NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN BIASAKAN SAYA MENUNGGU

Pukul 07.52 pagi.

Alya berjalan cepat menuju lift sambil memegang dua gelas kopi dan sebuah map biru.

Hari itu dia sengaja datang lebih awal.

Bukan karena takut pada Raka.

Setidaknya begitu yang dia katakan kepada dirinya sendiri.

Dia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya tidak terlambat.

Apalagi setelah percakapan mereka semalam.

Besok saya datang lebih awal.

Kalimat Raka masih teringat.

Alya tersenyum kecil.

“Ya sudah. Kita lihat siapa yang datang duluan.”

Pintu lift terbuka.

Alya masuk.

Begitu sampai di lantai tiga puluh dua, dia langsung menuju mejanya.

Jam menunjukkan 07.56.

Dia meletakkan tas.

Menyalakan laptop.

Kemudian melihat ke arah ruang Raka.

Lampunya sudah menyala.

Alya mengernyit.

“Serius?”

Dia melihat jam lagi.

07.57.

Raka sudah datang.

Alya mengambil kedua kopi yang dibawanya dan masuk ke ruang Raka.

Dia mengetuk.

“Masuk.”

Alya membuka pintu.

“Selamat pagi, Pak.”

Raka sedang berdiri di dekat jendela.

Dia menoleh.

“Pagi.”

Alya mengangkat salah satu gelas.

“Saya bawakan kopi.”

Raka menatap gelas tersebut.

“Untuk saya?”

“Bukan.”

Raka mengangkat alis.

Alya tersenyum.

“Untuk saya. Yang satunya…”

Dia berhenti.

“Untuk Bapak.”

Raka mengambil gelas itu.

“Terima kasih.”

Alya menatapnya.

Raka menyadarinya.

“Apa?”

“Tidak ada.”

“Kenapa melihat saya seperti itu?”

“Saya cuma baru tahu Bapak bisa bilang terima kasih.”

Raka menghela napas.

“Keluar.”

Alya tertawa.

“Baik, Pak.”

Dia berbalik.

“Alya.”

Dia menoleh.

“Ya?”

Raka menunjuk gelas kopi.

“Ini kopi apa?”

“Americano.”

“Tanpa gula?”

“Iya.”

“Bagaimana Anda tahu saya minum tanpa gula?”

Alya tersenyum.

“Dua hari ini saya lihat.”

Raka terdiam.

Alya keluar.

Pintu tertutup.

Raka menatap gelas kopi di tangannya.

Kemudian melihat ke arah pintu.

Entah kenapa kalimat sederhana tadi terus terngiang.

Dua hari ini saya lihat.

Dia baru sadar bahwa Alya ternyata memperhatikan kebiasaannya.

Dan yang lebih aneh—

dia tidak merasa terganggu.

---

PUKUL 08.30

Hari itu seharusnya berjalan tenang.

Seharusnya.

Namun ketenangan hanya bertahan selama tiga puluh menit.

Ponsel Alya berbunyi.

Email baru masuk dari salah satu klien besar.

Meeting dimajukan ke pukul 10.00.

Alya langsung berdiri.

Dia membawa tablet menuju ruang Raka.

“Pak.”

“Ya?”

“Meeting dengan PT Arunika dimajukan.”

“Jam berapa?”

“Jam sepuluh.”

Raka melihat jam.

“Tidak bisa.”

“Mereka meminta.”

“Saya punya presentasi internal jam sembilan tiga puluh.”

“Bisa selesai.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena presentasinya dua jam.”

Alya melihat jadwal.

“Bisa dipersingkat.”

“Tidak.”

“Pak.”

Raka mengangkat wajah.

“Apa?”

“Bapak sendiri yang kemarin bilang saya harus membuat jadwal lebih longgar.”

“Benar.”

“Kalau begitu saya akan mengatur ulang.”

“Jangan.”

Alya mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Saya tidak suka perubahan mendadak.”

Alya menatapnya beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Bapak sadar tidak kalau Bapak sendiri yang paling sering membuat perubahan mendadak?”

