Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Jangan Takut Padaku
Laras tidak langsung menjawab.
Ia menatap mata Bram, lalu bibirnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas lelaki itu berat, tetapi tangan di pinggangnya tetap diam, menunggu keputusan.
"Tidak," bisik Laras.
"Tidak apa?"
"Aku tidak mau kamu berhenti."
Kendali di wajah Bram retak.
Ia mencium Laras lagi, kali ini tanpa keraguan yang sama. Tetap tidak kasar, tetapi lebih dalam. Tangan di pinggang Laras menariknya mendekat, membuat jarak terakhir di antara tubuh mereka lenyap.
Laras kehilangan napas. Jemarinya mencengkeram bahu Bram.
Bram mundur setengah inci. "Pelan?"
"Jangan berhenti hanya untuk bertanya setiap detik."
"Saya sudah bilang akan merepotkan."
"Mas Bram."
Panggilan itu terdengar seperti peringatan sekaligus permintaan.
Bram tersenyum tipis, lalu bibirnya kembali turun.
Ciuman bergerak dari lembut menjadi mendesak. Laras merasakan tepi ranjang di belakang lutut, tetapi Bram menahan tubuhnya sebelum ia kehilangan keseimbangan. Ia membiarkan Laras memilih posisi, membiarkan kedua telapak tangannya tetap bebas.
Tidak ada cahaya merah.
Tidak ada rasa pahit di lidah.
Yang ada hanya aroma sabun Bram, tekanan telapak tangannya yang dikenali, dan suara napas mereka yang sama-sama sadar.
Ingatan kamar 302 sempat muncul seperti bayangan di sudut mata. Laras menegang.
Bram langsung berhenti.
"Laras?"
Ia menempelkan dahi mereka, tidak menyentuh bagian lain.
"Aku di sini," kata Laras cepat. "Hanya teringat sebentar."
"Kita bisa selesai."
"Aku tidak mau selesai."
"Jangan lanjut hanya karena takut mengecewakan saya."
Laras membuka mata. Kecemasan jujur di wajah Bram menghapus bayangan terakhir malam itu.
"Aku melanjutkan karena aku mau," katanya. "Kalau aku takut, aku akan bilang."
Bram masih menunggu.
Laras mengambil tangannya dan meletakkannya kembali di pinggang. "Ini jawabanku."
Napas Bram keluar kasar.
"Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan pada saya."
"Aku mulai tahu."
Laras belum membiarkannya mencium lagi. "Aku mau tanya satu hal."
"Sekarang?"
"Kalau tidak sekarang, pikiranku akan terus mengganggu."
Bram duduk kembali di tepi ranjang, tetap memegang satu tangan Laras. "Tanya."
"Kenapa benar-benar menikahiku? Jangan jawab tanggung jawab. Itu jawaban paling mudah."
Lelaki itu menatap jari mereka yang bertaut.
"Pagi di penginapan, tanggung jawab membuat saya menawarkan pernikahan," katanya. "Tapi keputusan mempertahankannya bukan hanya itu."
"Lalu?"
"Di kereta, kamu melihat anak yang semua orang abaikan. Di rumah, kamu tidak berusaha mengambil hati keluarga dengan kebohongan. Saat litsus, kamu tetap menjawab meski takut. Ketika bekerja, kamu tidak menunggu saya menyelamatkan hidupmu."
Bram mengangkat pandangan. "Saya melihat perempuan yang selalu berdiri lagi setelah dijatuhkan. Saya ingin berada di sisinya, bukan di depannya sebagai penyelamat."
Tenggorokan Laras mengencang.
"Kamu belum mencintaiku," katanya.
"Saya belum tahu nama yang tepat untuk semua yang saya rasakan. Tapi saya memilihmu ketika bisa saja hanya memberi uang dan pergi. Saya ingin mengenalimu besok, bulan depan, dan bertahun-tahun lagi. Bagi saya, itu cukup jujur untuk memulai."
"Bagaimana kalau setelah mengenalku kamu tidak suka?"
"Saya sudah tahu kamu keras kepala, mencatat ongkos parkir sebagai utang, dan suka memberi perintah saat gugup. Risiko terburuk sudah terlihat."
Laras memukul lengannya pelan. Bram menangkap tangannya dan mengecup buku-bukunya.
"Sekarang giliran saya," katanya. "Kenapa kamu menikahi saya?"
"Karena kamu menawarkan cerai."
Bram menatap datar.
Laras tertawa, lalu menjadi serius. "Awalnya karena kamu memberi jalan keluar. Sekarang karena setiap hari kamu membuatku sedikit kurang ingin menggunakannya."
Kejujuran itu membuat udara di antara mereka berubah. Bram menyentuhkan bibir ke kening Laras, lama, tanpa tuntutan.
"Terima kasih sudah tinggal," bisiknya.
"Jangan buat aku menyesal."
"Saya akan berusaha."
***
Bram mengangkat Laras berdiri, lalu membawanya beberapa langkah menjauh dari tepi ranjang. Punggung Laras menyentuh dinding yang sejuk. Tubuh Bram berada di depannya, tetapi tidak menekan. Satu tangannya bertumpu di samping kepala Laras, memberi ruang.
Posisi itu seharusnya membuatnya teringat terperangkap.
Namun ia bisa bergerak ke kanan atau kiri. Bram tidak mengunci jalan. Ketika Laras menggeser bahu, ia segera memberi lebih banyak ruang.
"Mas."
"Ya?"
"Mendekat."
Perintah itu mengubah tatapan Bram.
Ia menunduk dan mencium sudut bibir Laras, lalu garis rahangnya. Setiap sentuhan membuat kulit Laras semakin peka. Tangan Bram tetap di pinggang, ibu jarinya bergerak perlahan di atas kain pakaian tidur.
Laras memejamkan mata.
"Lihat saya," kata Bram.
Ia membuka mata kembali.
"Saya ingin kamu tahu siapa yang menyentuhmu."
"Aku tahu."
"Siapa?"
"Suamiku yang terlalu banyak bicara."
Bram tertawa rendah di kulit lehernya. Getaran itu membuat Laras menggigil.
"Dingin?"
"Bukan."
"Takut?"
Laras menggeleng.
Bram mengangkat wajah. Keseriusan kembali memenuhi matanya. "Jangan takut padaku."
Kalimat itu bukan perintah. Terdengar seperti permohonan seorang lelaki yang sanggup menghadapi banyak hal, tetapi tidak sanggup menjadi sumber ketakutan istrinya.
Laras menyentuh rahangnya.
"Aku masih belajar."
"Saya tunggu."
"Kalau aku tidak pernah sepenuhnya bebas dari masa lalu?"
"Kita tidak perlu menghapus masa lalu untuk punya masa depan."
"Kalau suatu hari aku mendorongmu menjauh?"
"Saya mundur. Lalu saya tunggu kamu memutuskan apakah ingin saya kembali."
Jawaban-jawaban itu menumpuk di dalam dada Laras, meruntuhkan dinding yang dibangun selama bertahun-tahun. Bram tidak menjanjikan dirinya selalu benar. Ia menjanjikan akan mendengar.
Laras menarik napas, lalu mencium Bram lebih dulu.
Lelaki itu membeku sepersekian detik.
Kesempatan kecil itu membuat Laras merasa menang. Ia menautkan tangan di leher Bram dan memperdalam ciuman, mengulang cara yang tadi dipelajari. Gerakannya belum ahli, tetapi sepenuhnya pilihannya.
Bram mengerang pelan, suara yang terasa di dada Laras.
Tangannya bergerak dari pinggang ke punggung, menarik Laras lebih dekat. Ketika telapak itu hampir melewati batas pakaian, Bram berhenti lagi.
Laras memecah ciuman, napas terengah. "Kenapa?"
"Saya perlu mendengar jawabanmu."
Alih-alih mengucapkan kata, Laras mengambil tangan Bram dan membimbingnya perlahan. Mata mereka tidak terputus.
"Begini?" tanya Bram serak.
"Begini."
Panas merambat di bawah kulitnya. Bram mencium bahunya, lalu kembali ke bibir. Laras tidak lagi menghitung jarak menuju pintu atau mengingat posisi kunci. Seluruh perhatiannya berada pada lelaki di hadapannya dan pilihan yang terus ia buat.
Saat Bram mencoba memberi ruang lagi, Laras menolak kehilangan kedekatan itu.
Punggungnya tetap menyentuh dinding, tetapi rasa terperangkap sudah hilang. Ia bisa mendengar detak jantung Bram yang sama cepatnya dengan miliknya. Lelaki yang tampak selalu terkendali itu ternyata ikut gemetar saat Laras mengusap tengkuknya.
Kesadaran bahwa ia juga memiliki pengaruh membuat keberanian Laras tumbuh.
Bram menyebut namanya sekali, serak, seolah menahan seluruh kendali yang tersisa sendiri.
Ia mencengkeram kerah kaus Bram dan menarik suaminya kembali kepadanya.