Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 - BAGINDA YANG MELULUSKAN PENGAJUAN PERNIKAHAN
Pagi itu ruang kerja di istana Provinsi Kedaton terasa hening dan menyesakkan. Bagaskara Adinata yang sedang memeriksa tumpukan laporan menghentikan gerakan penanya begitu mendengar permintaan pamannya untuk menghubungkan Cakra, roh Arsip Agung. Ia mengerutkan kening; selama ini pamannya tidak pernah sekali pun meminta hal semacam ini di tengah kesibukan seperti sekarang.
Semalam panglima itu ditemukan dalam keadaan linglung di tengah perayaan pernikahan dua keluarga bangsawan asing, lalu pagi ini ia datang tanpa topeng naga dan langsung meminta menghubungkan Arsip Agung. Seandainya Cakra memiliki wujud, sudut mulutnya mungkin akan berkedut menahan sesuatu saat ini. Semua ini terlalu ganjil untuk sekadar sebuah kebetulan belaka.
Dari udara, sosok Cakra yang bercahaya redup muncul di hadapan mereka dengan perlahan, membentuk wujudnya dari segumpal cahaya kebiruan yang memenuhi setengah ruangan. Dengan nada resmi yang sangat kaku, ia berkata: "Baginda, ada yang bisa saya bantu?"
Rangga yang berdiri di samping tidak menunggu Bagaskara menjawab. Ia langsung menatap roh bercahaya itu dan bertanya: "Tadi malam, bukankah kau yang meluluskan permohonan pernikahanku?" Suaranya datar, tetapi mengandung sesuatu yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.
"Benar... Baginda yang memerintahkan saya meluluskannya!" jawab Cakra tanpa ragu, seolah perkara itu adalah hal yang paling wajar di seluruh Cakrawala.
Bagaskara yang kebetulan sedang menyeruput kopi langsung menyemburkan minuman itu ke lantai; matanya membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kopi hangat itu menetes di sudut meja dan menodai tumpukan laporan yang sedari tadi ia periksa dengan teliti.
Bayu, roh pendamping keluarga Adinata, segera melayangkan sapu tangan ke hadapan Bagaskara. Kaisar muda itu menerimanya dengan tergesa sambil menyeka kopi dari sudut mulutnya, masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutan yang melanda seluruh tubuhnya.
"Kau bicara apa, Cakra?" tanya Bagaskara dengan nada tidak enak, kedua matanya menyipit curiga ke arah roh yang bercahaya itu. "Jangan-jangan kau tertidur semalam dan melamunkan hal yang bukan-bukan."
Cakra menjelaskan dengan tenang, tanpa sedikit pun ragu: "Tadi malam saya menerima permohonan pernikahan dari Panglima Rangga dan seorang gadis yang hampir genap berusia dua puluh tahun. Saya sempat menanyakannya kepada Baginda, tetapi Baginda menyuruh Bayu menyampaikan kepada saya agar mengikuti aturan saja. Sesuai aturan yang berlaku, Panglima dan gadis itu memenuhi syarat untuk menikah, maka saya luluskan."
Pot itu dilempar begitu rapi, sampai-sampai Baginda muda yang tampan itu kehilangan kata-kata. Mulutnya terbuka lalu tertutup kembali, tidak tahu harus membalas dengan apa. Diam-diam ia mengutuk kelalaiannya sendiri karena menganggap remeh perkara kecil tadi malam.
Bagaskara bergegas menghampiri pamannya: "Paman, aku khawatir sekali kau menghilang kemarin. Tidak kusangka, ternyata itu justru pengajuan pernikahanmu..." Suaranya mengecil di akhir kalimat, masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Rangga tidak berubah ekspresi sedikit pun. Ia mengambil kopi yang disodorkan Bayu, menyesapnya perlahan, lalu berkata: "Aku juga tidak menyangka."
"Ketika Masa Api Darah datang, batin seorang manusia naga kembali ke masa kanak-kanak, atau dengan kata lain, ke masa yang paling tidak aman dalam hidupnya," lanjut Rangga dengan suara tenang. "Tidak banyak yang bisa dikendalikan pada saat seperti itu."
"Kebetulan Ramu Sejiwa-ku hancur karena kapal terbangku jatuh. Saat itu aku tidak memiliki apa pun untuk meredakan krisis yang mengamuk di dalam tubuhku, dan pikiranku pun mulai kusut tak menentu."
"Di tengah keadaan linglung itu, aku melihat rekaman pernikahan di cermin gema raksasa kota, dan menatap seorang gadis berbusana pengantin putih di dalamnya. Entah mengapa, pandanganku tiba-tiba terpaku kepadanya, seolah ada sesuatu yang memanggil dari balik cermin gema itu."
"Untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku berlari menuju tempat pernikahan kedua mempelai itu digelar," kata Rangga, suaranya masih datar seperti biasa, seolah sedang menceritakan perjalanan orang lain.
"Peristiwa yang terjadi setelahnya benar-benar kabur. Aku tidak mengingat apa-apa lagi sampai akhirnya terbangun di sebuah ruangan asing."
Jemari putih yang ramping mengetuk-ngetuk sandaran sofa. Ruang kerja itu begitu sunyi sampai-sampai Bayu tidak berani menggerakkan wujudnya sedikit pun, takut menimbulkan bunyi sekecil apa saja di tengah keheningan yang menegangkan.
Setelah beberapa saat, Bagaskara berdeham pelan, lalu berkata: "Paman, ini salahku. Aku akan segera meminta Cakra membatalkan pernikahanmu, kemudian menjelaskan semuanya kepada gadis itu. Aku tidak mau Paman terikat oleh kesalahan yang terjadi karena kealpaanku."
"Tidak usah," potong Rangga singkat, tegas.
Bagaskara hanya bisa terdiam dengan tanda tanya besar mengambang di kepalanya: "? ? ?"
Saat itu juga Gelang Lentera Rangga berbunyi. Ajudan di seberang sana melaporkan dengan tergesa bahwa telah ditemukan jejak bajak langit di Provinsi Seruni, dan mereka menunggu arahan lebih lanjut dari sang Panglima.
"Baik, aku berangkat sekarang," kata Rangga singkat sambil bangkit dari kursinya.
Ia mengambil topi militer biru tuanya, mengangguk sekilas kepada Bagaskara, lalu melangkah keluar dengan langkah yang mantap dan tidak menoleh lagi.
Begitu pamannya pergi, Bagaskara segera berkata kepada Bayu: "Kirimkan semua informasi tentang gadis itu kepadaku!"
Cakra yang masih berada di ruangan itu menyela: "Baginda, saya masih di sini. Saya bisa langsung mengirimkannya kepada Baginda; informasi sayalah yang paling lengkap di antara yang lain."
Bagaskara mencibir: "Oh, kau mengingatkanku. Ternyata kau masih di sini!"
Cakra menjawab dengan tenang: "...Baginda adalah Baginda yang paling mulia, tidak sepantasnya menuntut balas dendam pribadi. Lagi pula, menurut hemat saya, Panglima pasti sangat berpuas diri dengan istri barunya — bibi kecil Baginda."
"Oh?" Bagaskara mengangkat alis, menoleh ke arah pintu. "Bibi kecil? Apa kau tidak bercanda?"
"Usia sebenarnya Rangga sudah empat puluh tahun," gumam Bagaskara pelan, seolah baru menyadari kenyataan yang selama ini tersimpan rapi di balik topeng sang Panglima.
"Bertahun-tahun lamanya pamannya menutup wajah dengan topeng naga dan tidak pernah sekalipun berniat untuk menikah."
"Sementara Bagaskara sendiri telah memiliki anak, pamannya masih hidup sendirian tanpa seorang pendamping di sisi. Setiap kali keluarga menggelar perjamuan, pamannya selalu datang sendirian dan pulang sendirian."
"Beberapa kali ia menyarankan pamannya mencari pendamping yang pantas, tetapi setiap tawaran selalu ditolak mentah-mentah tanpa penjelasan apa pun."
"Jadi, kali ini pohon besi keluarga Adinata itu hendak berbunga?" Bagaskara tersenyum sendiri, geli memikirkan kemungkinan besar yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.
Ia menoleh kepada Cakra: "Cakra, berikan semua informasi tentang Kirana. Aku ingin yang paling terperinci!"
"Baik, Baginda." Wujud Cakra bergetar sesaat sebelum menghilang dari ruangan itu.
---
Sementara itu, di Provinsi Seruni, Kirana tak mengirim sepatah kata pun kepada Rangga.
Mau dikirim apa? Setiap kalimat yang terlintas punya masalahnya sendiri; lebih baik tidak mengucapkan apa-apa daripada salah omongan dan memperkeruh keadaan. Padahal dari lubuk hati, ia ingin sekali membuka percakapan itu lebih dulu.
"Pasukan datang, tanah menangkis; air datang, bumi menahan. Kalau sudah begini, paling parah ya bercerai!" Kirana menggumam sambil memejamkan mata, berusaha menenangkan dadanya yang berdebar tidak menentu.