Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Pioneers
"Minami, kau yakin ingin berteman dengan orang aneh itu?" Tanya Latifa ragu.
"Aneh apanya sih? dia itu pintar, justru harus kita dekati biar pintarnya nular ke kita!" Jawab Minami optimis.
"Aku ragu" Ucapnya.
Mereka berdua perlahan menuju bangku Daniel untuk berbicara dengan Daniel yang terlihat sangat dingin.
"Eh, Daniel. Pulang sekolah kamu ada urusan, Gak?" Minami memulai pembicaraan dengan canggung.
Perlahan Daniel memalingkan wajahnya dari lembaran kertas penuh rumus. ia melihat sebentar kemudian kembali memalingkan wajahnya.
"KALAU DIAJAK NGOMONG TUH NYAHUT, DASAR MANIAK PELAJARAN!" Teriak Minami yang membuat seisi kelas melirik mereka. Daniel merasa terganggun dan ia merapikan mejanya bergegas pindah mencari tempat yang lebih nyaman.
"tuh kan, dia menjauh. Udahlah, Minami. Kita hanya membuang-buang waktu saja jika bersamanya." Ucap Latifa yang meyakinkan Minami jika yang mereka lakukan hanya akan berakhir sia-sia
"Kamu terlalu cepat menyerah, Latifa!" Kata Minami dengan lantang.
"Uwah.. Dramatis sekali, Ya" Gumamnya yang didegar oleh Minami.
"Karna terlalu dramatis, Jadi ayo kita dekati dia, aku ingin mengenalnya lebih dalam" Ucap Minami yang langsung menarik tangan Latifa.
"Mina- tunggu!" Latifa yang pasrah saat ditarik Minami.
Daniel kali ini bersembunyi di belakang sekolah, Ia lebih tenang dengan suasana yang sejuk disertai angin sepoi-sepoi. ini membuat dirinya bisa sedikit lebih fokus dalam mengerjakan soal-soal tersebut.
"Aku heran, mengapa mereka mau berbicara denganku?" gumamnya
"Apakah aku terlihat keren? atau mereka hanya sekedar menjahiliku?" Daniel menatap ke langit-langit, ia menghitung burung-burung yang sedang berterbangan.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.."
"Kenapa formasinya jadi kacau? mereka terbang sesuai arah angin atau hanya terbang tanpa tujuan?" Ucapnya.
"Ah.. itu bukan urusanku. biarkan alam yang merubah mereka, aku cukup mengejakan soal-soal ini dan kembali ke kelas!" Ucapnya yang segera mengerjakan kembali soal-soal rumit tersebut.
...
Minami dan Latifa tidak bisa menemukan Daniel, ia kehilangan jejaknya.
"Ke-keh- Kemana perginya Daniel itu" Ucap Minami terengap-engap.
"Sudah kubilang, kita tidak usah mencarinya, Minami!" Latifa juga ikut kecapean.
"pokoknya kita harus menemukannya!" Tegas Minami.
"Kenapa kamu begitu mengejarnya sih, Minami?" Tanya Latifa yang terduduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah.
"Aku harus bertemu dengannya, aku ingin belajar darinya, dan aku ingin tahu dirinya lebih dalam" Ucap Minami yang membuat Latifa seketika terdiam.
Latifa tersenyum kecil dan kembali mengajak Minami untuk mengecek belakang sekolah, karena hanya di sana yang belum mereka lihat.
"Kita cari di belakang sekolah, Yuk!" Usul Latifa.
"Ide bagus, Latifa!" Minami berteriak seperti orang yang baru saja mendapatkan hadiah.
Latifa tersenyum dan mereka bergandengan tangan. mereka berlari untuk mencapai gedung belakang sekolah.
...
Daniel masih saja mengerjakan soal yang sebenarnya tidak perlu ia kerjakan. Ia terlihat seperti orang bodoh meski dia orang yang pintar.
Minami dan Latifa akhirnya bisa menemukannya, namun mereka lebih pilih diam sambil mendekatinya. karna jika mereka mengejutkan Daniel, itu sama saja mereka ingin Daniel pergi.
"Ahh.. Capek ngerjain tugas" Ucapnya yang seketika membuat Latifa dan Minami terhenti langkahnya.
"Kenapa, ya. gaada yang mau berteman sama aku"
"Memangnya apa yang kurang dari aku sih? kalau mereka mau belajar pasti aku ajarkan, mereka ingin pintar setara diriku, pasti aku bikin mereka pintar" Ucapnya kesal.
Minami perlahan mendekatinya.
