NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kebebasan Semu Yang Diuji

Pagi berikutnya, Ara terbangun lebih awal. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap pintu kamar. Ia sudah tidak melihat Dante berkeliaran di kamar. Mungkin suaminya ada di ruang kerja--bagaimanapun semalam suaminya tidak menyentuh pekerjaan begitu pulang dari rumah tua. Pertama, mungkin karena memang hari sudah larut malam. Suaminya juga bukan hewan nokturnal semacam kelelawar, suaminya butuh tidur. Kedua, dari wajah suaminya, pria itu kelihatan sangat lelah mental dan fisik. Entahlah mungkin itu hanya sebatas tebakan atau perasaannya saja.

Setidaknya hal terbaik yang terjadi pagi ini, belum ada ketukan kepala pelayan yang membangunkan atau memintanya turun untuk sarapan. Ia masuk ke kamar mandi. Semalam ia sudah mandi, jadi ia tidak berencana mandi lagi. Lagipula setelah hujan, udara pagi lebih mengembun dan lebih dingin.

Ara mencuci muka dan menggosok gigi. Itupun kran wastafel ia putar ke mode air hangat bukan air dingin. Jadi ia tidak menggigil.

Usai dari kamar mandi, Ara berjalan santai menuju walking closet. Ujung rambutnya masih sedikit lembap karena sengaja ia basahi. Beberapa titik air membasahi bagian depan bajunya akibat terciprat air keran. Ia mendecakkan lidah pelan, lalu menarik salah satu pakaian dari dalam lemari. Ia ingin mengganti bajunya yang basah.

Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada pakaian yang baru diambilnya. Karena itu, ia sama sekali tidak menyadari sosok yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria itu berdiri diam di ambang pintu walking closet, kedua tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya tertuju pada istrinya tanpa suara. Entah sejak kapan ia berada di sana, Ara bahkan tidak mendengar suara langkah kakinya.

Ara baru menyadari keberadaannya ketika pantulan tubuh Dante muncul samar di permukaan pintu lemari yang mengilap. Tangannya berhenti memilih baju. Tubuhnya menegang seketika. Perlahan, Ara menoleh.

Dante ternyata benar-benar sudah berdiri di belakang nya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi tenang yang justru membuat suasana menjadi semakin menekan.

"Sejak kapan kau di sana?" protes Ara.

Dante tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sekilas pada pakaian Ara yang sedikit basah, kemudian kembali ke wajahnya.

"Cukup lama." Mata pria itu masih belum lepas dari Ara.

Sementara jawaban singkatnya membuat Ara mengernyit.

Ara buru-buru memeluk pakaian yang ada di tangannya ke depan dada, seolah baru menyadari ia sama sekali tidak sendirian.

Dante hanya mengangkat satu alis. "Kau bahkan tidak menyadari aku masuk."

Ara menghela napas pelan. "Kau berjalan tanpa suara."

"Bukan salahku kalau kau terlalu sibuk." Ketenangan wajah Dante sungguh tak tergoyahkan. Ara salut. Tatapan mata mereka berdua bertemu.

Ara langsung memalingkan wajah. Ia pikir Dante akan pergi begitu ia membuang muka. Tetapi Dante justru melangkah mendekat. Itu jelas di luar prediksinya.

Suara langkahnya terdengar pelan di atas lantai marmer. Satu langkah. Dua langkah. Hingga jarak di antara mereka semakin menyempit.

Ara pura-pura sibuk memilih pakaian. Ia mengembalikan kaos yang ada di tangannya.

Ia menarik sebuah blouse dari gantungan, lalu menggantungnya kembali. Ia mengambil gaun mini. Ia mencoba meletakkan gaun itu di depan tubuh, tapi lagi-lagi ia mengembalikan dan memilih baju yang berbeda. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada pria yang sekarang sudah berada tepat di belakangnya.

"Kau sebenarnya mau mengganti baju atau membongkar lemari?" tanya Dante sedikit sarkas.

"Tentu menggantinya. Bajuku basah." Ara tetap memunggungi Dante.

"Aku bisa melihatnya." Suara pria itu terdengar datar, meskipun ada kilatan di matanya.

