"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Seorang gadis baru saja pulang dari kampusnya setelah menyelesaikan tugas kelompok bersama teman-temannya.
Hujan yang sejak siang mengguyur kota akhirnya reda, menyisakan udara sejuk dan jalanan yang masih basah.
Dengan mengendarai motor matic kesayangannya, Azel melaju menuju sebuah daycare yang letaknya tak jauh dari kampus. Daycare itu milik umanya. Hampir setiap selesai kuliah, ia selalu menyempatkan diri mampir untuk membantu mengurus anak-anak atau sekadar bermain bersama mereka.
Di salah satu ruas jalan, terdapat banyak lubang yang dipenuhi air hujan hingga membentuk genangan cukup besar. Azel berhasil melewatinya dengan hati-hati.
Namun nahas... Sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah belakang menerobos genangan tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan.
BYUR!
Air bercampur lumpur menyembur ke arah Azel. Seragam kampus, gamis, kerudung, bahkan wajahnya langsung basah dan dipenuhi bercak lumpur.
"Astaghfirullah! Yang nyetir nggak punya mata apa, sih? Nyebelin banget! Kalau nggak bisa bawa mobil, jangan sok-sokan!" teriaknya kesal.
"Lo pasti dapat SIM karena nembak, ya!"
Mobil itu terus melaju seolah tak terjadi apa-apa. Azel yang sudah dikuasai emosi langsung memutar balik motornya dan mengejar mobil tersebut.
"Enak aja kabur!"
Beberapa menit kemudian, ia akhirnya berhasil menyalip dan menghadang mobil itu hingga pengemudinya terpaksa mengerem mendadak.
Tin... tin...
Klakson mobil berbunyi beberapa kali, meminta Azel menyingkir. Bukannya bergeser, Azel justru mengetuk pelan kap mobil.
"Turun! Ayo turun!"
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan wajah datar dan tatapan dingin.
"Apa-apaan ini?"
Begitu melihat wajah pria itu, mata Azel langsung membulat. Lho... Ini kan dosen itu?
Ia mengenali pria tersebut. Meski tidak pernah diajar olehnya, hampir seluruh mahasiswa di kampus tau sosok dosen yang terkenal tegas, kaku, dingin, dan sangat pelit nilai itu. Baru satu tahun mengajar, tetapi sudah menjadi momok bagi banyak mahasiswa.
"Kenapa sekarang malah diam?" tanya pria itu datar. "Tadi kelihatannya semangat sekali menghadang mobil saya."
Azel segera tersadar. "Ya jelas saya kesal! Mobil Anda tadi menerobos genangan air sampai baju saya begini!"
Pria itu melirik pakaian Azel sekilas. "Oh... ternyata ada orang."
Azel melongo. "Maksud Anda?"
"Saya tidak melihat."
"Ya lihat yang benar, dong!"
Pria itu menatap Azel dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
Nada bicaranya datar, tetapi justru membuat Azel semakin emosi.
"Jadi, kamu minta saya bertanggung jawab?" tanyanya.
"Iya."
"Baik." Pria itu mengangguk pelan.
"Buka baju kamu."
"Hah?!"
Wajah Azel langsung memerah. "Jangan ngomong sembarangan, ya!"
"Tadi kamu minta saya bertanggung jawab. Baju dan kerudungmu kotor. Saya akan mencucinya."
Azel memijat pelipis. "Bukan gitu maksud saya! Minimal minta maaf kek!"
"Oke." Pria itu mengangguk lagi.
"Maaf."
Lalu ia menambahkan dengan nada datar, "Selesai?"
Azel sampai kehabisan kata-kata. Ini orang robot, ya?
Baru saja pria itu hendak kembali masuk ke mobil, pintu belakang terbuka. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun turun sambil tersenyum lebar.
"Kak Azel!"
Azel menoleh. "Arjun?"
Ia langsung mengenali bocah itu. Arjun adalah salah satu anak yang dititipkan di daycare milik umanya.
Arjun berlari menghampiri lalu memeluk pinggang Azel. "Kak Azel!"
Azel tersenyum sambil mengusap kepala bocah itu. "Arjun, kok ada di sini?"
