NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Sisa Nasi Goreng

Api biru menyala lagi di bawah wajan.

Laras menuangkan sedikit minyak. Tangannya masih kaku karena sadar Bima duduk kurang dari dua langkah di belakangnya. Laki-laki itu tidak bicara, tetapi keberadaannya memenuhi dapur lebih kuat daripada aroma bawang yang mulai ditumis.

“Pedas?” tanya Laras.

“Sedang.”

“Telurnya tinggal satu.”

“Pakai.”

“Besok buat sarapan Satya kalau dia sudah mulai makan pendamping.”

“Satya belum makan telur utuh.”

Laras menoleh. “Komandan tahu?”

Bima mengangkat alis. “Dia anak yang saya urus.”

Jawaban itu terdengar kaku, hampir defensif. Laras menahan senyum dan kembali menghadap kompor.

Nasi dingin masuk setelah telur setengah matang. Kali ini ia menambahkan lebih banyak cabai dan sedikit lada. Spatula beradu dengan wajan, memecah kesunyian. Ketika Laras mengangkat wajan untuk membalik nasi, Bima memperhatikan pergelangan tangannya yang kecil namun mantap.

“Kamu belajar masak di mana?”

“Di rumah. Bapak saya suka memasak sebelum berangkat mengajar.”

“Guru?”

“Guru SD di Girisari. Sudah meninggal.”

Bima mengangguk. Ia tidak mengucapkan belasungkawa yang terdengar kosong. Anehnya, Laras lebih menghargai diam itu.

Ia meletakkan nasi goreng di piring, menambahkan irisan mentimun yang ditemukan di kulkas, lalu mendorongnya ke depan Bima.

“Silakan.”

Bima mengambil suap pertama.

Laras berdiri dekat kompor, menunggu. Perasaannya jauh lebih tegang daripada ketika memasak untuk dirinya sendiri.

“Bagaimana?”

Bima mengunyah, lalu mengambil suap kedua.

“Katanya cuma lumayan,” ujarnya.

Laras tahu itu ejekan terhadap jawabannya tadi. “Untuk Komandan mungkin memang cuma lumayan.”

“Kalau begitu, jangan lihat piring saya.”

Bima mengambil suap lagi. “Kapan terakhir kamu memasak begini?”

Laras memikirkan jawabannya. “Sebelum berangkat dari desa. Bukan nasi goreng. Bubur beras untuk Nala.”

“Dia sudah makan pendamping?”

“Sedikit. Mbah Inah menghaluskan pisang atau labu. Kalau ada telur, kuningnya dicampur ke bubur.”

“Kalau ada telur,” ulang Bima.

Laras tahu laki-laki itu mendengar bagian yang tidak ia jelaskan. Ia merapikan lap di dekat kompor. “Anak desa tidak pilih-pilih makanan.”

“Bukan berarti mereka boleh kekurangan.”

“Saya sedang mengusahakan supaya dia tidak kekurangan.”

Bima menatapnya sejenak. Tidak ada kasihan di mata itu, sesuatu yang selalu membuat Laras merasa kecil. Yang ada justru penilaian tenang, seperti ia sedang melihat seorang prajurit yang bertahan di posnya sendirian.

“Karena itu kamu juga harus tetap berdiri,” katanya.

Laras memalingkan wajah ke wajan kosong agar Bima tidak melihat matanya menghangat.

Ia terus makan.

Tidak cepat, tetapi tidak pernah berhenti. Telur, nasi, dan irisan mentimun lenyap sedikit demi sedikit sampai piring itu bersih. Bahkan butiran nasi yang menempel di pinggir disapu dengan sendok.

Laras menyilangkan tangan di dada. Gerakan itu membuat kancing blus bagian atas tertarik. Terdengar bunyi kecil.

Satu kancing terlepas, memantul di lantai, lalu menggelinding tepat ke dekat sepatu Bima.

Laras tersentak dan segera merapatkan sisi blusnya.

Bima menunduk. Tangannya bergerak mengambil kancing itu. Ketika berdiri, pandangannya tetap terangkat ke wajah Laras, tidak turun sedikit pun.

“Punyamu.”

Ia meletakkan kancing di meja, bukan menyerahkannya langsung.

“Terima kasih.” Wajah Laras kembali panas.

Bima menggeser piring kosong. Saat Laras hendak mengambilnya, laki-laki itu mengulurkan tangan pada saat yang sama. Jari mereka hampir bersentuhan. Laras menarik tangannya terlalu cepat hingga siku membentur rak bumbu.

Sebuah toples bergoyang. Bima menangkapnya sebelum jatuh.

“Pelan.”

“Saya tidak apa-apa.”

“Kamu sering bilang begitu ketika hampir jatuh.”

Laras kehilangan jawaban. Ia meraih piring dari sisi lain, lalu berbalik ke bak cuci.

“Di wajahmu ada daun bawang,” kata Bima.

Laras mengusap pipi kiri. “Sudah?”

“Bukan di situ.”

Ia mengusap dagu.

Bima menghela napas pendek, lalu berdiri. Sebelum Laras sempat bergerak, ibu jari laki-laki itu menyapu cepat sudut bibirnya.

Sentuhan itu hanya sesaat.

Namun tubuh Laras menegang seolah disentuh api dari wajan.

Bima juga terdiam. Matanya jatuh pada bibir Laras, lalu berpindah ke kancing yang terlepas di meja. Rahangnya mengeras. Ia mundur satu langkah.

“Besok makan yang benar.”

Kalimat itu diucapkan sambil berjalan menuju pintu.

“Komandan.”

Bima berhenti tanpa menoleh.

“Piringnya benar-benar bersih.”

Laras tidak tahu mengapa ia mengatakannya. Mungkin untuk menyelamatkan dirinya dari keheningan yang terlalu padat.

“Saya lapar,” jawab Bima.

“Katanya bau nasi goreng yang membawa Komandan ke sini.”

“Dua-duanya.”

Lalu ia pergi.

Laras berdiri di depan bak cuci, memegang sudut bibir yang tadi disentuh. Dari koridor, suara Bima terdengar lebih rendah.

“Kancingnya dijahit. Jangan dipakai begitu besok.”

Laras melihat kancing kecil di meja. “Iya, Komandan.”

Tidak ada jawaban lagi.

Ia baru menyadari sedang tersenyum ketika melihat bayangannya di kaca jendela.

Pagi berikutnya, Iwan tiba membawa dua bungkus makanan dan satu termos susu hangat.

“Ini sarapan, ini tambahan,” katanya sambil menunjuk bungkus kedua. “Telur rebus, kacang hijau, sama pisang.”

Laras menatap jumlahnya. “Banyak sekali.”

“Perintah Komandan. Katanya ibu menyusui harus cukup makan supaya produksi susu bagus.”

“Komandan bilang begitu?”

“Kurang lebih.”

“Kurang lebih yang bagaimana?”

Iwan menggaruk kepala. “Aslinya beliau bilang, ‘Tambah jatahnya. Jangan sampai kosong lagi.’ Saya yang memperhalus.”

Laras menahan senyum. “Matur nuwun.”

“Terima kasihnya ke Komandan, bukan ke saya.”

Bima keluar dari ruang depan tepat saat itu. Ia sudah berseragam lengkap.

“Ada masalah?” tanyanya.

“Tidak, Komandan,” jawab Laras cepat.

Iwan malah mengangkat bungkus tambahan. “Saya sudah sampaikan soal tambahan makan setelah Komandan makan nasi goreng Mbak Laras semalam.”

Tatapan Bima berubah tajam.

Iwan belum sadar. “Piringnya bersih sekali, Mbak. Jarang Komandan makan tengah malam begitu.”

“Iwan.”

“Siap, Komandan?”

“Siapkan kendaraan.”

“Siap.”

Iwan berlari ke halaman. Bima menatap Laras sesaat. Perempuan itu memegang bungkus kacang hijau, berusaha keras agar wajahnya tetap biasa.

“Makan,” kata Bima.

“Siap, Komandan.”

Kali ini sudut mulut Bima benar-benar bergerak sebelum ia pergi.

Menjelang siang, Iwan mengantar jeriken air ke depan rumah. Dua istri prajurit yang lewat melihat tumpukan bungkusan di meja.

“Wah, banyak sekali jatahnya,” salah satu dari mereka berkomentar.

Iwan, yang sedang mengikat tali jeriken, menjawab tanpa curiga. “Harus banyak, Bu. Semalam Danyon saja ikut makan nasi goreng buatan Mbak Laras. Katanya enak.”

“Semalam?”

“Iya. Tengah malam.”

Kedua perempuan itu berhenti.

Baru saat melihat mata mereka saling bertemu, Iwan sadar mulutnya baru saja berlari lebih cepat daripada pikirannya.

“Maksud saya, dapurnya memang di rumah Danyon, jadi...”

“Kami paham,” kata salah satunya, terlalu cepat.

Mereka berjalan lagi menuju ujung jalan, tempat rumah Bu Ratna berdiri.

Iwan menepuk dahinya sendiri.

Di kamar belakang, Laras sedang menyusui Satya dan tidak mendengar apa pun.

Ia juga tidak melihat bagaimana dua perempuan itu mempercepat langkah, membawa sisa nasi goreng semalam sebagai bahan omongan baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!