih,mendadak banget ngajak dinner segala kan jadi bingung pilih baju"gumamnya pelan.
...••••••...
Sebuah mobil sport merah berhenti di depan panti asuhan,Lampu depannya menerangi halaman panti yang mulai sepi.
Bagas keluar dari mobilnya lalu menatap ke arah pintu panti.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Ayla keluar dengan gaun sederhana berwarna biru muda,Rambutnya diikat setengah,membuat wajahnya terlihat semakin manis.
Bagas sempat terdiam beberapa detik.
Ayla berjalan mendekat.
"Kenapa diam?"tanya ayla sambil mengerutkan kening.
Bagas berdeham kecil.
"Nggak apa-apa."
"Kamu lihat aku aneh ya?."
"Nggak."
"Terus?."
Bagas menatap Ayla sebentar,lalu berkata pelan,
"Kamu cantik."
Ayla langsung terdiam dan wajahnya sedikit memerah.
"Eh makasih"ucapnya pelan.
"Ayo."
Bagas membuka pintu mobil untuk ayla.
Beberapa menit kemudian.
Mobil berhenti di sebuah restoran yang cukup mewah,Lampu-lampunya hangat dan suasananya tenang,Ayla melihat sekeliling dengan sedikit kagum.
"Bagas ini mahal nggak sih?."
Bagas menarik kursi untuknya.
"Duduk."
Ayla duduk pelan.
"Jawab dulu."
Bagas ikut duduk di depannya.
"Tenang aja."
"Aku takut nggak bisa bayar."
Bagas menatapnya datar.
"Aku yang ngajak."
"Iya tapi."
"Aku yang bayar."
Ayla menghela napas lega.
"Syukurlah."
Bagas hampir tersenyum melihat reaksinya,Seorang pelayan datang membawa menu.
"Silakan dipilih."
Ayla membuka menu dengan hati-hati.
"Bagas."
"Hmm?."
"Aku boleh pesan apa aja?."
"Boleh."
"Bener?."
"Bener."
Ayla langsung memilih dengan semangat.
"Aku mau ini sama ini,Ini juga kelihatannya enak."
Bagas hanya memperhatikannya dengan tatapan tenang.
Setelah pelayan pergi,Ayla menatap bagas.
"Kamu nggak pesan?."
"Samain aja."
Ayla menutup buku menu perlahan lalu menatap bagas sambil tersenyum kecil.
"Samain aja?."
Bagas mengangguk santai.
"Iya."
Ayla tertawa pelan.
"Kamu ini benar-benar nggak berubah."
Bagas sedikit memiringkan kepalanya.
"Apa yang nggak berubah?."
"Dari dulu kalau makan selalu ikut pesanan aku."
Bagas menyandarkan punggungnya di kursi.
"Soalnya kamu selalu pilih yang enak."
Ayla menyipitkan matanya sedikit.
"Kamu itu malas mikir."
Bagas tersenyum tipis.
"Mungkin."
Beberapa detik mereka terdiam,Suasana restoran terasa hangat dengan lampu-lampu temaram.
Ayla memandang bagas dengan ekspresi yang lebih lembut.
"Bagas."
"Hmm?."
"Kamu ingat pertama kali kita ketemu?."
Bagas langsung mengangguk.
"Tentu."
Ayla menatap meja sebentar seolah mengingat sesuatu.
"Waktu itu kamu datang sama orang tuamu."
Bagas mengangguk pelan.
"Ayahku menyumbang untuk panti."
Ayla tertawa kecil.
"Aku ingat kamu menolongku saat terserempet motor."
Bagas mengangguk.
"Terus beberapa hari kemudian kamu datang lagi."
"Iya."
"Kamu bawa cokelat."
Bagas berkata santai.
"Kamu suka cokelat."
Ayla menunjuk dirinya sendiri.
"Aku bahkan belum bilang kalau aku suka cokelat."
Bagas menjawab tenang.
"Aku melihatmu saat terserempet motor,juga membawa coklat waktu itu."
Ayla tersenyum.
"Kamu memang selalu memperhatikan."
"Hanya hal-hal yang penting."
Beberapa detik mereka terdiam.
Ayla kemudian berkata pelan.
"Sejak hari itu kita jadi sering bertemu."
Bagas mengangguk.
"Iya."
"Kamu mulai sering datang ke panti."
Bagas menambahkan.
"Kamu juga mulai menungguku."
Ayla tertawa kecil.
"Iya juga."
Bagas menatapnya dengan lembut.
"Lalu beberapa bulan kemudian,Kamu seenaknya sendiri klaim aku jadi pacar kamu dan sejak itu kita selalu bersama."
Bagas berkata tenang.
"Lima tahun."
Ayla tersenyum.
"Iya,Lima tahun."
Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa makanan mereka.
"Silakan makanannya."
Beberapa piring diletakkan di atas meja dengan rapi.
Ayla langsung terlihat senang.
"Wah ini kelihatannya enak."
