"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34 Malam Tanpa Listrik
Telepon William di perjalanan pulang membawa satu kabar: Sari akhirnya mengaku memperoleh seragam palsu dari mantan pekerja perusahaan pemeliharaan listrik di Puncak.
Nama orang itu tidak tercatat sebagai pegawai keluarga Lau, tetapi dua pembayaran masuk ke rekening istrinya melalui yayasan yang sama. Ketika tim William mendatangi alamatnya, rumah sudah kosong.
Hansen meningkatkan pemeriksaan keamanan villa. Namun seminggu kemudian, ia tetap kembali ke Puncak bersama Angie dan Guai untuk menjemput Kecil dari klinik hewan. Mereka hanya menginap satu malam. Dua petugas menjaga gerbang, sensor perimeter diperiksa, dan teknisi baru memverifikasi generator cadangan.
"Anda membawa lebih banyak keamanan daripada tamu," kata Angie ketika mereka tiba.
"Setelah rumah sakit, saya tidak mau mengambil risiko."
"Lalu mengapa tidak langsung pulang setelah mengambil Kecil?"
Hansen melirik kandang kucing di kursi belakang. "Karena seseorang bilang Kecil perlu beradaptasi di tempat yang dikenalnya sebelum perjalanan jauh."
"Itu kata dokter hewan."
"Dan kau menatap saya sampai saya setuju."
Angie tersenyum. "Berarti cara itu berhasil."
Sore berjalan tenang. Guai merangkak mengejar ekor Kecil tanpa pernah berhasil menyentuhnya. Angie menyiapkan tempat tidur kucing, sedangkan Hansen memasang pagar kecil agar hewan itu tidak masuk ke area bayi.
Dokumen adopsi sementara dari klinik berada di atas meja. Angie membaca bagian vaksin, steril, dan pemeriksaan lanjutan sebelum menandatangani sebagai penanggung jawab harian.
"Nama pemilik?" tanyanya.
"Tulis namamu."
"Villa dan biaya perawatannya milik Anda."
"Yang dipilih Kecil untuk diikuti sejak pagi adalah kau."
Angie menulis namanya, lalu menoleh. "Berarti sekarang saya punya satu makhluk lagi yang harus dilindungi."
"Dua," kata Hansen.
"Guai sudah termasuk."
"Saya sedang menghitung diri saya."
Angie menahan senyum. "Anda terlalu besar untuk masuk daftar bayi dan hewan terluka."
"Tetapi saya tetap membutuhkan perhatianmu."
Kejujuran itu membuat Angie diam. Hubungan mereka belum diberi nama sejak ciuman di rumah sakit, tetapi Hansen tidak lagi menyembunyikan keinginannya untuk dekat.
"Setelah makan malam, saya juga perlu mengatakan sesuatu," lanjut Hansen.
"Tentang laporan setahun lalu?"
"Ya."
"Jawaban lengkap?"
"Sebanyak yang sudah dapat dibuktikan."
Angie mengangguk. "Saya akan mendengarkan."
Guai menepuk pagar kecil dan Kecil melompat ke sisi lain. Keduanya membuat suara bersamaan, seolah tidak suka perhatian beralih dari mereka.
"Persaingan semakin ramai," kata Hansen.
Angie tertawa, tanpa tahu percakapan setelah makan malam tidak pernah sempat dimulai.
Di luar pagar villa, sebuah pohon kecil tumbang melintang di jalan servis akibat tali yang sengaja ditarik dari lereng. Dua petugas keamanan bergerak untuk memastikan tidak ada kendaraan terjebak. Pada saat yang sama, kamera sisi belakang menampilkan rekaman lama selama beberapa menit.
Celine masuk melalui jalur pemeliharaan dengan kartu duplikat dari mantan kontraktor. Kardigan Angie sudah dicuri oleh orang dalam dari ruang cuci Kediaman Liem beberapa hari sebelumnya. Perempuan itu membawa satu gelas, jarum tertutup, dan alat pengganggu sinyal yang tak ia pahami cara kerjanya.
Margaret hanya memberinya satu instruksi: buat Hansen kehilangan kendali, lalu pastikan Angie melihatnya.
