NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Abu dan Segel Dewa

Darah hangat memercik ke wajah Lin Tian.

Ia tidak menjerit. Ia menerjang.

Pisau dapur di tangan kanannya diayunkan sekuat tenaga ke arah leher sosok bertopeng itu. Sebuah serangan yang lahir dari keputusasaan murni, bukan teknik bela diri.

Clang!

Mata pisau itu patah sebelum menyentuh kulit.

Sosok bertopeng itu bahkan tidak bergeser satu inci pun. Ia hanya menatap Lin Tian dengan sepasang mata kosong di balik topeng besi, lalu menjentikkan jari telunjuknya.

Kekuatan tak kasatmata menghantam dada Lin Tian seperti palu godam.

Tulang rusuknya berbunyi retak, menusuk paru-paru. Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak dinding ruang kerja hingga jebol dan terhempas ke dalam kegelapan.

"Bocah tanpa qi. Tidak sepadan untuk kubunuh sendiri," suara datar itu bergema di tengah halaman. "Bakar rumahnya. Pastikan tidak ada yang tersisa."

Lin Tian berusaha bangkit, tetapi paru-parunya terasa seperti diisi pecahan kaca.

Melalui lubang di dinding, ia melihat ayahnya roboh dengan dada tertembus. Ibunya memeluk tubuh kaku itu, menangis histeris, sebelum sebuah tebasan cahaya memisahkan kepala wanita itu dari tubuhnya.

"Ibu..." suara Lin Tian tercekat.

Darah memenuhi mulutnya, membuatnya tersedak.

Api mulai menjilat tiang-tiang kayu dengan cepat.

Jubah hitam para pembunuh itu berkibar saat mereka melompat ke atap, menghilang ke dalam malam. Mereka membawa gulungan kulit yang menjadi akhir dari keluarga Lin.

Asap hitam mengepul pekat.

Panas membakar kulit wajah Lin Tian. Ia merangkak keluar dari puing dinding. Kuku-kukunya mencakar lantai kayu yang mulai hangus.

Ia ingin mencapai mayat orang tuanya, tetapi balok atap yang terbakar runtuh, menimpanya tanpa ampun.

Gelap.

Hanya ada suara api yang menderu, dan bau daging hangus yang akan menghantui mimpi buruknya seumur hidup.

Hujan turun deras saat Lin Tian membuka mata.

Air dingin merembes melalui celah-celah balok kayu hangus yang menindih tubuhnya. Ia mendorong dengan sisa tenaga, batuk-batuk memuntahkan abu dan gumpalan darah.

Kediaman keluarga Lin sudah rata dengan tanah.

Hanya tersisa arang, puing, dan genangan air berlumpur. Ia merangkak keluar, seluruh tubuhnya berlumuran jelaga dan darah kering.

Hujan tidak mampu memadamkan bara api yang masih menyala di beberapa sudut. Namun cukup untuk menyadarkan Lin Tian bahwa ia masih hidup.

Di tengah puing-puing ruang utama, ia menemukan dua gundukan hangus yang saling berpelukan.

Lin Tian jatuh berlutut di atas lumpur.

Ia tidak menangis.

Air matanya seolah sudah menguap bersama api semalam. Ia hanya menatap kedua gundukan itu, menghafalkan setiap detail, setiap tulang yang menghitam.

Tangannya menggali tanah di bawah mereka dengan tangan kosong.

Kuku-kukunya patah, ujung jarinya berdarah, tetapi ia terus menggali hingga membuat lubang yang cukup dalam. Ia mengubur orang tuanya di sana, tanpa nisan, tanpa upacara.

"Aku akan membunuh mereka," bisik Lin Tian pada tanah yang basah. "Semuanya."

Tiga hari kemudian, Lin Tian berdiri di depan gerbang Akademi Awan Biru.

Pakaian yang ia kenakan adalah kain compang-camping hasil memungut dari jemuran tetangga yang sudah lari ketakutan. Wajahnya kurus, matanya cekung, tetapi tatapannya tajam menusuk.

Ia datang untuk melapor.

Istana Langit Hitam adalah organisasi terlarang. Jika sekte setempat tahu, mereka pasti akan mengirim utusan ke kota besar untuk memburu mereka.

"Minggir, pengemis!" bentak seorang murid penjaga gerbang, mendorong bahu Lin Tian dengan ujung tombak.

Lin Tian terhuyung, tetapi tidak jatuh.

"Aku harus bertemu Tetua. Keluargaku dibantai Istana Langit Hitam."

Penjaga itu tertawa meremehkan.

"Istana Langit Hitam? Organisasi mitos itu? Kau gila karena kelaparan, ya?"

Keributan itu menarik perhatian Zhou Wei, yang kebetulan berjalan keluar bersama dua temannya. Pemuda itu menyipitkan mata, mengenali wajah di balik kotoran dan jelaga.

