Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suasana di ruang tamu rumah besar keluarga Baskara mendadak terasa mencekam.
Pagi yang biasanya tenang kini diisi oleh kehadiran tiga orang petugas kepolisian berseragam lengkap yang berdiri tegak di dekat pintu utama.
Di sofa ruang tamu, Billy dan Yanuar duduk berdampingan.
Meskipun postur tubuh mereka tampak tegap, keringat dingin yang mengalir di pelipis dan jari-jari tangan yang saling meremas erat tidak bisa menyembunyikan kepanikan luar biasa yang tengah mereka rasakan.
Seorang perwira polisi paruh baya berambut beruban memegang sebuah map dokumen di tangannya.
Ia menatap tajam ke arah Billy dan Yanuar secara bergantian sebelum akhirnya membuka suara.
"Selamat pagi, Tuan Billy, Tuan Yanuar. Kami dari kepolisian sektor kota datang untuk meminta keterangan tambahan terkait insiden kebakaran tragis yang merenggut nyawa Tuan Baskara dan Nyonya Alena di toko roti mereka kemarin lusa," ujar perwira itu dengan nada tegas dan formal.
Billy langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat, meskipun sorot matanya tidak bisa membohongi rasa takut.
Ia berdehem pelan untuk menjernihkan tenggorokannya.
"Tentu saja, Pak Polisi. Kami sangat terpukul dengan kepergian sepupu dan ipar kami itu," kata Billy dengan nada yang diatur agar terdengar pilu.
"Kami siap membantu penyelidikan, meskipun sejujurnya kami sedang berduka."
Yanuar mengangguk cepat, langsung menyambung skenario yang sudah mereka susun sepanjang malam.
"Benar, Pak. Dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai keberadaan kami saat kejadian... kami memiliki alibi yang sangat kuat. Pada hari insiden itu terjadi, sejak pagi buta kami berdua sedang berada di luar kota, tepatnya di kawasan Bandung, untuk mengurus perluasan lahan keluarga."
Billy mengangguk mengiyakan, merasa bangga dengan alibi rapi yang mereka buat.
"Betul sekali. Staf hotel, catatan tol, hingga beberapa rekan bisnis bisa mengonfirmasi bahwa kami tidak berada di area Kepanjen saat kebakaran itu terjadi. Jadi, jika ada kecurigaan bahwa kami terlibat... itu sama sekali tidak berdasar."
Mereka berdua menatap sang perwira polisi dengan napas tertahan, menunggu reaksi atas kebohongan yang baru saja mereka muntahkan.
Namun, yang mengejutkan, perwira polisi itu tidak langsung membantah, tidak pula mendesak.
Ia hanya terdiam sejenak, menatap kedua pria di depannya dengan pandangan menyelidik yang penuh makna.
Di balik tatapan serius itu, tidak ada keterkejutan sama sekali.
Polisi tersebut sebenarnya sudah mengetahui seluruh kebenarannya.
Berkat koordinasi rahasia dengan Kenan dan instruksi langsung dari Baskara—yang merancang strategi ini dari ranjang rumah sakitnya di Seoul—pihak kepolisian sudah memegang kendali penuh atas arah investigasi.
Mereka sengaja dibiarkan membeberkan alibi palsu itu agar perangkap yang dipasang semakin rapat.
Sang perwira menutup map di tangannya perlahan, lalu mengangguk kecil.
"Baiklah, keterangan dan catatan alibi kalian sudah kami catat," jawab perwira itu dengan nada datar yang sulit ditebak.
"Penyelidikan forensik masih terus berjalan. Jika sewaktu-waktu kami membutuhkan keterangan lebih lanjut, kami akan menghubungi kalian kembali."
Setelah mengucapkan kalimat penutup, ketiga petugas polisi itu berbalik dan melangkah keluar rumah, meninggalkan Billy dan Yanuar yang langsung menghela napas panjang secara bersamaan.
Begitu deru mobil polisi terdengar menjauh dari halaman rumah, Billy menyandarkan punggungnya di sofa dengan lemas.
"Fuh... kau dengar itu, Yanuar?" bisik Billy dengan dada yang masih naik-turun karena tegang.
"Mereka percaya begitu saja pada alibi kita! Kita selamat."
Yanuar mengusap keringat di dahinya, lalu tersenyum tipis, mencoba mengembalikan rasa percaya dirinya yang sempat runtuh.
"Sudah kubilang, jangan panik. Polisi itu tidak punya bukti apa-apa untuk menjerat kita. Permainan ini ada di tangan kita sekarang."
Mereka berdua tertawa kecil, merasa telah berhasil mengecoh hukum.
Namun, mereka tidak tahu bahwa keheningan sang perwira polisi tadi bukanlah tanda menyerah, melainkan sebuah hitung mundur menuju saat di mana jerat hukum yang sebenarnya akan menutup leher mereka rapat-rapat.
Di dalam kamar perawatan VIP Rumah Sakit Seoul yang tenang, suasana sore itu terasa hangat.
