NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Mentari pagi menyinari Kota Bintang dengan cahaya keemasan. Sejak fajar, jalan-jalan utama telah dipenuhi lautan manusia. Semua bergerak menuju tempat yang sama: Arena Tujuh Sekte.

Arga, Nara, dan Ling Yue berjalan bersama mengikuti arus peserta. Semakin dekat ke arena, semakin kuat aura yang mereka rasakan.

Di kiri dan kanan jalan berdiri patung tujuh pendiri sekte besar. Masing-masing memancarkan wibawa yang seolah masih hidup meski telah melewati ribuan tahun.

Guru Tian memandang patung-patung itu sambil mengangguk pelan. "Mereka memang pantas dikenang. Masing-masing pernah mengguncang zamannya."

Arga mendongak. "Suatu hari nanti... mungkinkah dirinya bisa mencapai tingkat seperti itu?" batinnya

Ia segera menggeleng. "Tidak, sekarang bahkan lulus ujian pun belum tentu" batinnya

Arena Tujuh Sekte jauh lebih megah daripada yang dibayangkan. Tribun batu mengelilingi sebuah lapangan raksasa. Di bagian utara berdiri tujuh singgasana batu yang masih kosong. Namun, semua orang tahu tak lama lagi para tetua dari Tujuh Sekte akan duduk di sana.

Ribuan peserta mulai memasuki arena sesuai nomor mereka. Arga melihat angka di lempeng kayunya: 317.

Nara di sampingnya menunjukkan nomor 318. "Kita tetap berdekatan," kata Nara sambil tersenyum.

Arga mengangguk. "Mudah-mudahan nanti kelompok kita juga sama."

Ling Yue tertawa kecil. "Kalian seperti saudara."

Nara hanya membalas dengan senyum tipis. Entah kenapa, kata saudara membuat hatinya sedikit terasa sesak.

Tak lama kemudian, seseorang berteriak dari kejauhan, "Itu dia! Pendekar Pedang Petir dari Keluarga Lei!"

Puluhan peserta spontan menoleh. Seorang pemuda berjubah ungu berjalan dengan tenang. Petir-petir kecil menari di sekitar tubuhnya. Tak seorang pun berani mendekat.

Tak lama berselang, terdengar seruan lain. "Putri Lembah Seribu Obat datang!"

Seorang gadis berjubah hijau muda melangkah anggun, diiringi aroma herbal yang lembut. Aura Qi-nya begitu stabil hingga banyak peserta menahan napas.

Kemudian muncul lagi seorang pemuda bertubuh besar membawa kapak raksasa di pundaknya. Setiap langkahnya membuat lantai batu bergetar pelan.

Arga memperhatikan mereka tanpa berkata apa-apa.

Guru Tian berbisik, "Jangan merasa rendah diri. Mereka memang dibesarkan dengan sumber daya terbaik, sedangkan kau... berjalan sejauh ini dengan usahamu sendiri."

Ucapan itu membuat hati Arga menjadi tenang.

Tiba-tiba, suasana arena mendadak sunyi.

Tujuh sosok berjubah berbeda melayang turun dari langit. Tidak ada seorang pun yang melihat kapan mereka datang, namun dalam sekejap mereka telah duduk di atas tujuh singgasana batu.

Tekanan spiritual yang luar biasa menyelimuti arena. Beberapa peserta yang lemah langsung pucat, bahkan ada yang hampir berlutut.

Arga menggertakkan gigi. Guru Tian segera membantu menahan sebagian tekanan itu. "Tenang, ini hanya ujian kecil."

Seorang tetua berjubah hitam berdiri. Rambutnya telah memutih seluruhnya, namun suaranya menggema ke seluruh arena tanpa perlu mengeraskan nada.

"Selamat datang, para calon murid. Kalian datang dari berbagai keluarga, berbagai kota, dan berbagai sekte kecil. Namun mulai hari ini, semua status itu tidak berarti lagi. Di hadapan Tujuh Sekte, yang dinilai hanyalah bakat, tekad, dan hati."

Seluruh arena menjadi hening; tak seorang pun berani mengeluarkan suara.

Tetua itu mengangkat tangan kanannya. Di tengah arena, tanah mulai bergetar. Rangkaian formasi kuno menyala satu demi satu. Cahaya keemasan membentuk sebuah gerbang raksasa setinggi puluhan meter.

Di balik gerbang itu tampak sebuah dunia yang berbeda: hutan, gunung, sungai, dan langit yang dipenuhi burung roh.

Tetua itu berkata pelan, "Ujian pertama... akan dimulai sekarang."

Semua peserta menahan napas. Namun sebelum seorang pun melangkah, seorang tetua berjubah putih tiba-tiba berdiri. Tatapannya berhenti tepat pada Arga.

