NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Lompatan Orang Gila

Aku melompat.

Dan tepat setelah kedua kakiku meninggalkan atap...

Aku langsung menyesal.

── Maël kepada kalian ──

Kalian tahu apa bedanya keberanian dan kebodohan?

Aku juga tidak tahu.

Karena saat itu...

Aku sedang mempraktikkan keduanya sekaligus.

── Kembali ke cerita ──

"AAAAAA!"

teriakku sepanjang lompatan.

Di film-film...

Tokoh utama biasanya melompat dengan wajah keren.

Tangannya terbuka.

Musik mulai dimainkan.

Kalau aku?

Aku menjerit seperti kambing yang baru melihat tukang sate.

Brak!

Tubuhku menghantam atap bangunan sebelah.

Aku berguling dua kali sebelum akhirnya berhenti tepat di tepi.

Kakiku menggantung.

Sedikit lagi...

Aku jatuh.

Aku langsung memeluk cerobong asap terdekat.

"Nggak lagi..."

gumamku.

"Aku sumpah nggak mau lagi."

Beberapa detik kemudian...

Brak!

Léo ikut mendarat.

Bedanya...

Dia langsung menabrakku.

Kami berdua terguling bersama.

"LEO!"

"Aku nggak sengaja!"

"Kau hampir membuatku jadi pancake!"

"Itu lebih baik daripada jadi mayat!"

Aku ingin membalas.

Tapi tiba-tiba...

Brak!

Marcel mendarat.

Lalu Henri.

Empat orang.

Satu atap.

Dan semuanya terengah-engah.

Kami saling memandang.

Lalu...

Entah siapa yang mulai lebih dulu.

Kami tertawa.

Tertawa keras.

Tertawa karena masih hidup.

Kadang...

Orang memang baru benar-benar menghargai napas setelah hampir kehilangannya.

"Bangun."

kata Henri sambil membantu Marcel berdiri.

"Mereka belum selesai."

Benar saja.

Dari belakang terdengar suara teriakan.

"Mereka di sana!"

Aku menoleh.

Sekitar enam orang berpakaian hitam mulai naik ke atap yang tadi kami tinggalkan.

"Enam?"

gumamku.

"Yang tadi cuma tiga."

Léo mengangkat bahu.

"Mereka diskon beli tiga, gratis tiga."

Aku memukul bahunya.

"Ini bukan waktunya bercanda."

"Kau juga tadi bercanda."

"Iya juga."

Henri menghela napas panjang.

"Ayo."

"Kita harus menuju Montmartre."

"Kenapa ke sana?"

tanyaku.

Henri menjawab singkat.

"Ada seseorang yang harus kau temui."

"Lagi?"

"Ya."

"Kenapa semua orang tua di Paris suka menyimpan rahasia?"

Marcel menjawab datar.

"Itu hobi."

Kami kembali berlari.

Dari satu atap ke atap lain.

Sesekali harus melompati celah sempit.

Sesekali merunduk agar tidak terlihat.

Paris dari atas ternyata berbeda.

Di bawah...

Orang-orang menikmati kopi.

Turis mengambil foto.

Pasangan berjalan bergandengan tangan.

Sementara di atas...

Kami sedang dikejar orang bersenjata.

Ironis.

Sangat ironis.

── Maël kepada kalian ──

Kalau suatu hari kalian datang ke Paris...

Dan melihat foto-foto romantis di internet...

Ingatlah.

Tidak ada yang pernah memotret bagian atapnya.

Mungkin karena...

Di sini lebih banyak orang berlari daripada berciuman.

── Kembali ke cerita ──

Saat melewati sebuah balkon apartemen...

Seorang nenek sedang menyiram bunga.

Ia melihat kami.

Aku tersenyum sambil melambai.

"Bonjour, Madame!"

Nenek itu melongo.

Aku terus berlari.

Di belakangku...

Enam pria bertopeng ikut melompati balkon yang sama.

Nenek itu langsung menjerit.