"Kalau begitu bisakah kau menjauh," pinta Ara yang merasa gerah.

Dante terdiam sesaat. Sudut bibirnya bergerak tipis. "Kenapa?"

Ara masih bertahan dengan status quo-nya. "Kehadiranmu membuatku tidak nyaman," jawabnya jujur.

Dante menatapnya beberapa detik. Ia tidak marah dan tidak tersinggung. Justru tatapannya semakin sulit dibaca. Tangannya kemudian terulur dan mengambil blouse yang tadi pertama dipilih Ara.

"Yang ini saja?" Dante memilihkan dan memutuskan baju untuk Ara.

Ara menatap blouse di tangan Dante. Ia masih tak berani menatap Dante. Ia juga tidak mengeluarkan sepatah kata bantahan lain. Ia mengambil cepat-cepat blouse biru itu. Ia berbalik hendak pergi menuju kamar untuk berganti pakaian.

Namun baru dua langkah, suara Dante menghentikannya. "Ara."

Dante menunjuk bagian rambutnya yang lembab. "Masih basah."

"Aku akan mengeringkannya nanti," sahut Ara yang berjalan memunggungi Dante. Ia memeluk blouse itu di depan dadanya.

Dante mengambil handuk kecil yang tergantung di dekat lemari sebelum Ara sempat bergerak. Ia mengulurkan handuk itu kepada Ara. "Gunakan ini."

Ara menerima handuk itu. Dante melangkah melewatinya, lalu berhenti tepat di ambang pintu. "Setelah berganti pakaian, segera turun."

Ara mengiyakan. Ia mengunci pintu kamar mandi.

***

Beberapa menit kemudian, Ara berjalan mendekati pintu kamar dan membukanya. Ia menuruni anak tangga ke lantai bawah.

Lorong mansion masih sepi. Ia melangkah keluar dari aula utama. Tidak ada yang menghentikan.

Ara berhenti. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Ia berjalan lebih jauh. Tidak ada seorang pun yang mengikutinya. Ia bahkan sengaja berjalan menuju pintu gerbang. Seorang penjaga berdiri di dekat sana. Begitu melihat Ara, pria itu hanya menundukkan kepala dan menyapanya. "Selamat pagi, Nyonya."

Ara tersenyum. Biasanya penjaga akan langsung bertanya ia hendak pergi ke mana, tetapi kali ini tidak.

Ara meminta penjaga membuka pintu. Ia keluar gerbang mansion. Ia berhenti di luar dan menoleh ke belakang. Tetap tidak ada yang mengejar. Tidak ada suara Dante yang memanggil. Ia menatap jalan di depannya. Itu jalan yang sama, yang selalu ia lalui untuk pergi atau pulang. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ara menoleh kembali ke mansion. Dari balkon ruang kerja di lantai dua, Dante berdiri sambil memegang secangkir kopi. Tatapan mereka bertemu. Selang beberapa detik, ia akhirnya berbalik. Ia berjalan kembali melewati gerbang. Ia masuk ke halaman mansion.

Ara memicingkan mata. Ia sudah berdiri di sekitar halaman, tepat di bawah balkon ruang kerja mansion.

"Kau mengawasiku!" Suara Ara terdengar cukup keras dari bawah.

Dante mengangkat cangkirnya sedikit. "Aku tidak pernah bilang tidak."

Ara mendengus. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Kau sengaja mengujiku?"

Dante menatapnya dingin selama beberapa saat. "Kalau kau ingin pergi, pergilah."

Ara mengerutkan kening. "Aku tidak percaya kau bisa melepaskanku."

"Bukankah kau ingin kebebasan?" Suara Dante yang tak berperasaan menggema dari lantai dua.

"Kalau aku pergi sekarang, kau akan mengejarku?" teriak Ara bertahta dari jauh.

"Tidak Akan. Kenapa aku harus mengejar mu?" jawab Dante lebih dingin. Ia masuk kembali ke ruang kerja dan menutup balkon.

Ara masih tidak percaya pada kata-kata suaminya. Ia menyipitkan mata. Ia berpikir Dante mungkin saja sedang merencanakan sesuatu untuknya. Meskipun begitu ia juga tidak boleh overthinking. "Ahhhh" gumamnya sembari merenggangkan badan. Ia kemudian berjalan ke aula utama menuju ruang makan.