Ayla segera mengambil garpunya dan mencicipi sedikit.
Matanya langsung berbinar.
"Enak!."
Bagas memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Kamu selalu begitu kalau makan."
Ayla tertawa.
"Soalnya aku suka makanan enak mahal lagi."
Mereka makan beberapa saat dengan santai.
Lalu ayla kembali berbicara.
"Bagas."
"Hmm?."
"Kamu pernah menyesal nggak?."
Bagas menatapnya.
"Menyesal apa?."
Ayla memainkan sendoknya pelan.
"Pacaran sama aku."
Bagas langsung menjawab tanpa ragu.
"Nggak."
Ayla terlihat sedikit terkejut.
"Serius?."
Bagas mengangguk.
"Hm."
Ayla tersenyum kecil.
"Padahal aku cuma anak panti."
Bagas langsung menatapnya serius.
"Aku tidak suka kamu bilang begitu."
Ayla sedikit terdiam.
Bagas melanjutkan.
"Buatku kamu bukan 'anak panti'."
Ayla menatapnya pelan.
"Lalu?."
Bagas berkata dengan suara tenang.
"Kamu orang yang paling penting dalam hidupku."
Ayla langsung tersipu sedikit.
"Bagas."
Bagas melanjutkan lagi.
"Selama Lima tahun ini kamu selalu ada."
Ayla tersenyum lembut.
"Kamu juga."
Bagas menatapnya beberapa detik.
"Sayang."
"Iya?."
Nada suaranya kali ini terdengar lebih serius.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Ayla mulai penasaran.
"Apa?."
Bagas menatap matanya.
"Aku ingin kita bertunangan."
Sendok di tangan ayla langsung berhenti.
"Hah?."
Bagas tetap terlihat tenang.
"Tunangan."
Ayla menatapnya dengan wajah kaget.
"Bagas kamu serius?."
Bagas mengangguk tanpa ragu.
"Sangat serius."
Ayla masih terlihat terkejut.
"Tapi ini tiba-tiba."
Bagas menggeleng pelan.
"Tidak tiba-tiba."
Ayla mengerutkan kening.
"Kenapa?."
Bagas menjawab lembut.
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama."
Bagas melanjutkan.
"Aku bahkan sudah membicarakannya dengan bunda."
Mata ayla sedikit membesar.
"Bunda tahu?."
Bagas mengangguk.
"Iya."
"Terus papa dan mama kamu?."
"Mereka juga tahu."
Ayla semakin terkejut.
"Jadi,cuma aku saja yang gak tahu?."
Bagas tersenyum tipis.
"Kurang lebih begitu."
Ayla menggeleng tidak percaya.
"Kamu jahat."
"Aku cuma ingin membuatmu terkejut."
Bagas melanjutkan.
"Lima tahun ini aku selalu membayangkan masa depan kita."
Ayla menunduk sedikit.
"Bagas."
Bagas berkata lagi dengan suara lembut.
"Aku ingin kamu jadi bagian dari hidupku selamanya."
Ayla perlahan mengangkat kepalanya,Wajahnya memerah dan matanya sedikit berkaca.
"Kamu benar-benar serius?."
Bagas mengangguk sekali lagi.
"Hm."
Suasana meja mereka menjadi sangat sunyi.
"Dan aku tidak keberatan menunggu jawabanmu."
Ayla menatapnya dengan lembut,Namun kali ini ia tidak terlihat ragu,Dengan suara pelan namun jelas,Ayla berkata
"Kalau denganmu aku tidak takut tentang masa depan."
Bagas sedikit terkejut.
Ayla tersenyum hangat.
"Aku mau."
Bagas menatap ayla beberapa detik setelah mendengar jawabannya.
Kalimat itu membuat dadanya terasa hangat,Untuk pertama kalinya sejak tadi,Ekspresi tenangnya sedikit berubah,Ada kebahagiaan yang jelas terlihat di matanya.
"Sayang kamu serius?"tanyanya pelan,Seolah masih memastikan.
Ayla tersenyum lembut sambil mengangguk.
"Iya,Aku serius."
Bagas menghembuskan napas kecil yang sejak tadi seperti ia tahan.
"Syukurlah."
Ayla sedikit tertawa melihat reaksinya.
"Kamu kira aku bakal nolak?."
"Aku nggak pernah berpikir kamu nolak aku."
"Terus kenapa kamu kelihatan gugup gitu."
Bagas menatap ayla lembut.
"Karena jawabmu sangat berarti buatku."
"Terus kenapa kelihatan gugup begitu?."
Bagas menatapnya lembut.
"Karena jawabanmu sangat berarti buatku."
Ayla langsung terdiam.
Bagas melanjutkan dengan suara tenang.
"Aku sudah memikirkan momen ini sejak lama."
Tatapan ayla perlahan melembut.
"Selama lima tahun,Aku selalu yakin dengan perasaanku,Tapi aku tetap tidak bisa memaksa perasaanmu."
Wajah ayla kembali memerah.
