Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Senjata Dan Langkah Baru
Hujan deras perlahan mereda, berganti menjadi rintik halus yang menyejukkan namun tetap menyisakan hawa dingin. Rombongan itu belum berani meninggalkan lumbung padi, mereka memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Rafli menemukan batang kayu jati yang keras dan kokoh, lalu bersama yang lain mengubahnya menjadi senjata tumpul yang kuat. Danu berhasil mendapatkan sebilah golok besar yang tajam dan berat—senjata yang akan menjadi andalan utamanya. Aldo menemukan sebilah arit yang masih terawat baik, sementara Rafli meluangkan waktunya untuk merangkai sebuah busur panah sederhana namun fungsional khusus untuk Mega.
Setelah semua perlengkapan tersusun rapi dan siap digunakan, Danu berdiri tegak di hadapan mereka.
"Baiklah... Kalian semua sudah siap?" tanyanya tegas, menatap satu per satu wajah rekan-rekannya.
"Siap!" jawab mereka serentak, suara itu terdengar mantap meski masih ada sisa kelelahan.
"Kalau begitu ayo kita bergerak," perintah Danu sambil mengangkat goloknya sedikit. "Rafli, kau berjaga di sisi kanan. Jodie, kau ambil sisi kiri. Aldo dan Imran, kalian ikut menjaga bagian belakang. Aku dan Simon akan memimpin di barisan paling depan. Mega, Natalia, Andri, Dokter Rizal, Adi, dan Yusuf... kalian tetap berada di tengah barisan agar terlindungi. Nanti kita bisa saling bergantian posisi seiring perjalanan."
Tanpa banyak bicara, mereka pun bergerak membentuk formasi yang sudah ditentukan. Pintu lumbung dibuka perlahan, udara segar yang berbau tanah basah menyambut mereka. Di hadapan mereka masih terbentang jalan panjang yang tak terduga, namun setidaknya kini mereka tak lagi kosong tangan. Mereka memiliki senjata, mereka memiliki teman berjuang, dan satu tujuan yang sama: sampai ke Bandung dengan selamat.
"Berhati-hatilah," ucap Danu lantang, suaranya tegas membelah udara pagi yang masih sejuk. "Bahaya sedang mengintai kita di mana saja. Bukan hanya mereka yang tak lagi bernyawa yang harus kita takuti—manusia yang masih hidup pun bisa menjadi ancaman yang jauh lebih kejam."
Tanpa menunggu jawaban, rombongan itu melangkah keluar meninggalkan perlindungan lumbung. Mereka menjejaki jalanan yang masih basah dan licin, menuju arah Puncak. Perjalanan ini takkan mudah, membelah rimbunnya pepohonan dan hutan lebat yang menyembunyikan seribu rahasia. Kendaraan yang mereka tinggalkan di jalan tol tak bisa lagi digunakan, kini hanya tas berisi sisa makanan dan air minum yang mereka bawa, ditambah senjata-senjata sederhana yang kini menjadi tameng nyawa mereka.
"Jika matahari sudah tepat di atas kepala kita, kita berhenti dan cari tempat istirahat," perintah Danu singkat, disambut anggukan mantap dari semua orang.
Di sisi kanan barisan, Rafli tak hanya menjaga, namun juga mencari peluang. Ia menyelinap sebentar ke balik rimbunnya semak dan pepohonan, mengamati sekeliling dengan mata tajam. Tak lama kemudian ia melihat seekor kelinci yang sedang mencari makan. Dengan tenang ia menarik tali busurnya, dan dalam sekejap anak panah melesat tepat mengenai sasaran. Rafli mengambil buruannya, memasukkan ke dalam tas, lalu kembali bergabung dengan rombongan.
"Dari mana kau, Rafli? Dan apa yang kau dapat?" tanya Mega heran melihat kelinci yang disembunyikannya.
"Aku berburu sebentar. Dapat seekor kelinci untuk tambahan bekal makan siang kita," jawabnya santai.
"Semua berhenti sejenak!" seru Danu tiba-tiba. Rombongan langsung menghentikan langkah. "Kita akan mencari tempat istirahat. Kalian tunggu di sini, aku dan Rafli akan memeriksa area di depan dulu."
Mereka berdua melangkah maju. "Tadi aku mendengar suara gemuruh air," bisik Danu sambil menunjuk arah lembah tak jauh dari sana. "Sepertinya tempat itu pas untuk beristirahat."
"Kau yakin itu sungai, bukan jebakan?" tanya Rafli ragu.
"Sangat yakin. Dan itu yang paling kita butuhkan—air bersih. Kita bisa mengisinya kembali untuk perjalanan selanjutnya," jawab Danu mantap.
"ya kau benar, aku juga bisa mencari ikan di sana. Bekal kita masih kurang, dan aku tak yakin stamina mereka akan bertahan jika terus berjalan dengan perut kosong." ucap Rafli.
Danu berhenti sejenak, menatap tajam ke arah rekan seperjuangannya. "Kita harus meyakinkan mereka. Setelah melewati jalan setapak ini, kita akan sampai di jalan raya. Di sana pasti masih banyak kendaraan yang bisa kita gunakan."
Rafli tersenyum tipis lalu menepuk bahu Danu. "Baiklah. Kau yang memimpin, dan aku percaya padamu. Yakinlah pada mereka—masih ada harapan sampai ke Bandung. Mungkin di sana semuanya masih aman."
"Aku tak akan mengecewakan kalian," janji Danu dalam hati, lalu mengikuti langkah Rafli menuju sumber suara itu.
Benar dugaan mereka, di bawah sana terbentang aliran sungai yang airnya jernih berkilau terkena cahaya matahari.
"Kau benar, Danu," bisik Rafli dengan suara serak yang sedikit melembut. "Airnya jernih. Kita bisa membersihkan diri, mengisi bekal air, dan mencari ikan untuk makan."
"Kita periksa dulu sekelilingnya," ajak Danu. Mereka berkeliling memastikan tak ada jejak bahaya, tak ada geraman yang mencurigakan, dan tak ada makhluk yang mengintai di balik bebatuan. Rafli bahkan menelisik ke tepian air, memastikan tak ada bahaya yang mengintai dari dalam sungai itu.
Setelah yakin aman, mereka kembali dengan langkah ringan menemui rombongan yang menunggu.
"Aku yakin kalian akan senang melihatnya," ucap Danu.
"Setidaknya aku sudah lama ingin merasakan air yang benar-benar bersih," timpal Rafli.
Sesampainya di sana, kabar itu seketika mengangkat semangat mereka. Danu pun langsung memberi isyarat. "Mari kita bergerak. Kita istirahat sejenak di sana sebelum melanjutkan perjalanan."
Bersambung