"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006: Tepuk Tangan di Bank
Pada D+10, Jakarta macet seperti biasa.
Arga Pratama turun dari mobil hitam tanpa logo dua blok sebelum sebuah cabang bank di kawasan pusat kota. Ia memakai jaket lama, celana gelap, dan sepatu yang tidak menarik perhatian. Dari luar, ia hanya tampak seperti nasabah biasa yang datang mengurus transfer atau membuka rekening deposito.
Di dalam tas tipis yang ia bawa, ada dokumen kuasa dari Cakra Properti.
Pembelian unit di Rusunawa Harapan bergerak cepat. Beberapa pembayaran harus melewati escrow dan rekening penampung yang sah. Dinda sebenarnya sudah menawarkan staf legal untuk datang, tetapi Arga memilih mengurus satu berkas sendiri.
"Kadang aku perlu melihat meja kasir biasa," katanya kepada Dinda lewat pesan.
Balasan Dinda datang cepat.
Jangan bilang kamu kangen antre.
Arga hanya mengirim satu titik.
Ia masuk ke bank pukul 10.23.
Udara dingin langsung menyentuh wajahnya. Nomor antrean menyala di layar. Seorang satpam tua menyapanya dengan anggukan ramah. Arga membalas anggukan itu dan membaca nama di dada seragamnya.
Pak Rahmat.
Di sudut kanan, seorang ibu muda memegang tangan anak laki-laki berseragam TK. Di meja customer service, seorang pria paruh baya memarahi petugas karena proses pencairan dana belum selesai. Di dekat pintu, dua laki-laki memakai jaket pengemudi ojek online berdiri terlalu lama tanpa mengambil nomor antrean.
Arga melihat mereka.
Satu menahan tas selempang di dada dengan tangan kiri. Satu lagi terus melirik kamera CCTV. Orang ketiga duduk di kursi tunggu, topi menutupi mata, sepatu mengarah ke pintu darurat.
Tiga orang.
Dua pintu keluar.
Satu satpam tua.
Tujuh nasabah sipil dalam jarak dekat.
Arga mengambil nomor antrean.
Tepat saat kertas kecil itu keluar dari mesin, laki-laki bertopi berdiri.
"Semua tiarap!"
Suara tembakan menghantam langit-langit.
Panik meledak.
Ibu muda menjerit dan menarik anaknya ke bawah kursi. Petugas teller membeku. Satpam Rahmat meraih tongkat di pinggang, tetapi salah satu perampok sudah menodongkan pistol ke arahnya.
"Jangan sok pahlawan, Pak Tua!"
Arga menunduk bersama nasabah lain.
Ia tidak bergerak.
Belum.
Perampok pertama berdiri di tengah ruangan, memegang pistol dengan tangan kanan. Cara jarinya menempel di pelatuk terlalu kaku. Tidak terlatih, tetapi cukup berbahaya. Perampok kedua melompati meja teller dan melempar tas kain. Perampok ketiga menjaga pintu, matanya liar, napasnya pendek.
"Masukkan uang! Cepat!"
Seorang petugas teller menangis sambil membuka laci.
Anak kecil di bawah kursi mulai terisak.
Perampok di pintu menoleh karena suara itu. "Diam!"
Ia melangkah mendekati anak itu.
Arga mengangkat kepala sedikit.
Jarak: empat meter.
Pistol utama: tengah ruangan.
Pisau lipat: di tangan perampok pintu.
Perampok teller: punggung membelakangi ruangan, tangan sibuk memegang tas.
Empat puluh detik.
Kurang dari itu jika semua orang tidak ikut bergerak.
Perampok pintu menarik anak kecil dari bawah kursi. Ibu muda menjerit dan memegang kaki anaknya.
"Lepas!" bentak perampok itu.
Arga bergerak.
Ia tidak berlari lurus. Ia bergeser rendah, menggunakan kursi tunggu sebagai penutup. Tangan kirinya menyambar tempat brosur logam di meja kecil dan melemparkannya ke arah perampok tengah.
CLANG!
Brosur logam menghantam pergelangan tangan yang memegang pistol.
Tembakan kedua meledak ke lantai.
Sebelum suara pantulannya hilang, Arga sudah sampai.
Ia menekan siku perampok tengah ke arah dalam, memutar pergelangan, dan menarik pistol keluar dari garis tembak. Gerakannya pendek. Tidak indah. Tidak seperti film. Hanya efektif.
Lututnya menghantam paha perampok.
Tubuh pria itu jatuh ke satu sisi.
Arga menangkap pistol, melepas magazen dengan ibu jari, menarik slide untuk membuang peluru di kamar, lalu menendang senjata itu ke bawah kursi teller.