"Bagaimanapun juga,Keputusan ini akan mengubah hidup kita."
Ayla tersenyum kecil.
"Dan kamu takut aku belum siap?."
Bagas mengangguk pelan.
"Sedikit."
Ayla menahan senyum.
"Padahal kamu kelihatan sangat tenang."
"Aku berusaha."
Jawaban singkat itu membuat ayla tertawa pelan.
"Kamu lucu juga kalau gugup."
Bagas menghela napas kecil.
"Kalau urusannya tentang kamu."
Jantung ayla kembali berdebar mendengar jawaban itu.
"Bagas."
"Hm?."
"Kamu sudah menyiapkan semua ini dari tadi, ya?."
Bagas tidak langsung menjawab,Bagas hanya memasukkan tangannya ke saku jas yang ia kenakan.
Ayla kembali tersipu mendengar jawabannya.
"Bagas."
Ayla memperhatikannya dengan penasaran.
"Kamu lagi ngapain?."
Bagas kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Ayla langsung terdiam.
"Itu."
Bagas mendorong kotak kecil itu perlahan ke arah Ayla.
"Aku sudah menyiapkannya."
Ayla menatap kotak itu dengan mata membesar.
"Bagas jangan bilang."
Bagas membuka kotak kecil itu,Di dalamnya terdapat sebuah cincin sederhana namun sangat indah,Kilau batu kecil di atasnya memantulkan cahaya lampu restoran.
Ayla langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kamu bahkan sudah menyiapkan cincin?."
Bagas menjawab tenang.
"Aku tidak ingin melamarmu tanpa persiapan."
Ayla masih terlihat tidak percaya.
"Bagas."
Beberapa orang di meja lain mulai melirik karena suasana mereka yang terlihat berbeda.
Bagas kemudian berdiri dari kursinya.
Ayla langsung kaget.
"Bagas?Kamu mau apa?."
Tanpa berkata apa-apa lagi,Bagas berjalan sedikit mendekat ke sisi ayla.
Lalu,dengan tenang bagas berlutut di samping kursinya.
Ayla benar-benar membeku.
"Bagas!Jangan lakukan ini di sini!."
Namun Bagas hanya tersenyum tipis.
"Sayang."
Ayla menatapnya dengan wajah merah karena malu dan terkejut.
"Apa?."
Bagas memegang kotak cincin itu dengan lembut.
"Selama lima tahun ini,kamu selalu menjadi alasan kenapa aku ingin pulang lebih cepat."
Ayla terdiam.
"Kamu juga selalu menjadi alasan kenapa aku ingin masa depan yang lebih baik."
Mata ayla mulai sedikit berkaca.
Bagas melanjutkan dengan suara tenang namun penuh kesungguhan.
"Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang akan kita hadapi."
Ayla menggenggam ujung gaunnya pelan.
"Tapi aku tahu satu hal."
Bagas menatap matanya dalam-dalam.
"Aku ingin menghadapinya bersamamu."
Air mata kecil mulai muncul di sudut mata ayla.
Bagas mengambil cincin itu dari kotaknya.
"Sayang."
"Iya"jawab ayla dengan suara pelan.
"Maukah kamu menjadi pasanganku?."
Ayla tertawa kecil di sela air matanya.
"Kamu ini tadi sudah nanya."
Bagas tersenyum.
"Tapi aku ingin mendengarnya lagi."
Ayla mengangguk pelan.
"Iya,Bagas."
Bagas menatapnya sebentar.
"Lagi."
Ayla akhirnya tersenyum lebar.
"Iya,Aku mau jadi pasanganmu."
Bagas perlahan mengambil tangan kiri ayla.
Tangan ayla sedikit dingin karena gugup,Ayla menatapnya tanpa berkedip.
Dengan gerakan hati-hati,Bagas menyematkan cincin itu ke jari manis ayla.
Cincin itu pas di jarinya.
Beberapa orang di restoran mulai bertepuk tangan kecil melihat momen itu.
Ayla langsung menunduk malu.
"Bagas semua orang lihat."
Bagas berdiri kembali lalu duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa."
Ayla masih melihat cincin di jarinya dengan tidak percaya.
"Kita benar-benar sudah tunangan?."
Bagas tersenyum tipis.
"Iya."
Ayla mengangkat tangannya sedikit,Memperhatikan cincin itu yang berkilau di bawah cahaya lampu.
"Lima menit lalu kita masih makan biasa."
Bagas tertawa kecil.
"Sekarang kita tunangan."
Ayla menatapnya dengan mata hangat.
"Kamu benar-benar mengubah hidupku,Bagas."
Bagas menjawab dengan tenang.
"Kamu juga mengubah hidupku."
Ayla tersenyum lembut sambil menggenggam tangannya sendiri yang kini sudah terpasang cincin.
Malam itu,Di tengah restoran yang hangat dan penuh cahaya,Hubungan tujuh tahun mereka akhirnya berubah menjadi janji untuk masa depan bersama.