"Lihat siapa yang masih hidup," cibir Zhou Wei. "Sampah Lin. Kudengar rumahmu terbakar. Ternyata kau yang membakarnya sendiri karena gila?"

"Keluargaku dibunuh," kata Lin Tian, suaranya parau dan berat. "Mereka mengambil gulungan ayahku."

Zhou Wei mendekat, menendang lutut Lin Tian hingga pemuda itu berlutut paksa.

"Gulungan? Maksudmu harta karun yang seharusnya diserahkan ke Akademi sebagai upeti? Kau berani menyembunyikannya?"

"Itu peninggalan kakekku," geram Lin Tian.

"Itu milik Akademi!" Zhou Wei memukul wajah Lin Tian dengan sarung tangan besinya.

Darah segar mengalir deras dari hidung Lin Tian.

Dua teman Zhou Wei ikut menendang perut dan punggungnya.

Mereka memukuli Lin Tian di tengah jalan, di depan murid-murid lain yang hanya menonton sambil berbisik. Tidak ada yang menolong. Di mata mereka, Lin Tian hanyalah sampah tanpa qi yang kebetulan masih bernapas.

"Mati saja di selokan," desis Zhou Wei, meludahi wajah Lin Tian sebelum berbalik pergi.

Lin Tian diseret oleh dua pelayan akademi dan dibuang ke gang sempit di belakang pasar.

Hujan kembali turun, membasahi luka-lukanya yang perih.

Tulang rusuknya yang patah saat pembantaian kini bertambah parah. Setiap napas membawa rasa sakit yang menusuk hingga ke otak.

Ia bersandar di dinding bata yang lembap dan berlumut.

Pandangannya mulai kabur.

Apakah aku akan mati di sini? pikirnya. Tanpa membunuh satu pun dari mereka?

Amarah membakar dadanya, lebih panas dari api yang melahap rumahnya.

Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya yang patah kembali menancap ke daging telapak tangannya sendiri.

Langkah kaki terdengar.

Lambat, tidak beraturan, diiringi suara cairan yang berguncang di dalam wadah.

Seseorang berhenti di mulut gang.

Bayangan pria tua dengan jubah abu-abu kusam dan topi bambu yang menutupi separuh wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah labu arak dari kayu.

Bau alkohol menyengat hidung Lin Tian.

"Bocah," suara pria tua itu serak, tetapi bergema jelas di tengah suara hujan. "Meridianmu mati, tapi niat membunuhmu bisa membuat iblis pun merinding."

Lin Tian mengangkat kepalanya, menatap pria itu dengan mata yang merah oleh darah dan kebencian.

"Ajari aku," sahut Lin Tian sebelum memuntahkan darah. "Atau bunuh aku."

Pria tua itu meneguk araknya, lalu tersenyum tipis.

"Kau pikir aku pengemis yang suka memungut sampah?"

Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menatap labu arak di tangan pria tua itu.

Ia tidak peduli siapa orang ini. Asal bisa memberinya kekuatan, ia rela menyerahkan jiwanya.

"Mereka membunuh ayahku," suara Lin Tian bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan. "Mereka memenggal ibuku. Aku tidak punya qi. Aku tidak punya apa-apa. Tapi aku masih bernapas."

Pria tua itu terdiam, menurunkan labu araknya dari balik tepi topi bambu.

Hujan membasahi jubah kusamnya hingga menempel di tubuh kurus.

"Kau tahu mengapa meridianmu tertutup?" tanya pria tua itu tiba-tiba.

Lin Tian mengerutkan kening. "Tabib bilang aku cacat sejak lahir."

"Cacat?" Pria tua itu mendengus, tawanya terdengar sinis namun mengandung rasa sedih yang samar. "Bocah bodoh. Tidak ada tabib di benua ini yang matanya cukup tajam untuk melihat apa yang ada di dalam tubuhmu."

Ia melangkah maju, berjongkok di depan Lin Tian.

Jari keriputnya menusuk dada Lin Tian, tepat di titik tengah tulang dada.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

Lin Tian menggigit lidahnya agar tetap sadar. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Ini bukan cacat," bisik pria tua itu, matanya berkilat tajam, tak lagi terlihat seperti pemabuk. "Ini adalah segel. Seseorang mengunci meridianmu dengan formasi dewa sejak kau dalam kandungan."

Lin Tian terkesiap, matanya membelalak lebar.

"Siapa..." suaranya tercekat.

"Itu pertanyaan untuk nanti," potong pria tua itu, berdiri dan menepuk jubah basahnya. "Pertanyaan sekarang adalah, apakah kau siap menahan rasa sakit saat segel ini kurobek paksa?"

Sebelum Lin Tian sempat menjawab, pria tua itu menginjak tanah.

Qi yang padat meledak dari tubuhnya, membuat air hujan di sekitar mereka menguap seketika.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!