Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: ANISA DAN PERASAAN YANG MULAI TUMBUH
Waktu terus berjalan tanpa henti. Rangga kini duduk di kelas lima SD, usianya menginjak sebelas tahun. Tubuhnya mulai tinggi dan tegap, wajahnya mulai berubah—dari wajah anak kecil yang polos dan lugu menjadi wajah remaja yang mulai menunjukkan ketampanan alami. Matanya yang dulu kosong dan penuh ketakutan kini berbinar-binar dengan semangat dan keyakinan. Ia masih rajin belajar, masih membantu Nenek Saroh di ladang dan di pasar, dan masih bermain dengan Ucok, Karti, dan Dullah seperti biasa. Namun ada satu hal baru yang mulai ia rasakan—perasaan aneh yang menggelitik di dadanya setiap kali ia melihat seorang gadis bernama Anisa.
Anisa adalah anak kepala desa, Pak Lurah Mardiono. Ia gadis seusia Rangga, dengan rambut hitam panjang yang selalu diikat dua ekor kuda, kulit sawo matang yang sehat, dan senyum manis yang membuat hati Rangga berdebar tidak menentu setiap kali ia melihatnya. Anisa sering terlihat di perpustakaan desa, membaca buku-buku cerita dengan serius, dan kadang-kadang membantu ayahnya mengurus administrasi desa dengan teliti. Rangga sering memergoki dirinya sendiri menatap Anisa terlalu lama, lalu buru-buru menunduk saat Anisa menoleh ke arahnya.
"Rangga, kau kenapa sih? Melamun terus!" Ucok suatu hari mencoleknya saat mereka duduk di bawah pohon beringin. Wajah Ucok penuh rasa penasaran dan usil. "Kayak orang kesurupan! Matamu melotot ke suatu tempat, tapi tidak lihat apa-apa!"
Rangga tersentak kaget, hampir jatuh dari batu tempat ia duduk. "Ah, tidak. Aku hanya… memikirkan PR matematika. Soal pecahan itu sulit."
"PR? Kau sudah selesai PR seminggu lalu!" Ucok tertawa terbahak-bahak. "Jangan bohong, Rangga. Aku tahu kau memikirkan seseorang. Aku tahu tanda-tandanya! Matamu menerawang, wajahmu memerah, dan kau sering tersenyum sendiri!"
Rangga memerah, wajahnya menjadi panas seperti terbakar. "Apa? Siapa?"
"Anisa, si anak kepala desa!" Ucok berbisik dengan nada menggoda, matanya berkedip-kedip usil. "Aku sering lihat kau menatapnya kalau dia lewat di depan rumahnya. Kau pikir aku tidak perhatikan? Dasar Rangga, jatuh cinta!"
Rangga segera menutup mulut Ucok dengan tangannya, panik. "Diam, Ucok! Jangan keras-keras! Nanti ada yang dengar!"
"Wah, jadi benar?" Ucok tertawa terbahak-bahak, tidak peduli jika orang lain mendengar. "Tenang, aku tidak akan bilang ke siapa-siapa. Tapi kau harus tahu, Rangga, Anisa itu anak orang kaya dan terpandang. Ayahnya lurah. Rumahnya besar, mobilnya ada, dan ia sekolah di kecamatan. Kau… kau hanya anak asuh Nenek Saroh yang tinggal di gubuk reot. Apa kau pikir dia mau denganmu?"
Kata-kata Ucok menusuk hati Rangga seperti pisau tajam. Ia tahu Ucok tidak bermaksud jahat—Ucok hanya realistis dan ingin melindunginya dari kekecewaan. Namun kata-kata itu tetap menyakitkan, membuat dadanya terasa sesak. Rangga terdiam, memandangi tanah dengan tatapan kosong. "Aku tahu, Ucok. Aku tidak punya apa-apa. Aku hanya anak miskin yang tinggal di gubuk reot. Anisa pasti tidak akan pernah melihatku. Aku hanya anak desa biasa."