Arjun menunjuk pria di belakangnya. "Ayah. Tadi Ayah jemput Arjun."
Lalu ia menoleh kepada ayahnya. "Ayah, ini Kak Azel."
Azel dan pria itu saling menatap beberapa detik.
"Jadi... Ayahnya Arjun?" gumam Azel pelan.
Pria itu hanya mengangguk singkat.
"Ayah kenal?" tanya Arjun polos.
"Ayah tidak pernah mengenal gadis yang sopan santunnya seperti ini," jawab pria itu tanpa perubahan ekspresi.
Azel langsung melotot. "Eh, jangan asal ngomong, Pak!"
"Saya bukan bapak kamu."
"Yaudah... Om."
"Saya juga bukan paman kamu."
Azel mendengus pelan sebelum menatap Arjun dengan wajah prihatin. "Arjun... kamu yang lucu dan ganteng begini, kok bisa punya ayah seaneh ini, sih?"
Arjun hanya mengedip bingung.
Sementara pria itu menarik napas pelan, seolah baru kali ini bertemu seseorang yang mampu membuatnya kehilangan sedikit kesabaran.
Azel masih memasang wajah jutek sambil mengusap cipratan lumpur yang mengering di pipinya. Tatapannya bergantian antara Arjun dan pria di hadapannya.
Pria itu justru sama sekali tidak terlihat terganggu. Ia membetulkan jam tangan di pergelangan kirinya, lalu menatap Arjun.
"Sudah?"
Arjun mengangguk kecil. "Sudah, Yah."
"Kalau sudah, kita pulang."
"Sebentar, Yah."
Bocah itu kembali memeluk Azel. "Kak Azel kok kotor?"
Azel tersenyum tipis. "Ini gara-gara ada orang yang nyetirnya kayak pembalap."
Arjun menoleh ke arah ayahnya. "Ayah?"
Pria itu menjawab tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Genangan air."
"Iya, terus Ayah ngebut."
"Tidak."
"Ngebut."
"Tidak."
Azel menyilangkan kedua tangan di dada. "Tuh, bahkan anak kecil aja tau."
Pria itu menghela napas pelan. "Kecepatan saya empat puluh kilometer per jam."
"Empat puluh itu tetap aja ngebut kalau ada genangan!"
"Sesuai batas kecepatan."
"Tapi nggak sesuai perasaan saya!"
Pria itu terdiam beberapa detik, seolah sedang memproses kalimat barusan.
"..."
Azel mendecak. "Nah, bingung kan?"
"Bukan bingung."
"Terus?"
"Saya sedang berpikir bagaimana cara mengukur 'sesuai perasaan' sebagai satuan ilmiah."
Azel sampai membuka mulutnya. Ini dosen apa ensiklopedia berjalan?
Arjun malah tertawa kecil. "Kak Azel lucu."
"Bukan Kak Azel yang lucu. Ayah kamu yang aneh."
Pria itu memasukkan tangan ke saku celana. "Kalau urusan sudah selesai, saya pergi."
"Belum selesai."
"Apa lagi?"
"Baju saya."
"Anda sudah meminta maaf."
"Saya yang minta maaf?"
"Maksud saya, saya sudah meminta maaf."
"Nah, gitu dong dari tadi."
"Tapi?"
"Tapi apa?"
"Kerugian kamu."
Azel mengangguk cepat. "Nah! Akhirnya peka juga."
Pria itu mengeluarkan dompetnya. "Berapa harga bajunya?"
Azel langsung menggeleng. "Saya nggak minta diganti."
"Lalu?"
"Saya cuma pengen orang yang nyipratin saya sadar kalau tindakannya salah."
Pria itu memandang Azel cukup lama. Sorot matanya yang semula datar kini sedikit berubah, seolah sedang menilai gadis di depannya.
"Baik."
"Hah?"
"Saya mengerti."
"Udah?"
"Sudah."
"Loh?"
"Kamu bilang hanya ingin saya sadar."
Azel memejamkan mata sesaat. Ya Allah... ngomong sama tembok aja kayaknya lebih nyambung.
Arjun menarik tangan ayahnya. "Ayah..."
"Hm?"
"Kak Azel baik."
"Baik menurut kamu," jawab Ibra datar.
