NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 — Tubuh yang Salah Ukuran

Hidung Tri berdarah pada pukul tiga lewat dua puluh satu menit.

Tetes pertama jatuh tepat di halaman buku Ilmu Material.

Merah di atas diagram struktur kristal tingkat S.

Tri menatap noda itu selama dua detik, lalu mengambil kain, menekan hidungnya, dan menggeser buku menjauh sebelum halaman mahal itu rusak lebih parah.

Di kamar 707, semua lampu kecil menyala. Kertas penuh coretan tersebar di lantai. Kom baru menampilkan tiga simulasi setengah jadi. Kotak alat terkunci berisi kristal emas pucat ada di bawah meja, diam seperti rahasia yang terlalu dingin.

Tri menarik napas lewat mulut.

Kepalanya berdenyut.

Di layar, model rangka tingkat S yang ia coba bangun baru mencapai tiga puluh tujuh persen.

Tiga puluh tujuh.

Angka yang jelek.

Ia menutup simulasi sebelum rasa sakit naik lagi.

Pesan dari Rakha masih terbuka di sisi layar.

MaestroRakha:

Kalau kau ingin memahami material tinggi, mulai dari pembagian aliran. Arsitektur, material, terbuka. Jangan lompat ke model S kalau kau tidak mau otakmu matang.

Tri membalas satu jam lalu:

Teori dulu.

Itu bohong.

Ia membaca teori lima belas menit, lalu tangannya sudah membuat model.

Masalahnya, model itu menarik.

Material tingkat S tidak seperti rangka A. Ia tidak hanya menahan beban. Ia menyimpan sisa tekanan Bestia Bintang, pola Indra, dan memori struktur yang harus diajak bernegosiasi. Empu tingkat A biasa akan berhenti di dinding pertama. Jika memaksa, otak menerima data yang tidak bisa diurai.

Mimisan adalah peringatan paling ringan.

Kerusakan jaringan Indra adalah harga berikutnya.

Tri menatap kain yang mulai merah.

Ringan.

Sekali lagi, tubuhnya membayar harga paling ringan untuk hal yang seharusnya menghancurkan orang A.

Ia membuka catatan pribadi.

Daftar lama muncul.

1. Uji Daya Indra A. Tidak ada rasa terkunci.

2. Konsumsi makanan naik tidak normal.

3. Titis Darah terasa terlalu mudah.

4. Kristal tingkat S tidak menolak sentuhan.

5. Mecha A kasar membebani mesin, bukan batas.

Ia menambahkan:

6. Model S tingkat tiga puluh tujuh persen menyebabkan mimisan, bukan pingsan.

Tri menatap enam baris itu.

Kalau ini laporan orang lain, ia akan menyebut orang itu menyembunyikan level.

Kalau ini laporan mesin, ia akan membongkar mesin.

Sayangnya, mesin itu tubuhnya sendiri.

Kom bergetar.

Rakha:

Kau belum tidur?

Tri melihat waktu.

Tri:

Belajar.

Rakha:

Kalau "belajar" artinya membangun model S, berhenti.

Tri tidak membalas.

Rakha:

Aku serius. Bahkan aku tidak membangun model S penuh tanpa ruang pendukung. Kau A. Jangan bodoh.

Tri mengetik:

Kalau seseorang A menyentuh kristal S tanpa reaksi, apa kemungkinan paling murah?

Rakha:

Alat ukurnya salah.

Tri:

Kemungkinan lain?

Rakha:

Orangnya bukan A.

Pesan itu membuat kamar terasa lebih dingin.

Tri menatapnya lama.

Lalu Rakha mengirim lagi:

Atau kristalnya palsu. Tapi dari fotomu, aku tidak percaya itu palsu. Jadi jangan membuatku menyesal memberi jawaban.

Tri menghapus balasan yang sudah ia ketik.

Ia tidak ingin menyeret Rakha lebih jauh.

Belum.

Di luar jendela, Pasira malam berwarna hitam-oranye. Angin membawa pasir halus mengetuk kaca. Hendra tidak tidur di kursi malam ini. Untuk pertama kalinya kamar 707 benar-benar hanya milik Tri, kertas, dan pertanyaan yang makin lama makin mirip pintu terkunci.

Ia membuka buku Ilmu Material lagi.

