Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sekitar setengah jam kemudian, udara di sekitar mereka berubah menjadi sangat dingin dan lembap.
Pohon-pohon raksasa di sekitar mereka tidak lagi memiliki daun, melainkan ranting-ranting hitam yang meliuk seperti cakar iblis.
Tulang belulang monster dan hewan liar berserakan di sepanjang jalan tanah berlumpur.
Krak.
Lin Feng tanpa sengaja menginjak sebuah tengkorak kecil hingga hancur.
Suara pecahan tulang itu menggema nyaring di tengah kesunyian hutan yang mencekam.
Sruuuk... Sruuuk...
Tiba-tiba, suara gesekan dedaunan kering terdengar dari arah semak belukar yang tebal di sebelah kanan mereka.
Langkah kelima orang itu terhenti seketika.
"S-suara apa itu?" suara Zhao Hao terdengar bergetar ketakutan.
Lin Feng segera menarik pedang baja yang bersinar kemerahan dari sarungnya, memasang kuda-kuda bertarung.
Su Mengqi juga mulai mengumpulkan energi spiritual di telapak tangannya, menciptakan kabut es tipis di udara.
"Kalian dua sampah di belakang, tetap di tempat dan jaga tas kami!" perintah Lin Feng sok berani.
Di belakang mereka, Chen Mo hanya menurunkan ketiga tas ransel itu ke tanah dengan tenang.
Matanya yang tajam menatap lurus menembus kabut hitam ke arah semak-semak tersebut.
Berkat Mata Kebenaran, dia bisa melihat aliran energi berwarna ungu pekat yang sangat besar sedang bergerak cepat ke arah mereka.
"Seekor binatang buas Rank B tahap puncak, elemen racun. Ini akan menjadi pertunjukan yang bagus," batin Chen Mo.
Ggrrrrr!
Suara geraman rendah yang menggetarkan tanah membuat jantung Wang Bo nyaris berhenti berdetak.
Dari balik kabut hitam, melompat keluar seekor monster serigala raksasa setinggi dua meter.
Bulu serigala itu berwarna hitam kelam, dengan lendir ungu beracun yang menetes dari taring-taring tajamnya.
Matanya menyala merah menyala, memancarkan aura pembunuhan yang sangat liar dan brutal.
"S-Serigala Bayangan Beracun! Ini monster Rank B tingkat puncak!" teriak Zhao Hao panik.
"Tenanglah! Aku akan mengurusnya!" teriak Lin Feng dengan penuh percaya diri.
Pemuda arogan itu melesat maju, mengayunkan pedangnya yang dilapisi energi api langsung ke leher monster itu.
"Teknik Tebasan Api Neraka!"
Wuuush!
Gelombang api melengkung tercipta dari ayunan pedang Lin Feng, menyambar tubuh serigala raksasa tersebut.
Boom!
Ledakan kecil terjadi, membuat asap tebal mengepul di udara.
Lin Feng tersenyum penuh kemenangan, melirik sekilas ke arah Su Mengqi untuk memamerkan kekuatannya.
Namun, senyumnya langsung pudar saat asap itu menghilang.
Serigala Bayangan Beracun itu masih berdiri kokoh, bulu hitamnya bahkan tidak hangus sedikit pun.
Monster itu menatap Lin Feng dengan tatapan meremehkan, lalu mengibaskan ekornya yang sekeras cambuk besi.
Plaaak!
"Arghhh!"
Tubuh Lin Feng terlempar jauh menabrak batang pohon raksasa hingga memuntahkan darah.
"Lin Feng!" teriak Su Mengqi terkejut.
Gadis itu segera merapal mantra, menembakkan belasan tombak es runcing ke arah monster itu.
Trang! Trang! Trang!
Tombak es kebanggaan Su Mengqi hanya memantul saat mengenai kulit monster itu, pecah menjadi kepingan es kecil.
Bakat Rank S miliknya memang hebat, tapi dia masih seorang murid kelas dasar yang belum memiliki pengalaman bertarung sungguhan.
Monster serigala itu kini mengalihkan pandangannya pada Su Mengqi, bersiap untuk menerkam.
"Lari, Mengqi! Lari!" teriak Zhao Hao yang sudah gemetar ketakutan di belakang pohon.
Serigala itu melompat ke udara, taring beracunnya terbuka lebar mengarah tepat ke leher Su Mengqi.
Gadis elit yang selalu bersikap dingin itu kini mematung di tempat, matanya membelalak penuh teror melihat kematian mendekatinya.
Kakinya terasa sangat berat, dia sama sekali tidak bisa menghindar.
Namun tepat sebelum rahang monster itu mencabik lehernya, sebuah tangan tiba-tiba menarik bahu Su Mengqi dengan kasar ke belakang.
Syuuut!
Monster itu mendarat di tanah kosong, serangannya meleset sepenuhnya.
Su Mengqi jatuh terduduk di tanah berlumpur, napasnya tersengal-sengal menatap sosok yang baru saja menariknya.
Chen Mo berdiri di depannya dengan postur tegak, tangan kanannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana.
"Sudah kubilang, jangan buang waktuku. Kalian ini terlalu berisik dan lambat," ucap Chen Mo dengan nada bosan.
Serigala raksasa itu menggeram marah karena mangsanya diganggu, dan kini menatap Chen Mo dengan ganas.
Lin Feng yang baru saja merangkak bangun dengan mulut berdarah melihat adegan itu dengan tatapan tidak percaya.
"A-apa yang kau lakukan, sampah?! Cepat lari dan jadilah umpan agar kami bisa kabur!" teriak Lin Feng panik.
Bahkan dalam situasi hidup dan mati, pemuda arogan itu masih ingin menumbalkan nyawa orang lain.
Chen Mo menoleh sedikit ke arah Lin Feng, memancarkan sekilas Niat Membunuh Darah Besi dari matanya.
Tekanan aura yang mengerikan itu membuat Lin Feng tiba-tiba terdiam, lidahnya kelu seperti ditarik paksa.
Chen Mo kemudian kembali menatap monster serigala di depannya yang bersiap untuk kembali melompat.
"Umpan, ya?"
Sudut bibir Chen Mo melengkung membentuk senyum tipis yang sangat mematikan.
"Maaf saja, tapi aku lebih suka menjadi seekor predator daripada menjadi umpan."
Chen Mo mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana.
Suhu di sekitarnya seketika anjlok drastis seiring dengan energi spiritual murni yang meledak dari dalam tubuhnya.