Celine menambahkan rencananya sendiri. Jika Angie pergi membawa Guai, dua mobil yang menunggu di luar akan menyelesaikan sisanya.
Menjelang malam, hujan turun. Angie menidurkan Guai di kamar, lalu mengirim foto bayi dan Kecil kepada Mama. Hansen masih di dapur memeriksa pesan William ketika seluruh lampu villa padam.
Jam di layar ponsel menunjukkan 23.07.
Generator seharusnya menyala dalam lima detik.
Lima belas detik berlalu. Tidak ada cahaya.
Hansen menyalakan senter ponsel, tetapi sinyal seluler hilang. Tombol alarm rumah juga tidak merespons. Seseorang telah memutus listrik utama, generator, dan penguat sinyal sekaligus.
"Ngie!" panggilnya.
"Saya di kamar bersama Guai!" suara Angie menjawab dari lantai atas. "Dia aman."
"Kunci pintu. Jangan keluar sampai saya datang."
Hansen membuka laci penyimpanan darurat. Senter baterai yang seharusnya ada di sana hilang. Hanya satu lampu kecil di ponselnya yang menerangi meja.
Langkah kaki terdengar dari koridor belakang.
"Hansen?" Suara perempuan memanggil dengan nada lembut. "Aku di sini."
Suaranya menyerupai Angie, tetapi ia menyebut nama lengkapnya. Angie selalu memanggilnya Tuan Hansen saat cemas atau berbicara langsung tanpa nama setelah kedekatan mereka berubah.
"Tetap di tempat," kata Hansen.
Sosok itu mendekat membawa gelas. Ia memakai kardigan krem milik Angie dan menundukkan kepala agar wajahnya tertutup rambut.
"Minum dulu. Kau pasti haus."
"Letakkan gelas di meja."
"Mengapa jauh sekali?"
Perempuan itu menyentuh dadanya. Hansen langsung menangkap pergelangan tangan dan menjauhkan tubuhnya.
Tidak ada reaksi khas pada kulitnya. Tubuh itu lebih kurus, suaranya dipaksa, dan aroma parfum manis menutupi bau rumah yang biasa menempel pada Angie.
"Celine," katanya dingin.
Sosok itu menegang.
Hansen menyorotkan ponsel ke wajahnya. Celine mengangkat kepala, tersenyum dengan bibir gemetar.
"Ko Hansen selalu mengenaliku."
"Kau melanggar larangan mendekat. Bagaimana kau masuk?"
"Aku hanya ingin bicara."
"Orang yang ingin bicara mengetuk pintu dan menerima jawaban tidak."
"Kalau aku mengetuk, kau tidak akan membukakan."
"Itulah arti larangan mendekat."
"Dengan memutus listrik dan memakai pakaian Angie?"
Celine menarik tangannya, tetapi Hansen tidak melepaskan sampai ia menjatuhkan gelas. Cairan bening tumpah ke lantai. Bau buah dan alkohol menyebar.
"Jangan sentuh cairannya," kata Hansen. "Gelas itu menjadi bukti."
"Kau selalu mencurigai aku."
"Karena kau datang membawa minuman saat seluruh sistem keamanan disabotase."
Celine merogoh saku. Hansen merebut benda di tangannya, sebuah jarum suntik kecil berpenutup. Ia mundur, menjaga jarak, lalu menekan tombol alarm fisik pada jam tangannya. Alat itu memakai sinyal radio terpisah dan mengirim satu pulsa sebelum gangguan kembali menutup jaringan.
"Duduk di lantai," perintahnya.
"Aku tidak akan menyakitimu. Obat itu hanya membuatmu rileks. Setelah itu kau akan ingat bahwa tubuhmu pernah menginginkanku."
"Tubuh saya tidak pernah memberi persetujuan untukmu. Obat tidak akan mengubah itu."
"Tapi kepada Angie kau bisa? Apa istimewanya dia?"
"Dia mendengar ketika saya berkata berhenti. Kau tidak."
Celine memandang jam di tangannya. "Mama bilang tubuhmu pernah merespons obat yang sama setahun lalu. Kalau waktu itu berhasil, malam ini juga bisa."
Hansen menegang. "Apa yang kau tahu tentang malam setahun lalu?"
