NovelToon NovelToon
Pacar Kecil Tuan Muda

Pacar Kecil Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: mul

" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .

......

Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .

" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .

" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .

" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.

" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.


next

yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Pacar kecil Sean yang polos

Ketika acara selesai, Sean berjalan merangkul pinggang Ara untuk segera pulang, tidak ingin sampai larut malam baru mengantar Ara pulang.

"Ayang, kita mampir pasar malam dulu, yuk," ajak Ara yang berjalan beriringan dengan Sean dan diikuti Bimo serta bodyguard.

"Tidak, Baby, ini sudah malam, nanti kita pulang terlalu larut," ucap Sean yang tidak ingin citranya semakin buruk di mata orang tua Ara.

"Ara pengen beli gulali," cemberut Ara.

"Bim, minta bodyguard membelikan gulali untuk Ara dulu," perintah Sean yang dengan cepat dua bodyguard pergi.

"Wahhhh, terima kasih, Ayang," senang Ara kembali berjalan memeluk lengan Sean.

"Ehhhhh." Ara langsung melepaskan pelukannya di lengan Sean begitu teringat mereka masih di jalan keluar ruang acara.

"Tidak apa-apa, Baby, peluk saja," ucap Sean yang paham sepertinya memeluk lengan Sean sudah menjadi kebiasaan bagi Ara.

"Sean!" ucap Shania berdiri di hadapan mereka hingga menghentikan langkah mereka.

"Ayang, mau pulang, ngantuk," rengek Ara, bukannya menatap wanita itu malah fokus menatap Sean.

"Iya, kita pulang," kata Sean mengelus kepala Ara dengan lembut dan kembali melanjutkan langkah tanpa menjawab sapaan Shania.

"Sean, tunggu," ucap Shania memegang sebelah tangan Sean yang berjalan melewatinya.

"Nona, lepaskan," ucap bodyguard pada Shania yang memegang sebelah tangan Sean.

"Lepasin," kata Ara langsung tantrum dan melepaskan tangan Shania dari tangan Sean.

"Begitu etika calon Nyonya Brisbane, aku hanya ingin menyampaikan hal penting yang harus Sean tahu," ucap Shania menatap Ara yang tantrum seperti anak kecil posesif saja.

"Memegang seseorang tanpa izinnya sangat tidak sopan, bahkan melanggar norma," ucap Sean dengan tatapan dinginnya pada Shania yang berani mengomentari sikap pacar kecilnya.

"Sean, aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal penting," ucap Shania.

"Katakan," ucap Sean dengan wajah datarnya meraih Ara agar kembali ke dalam dekapannya.

"Sebentar ya, Baby," kata Sean dengan lembut memeluk Ara yang berdiri di hadapannya.

"Sean, kamu tidak seharusnya terlalu memanjakan dia, hanya wanita tangguh yang layak berdiri di samping tuan besar," ucap Shania merasa sikap Sean terlalu berlebihan sampai melanggar aturan keluarga.

"Kau berdiri saja di sampingnya, nenek sihir, aku mau dipangku," kata Ara dengan begitu polos menggapai pada Sean.

Bimo dan beberapa bodyguard menahan tawa mendengar jawaban polos Ara yang sepertinya tidak paham arah pembicaraan Shania.

"Hanya bayi yang dipangku. Jika sudah dewasa harus paham situasi dan kondisi serta mengerti cara dalam bersikap," ucap Shania yang merasa jengkel melihat gadis manja itu.

"Ayang mau, kan, gendong Ara?" tanya Ara menatap Sean.

"Ara capek, Sayang. Lihatlah kaki Ara udah bengkak karena terlalu lama pakai hight heels," kata Ara mengangkat sedikit gaunnya.

"Astaga, Baby, sampai merah begini." Melihat ujung tumit Ara yang memerah, Sean langsung berjongkok dan melepaskan hight heels Ara.

"Apa sakit?" pertanyaan Sean yang memijit kaki Ara.

"Iya, yang sebelah kiri sakit," kata Ara melirik Shania yang masih shock lalu meletakkan kaki kirinya di atas paha Sean agar dipijit.

Shania masih tidak percaya Tuan Muda Brisbane yang merupakan konglomerat yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan tata krama akan berlutut memijat kaki seorang wanita.

"Sean, jika Ayah melihatmu seperti ini, dia akan marah. Laki-laki tidak seharusnya berlutut di hadapan seorang wanita," ucap Shania mengingatkan aturan yang sudah menjadi adat dalam keluarga besar mereka.

