NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Satu minggu berlalu sejak penahanan Agus Wiratama dan ketiga pemimpin wilayah lainnya. Media masih ramai membahas kejatuhan jaringan “Penjaga Keseimbangan”, dan rakyat mulai bernapas lega. Namun Rendra dan timnya tidak bisa merasa tenang—laporan aliran dana misterius yang ditemukan Dika terus mengganggu pikiran mereka.

Pagi itu, mereka berkumpul di ruang kerja Ibu Ratna. Di atas meja terbentang peta Indonesia yang ditandai titik-titik kecil di pulau-pulau terpencil, daerah perbatasan, dan lokasi fasilitas umum yang tiba-tiba berhenti dibangun bertahun lalu.

“Aliran dana itu berhenti tepat di titik-titik ini,” jelas Dika sambil menunjuk layar laptop. “Tidak ada catatan pengeluaran selanjutnya, tidak ada laporan penggunaan. Seolah uang itu menghilang begitu saja ke dalam tanah.”

“Bukan menghilang,” potong Pak Haris pelan. “Disimpan. Untuk digunakan saat keadaan sudah aman kembali. Agus pasti menyiapkan rencana cadangan jika dia tertangkap—sel-sel yang tidak terhubung langsung dengannya, sehingga tidak tersentuh saat kita menangkap pemimpin utamanya.”

Saat mereka sedang berdiskusi, Surya masuk membawa berkas arsip lama yang baru saja diizinkan diambil dari gudang negara. “Saya menemukan hal aneh. Dua bulan sebelum Agus ditangkap, ada kunjungan rahasia ke pulau terluar di perbatasan Laut Natuna. Catatannya hanya tertulis ‘inspeksi rutin’, tapi tidak ada laporan resmi yang diserahkan setelahnya.”

Rendra menatap peta ke arah utara barat. “Jika ada simpanan uang dan kemungkinan besar senjata atau dokumen lain, tempat teraman menyimpannya adalah di perbatasan—di tempat yang sulit diawasi dan mudah diselundupkan ke luar negeri jika dibutuhkan.”

Mereka memutuskan berangkat ke sana. Perjalanan memakan waktu dua hari lewat kapal patroli kecil yang disiapkan Ibu Ratna. Semakin jauh dari daratan utama, semakin terasa kesunyian laut yang luas. Tidak ada kapal nelayan, tidak ada rute pelayaran umum—hanya air biru pekat dan angin kencang.

Sesampainya di perairan sekitar pulau yang dimaksud, mereka tidak langsung merapat. Dika memindai dasar laut dengan alat pendeteksi. “Ada struktur buatan di kedalaman tiga puluh meter. Bentuknya tidak alami, seolah gudang bawah air yang tertutup rapat.”

Mereka menyusul ke darat pulau itu sore harinya. Pulau ini hanya berisi bebatuan tajam dan semak belukar yang tumbuh liar. Tidak ada bangunan terlihat dari pantai, tapi saat mereka mendaki bukit di tengah pulau, terlihat jejak jalan beton yang sudah ditutup rumput tinggi.

“Di sini ada pintu masuk,” kata Asep sambil menyentuh permukaan batu datar yang berbeda teksturnya dari batuan sekitar. “Pintu geser yang disamarkan. Dikendalikan lewat kode khusus.”

Dika bekerja cepat di panel kecil yang tersembunyi di balik lumut. Pintu terbuka perlahan, menampakkan lorong beton yang lembap dan dingin. Di dalamnya tidak ada pasukan penjaga—seolah tempat ini sudah lama ditinggalkan. Namun di ruang utama, mereka menemukan deretan peti besi yang tersusun rapi.

Saat peti pertama dibuka, mata mereka terbelalak. Isinya bukan uang tunai, melainkan dokumen berharga yang menyebutkan nama orang-orang baru—pejabat muda, pengusaha baru, dan tokoh masyarakat yang baru naik populer dalam lima tahun terakhir. Orang-orang yang tidak tercantum dalam daftar Agus sebelumnya.

“Mereka menyiapkan generasi penerus,” gumam Rendra dengan nada berat. “Jika kita berhenti setelah menangkap Agus, lima atau sepuluh tahun lagi jaringan ini akan bangkit kembali dengan wajah yang lebih segar dan lebih sulit dikenali.”

Tiba-tiba suara sinyal pendek terdengar dari alat komunikasi mereka. Pesan masuk terenkripsi: “Kalian menemukan tempat yang tepat. Tapi kalian terlambat sebagian. Satu peti berisi daftar lengkap sudah diambil tiga hari lalu. Penerus sedang bersiap.”

Mereka saling berpandangan. Masih ada orang lain yang tahu tempat ini—orang yang bergerak diam-diam, bahkan sebelum mereka tiba.

“Kita belum selesai,” kata Rendra menutup peti kembali dengan hati-hati. “Kita menemukan jejak, tapi belum menangkap pelari utamanya. Bayangan itu belum sepenuhnya hilang, ia hanya berganti pakaian.”

Mereka kembali ke kapal saat matahari mulai terbenam. Di belakang mereka, pulau itu kembali hening seperti tidak pernah ada siapa pun yang datang. Tapi di dalam hati mereka kini tahu: perjuangan ini tidak cukup hanya menjatuhkan pemimpin besar. Harus terus dijaga, ditelusuri, dan dihadapi setiap kali ia berusaha menyamar kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!