"Gak ada yang kurang darimu, Daniel" Ucap Minami, seketika Daniel terkejut dan jatuh.
"Kalian ngapain ke sini..." Daniel panik karena ucapannya tadi.
"Daniel! jangan takut. kami bukan monster yang akan melahapmu! kami hanya ingin berteman denanmu!" Jelas Minami.
"Be-berteman? Kenapa? apa yang kalian lihat dariku?" Seketika Daniel kehabisan kata-kata.
"Seperti yang kamu gerutukan tadi, Kamu itu gak kurang, Menurutku kamu itu lengkap, segalanya ada pada dirimu, Daniel!" Ucap Minami.
"Aku tau kamu sangat pintar, namun kekuranganmu adalah tidak bisa berbincang dengan teman sekelasmu" Jelasnya
"Aku sudah memperhatikanmu dari kita masih kelas 1 Sd, bahkan jauh sebelum itu" Jelasnya lagi.
"Lalu mengapa kamu ingin berteman denganku? bukankah aku tidak bisa berbicara dengan siapa-siapa?" Daniel berdiri dengan amarah
"Tidak! kamu bukan tidak bisa, hanya kamu saja yang merasa jika kamu adalah orang yang spesial. padahal kamu hanya orang biasa seperti kita!" Minami mulai menatap serius Daniel.
"Aku tak pernah menganggap diriku berbeda ataupun spesial dimata orang, aku juga manusia" Jawab Daniel.
"Kamu masih gak ngerti juga, ya? kamu pinter tapi bodoh!" Ucapan Minami seketika menampar perasaan Daniel.
"Mi-Minami.. udahhh..." Lerai Latifa.
"Latifa, Kamu diam di sana saja, aku harus ngasih paham sesuatu ke bocah aneh ini" Minami mendekati Daniel hingga Daniel terpojok di ujung tembok.
"Ka-kau terlalu dekat" Daniel sedikit memerah.
Minami meletakkan kedua tanggannya ke pipi Daniel dan menamparnya.
"Dengar, Daniel. Kamu itu tidak sediri, kamu hanya mengasingkan dirimu dan menganggap semuanya tidak ingin berteman denganmu" Jelas Minami.
"Itulah alasan mengapa kamu merasa tidak berbeda dengan mereka, padahal kamu berbeda, kamu spesial" Jelasnya lagi.
"Kau bilang aku bukan spesial, sekarang kau bilang aku spesial. maumu apa, sih?" Ucap Daniel
"Dengar! aku tau rasanya sendiri, aku tau rasanya iri dengan mereka. yang kamu butuhkan adalah tempat untuk singgah, tempat untuk bercerita." Jelas Minami yang tersenyum.
Daniel terdiam sejenak, ia merasa selama ini dia lah yang menjauh dari orang lain, bukan orang lain yang menjauh darinya. Daniel paham, tapi ia tak tahu harus berbuat apa.
"Aku yang salah, Tapi apa yang harus aku lakukan? Tidak ada yang ingin berteman denganku karena aku aneh!" Ucap Daniel yang mulai lesu.
"Hei,. dihadapanmu sekarang ada 2 cewek cantik yang ingin berteman denganmu, apa kau menolaknya?" Ucap Minami yang meyakinkan Daniel jika dirinya tidak sendiran.
Daniel tersenyum kecil. "Siapa Namamu?" Tanya Minami sembari mengulurkan tangannya.
Daniel tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Minami. "Namaku Daniel. Siapa nama kalian?" Tanya Daniel.
mereka berdua tertawa dan memperkenalkan nama mereka "Aku Minami, dan dia Latifa. Semoga kita menjadi sahabat sejati, ya." Ucap Minami.
...
"Huh... andai hari itu Minami gak ketemu sama aku, Mungkin sekarang aku super duper pinter, deh" Seletuk Daniel sembari meminum Jus Matcha.
'"Hah? apa makasudmu, Kau saja yang meraih tanganku" Jawab Minami
"Kau yang duluan, aku hanya menerimanya dasar bodoh." Ucap Daniel kesal.
"ihh, udah-udah. itu pesanan kita udah dateng, yuk makan dulu deh!" Latifa berusaha menengahi pertengkaran mereka.
"Oh iya, ngomong-ngomong kita belum ngambil potret bertiga, ya" Seletuk Minami.
"Kamu benar! kalau begitu ayo kita ambil foto bersama!" Jawab Latifa.
Mereka bertiga berfoto bersama dengan berpose konyol sembari memegang makanan di tangan mereka.