"Mon Dieu!"

Pot bunga di tangannya terlepas.

Prang!

Pot itu jatuh tepat mengenai kepala salah satu pengejar.

"ARGH!"

Pria itu oleng.

Aku menoleh.

"Nah!"

teriakku.

"Merci, Madame!"

Nenek itu mungkin tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Tapi tanpa sengaja...

Ia baru saja menyelamatkan hidupku.

Kami akhirnya tiba di sebuah bangunan tua dengan atap kaca.

Henri berhenti.

"Napas."

katanya.

"Kita istirahat tiga puluh detik."

"Tiga puluh?"

Aku sampai tertawa.

"Itu bahkan belum cukup buat mengeluh."

"Gunakan sebaik mungkin."

Aku langsung merebahkan diri.

Dadaku naik turun.

Léo bahkan sudah telentang sambil memandangi langit.

"Kalau aku mati..."

katanya pelan.

"...tolong jangan kubur aku."

Aku menoleh.

"Lalu?"

"Aku maunya dikremasi."

"Kenapa?"

"Lebih hemat tempat."

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

"Kau ini..."

Marcel tiba-tiba ikut tertawa.

"Kalian benar-benar aneh."

Henri menatap kami bergantian.

Tatapannya jauh lebih lembut daripada sebelumnya.

"Aku mengerti sekarang."

"Apa?"

tanyaku.

"Kenapa Marcel mempertaruhkan hidupnya untukmu."

Aku mengernyit.

"Kenapa?"

Henri tersenyum tipis.

"Karena kau membuat orang-orang di sekitarmu lupa kalau dunia sedang kejam."

Aku terdiam.

Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu kepadaku.

Selama ini aku hanya berpikir...

Aku terlalu banyak bicara.

Belum sempat suasana menjadi tenang...

Suara helikopter terdengar dari kejauhan.

Drrrrrrrr...

Aku mendongak.

Sebuah helikopter hitam muncul di balik gedung-gedung tua.

"Jangan bilang..."

gumam Léo.

"Itu buat kita."

Henri melihat ke langit.

Wajahnya langsung berubah.

"Mereka mengerahkan helikopter..."

Marcel mengepalkan rahang.

"Berarti mereka panik."

Aku mengangkat tangan.

"Maaf."

"Boleh tanya?"

Henri mengangguk.

"Silakan."

"Memangnya aku ini siapa?"

"Sampai orang-orang rela keluar uang buat helikopter?"

Tidak ada yang menjawab.

Helikopter itu semakin mendekat.

Pintu sampingnya terbuka.

Seorang pria berpakaian hitam berdiri di sana.

Di tangannya...

Bukan senapan.

Melainkan sebuah pengeras suara.

"Maël Delacroix!"

Suara itu menggema di langit Paris.

Aku membeku.

Delacroix?

Léo menoleh kepadaku perlahan.

"Maël..."

"Itu..."

"...nama belakangmu?"

Aku tidak menjawab.

Karena...

Aku sendiri baru pertama kali mendengarnya.

Pria di helikopter kembali berbicara.

"Menyerahlah!"

"Perlawananmu tidak akan mengubah apa pun!"

Aku menggenggam foto tua di dalam sakuku.

Di belakang foto itu tertulis:

"Untuk Maël. Jika suatu hari kau membaca ini, berarti kami gagal melindungimu."

Dan kini...

Aku akhirnya memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki.

Sebuah nama.

Maël Delacroix.

Tapi mengapa...

Nama itu terdengar seperti hukuman, bukan jawaban?

── Maël kepada kalian ──

Seumur hidup aku iri pada orang-orang yang punya nama keluarga.

Kupikir...

Kalau suatu hari aku menemukannya...

Aku akan bahagia.

Ternyata tidak.

Karena semakin banyak jawaban yang kudapat...

Semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.

Dan firasatku mengatakan...

Nama Delacroix baru saja membuka pintu menuju mimpi buruk yang sesungguhnya.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!