Kemudian pandangannya beralih kepada Azel. "Dan kamu."
"Apa?"
"Siapa nama kamu?"
Azel mengernyit. "Tadi nggak dengar ya waktu Arjun manggil saya?"
"Dengar."
"Terus ngapain masih nanya?"
Ibra menatap Azel tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. "Kamu memang mahasiswa."
"Iya."
"Tapi cara bicaramu sungguh tidak sopan."
Azel langsung mendengus. "Lho? Saya yang nggak sopan? Justru Bapak—eh, Anda duluan yang nyipratin saya pakai air lumpur."
"Itu tidak disengaja."
"Terus saya ngomel juga refleks."
"Itu pilihan."
"Kalau saya diam, nanti dikira rela."
Ibra mengangguk tipis. "Setidaknya sekarang saya tau."
"Tau apa?"
"Kalau tingkat keberanianmu jauh lebih tinggi daripada tingkat sopan santunmu."
Azel tersenyum sinis. "Dan sekarang saya juga tau."
"Tau apa?"
"Kalau dosen killer yang sering diceritain mahasiswa ternyata memang dingin beneran."
"Kamu beruntung tidak pernah masuk kelas saya."
Azel mengangkat sebelah alis. "Memang kenapa kalau saya masuk kelas Anda?"
"Saya pastikan kamu akan saya cecar dengan banyak pertanyaan."
Azel terkekeh pelan. "Tidak takut."
Ibra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya lurus ke arah Azel, seolah sedang menilai keberanian gadis itu.
"Baiklah."
Azel mengernyit. "Apanya yang baiklah?"
Ibra tidak menjawab. Sudut bibirnya nyaris terangkat, meski hanya sepersekian detik hingga sulit dipastikan apakah itu benar-benar senyum atau hanya ilusi.
Ia kemudian menggenggam tangan Arjun. "Ayo."
Arjun menurut, tetapi sebelum masuk ke dalam mobil, bocah itu melambaikan tangan dengan semangat.
"Bye, Kak Azel!"
Azel ikut melambaikan tangan. "Bye, Arjun! Besok ketemu lagi, ya!"
"Iya!"
Arjun masuk ke mobil, sementara Ibra menutup pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Azel. Mobil itu perlahan melaju meninggalkan lokasi.
Azel masih berdiri di tempatnya sambil memandangi mobil yang semakin menjauh.
"Aneh banget dosen satu itu," gumamnya. "Dingin, kaku, ngomongnya bikin darah tinggi."
Di dalam mobil, Arjun menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah."
"Hm?"
"Ayah marah sama Kak Azel?"
"Tidak."
"Terus kenapa Ayah jutek?"
Ibra melirik putranya sekilas. "Ayah memang seperti ini."
"Tapi Kak Azel lucu."
Ibra tidak menjawab. Entah mengapa, bayangan gadis yang berani menghadang mobilnya itu justru terus terlintas di benaknya.
Tidak takut, ya...
Kalimat Azel barusan kembali terngiang. Sudah lama ia tidak bertemu mahasiswa yang berani menatapnya tanpa sedikit pun merasa gentar.
Mobil itu melaju membelah jalanan yang masih basah oleh sisa hujan.
Ibra menggenggam kemudi dengan satu tangan, sementara pikirannya justru kembali pada gadis yang baru saja beradu mulut dengannya.
Azel.
Nama itu terasa begitu akrab di telinganya.
Sejenak ia terdiam. Nama itu mengingatkannya pada seorang gadis yang sudah lama ingin ia temui. Seseorang yang hingga kini belum pernah benar-benar ia datangi karena masih belum memiliki keberanian untuk menghadapi pertemuan itu.
Tatapannya menerawang ke depan.
"Ah... mungkin hanya namanya yang sama," gumamnya pelan.
"Nama seperti itu juga banyak."
Ibra menghela napas tipis, lalu mengenyahkan pikiran tersebut. Tidak mungkin orangnya sama.
Lagi pula, dunia terlalu luas untuk mempertemukan dua orang hanya karena memiliki nama yang serupa.
Ia kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya, sementara Arjun yang duduk di kursi belakang mulai mengantuk setelah seharian beraktivitas di daycare.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah