Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Di sinilah Mo Yuuran berdiri.
Di hadapannya, sebuah makam sederhana namun terawat rapi berdiri di tengah barisan batu nisan keluarga kekaisaran. Angin dingin berhembus pelan, membawa suasana sunyi yang men3cekam.
Mo Yuuran melangkah mendekat. Ia menurunkan pandangannya, lalu perlahan meletakkan setangkai bunga di atas makam itu.
“Selir Yue ....” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan yang tertelan angin. “Apa kau bisa melihatku dari atas sana?”
Dari kejauhan, Xia Lu hanya berdiri diam.
Tatapannya tertuju pada sosok Permaisuri yang hari ini terasa begitu berbeda. Ia tidak mengerti mengapa Mo Yuuran datang ke makam seorang selir yang dahulu hampir tidak pernah ia pedulikan.
Mo Yuuran mengulurkan tangannya. Jari-jarinya menyentuh bongpay dingin itu, mengusapnya perlahan seolah mencoba merasakan sesuatu yang telah lama hilang.
Lalu ia menunduk. “Maafkan aku .…” suaranya lirih, namun jelas. “Untuk semua yang telah kulakukan di kehidupan sebelumnya.”
Napasnya sedikit bergetar. “Aku mungkin tidak membunuh mereka dengan tanganku sendiri,” lanjutnya pelan. “Tapi aku adalah bagian dari semua itu.”
Ia menutup matanya sesaat. “Bahkan aku ikut membenci mereka,” bisiknya penuh penyesalan. “Tiga anak kecil yang sama sekali tidak bersalah.”
Angin berhembus lebih kencang. Dan dalam sekejap, ingatan lama menyeretnya kembali ke masa lalu.
Tujuh tahun lalu, malam yang penuh kekacauan itu kembali terulang dalam ingatannya.
Saat itu, Kaisar Zi Xuan berada dalam pengaruh obat asmara dan arak yang kuat. Dengan mata yang dipenuhi hasrat, ia memasuki pavilium Mo Yuuran.
“Yuuran kemarilah,” suara kaisar terdengar berat dan penuh keinginan. “Hari ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Namun saat itu, Mo Yuuran hanya tersenyum tipis, menyembunyikan kecerdasannya di balik wajah lembutnya. Dalam hatinya, ia sama sekali tidak ingin disentuh oleh pria yang memaksanya menjadi permaisuri.
“Yang Mulia,” ucapnya dengan nada lembut, “Tentu malam ini aku akan melayani Anda dengan baik.”
Kaisar Zi Xuan mengerutkan kening, jelas tidak puas. “Oh, sayang. Apakah kau mulai mencintaiku? Apakah kau sudah mulai membuka hatimua untukku?”
Tanpa ragu Mo Yuuran mengangguk lalu melangkah mundur dan memberi isyarat. Seorang gadis muda masuk dengan kepala tertunduk, wajahnya pucat tapj tetap cantik.
“Kemarilah Yang Mulia, Anda akan sangat senang malam ini,” kata Mo Yuuran dengan senyum yang tampak tulus, padahal penuh perhitungan.
Malam itu menjadi awal dari segalanya.
Keesokan paginya, amarah kaisar mengguncang seluruh istana. Ia bangkit dari ranjang dengan wajah gelap, menatap Selir Yue yang gemetar ketakutan.
“Beraninya kau!” bentaknya. “Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?!”
Selir Yue langsung berlutut, tubuhnya bergetar hebat. “Hamba … hamba hanya menjalankan perintah Permaisuri .…”
Pedang hampir terhunus saat itu juga, namun Mo Yuuran datang tepat waktu, berpura-pura terkejut.
“Yang Mulia! Ampuni dia,” ucap Mo Yuuran sambil berlutut. “Semua ini adalah kesalahanku.”
Kaisar Zi Xuan menatapnya tajam. “Kesalahanmu?”
“Aku hanya ingin seseorang menggantikanku agar Yang Mulia tidak kecewa,” jawabnya lembut.
Sejak saat itu, kebencian kaisar terhadap Selir Yue tak pernah hilang. Namun takdir berkata lain, Selir Yue justru mengandung.
Mo Yuuran awalnya merasa rencananya berjalan sempurna. Ia berpikir, jika Yue melahirkan seorang pewaris, ia bisa bebas dari belenggu istana yang ia benci. Karena dari awal, kaisar Zi Xuan menggunakan kekuasaannya untuk menjadikan dirinya Permaisuri.
Tapi emuanya berubah ketika tiga bayi laki-laki lahir ke dunia. Selir Yue menghembuskan napas terakhirnya saat itu juga, meninggalkan ketiga putranya tanpa perlindungan. Dan kaisar tidak pernah menerima mereka. Karena mereka bukan berasal dari wanita yang ia cintai yaitu Mo Yuuran.
Kebencian itu tumbuh, dan Mo Yuuran harus bertahan karena permintaan Bo Wen dan Mo Weiwei. Ia bahkan membiarkan, bahkan membantu, kehancuran tiga anak tak berdosa itu.
Semua demi ambisinya, demi Bo Wen pria yang ia cintai tanpa tahu bahwa pria itu justru mempermainkannya. Saat itu Mo Yuuran tidak tahu, jika keponakan yang ia sayangi yang baru lahir itu juga putra kakaknya dengan kekasihnya.
Ingatan itu menghantam keras, membuat napas Mo Yuuran terasa sesak. Ia kembali ke kenyataan, matanya sedikit memerah saat menatap makam di hadapannya.
