"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Proses kepindahan ke kamar belakang terasa bagaikan sebuah prosesi pengasingan yang disengaja. Kamar yang berada di sudut paling gelap rumah ini tepat berbatasan langsung dengan area dapur dan sumur terasa lembap dan pengap. Bau asap kayu dan sisa masakan tercium samar dari balik dindingnya yang retak di beberapa bagian.
Sejak pagi, aku mengangkut baju-baju di dalam lemari, mainan Naya, hingga perlengkapan mandi kami sendiri. Naya, dengan gaun merah cantiknya yang kini mulai agak kusut, mengikutiku dari belakang. Langkah kaki kecilnya bolak-balik membawakan boneka beruang dan barang-barang ringannya dengan patuh.
Sebenarnya, aku bisa melihat dari sorot matanya yang polos betapa banyaknya pertanyaan yang menumpuk di kepala anak empat tahun itu. Matanya yang bulat terus menatapku bingung, menanyakan lewat tatapan: Kenapa kita harus pindah dari kamar yang luas dan wangi itu ke tempat yang sempit ini, Mimo?
Namun, setiap kali Naya baru membuka mulutnya untuk bersuara, suara melengking Ibu Sumiati yang berkacak pinggang di lorong langsung memotong.
"Maya! Itu sprei di kamar depan cepat dilepas dan diganti yang bersih! Jangan cuma barang-barangmu aja yang dipindahin! Kamarnya harus sudah wangi dan rapi sebelum Rika sampai di rumah ini!"
Teriakan dan nada omelan yang tiada habisnya dari sang nenek membuat Naya urung bertanya. Anak kecil itu seolah mengerti situasi mencekam di sekitarnya.
Dia menahan bibirnya rapat-rapat, memilih menyandarkan kepalanya di pinggangku sambil terus menggenggam erat jemariku. Sungguh, melihat kepatuhan yang lahir dari rasa takut pada anak sekecil ini membuat hatiku makin teriris.
Sekitar pukul satu siang, seluruh tumpukan dus dan koper kami akhirnya terkumpul di kamar belakang yang makin terasa makin sempit. Keringat dingin membasahi dahiku.
Tiba-tiba, dari arah halaman depan, terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti dengan mulus.
Creeek... BUM!
Suara pintu mobil yang ditutup berulang kali disusul oleh suara tawa renyah seorang wanita dan pria dari luar.
Ibu Sumiati yang tadinya sedang mengawasi pekerjaanku di dapur mendadak berbalik cepat. Suara langkah kakinya yang setengah berlari menepuk lantai terdengar begitu bersemangat menuju pintu depan, seolah-olah penguasa tertinggi di kota ini baru saja tiba untuk melakukan kunjungan kehormatan.
"Aduh, Rika sayang! Akhirnya sampai juga, Nak!" seru Ibu Sumiati melengking gembira, suara yang tak pernah sekalipun kudengar selama sebulan aku tinggal di sini.
Aku menghentikan usapan lap di tanganku, menatap Naya yang juga ikut mendongak.
"Mimo... ada siapa di depan?" bisik Naya pelan.
"Yuk, kita ke depan sebentar, Sayang," jawabku tenang.
Aku menggandeng tangan Naya, melangkah lambat melewati lorong menuju ruang tamu. Namun, begitu mataku menangkap sosok pria yang keluar dari pintu pengemudi mobil di halaman, jantungku serasa berhenti berdetak sejenak.
Itu Bayu.
Suamiku sendiri. Pria yang tadi pagi pergi secara terburu-buru sebelum matahari terbit tanpapamit atau mengucapkan satu kata pun padaku. Rupanya, alasan Bayu berangkat sepagi itu bukanlah karena urusan pekerjaan kantor cabang yang mendesak, melainkan murni untuk menjemput Rika dan suaminya di stasiun luar kota.
Bahkan dari jarak beberapa meter saja, aku bisa merasakan perubahan drastis pada diri suamiku. Wajah Bayu yang semalam tampak bersalah dan memohon di balik pintu kamarku, kini tampak begitu cekatan dan tunduk pada perintah ibu serta adiknya. Tidak ada sisa keberanian atau ketegasan seorang kepala rumah tangga pada dirinya. Dia hanya tampak seperti seorang pelayan yang sibuk membawakan barang-barang adiknya dengan senyum terpaksa yang dipaksakan.
Di ambang pintu, Rika adik kandung Bayu tampak berdiri dengan pakaian modisnya, merangkul ibunya dengan manja. Di sampingnya, suaminya berdiri dengan gaya angkuh, melipat kedua tangan tanpa berniat sedikit pun menyentuh barang bawaan mereka sendiri.
"Pipo...?"
Suara mungil Naya memecahkan keriuhan kecil di teras depan. Panggilan itu terdengar begitu sedih, rapuh, dan sarat akan kekecewaan.
Aku bisa merasakan remasan kecil jemari Naya di tanganku. Sebagai seorang ibu, aku tahu betul apa yang ada di dalam pikiran putri kecilku saat ini. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sejak bangun tidur tadi pagi, Naya pasti berharap bahwa hari ini akan tetap membawa kebahagiaan, tawa, dan doa-doa indah dari ayahnya seperti lirik lagu "Selamat Ulang Panjang Umur" yang selalu kami nyanyikan bersama tiap tahun. Lagu sederhana yang syarat akan doa, kehangatan, dan rasa sejahtera bagi keluarga kecil kami.
Namun, harapan itu kini berkeping-keping di depan matanya sendiri.
Mendengar suara Naya, Bayu yang sedang mengangkat sebuah koper besar dari bagasi mobil mendadak menghentikan gerakannya. Pandangan matanya menyapu teras, lalu terkunci pada sosok Naya dan diriku yang berdiri kaku di dekat pintu.