Ucok menyesali kata-katanya seketika. Wajahnya berubah sedih, dan ia memegang bahu Rangga dengan erat. "Maaf, Rangga. Aku tidak bermaksud… Aku hanya ingin melindungimu. Aku tidak mau kau sakit hati. Aku tahu perasaan itu berat. Tapi kau harus realistis. Jangan terlalu berharap."
Rangga tersenyum pahit, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. "Tidak apa, Ucok. Kau benar. Aku harus fokus belajar dan mencapai mimpiku, bukan memikirkan hal-hal seperti itu. Aku tidak punya waktu untuk jatuh cinta."
Namun perasaan itu tidak bisa ia pungkiri, tidak peduli seberapa keras ia mencoba mengabaikannya. Setiap kali ia melihat Anisa, jantungnya berdebar kencang, telapak tangannya berkeringat, dan pikirannya menjadi kacau. Suatu hari, saat ia sedang membantu Nenek Saroh menjual sayuran di pasar kecamatan, ia melihat Anisa sedang berbelanja bersama ibunya, Bu Lurah. Anisa tampak memperhatikan sayuran Rangga dengan seksama, matanya berbinar melihat kesegaran sayuran.
"Rangga, sayurmu segar-segar ya," kata Anisa sambil tersenyum, suaranya lembut seperti alunan musik. "Ibuku suka beli di sini karena katanya kau jujur dan tidak pernah menipu. Kata Ibu, sayuranmu selalu segar dan timbangannya pas. Tidak seperti pedagang lain yang suka curang."
Rangga merasa lidahnya kaku seperti kayu. Ia tidak bisa berkata-kata dengan lancar. "Ah… terima kasih, Anisa. Aku… aku selalu mengambil yang terbaik untuk pelanggan. Nenekku mengajariku untuk selalu jujur dalam berdagang."
Anisa tertawa kecil, tawanya seperti gemericik air sungai. "Kau lucu, Rangga. Selalu gugup kalau bicara denganku. Kenapa? Apa aku menakutkan?"
Rangga membisu, tidak tahu harus menjawab apa. Wajahnya memerah, dan ia hanya bisa menunduk malu. Anisa tersenyum lagi, lalu pergi bersama ibunya, meninggalkan Rangga dengan hati berdebar-debar. Rangga hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh, dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan sedih.
Sepulangnya ke desa, Rangga bercerita kepada Nenek Saroh tentang Anisa dengan suara terbata-bata. Nenek mendengarkan dengan sabar, sambil mengupas singkong untuk makan malam. Setelah Rangga selesai bercerita, Nenek berkata dengan bijak, "Nak, perasaan itu wajar. Kau mulai tumbuh dewasa, dan perasaan cinta adalah bagian dari pertumbuhan. Namun ingat, cinta itu tidak hanya tentang perasaan. Cinta adalah tentang kesiapan. Kau masih kecil, Rangga. Kau belum siap untuk cinta yang sesungguhnya. Fokuslah pada sekolah, pada mimpimu, pada masa depanmu. Nanti, ketika kau sudah dewasa dan sudah menjadi seseorang yang hebat, cinta akan datang dengan sendirinya tanpa kau cari."
Rangga mengangguk, meskipun hatinya masih gelisah dan penuh pertanyaan. Ia tahu Nenek benar. Ia masih miskin, masih bergantung pada neneknya, dan masih memiliki misi besar untuk mengungkap kebenaran tentang kematian orang tuanya. Ia tidak punya waktu untuk jatuh cinta, setidaknya belum. Namun, setiap kali ia melihat Anisa, ia tidak bisa menahan senyumnya.