Untuk sesaat, sorot matanya berubah, seolah mengenali sesuatu yang tersembunyi.

Guru Tian pun ikut menyipitkan mata. "Aneh... kenapa dia melihatmu seperti itu?"

Tatapan tetua berjubah putih hanya berlangsung sesaat. Kemudian ia kembali duduk seolah tidak terjadi apa pun.

Namun Guru Tian tidak mengalihkan pandangannya.

"Dia bukan sedang melihatmu... tetapi pedangmu."

Arga menunduk sekilas ke arah Pedang Penjaga Langit yang tersarung di pinggangnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Apakah identitas pedang itu mulai diketahui?

Guru Tian segera menenangkan. "Jangan panik. Kalau mereka benar-benar mengenal pedang itu, kau tidak akan berdiri di sini dengan tenang."

Arga mengangguk pelan. Ia memaksa dirinya kembali fokus.

Tetua berjubah hitam melangkah ke depan.

"Ujian pertama bukan untuk mencari siapa yang paling kuat. Tetapi siapa yang pantas melangkah lebih jauh."

Ia mengangkat sebuah batu kristal bening seukuran kepala manusia. Batu itu melayang ke udara. Sesaat kemudian, cahaya menyelimuti gerbang formasi.

"Di balik gerbang ini terdapat Alam Ilusi Bintang. Di dalamnya, kalian akan menghadapi berbagai rintangan. Sebagian nyata, sebagian lagi hanya ilusi. Yang gagal membedakannya akan gagal dalam ujian."

Bisik-bisik mulai terdengar di antara para peserta. Ilusi? Tak sedikit yang mulai gugup.

Tetua itu melanjutkan. "Setiap peserta akan dikirim ke lokasi yang berbeda. Jangan berharap bertemu teman kalian."

Mendengar itu, Nara tanpa sadar menoleh ke arah Arga.

Arga hanya tersenyum kecil. "Kita pasti bertemu lagi."

Nara membalas senyum itu, meski hatinya sedikit gelisah.

Tetua berjubah putih akhirnya berbicara. Suaranya tenang, tetapi terdengar jelas hingga ke sudut arena.

"Di dalam Alam Ilusi Bintang, kalian diperbolehkan bekerja sama. Tetapi, setiap keputusan memiliki konsekuensi. Terkadang menolong seseorang akan membuat kalian gagal. Terkadang meninggalkan seseorang justru menjadi jalan untuk lulus. Tak ada jawaban yang mutlak benar. Ikutilah hati kalian."

Guru Tian tersenyum tipis. "Hmmm. Mereka menguji watak, bukan sekadar bakat."

Satu per satu nomor peserta mulai dipanggil. Nomor satu. Nomor dua. Nomor tiga. Setiap peserta melangkah ke dalam gerbang cahaya dan langsung menghilang. Tak ada suara, tak ada jejak—seolah mereka ditelan dunia lain.

Tak lama kemudian...

"Nomor tiga ratus tujuh belas."

Arga menarik napas panjang.

"Ingat," kata Guru Tian. "Apa pun yang kau lihat di dalam sana, jangan langsung percaya."

Arga mengangguk. Ia menoleh ke arah Nara. "Sampai nanti."

Nara mengangkat kepalan tangannya. "Jangan kalah sebelum kita bertemu lagi."

Ling Yue juga tersenyum lembut. "Hati-hati."

Arga membalas senyum mereka, lalu melangkah menuju gerbang.

Begitu kakinya melewati cahaya keemasan, segalanya berubah.

Saat Arga membuka mata, ia berdiri sendirian di sebuah padang rumput yang luas. Langit berwarna biru cerah dan angin bertiup pelan. Tak ada peserta lain. Tak ada Guru Tian. Bahkan suara burung pun tidak terdengar.

"Senior?" Arga mencoba memanggil.

Tidak ada jawaban.

Arga langsung waspada. "Liontin..."

Ia menyentuh dadanya. Liontin itu masih ada, namun terasa dingin, seolah benar-benar menjadi benda biasa.

"Jadi... aku harus menghadapi ujian ini sendirian."

Ia mengembuskan napas perlahan. Kalau begitu, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

Baru beberapa langkah berjalan, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berlari ke arahnya.

"Kakak! Tolong! Desaku diserang binatang roh!"

Arga belum sempat menjawab. Di kejauhan terdengar suara ledakan. Asap hitam membubung ke langit. Tangisan dan jeritan mulai terdengar terbawa angin.

Arga mengepalkan tangan. Guru Tian pernah berkata agar tidak mudah percaya pada apa pun di Alam Ilusi Bintang.

Namun... kalau semua itu nyata, bisakah ia berpura-pura tidak mendengarnya?

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!