Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Lin Xiao yang sudah berada di posisi aman di belakang monster itu tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang dia ciptakan.
Dia memusatkan seluruh energi Penguasa Darah dari dalam Dantiannya dan menyalurkannya dengan cepat ke lengan kanan.
Aura merah darah meledak menyelimuti pedang besi biasa di tangannya hingga memancarkan niat membunuh yang pekat.
"Mati kau!" teriak Lin Xiao sambil melesat maju menerjang lawannya.
Dia melompat tinggi menggunakan sebuah batu terdekat sebagai pijakan, mengarahkan serangannya tepat ke wajah beruang yang sedang menoleh ke arahnya.
Sring.
Pedang besi yang telah dilapisi energi merah darah itu meluncur deras bagaikan kilat yang membelah udara.
Fokus serangannya hanya tertuju pada satu titik, yaitu mata kiri Beruang Sisik Darah yang sama sekali tidak terlindungi oleh sisik.
Crot.
Pedang biasa itu menancap sangat dalam menembus bola mata monster raksasa itu hingga menyentuh bagian otaknya.
Darah kental berwarna merah gelap dan cairan mata menyembur keluar membasahi wajah serta tangan Lin Xiao.
Beruang itu menggelepar dengan sangat hebat, cakarnya mengayun secara membabi buta di udara karena rasa sakit yang tidak tertahankan.
Brak.
Satu ayunan acak dari cakar besar itu secara tidak sengaja mengenai bahu kiri Lin Xiao sesaat sebelum beruang itu menemui ajalnya.
Lin Xiao terlempar keras jatuh ke tanah, bahu kirinya robek dan darah segar mengalir deras dari lukanya yang cukup dalam.
Rasa sakit yang sangat menyengat membuat pandangannya menjadi sedikit berkunang-kunang untuk beberapa saat.
Bruk.
Tubuh raksasa Beruang Sisik Darah itu akhirnya tumbang ke tanah, menciptakan suara debuman yang keras seperti pohon tumbang.
Napas monster buas itu terhenti seketika, mati oleh satu tusukan presisi dari seorang pemuda manusia di titik butanya.
Lin Xiao berbaring telentang di tanah sambil mengatur napasnya yang terengah-engah mencari pasokan oksigen.
Keringat dingin yang bercampur dengan noda darah musuh membasahi seluruh tubuhnya.
"Sialan, tamparannya di detik-detik terakhir itu benar-benar sangat mematikan." keluh Lin Xiao sambil memegangi bahunya yang berdarah menahan ringisan.
"Jika aku telat menghindar sedikit saja dari lintasannya, tulang rusukku pasti sudah hancur lebur."
'Itu adalah harga yang sangat murah untuk ukuran membunuh monster tingkat kelima.' tawa Kaisar Pedang Haus Darah bergema sangat puas di kepalanya.
'Kerja bagus, Nak. Kau menunjukkan kecerdasan dan nyali yang luar biasa dalam pertarungan hidup dan mati ini.'
Lin Xiao memaksakan dirinya untuk segera bangkit berdiri meskipun bahunya terasa sakit.
Dia merogoh ke balik bajunya dan mengeluarkan sebotol pil penyembuh luka yang dia jarah dari para pembunuh bayaran Serigala Hitam tadi.
Glek.
Dia menelan satu butir pil dan menaburkan serbuk isi pil lainnya ke atas luka robek di bahu kirinya.
Efek obat tingkat rendah itu mulai bekerja, menahan pendarahan secara perlahan meski tidak bisa menyembuhkannya secara seketika.
"Aku tidak bisa berlama-lama berada di sini, bau darah beruang sebesar ini pasti akan memancing monster kuat lainnya untuk datang." ucap Lin Xiao kembali waspada.
Dia berjalan mendekati bangkai Beruang Sisik Darah tersebut dan menarik pedangnya secara paksa dari mata monster itu.
Setelah membersihkan bilah pedangnya, dia menempelkan telapak tangannya ke luka menganga di kepala beruang tersebut.
"Saatnya memanen hadiah utamanya dari pertarungan ini." gumam Lin Xiao dengan sorot mata yang tajam.
Wush.
Teknik Penguasa Darah kembali diaktifkan dengan kecepatan putaran yang penuh.
Darah beruang yang kaya akan energi buas dan keras mengalir deras tersedot masuk ke dalam tubuh Lin Xiao tanpa henti.
Sensasi panas yang luar biasa kembali membakar semua meridiannya, namun kali ini Lin Xiao menahannya dengan senyum puas di wajahnya.
Energi dari monster tingkat kelima ini sangatlah besar, mendorong penghalang kultivasinya terus hingga ke batas maksimal.
Krak.
Suara retakan pelan terdengar dari dalam perut Lin Xiao, menandakan bahwa belenggu kultivasi di tingkat kedua telah hancur sepenuhnya.
Aliran energi yang jauh lebih besar dan luas langsung memenuhi seluruh tubuh dan aliran darahnya.
Luka robek di bahu kirinya mulai menutup dan mengering dengan sendirinya berkat efek pemulihan otomatis dari terobosan kultivasi ini.
Lin Xiao perlahan membuka matanya yang kini memancarkan cahaya merah yang sangat terang dan berwibawa.
"Tahap Pembentukan Dasar tingkat ketiga." ucap Lin Xiao dengan nada yang penuh kemenangan mutlak.
'Bagus, perpaduan energi darah monster ini dan Inti Logam Bumi yang kau dapatkan tadi pasti akan membuat pondasimu sangat kokoh.' puji sang kaisar mengkonfirmasi pencapaiannya.
'Sekarang, masuklah ke dalam gua lembab itu. Aku merasakan sesuatu yang lain sedang memanggil kita dari dalam sana.'
Lin Xiao mengerutkan keningnya menatap tajam ke arah kegelapan gua di depannya.
"Sesuatu yang lain? Apakah masih ada monster penjaga lagi di dalam sana yang harus aku hadapi?"
'Bukan monster buas yang aku rasakan.' jawab Kaisar Pedang Haus Darah dengan nada yang mendadak serius.
'Tapi ini adalah aura yang sangat familiar dari masa lalu. Aura salah satu raja kuno yang seharusnya tertidur di dalam Makam Para Raja.'
Mata Lin Xiao membelalak kaget mendengar penjelasan mengejutkan hal itu.
Selama ini dia mengira semua warisan raja hanya ada di dalam roh makamnya, namun ternyata ada petunjuk fisik yang tersebar di dunia nyata.
Tanpa banyak bertanya lagi, Lin Xiao mencengkeram pedangnya dan melangkah masuk ke dalam gua yang gelap tersebut.
Dengan sepuluh batang Rumput Tulang Besi, sebuah Inti Logam Bumi, dan kultivasi tingkat ketiga, panennya hari ini sungguh tidak ternilai harganya.
Namun, rahasia besar yang tersembunyi di dalam gua ini mungkin akan mengubah nasib kultivasinya lebih jauh lagi.