Suatu sore, saat Rangga sedang berjalan pulang dari sekolah, ia bertemu Anisa di jembatan bambu yang menghubungkan desa mereka. Mereka berdua berhenti, saling menatap dalam diam. Angin sore berhembus sejuk, membawa rambut Anisa yang panjang berkibaran seperti bendera sutra. Di bawah mereka, sungai mengalir deras, airnya jernih dan berkilauan di bawah sinar matahari sore.
"Rangga, aku dengar kau juara kelas lagi," kata Anisa, matanya menatap Rangga dengan kagum. "Kau pintar sekali. Aku bangga padamu. Semua orang di desa membicarakanmu."
Rangga tersenyum malu, tidak terbiasa menerima pujian seperti itu. "Terima kasih. Aku hanya berusaha. Aku harus berusaha karena aku tidak punya siapa-siapa selain Nenekku."
"Kau tahu, suatu hari aku ingin pergi ke kota," kata Anisa tiba-tiba, matanya menerawang ke kejauhan. "Aku ingin menjadi guru, seperti Bu Siti. Aku ingin mengajar anak-anak desa, membantu mereka meraih mimpi seperti kau. Dan kau, Rangga? Kau mau jadi apa?"
Rangga terdiam, merenung sejenak. Ia ingin menjawab, "Aku ingin menjadi seseorang yang bisa membalaskan dendam orang tuaku," tetapi ia tidak bisa. Ia memilih jawaban yang lebih aman dan lebih bijaksana. "Aku ingin menjadi orang yang berguna. Mungkin insinyur, atau pengusaha. Aku ingin membangun desa ini, membuatnya lebih baik. Aku ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa menjadi siapa saja."
Anisa tersenyum lebar, matanya berbinar. "Itu mimpi yang indah, Rangga. Aku yakin kau bisa mencapainya. Kau orang yang gigih dan tidak pernah menyerah. Aku percaya padamu."
Mereka berbicara beberapa saat lagi—tentang sekolah, tentang buku-buku yang mereka baca, tentang mimpi-mimpi mereka untuk masa depan. Rangga merasa detik-detik itu seperti mimpi yang indah. Ketika Anisa akhirnya pamit untuk pulang, Rangga masih berdiri di jembatan, memandangi sungai yang mengalir di bawah. Air sungai itu jernih dan deras, seperti perasaannya yang mulai deras mengalir untuk Anisa.
Malam harinya, Rangga menulis di buku hariannya—buku tulis bekas yang ia dapat dari Bu Siti. Ia menulis dengan hati-hati, setiap kata ia pilih dengan penuh perasaan:
"Hari ini aku bicara dengan Anisa di jembatan bambu. Dia bilang aku pintar. Dia bilang dia bangga padaku. Dia bilang dia percaya aku bisa mencapai mimpiku. Aku tidak tahu apakah ini cinta, tetapi rasanya seperti kupu-kupu di perutku setiap kali aku melihatnya. Nenek bilang aku masih kecil dan belum siap untuk cinta. Mungkin Nenek benar. Namun suatu hari, saat aku sudah besar dan sudah berhasil mencapai mimpiku, aku akan datang padanya. Aku akan berkata, 'Anisa, aku mencintaimu sejak aku masih kecil. Aku tidak pernah berhenti memikirmu.' Tapi untuk sekarang, aku hanya akan menyimpan perasaan ini dalam hati. Aku akan fokus belajar, fokus bekerja, dan fokus pada mimpiku. Aku akan menjadi seseorang yang layak untuknya."
Ia menutup buku hariannya, menatap langit malam yang berbintang. Di kejauhan, lampu-lampu desa mulai padam satu per satu, dan suara jangkrik mulai terdengar. Rangga tersenyum, lalu memejamkan mata. Ia berdoa—doa yang sama setiap malam sejak ia tinggal di desa ini: "Tuhan, jagalah Nenek. Jagalah teman-temanku. Jagalah Anisa. Dan tolong beri aku kekuatan untuk mencapai mimpiku. Amin."
---
[Bersambung...]
---