"Lebih banyak daripada Angie."
"Siapa yang memberi saya obat?"
"Lepaskan aku dan mungkin aku akan menjawab."
"Tidak. Kau akan menjawab kepada penyidik."
"Kalau mereka masih sempat menemukanmu."
Dari luar terdengar bunyi mesin samar. Hansen memahami bahwa pemadaman bukan tujuan akhir. Celine datang untuk menciptakan pemandangan, sementara orang lain menunggu reaksi mereka.
Ia menggeser tubuh agar berdiri di antara Celine dan pintu menuju tangga. "Berapa mobil yang menunggu?"
Senyum Celine melebar. "Kau seharusnya menjaga Angie, bukan menanyaiku."
Kalimat itu menjawab lebih banyak daripada yang ia maksudkan.
Celine menerjang. Hansen menghindari jarum, memutar lengannya, lalu menggunakan kain lap untuk menahan kedua pergelangan tanpa menyentuh bagian tajam. Celine menjerit dan meronta.
"Ko Hansen, lepaskan aku!"
Di lantai atas, lampu darurat ponsel Angie mulai redup. Ia mendengar benda pecah, lalu jeritan Celine.
Nama itu membuat darahnya dingin.
Ia memasukkan Guai ke dalam gendongan depan, mengikat semua pengaman, lalu membawa senter kecil dari tas bayi. Seharusnya ia tetap di kamar, tetapi jika Hansen terluka, tidak ada orang lain di dalam villa yang membantu.
Di tangga, ia melihat dua bayangan bergerak di ruang makan. Celine memakai kardigannya. Hansen menahan tubuh perempuan itu dari belakang, dada mereka tampak rapat dalam cahaya yang berkedip.
"Lepaskan barang di tanganmu!" seru Hansen.
Angie tidak melihat benda apa pun. Jarum sudah menggelinding ke bawah meja. Dalam gelap, perintah Hansen terdengar seperti percakapan pribadi yang tak boleh ia dengar.
"Ko Hansen, jangan lepaskan aku," isak Celine.
Angie berhenti.
Hansen menoleh. "Ngie, kembali ke kamar. Dia membawa jarum."
Namun jarum kecil itu berada di lantai, tak terlihat dari tangga. Yang Angie lihat hanya kardigannya pada tubuh Celine, gelas minuman, dan tangan Hansen melingkari perempuan itu.
"Anda membawanya ke sini?" tanyanya.
"Tidak. Dia menyabotase listrik dan masuk sendiri."
"Lalu mengapa dia memakai baju saya?"
"Untuk menipuku."
Celine tertawa pendek di tengah tangis. "Dia mengenali tubuhku dalam gelap, Angie. Tanyakan berapa lama dia menyentuhku sebelum memanggil namaku."
"Diam," bentak Hansen.
Kekerasan nada itu justru terdengar seperti kepanikan orang yang ketahuan.
Angie mundur satu langkah. Kenangan tentang Hansen yang menyembunyikan laporan kembali muncul. Ada begitu banyak kebenaran yang ia janjikan tetapi belum diberikan.
"Saya butuh keluar dari sini," katanya.
"Jangan pergi sendiri. Sistem keamanan diputus."
"Guai bersama saya."
"Justru karena itu kau harus tetap di kamar terkunci."
"Saya tidak bisa tinggal dan melihat ini."
Hansen tidak dapat mengejarnya tanpa melepaskan Celine dan membiarkan jarum di lantai terjangkau. "Ngie, tunggu dua menit. Petugas akan masuk begitu alarm diterima."
Angie sudah berbalik. Ia menangis tanpa suara sambil menutup telinga Guai dari jeritan di bawah.
Di lorong menuju garasi, Kecil berlari mengikuti kakinya. Angie memasukkan kucing itu ke kandang, memastikan Guai terpasang pada kursi keselamatan belakang, lalu duduk di kursi pengemudi.
Tangannya gemetar saat menekan tombol mesin.
Ia memeriksa sabuk Guai sekali lagi sebelum memindahkan tuas transmisi.
Pintu garasi mulai terbuka, memperlihatkan malam yang gelap dan jalan turun menuju gerbang luar.