NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Pelayan yang Dibuang

"Dia itu cuma cadangan."

Tangan Raka Surya Pratama berhenti di depan pintu ruang VIP Restoran Taman. Nampan berisi dua gelas es teh hampir miring, tetapi pergelangan tangannya menegang tepat waktu.

Suara Vera Anggraini keluar dari balik pintu yang belum tertutup rapat. Lembut, manja, tapi menusuk seperti ujung pisau.

"Kalau Ahmad sudah siap tanggung jawab, buat apa aku tahan-tahan Raka? Dia cuma pelayan. Aku pertahankan selama ini karena dia nurut. Disuruh antar jemput mau, disuruh bayar cicilan motor mau, bahkan kalau aku bilang tunggu di depan gang sampai malam, dia tetap datang."

Tawa laki-laki menyusul. Ahmad.

"Terus anak ini?"

"Ya anak kamu, Mas." Vera terkikik pelan. "Tenang. Aku sudah empat bulan. Setelah acara pertunangan minggu depan, semua orang akan tahu aku calon istrimu. Raka? Biar dia dengar sendiri nanti. Paling cuma nangis."

Darah di wajah Raka seperti ditarik habis.

Empat bulan.

Selama empat bulan terakhir, dia mengambil shift tambahan di dapur, mengantar pesanan malam, menahan makian pelanggan, dan menyisihkan hampir semua gaji untuk Vera. Ketika Vera bilang butuh uang obat untuk ibunya, Raka mengirim. Ketika Vera bilang keluarga Ahmad hanya rekan bisnis, Raka percaya.

Di dalam ruangan, gelas berdenting.

"Kamu kejam juga," kata Ahmad.

"Aku realistis. Laki-laki miskin cuma cocok jadi tangga. Setelah naik, tangganya dibuang."

Nampan di tangan Raka bergetar.

Pintu mendadak terbuka.

Herman, supervisor restoran, berdiri di depannya dengan kening berkerut. Pria itu melihat nampan, lalu wajah Raka yang pucat. Senyumnya langsung miring.

"Ngapain berdiri kayak patung? Tamu VIP nunggu minuman. Drama hidupmu simpan di luar."

Suara dari dalam berhenti.

Vera menoleh.

Matanya bertemu mata Raka.

Untuk satu detik, wajahnya kaku. Tetapi hanya satu detik. Setelah itu dagunya terangkat, seakan justru Raka yang melakukan kesalahan.

Ahmad bersandar di sofa kulit, satu tangan melingkar di pinggang Vera. Di atas meja ada kotak perhiasan terbuka, cincin berlian kecil memantulkan cahaya lampu.

"Raka?" Vera berkata datar. "Kamu kerja di sini?"

Raka masuk dua langkah. Dia meletakkan nampan di meja tanpa menumpahkan satu tetes pun.

"Aku yang harus tanya," suaranya serak, tetapi jelas. "Empat bulan?"

Ahmad mengangkat alis. "Oh, ini yang kamu bilang cadangan itu?"

Herman langsung menangkap peluang. Ia menepuk bahu Raka terlalu keras.

"Jaga sikap. Ini Pak Ahmad, tamu penting. Kalau kamu bikin ribut, gajimu bulan ini saya tahan."

"Gaji saya masih kurang tiga minggu lembur," kata Raka, matanya tidak lepas dari Vera.

Herman mendengus. "Lembur? Kamu kerja lambat, saya masih baik tidak potong lebih banyak."

Vera merapikan rambut di belakang telinga. Gerakannya sama seperti dulu saat meminta maaf. Bedanya, sekarang tidak ada rasa bersalah di wajahnya.

"Raka, jangan bikin malu. Kita bicara baik-baik di luar nanti."

"Di luar?" Raka tertawa pendek. "Kamu bicara anak empat bulan di dalam ruangan ini. Sekarang minta aku diam di luar?"

Ahmad menaruh gelasnya dengan keras.

"Dengar, Pelayan. Kamu tidak punya hak mengangkat suara di depan calon istriku. Kalau kamu pernah bantu dia, anggap saja sedekah. Berapa totalnya? Dua juta? Lima juta? Saya ganti."

Ia menarik dompet, mengambil selembar uang lima puluh ribu, lalu melemparkannya ke lantai dekat sepatu Raka.

"Ambil. Tips terakhir."

Beberapa pelayan yang lewat di koridor berhenti. Di antara mereka ada Wulan Sari, kasir paruh waktu yang biasa menukar shift dengan Raka. Matanya melebar, tetapi ia tidak berani masuk.

Herman justru makin keras.

"Ambil, Raka. Jangan pura-pura punya harga diri. Orang seperti kamu kalau diberi uang harus bilang terima kasih."

Raka menatap uang di lantai.

Ia pernah berpikir harga dirinya bisa ditukar dengan kesabaran. Selama bisa membayar kontrakan Bibi Lestari, selama Bintang bisa sekolah tanpa malu, selama Vera suatu hari melihat usahanya, ia rela menunduk.

Ternyata orang yang menunduk terlalu lama hanya dianggap lantai.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Bibi Lestari muncul di layar retak.

Raka, uang sekolah Bintang ditagih lagi. Kalau belum ada, tidak apa-apa. Bibi coba pinjam ke tetangga dulu.

Raka menggenggam ponsel itu sampai buku jarinya memutih.

Ahmad mengikuti arah pandangnya dan tertawa.

"Keluarga miskin juga? Lengkap. Vera, seleramu dulu benar-benar rendah."

Vera menunduk sebentar, lalu berkata, "Aku dulu kasihan. Itu saja."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.

Raka membungkuk.

Herman tersenyum puas, mengira ia akan memungut uang.

Tetapi Raka tidak mengambil uang itu. Ia mengambil gelas es teh dari nampan, lalu menuangkannya perlahan ke atas lembar lima puluh ribu di lantai. Air cokelat meresap, membuat kertas itu lengket dan kotor.

Ruangan hening.

Raka meletakkan gelas kosong kembali ke meja.

"Uangmu terlalu mahal untuk harga diriku," katanya kepada Ahmad. "Tapi terlalu murah untuk membeli diamku."

Wajah Ahmad mengeras. "Kamu cari mati?"

Herman langsung maju dan mendorong dada Raka.

"Keluar! Mulai hari ini kamu saya pecat. Gaji? Jangan harap. Saya akan tulis kamu menyerang tamu."

Dorongan itu membuat punggung Raka membentur kusen pintu. Nampan jatuh berdenting. Beberapa pelanggan menoleh dari aula utama.

Wulan spontan berseru, "Pak Herman, Raka tidak menyerang siapa-siapa."

"Diam!" bentak Herman. "Kamu mau ikut dipecat?"

Wulan menggigit bibir, matanya merah, tetapi tetap berdiri di tempat.

Raka melihat semua itu. Vera yang memalingkan muka. Ahmad yang tersenyum seolah menonton badut. Herman yang menggunakan seragam supervisor seperti cambuk. Pelayan lain yang takut. Uang basah di lantai.

Dunia terasa sempit, bau minyak goreng dan parfum mahal bercampur dalam dadanya.

Lalu suara asing terdengar.

Bukan dari luar.

Dari dalam kepalanya.

[Ding.]

[Konfirmasi penghinaan publik, pengkhianatan pasangan, penindasan finansial, dan tekanan keluarga terdeteksi.]

[Mimpi, Sistem Ilahi No. 11, berhasil terikat dengan tuan rumah: Raka Surya Pratama.]

Raka membeku.

Tulisan biru pucat muncul di depan matanya, melayang di udara. Tidak ada orang lain bereaksi.

[Aturan utama dunia setelah sinkronisasi: nilai uang tuan rumah berbeda dari dunia luar.]

[Saldo awal: Rp350.000.]

[Daya beli efektif tuan rumah: setara Rp350.000.000.000 di mata sistem harga dunia.]

Napas Raka tercekat.

Tiga ratus lima puluh ribu rupiah.

Tiga ratus lima puluh miliar.

Ahmad melangkah maju. "Kenapa bengong? Takut?"

Herman menarik kerah Raka. "Saya bilang keluar!"

Raka menepis tangan Herman.

Gerakannya tidak kasar, tetapi cukup tegas membuat Herman terhuyung setengah langkah. Untuk pertama kalinya malam itu, mata Herman menunjukkan ragu.

Raka menatap Vera.

"Minggu depan pertunanganmu, kan?"

Vera menelan ludah. "Jangan datang."

"Aku akan datang," kata Raka. "Bukan sebagai cadangan."

Ahmad tertawa dingin. "Datanglah. Saya ingin lihat satpam menyeretmu keluar."

Raka mengambil ponselnya, menaruh uang lima puluh ribu yang basah itu di meja dengan dua jari, lalu berjalan keluar.

Di koridor, Wulan mengikuti beberapa langkah.

"Raka, kamu baik-baik saja?"

Raka berhenti. Suara sistem masih berdenyut pelan di kepalanya, seperti mesin yang baru bangun.

Ia melihat layar ponsel. Saldo rekeningnya masih Rp350.000. Angka kecil yang selama ini membuatnya menghitung harga nasi, bensin, dan obat Bibi satu per satu.

Sekarang angka itu seperti pintu baja yang terbuka.

"Belum," jawab Raka. "Tapi sebentar lagi iya."

Wulan tidak mengerti, tetapi ia melihat sesuatu berubah di mata Raka. Bukan sedih. Bukan putus asa.

Dingin.

Tenang.

Berbahaya.

Di belakang mereka, Herman masih berteriak tentang pemecatan. Ahmad memanggil satpam. Vera berdiri di samping cincin, wajahnya untuk pertama kali kehilangan warna.

Raka turun melewati pintu belakang restoran tanpa menoleh.

Di gang sempit, udara malam Surabaya menampar wajahnya. Ponselnya kembali menyala.

[Hadiah pemula tersedia: Panduan Konsumsi Era Deflasi.]

[Petunjuk pertama: verifikasi harga melalui transaksi kecil sebelum melakukan akuisisi besar.]

Raka menatap pesan Bibi Lestari sekali lagi.

Lalu ia berbisik, "Aku... sudah gila?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!