Bagian berikutnya membahas tiga aliran Empu Mecha.

Arsitektur: membangun rangka besar dari sistem yang sudah terbukti.

Material: memahami sifat bahan sampai bisa memaksa batasnya.

Terbuka: mengambil apa pun yang bekerja, membuang apa pun yang hanya berguna untuk gengsi.

Tri membaca baris terakhir dua kali.

Terbuka.

Itu bukan aliran.

Itu cara orang miskin tetap hidup.

Sore tadi, di perpustakaan material Damokles, ia hampir ditolak masuk ke rak tingkat tinggi.

Petugas perpustakaan melihat kartu muridnya, lalu melihat catatan kredit kelas yang baru pulih sebagian.

“Bagian S tidak untuk murid A tahun pertama.”

Tri menunjuk buku paling tipis di rak luar. “Saya tidak pinjam bagian S. Saya pinjam buku yang membahas kenapa saya tidak boleh meminjam bagian S.”

Petugas itu menatapnya cukup lama, lalu menyerahkan buku pengantar dengan sampul lusuh. “Kalau kau mimisan, jangan jatuh di ruang baca. Nanti lantainya susah dibersihkan.”

“Ada denda?”

“Ada.”

Tri langsung mundur dua langkah dari meja baca.

Di sudut lain, dua murid Empu senior tertawa karena mengira ia tidak mendengar. Mereka menyebut murid Prajurit yang membaca material tinggi seperti orang lapar membaca menu restoran bintang lima.

Tri tidak membalas.

Ia hanya menyalin daftar istilah, daftar gejala penolakan bahan, dan tiga model sendi dasar ke Kom barunya. Menu restoran pun berguna kalau suatu hari ia ingin mencuri dapurnya.

Sebelum pergi, ia juga memotret rak terkunci bagian S dari jauh. Bukan untuk dibuka malam itu. Hanya supaya ia tahu pintu mana yang suatu hari harus ia lewati dengan sah, atau dengan cara yang tidak membuat denda bertambah.

Ia tersenyum sedikit, lalu batuk karena darah turun ke tenggorokan.

Kain kedua dipakai.

“Baik,” gumamnya. “Tidak model penuh.”

Ia membuka simulasi baru.

Bukan mecha tingkat S.

Hanya satu sendi.

Sendi lutut.

Skala kecil.

Aman secara teori.

Lima menit kemudian, hidungnya berdarah lagi.

Tri menatap layar.

Model kecil itu berhasil mencapai enam puluh dua persen sebelum runtuh.

Lebih baik.

Masih buruk.

Ia menekan kain ke hidung dan tertawa tanpa suara.

Di ruang gelap lantai empat Bengkel Hitam, rekaman Tunduk pada Nasib diputar ulang untuk kesebelas kalinya.

“Di sini,” kata suara pertama.

Layar berhenti pada momen ketika Tri kehilangan lengan Mecha tetapi tidak memanggil alat lain. “Dia punya pilihan, tapi menahan.”

Layar kedua menampilkan TepiBaratKarang menembakkan panah dari sudut buta.

“Yang ini juga menahan.”

“Kirim tantangan?”

“Belum. Orang yang menahan diri akan mencari batasnya sendiri. Kita tunggu sampai mereka butuh bahan.”

Rekaman diperbesar pada tangan nomor tujuh belas yang mencabut kristal emas pucat.

“Terutama yang ini.”

Kembali di kamar 707, Tri tidak tahu ada orang yang menunggu ia lapar bahan.

Ia hanya menutup semua simulasi, mencuci darah dari hidung, lalu berdiri di depan cermin kecil di pintu lemari.

Wajahnya pucat.

Matanya terlalu terang.

Tubuh empat belas tahun itu makin tinggi, makin kuat, tetapi rasanya seperti baju yang ukurannya salah. Tidak terlalu sempit. Tidak terlalu longgar. Hanya bukan ukuran yang tertulis di label.

A tingkat.

Itu labelnya.

Tubuhnya tidak percaya.

Tri mengangkat kain bernoda darah, menatap model sendi S yang runtuh di layar, lalu berkata pelan pada bayangannya sendiri,

“A tingkat membangun S bisa rusak otak.”

Ia menghapus darah terakhir dari bibir.

“Gue cuma mimisan.”

Kamar tetap diam.

Pertanyaannya tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!