Raut wajah Bayu berubah serba salah. Ada kilatan rasa bersalah dan penyesalan yang sangat dalam saat tatapannya bertemu dengan mataku yang dingin tanpa ekspresi.
Bayu melepas pegangannya pada koper, lalu perlahan melangkah mendekat ke arah teras. Dia berjongkok di hadapan Naya, mencoba menyamakan tingginya dengan putri kecilnya yang matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Naya, berniat merangkul dan membujuk putri tunggalnya itu.
"Naya... anak Pipo yang paling cantik..." bisik Bayu dengan suara bergetar, mencoba menyunggingkan senyum hangatnya yang biasa.
Namun, sebelum jemari Bayu sempat menyentuh wajah Naya, sebuah teguran bernada keras memotong momen itu tanpa ampun.
"Bayu!" bentak Ibu Sumiati galak dari samping. "Ngapain kamu malah jongkok-jongkok di situ?! Itu angkat koper milik Rika sama koper adik iparmu sana! Masukin ke kamar depan sekarang!"
Bayu tertegun, tangannya menggantung di udara.
Ibu Sumiati melirik Naya dengan tatapan sinis dan penuh ketidaksukaan. "Kamu itu jadi laki-laki jangan selalu memanjakan anak kecil! Nanti berani dan ngelunjak pas gedenya! Sudah, Biarkan aja dia sama ibunya! Cepatan angkut barang-barang adiknya!"
DEG!
Kata-kata itu bagaikan sembilu yang digoreskan tepat di atas luka yang belum sembuh.
Sakit... sakit sekali hatiku mendengarnya! Seorang nenek kandung, di depan mata cucunya sendiri yang sedang berulang tahun, tega menghardik dan melarang ayahnya sendiri untuk sekadar memberikan sentuhan kasih sayang.
Bahkan kehadiran Naya dianggap sebagai ancaman yang akan membuat anak itu ngelunjak.
Di samping Ibu Sumiati, Rika dan suaminya hanya diam menyaksikan kejadian itu dengan senyum tipis di sudut bibir mereka seolah-olah perlakuan buruk yang kami terima adalah hal yang sudah sewajarnya terjadi pada orang yang menumpang.
Bayu menatap ibunya dengan wajah memohon, lalu melirikku lagi. "Tapi Bu... Naya hari ini..."
"Gak ada tapi-tapi! Kerja dulu yang bener!" potong Ibu Sumiati tegas tanpa kompromi.
Dan yang paling menyakitkan dari seluruh rangkaian kejadian ini adalah reaksi Bayu. Suamiku itu perlahan menarik kembali tangannya dari hadapan Naya. Dia menghela napas, berdiri tegak, lalu berbalik menunduk untuk kembali mengangkat koper-koper adiknya tanpa berani membantah ibunya sedikit pun.
Naya menatap punggung ayahnya yang menjauh dengan air mata yang mulai menetes perlahan di pipi mungilnya. Anak itu tidak menangis meraung-raung dia hanya diam dalam kepasrahan, mencengkeram kain dasterku erat-erat.
Cukup. Aku tidak sanggup lagi menyaksikan penghinaan ini lebih lama.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Bayu, Ibu Sumiati, maupun Rika, aku langsung menarik tangan Naya dengan lembut, membalikkan badan, dan mengajak putri kecilku berjalan masuk menuju lorong kamar belakang.
"Ayo, Sayang... kita masuk ke kamar," bisikku dengan nada suara yang sengaja kubuat sedingin es.
Biarlah mereka bersenang-senang dengan panggung tamu agung mereka di rumah ini. Seperti janjiku pada diriku sendiri tadi pagi, jika rumah ini dan suamiku tak lagi mampu memberikan ruang untuk kebahagiaan anakku... maka aku sendiri yang akan menciptakan kebahagiaan itu untuknya. Walau hanya dari balik kamar belakang yang sempit dan terisolasi ini.
Aku menutup pintu kamar kayu di belakang kami, memasang slot kuncinya dari dalam, lalu berlutut memeluk Naya erat-erat di tengah tumpukan dus barang kami yang belum sempat dirapikan.
"Mimo..." isak Naya pelan di ceruk leherku. "Pipo udah gak sayang sama Naya ya?"
Pertanyaan itu menghantam dadaku hingga rasanya tak bersisa. Aku mengusap punggung kecilnya, menahan air mataku sendiri agar tidak tumpah di hadapannya.
"Pipo cuma lagi sibuk, Sayang..." bisikku bohong. "Tapi Naya punya Mimo. Hari ini, Mimo yang bakal bikin hari ulang tahun Naya jadi hari paling bahagia."
Aku melepaskan pelukan, merogoh tas tanganku, dan mengeluarkan kartu ATM pribadi serta ponselku. Aku menatap pintu kamar yang terkunci. Di luar, suara tawa riang Ibu Sumiati dan Rika terdengar bersahut-sahutan di ruang tamu, sangat kontras dengan kesunyian kamar belakang tempat kami disingkirkan.
Aku menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Ini adalah batas terakhir kesabaranku. Jika mereka pikir aku akan menyerah dan menangis meratapi nasib di kamar sempit ini, mereka salah besar.
Aku membuka aplikasi pemesanan di ponselku, bersiap menarik uang tabunganku sendiri untuk memesan makanan terbaik dan kue ulang tahun termewah yang bisa kubeli untuk Naya siang ini.
Namun, saat layar ponselku menyala, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor asing mendadak muncul di layar. Sebuah pesan singkat yang membuat seluruh darah di dalam tubuhku mendadak berhenti mengalir...