Alena duduk di sisi ranjang Baskara dengan semangkuk bubur hangat di tangannya. Dengan penuh kelembutan, ia menyuapi suaminya yang masih berbaring miring demi menjaga kenyamanan punggungnya yang sedang dalam masa pemulihan pasca-operasi tahap pertama.
Di atas meja kecil di dekat ranjang, sebuah laptop tersangga kokoh dengan layar yang menampilkan panggilan video aktif.
Di seberang layar, seorang perwira kepolisian Indonesia yang memegang kendali atas kasus tersebut tampak mendengarkan instruksi langsung dari Baskara.
"Dua hari lagi, kami akan pulang ke Indonesia," suara Baskara terdengar tenang namun tegas, matanya menatap tajam ke arah layar laptop.
"Pastikan semua bukti transaksi, rekaman CCTV pelabuhan, dan hasil forensik awal sudah terkumpul sempurna. Jangan biarkan ada celah sekecil apa pun bagi mereka untuk berkelit."
"Baik, Tuan Baskara. Semua sudah dipersiapkan sesuai rencana," jawab perwira di seberang layar dengan hormat.
"Bagus. Siapkan semuanya bersama Kenan. Koordinasikan waktu penggerebekan tepat saat mereka merasa berada di puncak kemenangan," lanjut Baskara sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Saya akhiri panggilan ini."
Baskara menggeser layarnya, menutup sambungan video call tersebut, lalu kembali bersandar dengan tenang.
Alena menyuapkan suapan terakhir bubur ke mulut suaminya, lalu menyodorkan segelas air putih hangat.
"Kamu terlalu memforsir pikiranmu, Bas. Baru juga dua hari pasca-operasi," protes Alena lembut sambil merapikan selimut suaminya.
Baskara tersenyum tipis, meraih tangan Alena dan mengecupnya sekilas.
"Aku tidak memforsir diri, Sayang. Aku hanya tidak sabar ingin segera menyelesaikan sandiwara ini dan membawa kamu serta anak kita kembali ke rumah dengan aman."
Tiba-tiba, ponsel Baskara yang tergeletak di atas nakas berdering pelan, menandakan sebuah pesan masuk. Alena berinisiatif mengambilnya dan membacakannya untuk sang suami.
Pesan dari Kenan:
[Pak, laporan intelijen dan pengawasan terbaru menunjukkan bahwa Billy dan Yanuar baru saja memesan ruang rapat utama. Lusa, mereka berdua berencana mengumpulkan seluruh pemegang saham untuk mengesahkan pengambilalihan aset perusahaan secara sepihak.]
Mendengar isi pesan tersebut, mata Baskara menyipit. Alena yang membaca pesan itu ikut tersenyum penuh arti.
Baskara membaca ulang pesan itu dengan senyuman tipis yang dingin di bibirnya.
Sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa mangsa telah berjalan sendiri masuk ke dalam perangkap yang paling mematikan.
"Lusa..." bisik Baskara pelan, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Itu akan menjadi hari di mana pesta mereka resmi berubah menjadi pengadilan terakhir."
Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, Baskara mengalihkan pandangannya.
Ia menatap wajah Alena yang duduk di sampingnya, memperhatikan rona lelah namun tetap terpancar kecantikan di sana.
Alisnya sedikit berkerut, heran karena sejak kemarin istrinya tampak begitu tenang tanpa ada keluhan khas wanita hamil pada umumnya.
"Sayang," panggil Baskara lembut, jemarinya meraih tangan Alena.
"Kenapa kamu tidak mual atau ngidam seperti wanita hamil pada umumnya? Dari kemarin kamu anteng sekali."
Alena mengerjap sejenak, lalu tersenyum jail mendengar pertanyaan suaminya.
Ia meletakkan mangkuk kosong di meja, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Baskara.
"Bas, aku kan sudah ngidam tteokbokki yang pedas itu saat kita baru sampai di sini kemarin," jawab Alena dengan nada manja.
Baskara mengangkat sebelah alisnya, sedikit tidak puas dengan jawaban itu.
"Hanya itu? Cuma tteokbokki? Lalu setelah itu nggak ngidam yang aneh-aneh lagi?"
Alena menggeleng pelan, maniknya berbinar penuh cinta menatap pria yang sedang berbaring itu.
Tangannya terulur membelai rahang suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Ngidamku sekarang cuma satu," bisik Alena lembut.
"Ngidam meluk kamu."
Mendengar gombalan manis dari istrinya yang
biasanya jarang bermanja-manja seperti itu, pertahanan Baskara runtuh seketika.
Tawa renyah langsung lolos dari bibirnya, bergema di seluruh ruangan perawatan VIP tersebut.
Suara tawa itu begitu lepas, membuat ketegangan dan rencana balas dendam yang sedari tadi mereka bicarakan seolah menguap sesaat, menyisakan kehangatan murni di antara mereka berdua di tanah rantau.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