***

Saat sarapan, Ara sempat memikirkan kembali kejadian pagi ini. Dante duduk di seberangnya seperti biasa. Ia mengunyah buah potong dengan tenang. Tidak ada satu pun komentar mengenai percobaan Ara keluar dari mansion.

Ara akhirnya tidak tahan, ia mulai memancing duluan. "Kau tidak marah?"

Dante mengangkat wajah. "Untuk apa?"

"Aku keluar."

"Aku tahu."

"Aku bahkan melewati gerbang."

"Aku juga tahu."

Ara mengernyit. "Kau tidak kawatir aku bakal kabur?"

Dante meletakkan sendoknya. "Bukankah kau kembali?"

Ara speechless. Kalimat sederhana itu mematahkan semangatnya untuk berdebat. Ia tidak punya kata-kata untuk dikatakan lagi

Luca masuk ke ruang makan membawa beberapa map.

Dante mengangguk. "Taruh di sini."Ia mengetuk jarinya ke meja makan.

Luca meletakkan map-map itu di atas meja.

Ara melirik. "Apa itu?"

"Rancangan rumahmu."

Ara langsung menatap Dante.

"Kontraktor sudah mulai membuat beberapa rancangan." Dante membuka map pertama. Di dalamnya terdapat gambar rumah tua yang sudah direnovasi.

Ara mendekat. Matanya sedikit berubah. Rumah itu masih mempertahankan bentuk aslinya, tetapi tampak jauh lebih kokoh. Atap baru. Jendela besar. Taman yang indah. Balkon yang diperbaiki. Ara membalik halaman berikutnya. "Ini bagus."

Dante menggeser beberapa gambar ke arahnya. "Pilih yang kau suka."

Ara menatapnya. "Aku?"

Dante mengangkat wajahnya. "Rumah itu milikmu."

Ara mengerutkan kening. "Seandainya aku mau mengubah semuanya?"

"Ubah," balas Dante datar. Ia mengucapkan seolah tanpa penyesalan.

"Kalau aku tidak suka warna dinding ini?"

"Ganti."

"Kalau aku mau menginginkan ada perpustakaan?"

"Buat."

Ara semakin heran. Ia bergidik mendengar setiap jawaban Dante. Ia semakin yakin Dante salah minum obat. "Kau benar-benar memperbolehkannya?"

Dante menatapnya. "Sudah kukatakan itu rumahmu. Kau bisa melakukan apa saja pada rumahmu."

Luca diam-diam menahan senyum. Ia sudah lama tidak melihat Dante dan Ara seperti ini.

"Katakan apa yang kau inginkan, Luca akan meneruskannya pada kontraktor itu," beritahu Dante serius.

"Aku ingin jendela besar di ruang tengah. Kebun sayur di belakang. Dapur yang lebih luas. Sebuah ruang baca di lantai dua. Dan balkon yang menghadap ke halaman." Ara membeberkan panjang kali lebar keinginannya.

"Luca kau sudah mengingatnya?" tanya Dante meneruskan.

Luca mengangguk. Ia kemudian mengambil map itu kembali dari tangan Ara.

"Minta kontraktor itu buat sekali lagi gambaran besarnya, sesuai dengan yang diinginkan Nyonya. Jika sudah ada, berikan pada Nyonya. Asal Nyonya acc maka pembangunan bisa dikerjakan segera."

Ara ikut mendengarkan pengaturan Dante. Wajahnya tertunduk. Ia baru mengangkat wajahnya saat Luca pergi.

"Terimakasih," katanya tulus.

"Tidak perlu. Itu sudah seharusnya kulakukan." Dante bertukar pandang dengan Ara.

Tenggorokan Ara tercekat. Ia bertanya-tanya apakah ini masih Dante yang sama??

"Cepat habiskan makananmu," komentar Dante mencairkan suasana. Entah kenapa ia berpikir ruang makan berubah menjadi awkward.

Ara buru-buru mengambil sendok dan menyeruput sup dari mangkok kecilnya.

Dante menyeringai lembut. Ia baru tahu tikus kecilnya mempunyai sisi manis seperti ini saat sedang kikuk.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!