“Selir Yue .…” suaranya kini lebih berat, penuh penyesalan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. “Aku … telah melakukan dosa yang tak termaafkan.”
Ia berlutut perlahan, tanpa memedulikan tanah yang mengotori jubah mahalnya.
“Aku tidak hanya membiarkan mereka menderita, aku juga membenci mereka,” lanjutnya lirih. “Padahal mereka tidak bersalah.”
Angin berhembus lebih kencang, seolah menjawab kesedihannya.
“Tapi kali ini semuanya akan berbeda,” ucapnya, suaranya mulai mengeras dengan tekad. “Di kehidupan kedua ini, aku bersumpah.”
Mo Yuuran mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah makam itu.
“Aku akan melindungi anak-anakmu, bahkan jika nyawaku menjadi taruhannya, ia akan menjadi ketiga putra kandungku,” katanya tegas. “Aku akan menjadikan mereka pewaris Kekaisaran Tianxia yang disegani dan dihormati di seluruh benua.”
Tangannya mengepal kuat di atas lututnya. “Itu janjiku padamu. Dan … maafkan aku,” bisiknya. “Karena selama hidupmu, kau tidak pernah mendapatkan cinta dari Kaisar Zi Xuan.”
Hening menyelimuti sejenak, sebelum suara langkah kaki pelan mendekat.
“Yang Mulia,” panggil Xia Lu dengan hati-hati. “Cuaca semakin dingin. Tidak baik bagi kesehatan Anda jika terlalu lama di sini.”
Mo Yuuran tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap makam itu beberapa saat lagi, seolah ingin mengingat setiap detailnya.
“Aku tahu,” jawabnya akhirnya, pelan namun kembali tenang seperti biasanya.
Akhirnya Mo Yuuran meninggalkan pemakaman itu.
Roda kereta kuda berderak pelan di atas jalan berbatu. Tirai sutra bergoyang lembut setiap kali angin masuk melalui celah kecil.
Di dalam kereta mewah itu, Mo Yuuran duduk dengan punggung tegak, namun sorot matanya tampak jauh, seolah masih tertinggal di makam yang baru saja ia tinggalkan. Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling menggenggam dengan pelan.
“Xia Lu,” panggilnya tiba-tiba.
Xia Lu yang duduk di sisi berlawanan langsung menundukkan kepala. “Hamba di sini, Yang Mulia.”
Mo Yuuran mengalihkan pandangannya ke luar jendela sebelum kembali berbicara. “Kapan para murid akademi akan diliburkan?”
Pertanyaan itu membuat Xia Lu sedikit terkejut. Ia mengangkat kepala perlahan, jelas tidak menyangka topik itu akan keluar dari mulut sang Permaisuri.
“Yang Mulia … maksud Anda akademi kekaisaran?” tanyanya hati-hati, memastikan.
Mo Yuuran mengangguk singkat. “Ya. Akademi tempat para pangeran belajar.”
Xia Lu tampak berpikir sejenak, berusaha mengingat jadwal yang pernah ia dengar dari para pelayan istana. “Jika tidak salah, sekitar satu minggu lagi mereka akan memasuki masa libur, Yang Mulia.”
“Hm .…” Mo Yuuran mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan hal itu.
Tiba-tiba, sesuatu yang berbeda muncul di wajahnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum yang jarang terlihat senyum yang tulus.
“Bagus,” katanya, nada suaranya kini lebih ringan. “Siapkan penyambutan.”
Xia Lu kembali terdiam, kali ini lebih bingung dari sebelumnya. “Penyambutan … Yang Mulia?”
Mo Yuuran menoleh langsung padanya, matanya berbinar dengan antusias yang tak disembunyikan. “Aku akan menyambut putra-putraku.”
Kalimat itu menggantung di udara, membuat suasana di dalam kereta seketika berubah aneh. Xia Lu membeku di tempatnya, bahkan untuk sesaat ia lupa bagaimana harus bereaksi.
“Pu … putra-putra?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Selama ini, seluruh istana tahu bahwa Permaisuri tidak pernah mengakui ketiga pangeran itu. Bahkan menyebut mereka saja tidak pernah, apalagi menyambut dengan penuh semangat seperti ini.
“Apakah kau tidak mendengarku, Xia Lu?” suara Mo Yuuran terdengar lagi, kali ini sedikit lebih tegas.
Xia Lu tersentak, buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam. “Hamba mendengar, Yang Mulia!”
“Kalau begitu, lakukan persiapan dengan baik,” lanjut Mo Yuuran. “Aku tidak ingin ada kekurangan sedikit pun.”
“Baik, Yang Mulia,” jawab Xia Lu cepat, meski hatinya masih dipenuhi kebingungan.
Mo Yuuran kembali bersandar, tatapannya kembali mengarah ke luar jendela. Namun kali ini, bukan lagi kesedihan yang terpancar, melainkan sesuatu yang hangat.
“Sudah lama .…” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Aku tidak melihat mereka.”
Bayangan tiga wajah kecil yang dulu ia abaikan kini muncul satu per satu di benaknya. Dulu, ia bahkan tidak mau mengingat mereka. Namun sekarang, hatinya justru dipenuhi rasa rindu yang asing.
“Aku ingin melihat mereka tumbuh dengan mataku sendiri.”
Xia Lu diam-diam mengangkat pandangannya, menatap sang Permaisuri dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya berubah.
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar