NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Jaket di Bahu

Makan malam selesai menjelang pukul sepuluh.

Sebagian tamu sudah pergi ketika Rudy menelepon Cornelia. Ayahnya meninggalkan map berisi gambar proyek di ruang kerja, sedangkan mereka harus terbang kembali ke Surabaya pagi-pagi sekali.

“Pak Kelik sudah pulang,” kata Cornelia. “Minta pengemudi lain antar ke hotel.”

Sebastian mengambil map itu. “Saya sekalian keluar.”

Lia sedang mengumpulkan kotak makanan untuk dibawa para tamu. Cornelia melirik gaun yang dikenakannya, lalu berkata, “Lia ikut. Pastikan kotak lapis legit ini sampai ke Tante Lenny. Setelah itu kalian langsung pulang.”

Perintah tersebut mungkin lahir karena Cornelia ingin menguji mereka. Sebastian tidak menolak.

Lia mengganti gaun dengan blus dan rok sederhana sebelum masuk mobil. Namun, udara malam masih membawa dingin sisa hujan. Ia duduk di kursi penumpang sambil memangku kotak kue, menjaga jarak seolah pertengkaran di taman belum selesai.

Sebastian menyalakan mesin.

“Sabuk pengaman.”

“Sudah.”

Mobil keluar dari PIK menuju hotel dekat bandara. Lampu jalan mengalir di kaca, sementara radio memutar lagu lama dengan volume rendah.

“Kamu marah?” tanya Sebastian setelah beberapa menit.

“Tidak.”

“Kamu selalu bilang tidak saat marah.”

“Ko Sebas juga selalu bilang tidak saat cemburu.”

Tangan Sebastian menegang di kemudi. Lia menoleh ke jendela agar ia tidak melihat senyum kecilnya.

“Saya sudah minta maaf,” katanya.

“Saya tahu.”

“Rudy tidak salah.”

“Saya juga tahu.”

“Berarti selesai.”

“Belum.” Sebastian berhenti di lampu merah dan menoleh. “Saya tidak mau kamu mengira saya malu dengan tubuhmu.”

Lia menunduk pada kotak kue. “Orang sering merasa perempuan seperti saya terlalu besar untuk baju bagus.”

“Mereka buta.”

Jawaban itu membuat Lia menatapnya.

Sebastian kembali melihat jalan ketika lampu berubah hijau. “Gaun itu bagus karena kamu yang pakai. Justru itu masalah saya malam ini.”

Pipi Lia memanas. “Ko Sebas tidak bisa bicara begitu lalu berharap saya tetap biasa saja.”

“Saya juga sudah tidak biasa saja.”

Kejujuran itu menggantung di dalam mobil.

Mereka tiba di hotel tanpa membahasnya lagi. Rudy turun ke lobi untuk mengambil map dan kotak kue. Ia berterima kasih kepada keduanya, lalu meminta maaf sekali lagi karena suasana makan malam menjadi canggung.

“Tidak perlu minta maaf,” kata Sebastian. Kali ini nada suaranya tulus. “Hati-hati pulang besok.”

Setelah Rudy pergi, ketegangan di bahu Lia berkurang. Sebastian tidak menyalahkan pria itu dan tidak memakai kekuasaan untuk mengusirnya. Ia hanya seorang lelaki yang ternyata bisa cemburu.

“Pak Rudy orang baik,” kata Lia saat mereka kembali ke mobil.

“Saya tahu.”

“Ko Sebas masih tidak suka?”

“Tetap tidak.”

Lia tertawa pelan. Itu pertama kalinya ia menertawakan Sebastian tanpa merasa kurang ajar. Lelaki itu meliriknya, lalu sudut bibirnya ikut terangkat.

“Kalau saya memberi nomor pribadi tadi, apa yang akan Ko Sebas lakukan?”

“Tidak ada.”

“Saya tidak percaya.”

“Saya mungkin akan menanyakan setiap kali ponselmu berbunyi.”

“Itu mengganggu.”

“Karena itu saya bilang tidak akan melakukan apa-apa.”

Tawa Lia menjadi lebih lepas. Suasana yang sejak taman terasa tajam akhirnya mencair, meninggalkan kehangatan aneh yang belum punya nama.

Dalam perjalanan pulang, hujan turun lebih deras. Pendingin mobil membuat tangan Lia dingin. Ia menggosok kedua telapak tanpa sadar.

Sebastian mematikan pendingin, lalu menepi di bawah atap sebuah minimarket. Ia melepas jaket gelap yang dikenakan di atas kemeja dan meletakkannya di bahu Lia.

“Pakai.”

“Ko Sebas nanti kedinginan.”

“Saya tidak.”

Jaket itu masih menyimpan hangat tubuh dan aroma samar kayu dari parfumnya. Ukurannya terlalu besar, menutupi tangan Lia sampai ujung jari.

“Terima kasih.”

Sebastian kembali menjalankan mobil. “Keluarga saya tidak mudah.”

Lia menunggu.

“Papa membangun banyak keputusan berdasarkan nama keluarga dan hubungan bisnis. Mama terbiasa memastikan semua orang terlihat sesuai tempatnya. Mereka bukan orang jahat, tetapi kadang mengira hidup orang lain bisa disusun seperti daftar tamu.”

“Termasuk hidup Ko Sebas?”

“Terutama hidup saya.”

Itu pertama kalinya Sebastian bicara tentang keluarganya tanpa nada resmi. Lia bisa mendengar kelelahan yang tersembunyi di bawah suaranya.

“Karena Ko Sebas anak yang diandalkan?”

“Karena saya jarang menolak.” Ia tersenyum hambar. “Sampai sekarang.”

Lia menggenggam ujung jaket. Ia tahu “sekarang” bukan hanya tentang proyek atau pertemuan. Ada sesuatu di antara mereka yang mulai menabrak susunan keluarga Wijaya.

“Saya tidak mau jadi alasan Ko Sebas bertengkar dengan keluarga.”

“Keputusan saya tetap keputusan saya.”

“Tapi saya pekerja di rumah mereka.”

“Dan kamu manusia sebelum menjadi pekerja.”

Sebastian mengucapkannya tenang, sama seperti ketika membela nama Lia di arisan. Tak ada janji besar. Justru karena itu, kalimatnya terasa bisa dipercaya.

Mobil berhenti di halaman Rumah Wijaya. Hujan belum reda.

Sebastian mengambil payung dari belakang dan mengantar Lia sampai ke pintu samping. Mereka berjalan berdekatan di bawah payung yang terlalu kecil. Bahu Sebastian basah karena sebagian besar payung diarahkan kepada Lia.

Di bawah lampu teras, Lia hendak melepas jaket.

“Simpan dulu,” katanya.

“Besok saya cuci.”

“Jangan. Nanti baunya hilang.”

Sebastian seolah baru menyadari kalimatnya sendiri. Mata Lia membesar, kemudian wajahnya memerah sampai telinga.

“Maksud saya, kalau dicuci sekarang kainnya bisa rusak,” tambahnya kaku.

Lia menahan senyum. “Baik, Ko Sebas.”

Ia masuk sambil memeluk jaket itu di dada.

Malam tersebut, Lia menggantungnya di dekat ranjang. Sebelum mematikan lampu, ia menyentuh kerah yang masih menyimpan hangat dan aroma Sebastian.

Untuk pertama kalinya, kamar kecilnya terasa seperti menyimpan sesuatu yang hanya menjadi milik mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!