Perampok pintu baru sempat mengangkat pisau.
Pak Rahmat, yang melihat celah itu, mendorong anak kecil kembali ke ibunya.
Arga sudah berbalik.
Pukulan pertama masuk ke pergelangan. Pisau jatuh. Pukulan kedua berhenti satu sentimeter dari tenggorokan, cukup dekat untuk membuat perampok itu kehilangan keberanian. Arga menekan bahunya ke dinding dan mengunci lengannya.
"Tiarap."
Satu kata.
Perampok itu tiarap.
Perampok di meja teller melihat dua temannya jatuh dalam waktu yang terlalu singkat. Tangannya masih memegang tas uang setengah penuh.
Arga menatapnya.
"Letakkan tas."
Pria itu gemetar.
"Letakkan."
Tas jatuh.
Ia mengangkat kedua tangan.
Seluruh ruangan masih diam, seperti orang-orang belum percaya tubuh mereka selamat.
Lalu ibu muda mulai menangis keras sambil memeluk anaknya.
Pak Rahmat mengambil pistol yang sudah kosong dan menendangnya lebih jauh.
"Mas... Mas ini siapa?"
Arga mengeluarkan kabel pengikat dari meja teller dan membantu satpam mengikat tangan tiga perampok. "Nasabah."
Seseorang tertawa tegang.
Lalu tepuk tangan pecah.
Tidak besar pada awalnya. Satu orang. Dua orang. Petugas teller yang masih menangis ikut menepuk tangan. Dalam beberapa detik, lobi bank yang tadi penuh jeritan berubah menjadi suara tepuk tangan yang aneh, gugup, tetapi nyata.
Beberapa ponsel sudah merekam.
Arga menyadari itu terlambat.
Ia menundukkan wajah sedikit, tetapi kamera dari sudut teller sudah menangkap sisi wajahnya, jaket lamanya, dan gerakan ketika ia mengosongkan pistol.
Sirene polisi terdengar empat menit kemudian.
Tim Polres masuk lebih dulu, disusul unit Polda Metro. Di belakang mereka, seorang perempuan berseragam dinas turun dari mobil hitam dengan langkah cepat. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang, matanya langsung membaca ruangan sebelum bertanya.
"Siapa yang melumpuhkan pelaku?"
Pak Rahmat menunjuk Arga. "Beliau, Bu."
Perempuan itu menoleh.
"Komisaris Polisi Wulan Saraswati," katanya sambil menunjukkan identitas. "Bareskrim Polri. Saya sedang ikut koordinasi kasus senjata ilegal di wilayah ini. Pak, boleh saya bicara sebentar?"
Arga mengangguk.
Di luar bank, garis polisi sudah dipasang. Nasabah diperiksa satu per satu. Anak kecil yang tadi disandera diberi minum oleh petugas medis. Ibu muda itu sempat menunduk kepada Arga, berkali-kali, sampai Arga hanya bisa berkata, "Sudah, Bu. Anak Ibu aman."
Wulan memperhatikan cara ia bicara.
Tidak mencari kamera.
Tidak minta nama disebut.
Tidak gemetar setelah menghadapi pistol.
"Bapak pernah dinas?" tanya Wulan.
Arga menatap mobil polisi di depan bank. "Pernah ikut pelatihan."
Wulan hampir tersenyum. "Pelatihan apa yang mengajarkan warga sipil mengosongkan pistol dalam dua detik?"
"Pelatihan yang bagus."
Jawaban itu membuat seorang penyidik muda di belakang Wulan menahan tawa.
Wulan tidak tertawa. Ia mencatat nomor kontak Arga.
"Saya mungkin perlu keterangan tambahan. Bapak tidak keberatan?"
"Selama sesuai prosedur."
"Tentu."
Sebelum Arga pergi, Wulan berkata, "Pak Arga."
Ia berhenti.
"Orang biasa biasanya lari dari pistol."
Arga menatapnya sebentar. "Orang biasa juga kadang tidak punya pilihan."
Ia berjalan meninggalkan halaman bank.
Malam itu, video berdurasi tiga puluh delapan detik naik ke media sosial.
Judulnya sederhana:
Pahlawan Bank Lumpuhkan Tiga Perampok Sendirian.
Wajah Arga tidak sepenuhnya jelas.
Tetapi jaket lamanya terlihat.
Sisi wajahnya terlihat.
Dan gerakan tangannya, yang terlalu bersih untuk disebut kebetulan, diputar ulang ribuan kali.
Di layar ponsel seseorang di Rumah Anggrek, video itu meluncur masuk ke halaman utama.
Jari Kiara berhenti di tengah layar.