Raka terdiam.

Alya langsung sadar.

Dia baru saja memulai pertengkaran pagi-pagi.

“Maaf.”

Raka bersandar di kursinya.

“Lanjutkan.”

Alya berkedip.

“Lanjutkan apa?”

“Argumentasi Anda.”

Alya menatapnya.

Raka tampak serius.

Akhirnya Alya menghela napas.

“Kalau presentasi internal dipadatkan menjadi satu jam, Bapak masih punya waktu untuk meeting klien pukul sepuluh.”

“Tidak cukup.”

“Cukup kalau materi yang tidak penting dihapus.”

“Materi yang tidak penting menurut siapa?”

“Menurut saya.”

“Dan Anda sudah membaca semuanya?”

“Sudah.”

Raka menatapnya.

Alya menunggu.

Akhirnya Raka berkata,

“Baik.”

Alya tersenyum.

“Baik?”

“Padatkan presentasi.”

“Siap.”

“Dan…”

Raka menunjuk tablet Alya.

“Jangan sampai ada materi penting yang hilang.”

Alya mengangguk.

“Tidak akan.”

Dia keluar.

Namun saat menutup pintu, Alya tersenyum puas.

Satu kemenangan kecil.

---

PUKUL 09.25

Presentasi dimulai.

Alya berdiri di belakang ruangan.

Dia memperhatikan Raka menjelaskan laporan perusahaan.

Berbeda dari saat berada di ruangannya, Raka terlihat sangat berbeda ketika bekerja.

Tegas.

Percaya diri.

Tenang.

Semua orang mendengarkan.

Alya bahkan sempat berpikir,

Pantas saja dia bisa menjadi direktur.

Namun lima belas menit kemudian, Raka menoleh kepadanya.

“Alya.”

“Iya?”

“Slide berikutnya.”

Alya segera mengganti.

Raka melanjutkan.

Kemudian tiba-tiba dia berhenti.

“Kenapa angka ini berbeda?”

Alya melihat layar.

Angka pendapatan kuartal kedua ternyata berbeda dengan data yang ada di dokumen.

Dia langsung membuka laptop.

“Sebentar, Pak.”

Raka menunggu.

Alya mencari file.

Tidak ditemukan.

Dia membuka email.

Ada revisi baru.

“Pak.”

“Apa?”

“File yang Bapak pegang versi lama.”

Raka mengerutkan kening.

“Kenapa saya diberikan yang lama?”

Alya terdiam.

“Saya akan cek.”

Dia melihat siapa yang mengirim.

Ternyata file tersebut dikirim oleh salah satu staf keuangan.

Alya segera menghubungi orang tersebut.

“Pak, file yang dikirim ke Direktur versi lama.”

Suara di seberang terdengar panik.

“Serius, Bu?”

“Iya.”

“Maaf, Bu. Saya kirim ulang.”

Alya menerima file.

Dia segera mengganti.

“Sudah, Pak.”

Raka melihat layar.

“Lanjut.”

Presentasi berjalan kembali.

Tidak ada masalah.

Setelah selesai, Raka memanggil Alya.

“Masuk.”

Alya masuk.

“Ya, Pak?”

“Terima kasih.”

Alya mengangguk.

“Untuk?”

“Menangani tadi.”

Alya tersenyum.

“Sama-sama.”

Raka melihatnya.

“Kamu tidak panik.”

“Panik.”

“Tapi tidak terlihat.”

Alya tertawa kecil.

“Kalau saya ikut panik, nanti siapa yang membantu Bapak?”

Raka terdiam.

Kemudian berkata,

“Benar.”

Alya hendak keluar.

Namun Raka kembali memanggil.

“Alya.”

“Ya?”

“Bagus.”

Alya tersenyum.

“Terima kasih, Pak.”

Kali ini pujian itu terasa berbeda.

Karena Raka tidak mengatakannya sebagai formalitas.

Dia benar-benar mengakuinya.

---

PUKUL 11.30

Meeting dengan klien selesai lebih cepat dari perkiraan.

Alya keluar dari ruangan bersama Raka.

Klien mereka, seorang pria bernama Dimas Pratama, ikut berjalan bersama mereka.

Dimas adalah salah satu manajer senior yang cukup sering bekerja dengan Raka.

Namun hari itu, Dimas justru lebih banyak berbicara dengan Alya.

“Bu Alya.”

“Iya?”

“Terima kasih sudah mengatur jadwal tadi.”

“Sama-sama.”

“Kalau semua asisten seperti Anda, pekerjaan saya pasti lebih mudah.”

Alya tertawa.

“Wah, jangan bilang begitu. Nanti saya besar kepala.”

Dimas ikut tertawa.

Raka berjalan di depan mereka.

Dia tidak ikut berbicara.

Namun langkahnya sedikit melambat.

Dimas melanjutkan,

“Besok Anda makan siang di kantor?”

“Sepertinya.”

“Kalau begitu saya traktir.”

Alya hendak menjawab.

Namun Raka tiba-tiba berhenti.

“Alya.”

Alya menoleh.

“Ya, Pak?”

“Pukul dua ada meeting.”

Alya membuka tabletnya.

“Tidak ada, Pak.”

“Sekarang ada.”

Alya menatapnya.

“Dengan siapa?”

Raka menjawab datar,

“Dengan saya.”

Dimas tersenyum.

“Bukankah meeting itu besok?”

Raka menatap Dimas.

“Sekarang dimajukan.”

Alya langsung tahu.

Raka sedang melakukan sesuatu.

Dia hanya tidak tahu apa.

Dimas mengangkat tangan.

“Baiklah. Saya tidak ganggu.”

Dia pergi.

Alya menunggu sampai Dimas cukup jauh.

Kemudian menatap Raka.

“Pak.”

“Apa?”

“Bapak tidak punya meeting pukul dua.”

“Sekarang punya.”

“Dengan siapa?”

“Dengan Anda.”

Alya mengerutkan kening.

“Meeting apa?”

Raka diam sebentar.

“Evaluasi kerja.”

Alya menatapnya.

“Bukankah evaluasi kerja biasanya setelah beberapa bulan?”

“Tidak untuk Anda.”

“Kenapa?”

“Karena Anda baru tiga hari bekerja.”

“Justru itu.”

“Makanya harus dievaluasi.”

Alya menghela napas.

“Bapak aneh.”

Raka berjalan pergi.

“Jam dua.”

Alya mengikutinya.

“Pak.”

“Apa lagi?”

“Meeting-nya tentang apa?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Raka menoleh.

“Kenapa Anda banyak bertanya?”

Alya tersenyum.

“Karena Bapak banyak membuat saya penasaran.”

Raka terdiam.

Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.

Alya baru sadar kalimatnya bisa terdengar berbeda.

Dia buru-buru berkata,

“Dalam konteks pekerjaan.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Kemudian dia pergi.

Alya menatap punggungnya.

“Kenapa tadi suasananya aneh?”

---

PUKUL 14.00

Alya masuk ke ruang Raka.

“Pak.”

“Duduk.”

Alya duduk.

Raka membuka sebuah dokumen.

“Bagaimana menurut Anda pekerjaan ini?”

Alya mengerutkan kening.

“Pekerjaan saya?”

“Ya.”

“Sejauh ini?”

“Ya.”

Alya berpikir.

“Berat.”

Raka mengangkat alis.

“Berat?”

“Iya.”

“Karena?”

“Karena Bapak.”

Raka menatapnya.

Alya langsung tersenyum.

“Bercanda.”

“Jelaskan.”

Alya menghela napas.

“Bapak sering mengubah keputusan.”

“Contoh?”

“Jadwal.”

“Selain itu?”

“Meeting.”

“Selain itu?”

“Waktu makan.”

Raka hampir tersenyum.

Alya melanjutkan,

“Tapi…”

“Apa?”

“Bapak sebenarnya tidak sulit.”

Raka menatapnya.

“Tidak sulit?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena Bapak jelas.”

“Jelas?”

“Bapak tahu apa yang Bapak mau.”

Alya berhenti sebentar.

“Hanya saja kadang cara menyampaikannya membuat orang takut.”

Raka terdiam.

“Dan Anda tidak takut?”

Alya tersenyum.

“Sedikit.”

“Sedikit?”

“Lumayan.”

Raka tertawa kecil.

Alya kembali memperhatikan.

“Kok Bapak akhir-akhir ini sering ketawa?”

Raka langsung kembali datar.

“Tidak.”

“Tadi ketawa.”

“Tidak.”

“Saya lihat.”

“Lupakan.”

Alya tersenyum.

“Baik.”

Raka menutup dokumen.

“Saya rasa cukup.”

Alya berdiri.

“Jadi ini evaluasi?”

“Ya.”

“Dan?”

“Lanjutkan.”

Alya tersenyum.

“Baik.”

Dia hendak keluar.

“Dan Alya.”

Dia menoleh.

“Ya?”

“Besok…”

Raka berhenti.

“Datang seperti biasa.”

Alya mengangguk.

“Pasti.”

---

MALAM

Hari ketiga selesai.

Alya pulang pukul 18.00.

Namun sebelum meninggalkan gedung, dia menerima pesan dari Raka.

> Besok jangan bawa kopi.

Alya mengerutkan kening.

Dia membalas:

> Kenapa?

Raka:

> Saya sudah punya.

Alya:

> Baik.

Beberapa detik kemudian:

> Tapi kalau mau bawa, tidak masalah.

Alya tertawa.

Dia membalas:

> Bapak ini sebenarnya mau atau tidak?

Tidak ada jawaban.

Alya memasukkan ponsel ke tas.

“Dasar.”

Dia pulang.

---

PAGI BERIKUTNYA

Pukul 08.02.

Alya datang ke meja.

Dia membawa dua kopi.

Satu untuk dirinya.

Satu untuk Raka.

Dia tidak tahu kenapa.

Padahal Raka sudah bilang tidak perlu.

Namun ketika dia meletakkan kopi itu di meja Raka, dia melihat sesuatu.

Di meja Raka sudah ada kopi.

Satu gelas.

Americano tanpa gula.

Alya tersenyum.

“Bapak sudah punya.”

Raka menatap kopi yang dibawa Alya.

“Ya.”

Alya hendak mengambilnya kembali.

“Kalau begitu saya minum sendiri.”

Namun Raka mengambil gelas tersebut.

“Yang ini untuk saya.”

Alya terdiam.

“Bukankah Bapak sudah punya?”

Raka melihat dua gelas kopi.

“Saya punya dua tangan.”

Alya tertawa.

“Bapak ternyata serakah.”

Raka mengangkat alis.

“Kamu mau?”

“Tidak.”

“Bagus.”

Alya kembali ke mejanya.

Namun beberapa menit kemudian, Raka menyadari sesuatu.

Kopi yang dibawa Alya terasa lebih enak daripada kopi yang biasa dia pesan.

Dia melihat gelas itu.

Kemudian tanpa sadar berkata,

“Besok bawa lagi.”

Alya yang berada di luar langsung menoleh.

“Bapak bilang apa?”

Raka terdiam.

“Saya bilang…”

Dia mencari alasan.

“Jangan terlambat.”

Alya tersenyum.

“Padahal saya dengar Bapak bilang bawa lagi.”

Raka tidak menjawab.

Alya tertawa.

“Baik, Pak.”

Dia kembali bekerja.

Raka menatapnya dari balik kaca.

Ada sesuatu yang mulai berubah.

Kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun dia mulai menunggu sesuatu dari Alya.

Bukan hanya pekerjaan.

Bukan hanya jadwal.

Bukan hanya kopi.

Tetapi kehadirannya.

Dan tanpa disadari Raka…

kebiasaan itu akan menjadi masalah.

Karena semakin seseorang terbiasa dengan kehadiran orang lain—

semakin terasa ketika orang itu tidak ada.

Dan Raka belum tahu bahwa sebentar lagi dia akan merasakan itu untuk pertama kalinya.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!