"Tante, kau hidup dari zaman apa sampai mengatakan laki-laki tidak boleh berlutut di hadapan wanita? Apa kau tidak pernah melihat seseorang menyatakan cinta?" tanya Ara dengan heran, sungguh tidak mengerti maksud Shania.

"Sean, seperti ini wanita yang akan kau jadikan nyonya besar keluarga Brisbane, bahkan tata krama yang paling dasar saja dia tidak paham," ucap Shania.

Sean berdiri lalu menatap Shania dengan tatapan menyorot. "Dengar, Shania, perihal pantas atau tidak itu bukan urusanmu dan jika Ara tidak mengerti, aku yang akan mengajarinya," ucap Sean menggendong Ara dengan sebelah tangan saja.

"Daaaa, nenek sihir kolot," cibir Ara yang digendong Sean layaknya anak kecil karena hanya sebelah tangan saja.

.....

"Tuan, ini gulalinya," ucap bodyguard begitu Sean dan Ara sudah duduk di dalam mobil.

"Kamu ingin gulali, kan? Makanlah," ucap Sean dengan seulas senyum memberikan gulali itu pada Ara.

"Terima kasih, Ayang," kata Ara dengan begitu senang, tak lupa satu kecupan di pipi Sean.

"Sama-sama," kata Sean jadi salah tingkah tiba-tiba dikecup Ara.

"Ayang mau?" tawar Ara yang sudah langsung memakan gulali itu, bahkan tidak sabar Sean selesai membukakannya.

"Tidak," ucap Sean duduk lebih mendekat agar Ara bisa makan gulali sambil bersandar padanya.

"Ayang bisa jelasin sama Ara apa maksud Tante tadi?" tanya Ara.

"Yang mana?" tanya Sean seolah lupa.

"Soal tata krama laki-laki tidak boleh berlutut di hadapan wanita, itu maksudnya apa?" tanya Ara yang selain tidak mengerti juga heran.

"Tanya Bimo," ucap Sean yang malah mengalihkan pada Bimo.

"Asisten Bimo, maksudnya apa?" tanya Ara yang penasaran.

"Dalam keluarga Brisbane ada beberapa aturan mutlak, salah satunya kedudukan laki-laki yang lebih tinggi," jelas Bimo secara ringkas dan jelas.

"Lalu?" ucap Ara mendengarkan.

"Jika seseorang berlutut, itu sering diisyaratkan sebagai tunduk. Atas dasar itulah, dalam keluarga besar Brisbane laki-laki tidak boleh berlutut di hadapan wanita. Selain itu, juga menyangkut soal harga diri," jelas Bimo secara logis.

"Mmmmh, gitu," kata Ara manggut-manggut.

"Kalau wanita boleh berlutut di hadapan laki-laki berarti?" tanya Ara setelah beberapa saat berpikir.

"Tergantung keinginan laki-laki?" jawab Bimo mencoba mengendalikan pikiran negatifnya.

"Lah, terus laki-laki ingin wanita berlutut di hadapannya untuk apa?" tanya Ara yang jadi kepikiran.

Mobil langsung masuk lubang di pinggir jalan karena sopirnya hilang fokus mendengar pertanyaan Ara.

Sean menutup mulutnya menahan tawa melihat Bimo yang kehabisan kata-kata menanggapi pertanyaan polos Ara.

"Asisten Bimo, jawab, untuk apa?" tanya Ara masih penasaran.

"Saya tidak tahu, Nona, tanya Tuan Muda," kata Bimo menyelamatkan diri.

"Ayang, untuk apa laki-laki ingin wanita berlutut di hadapannya?" tanya Ara kini menatap Sean.

"Mmmmh, untuk bersenang-senang," kata Sean dengan blak-blakan sampai Bimo batuk karena tidak menyangka Sean akan menjawab begitu.

"Emang letak senangnya di mana kalau cuma berlutut doang?" ucap Ara merasa jawaban Sean tidak ada ujungnya.

"Ya, tergantung kondisi, Baby, misalnya wanita berlutut membantu memasang tali sepatu," kata Sean dengan geleng kepala dan isi pikiran hanya dia dan Tuhan yang tahu.

"Iya juga, kayak Ayang pijit kaki Ara tadi kalau terkilir," kata Ara yang merasa jawaban Sean logis.

"Atau berlutut untuk membantu menarik resleting celana," ucap Sean dengan santainya.

"Emang resleting celana laki-laki susah dinaikkan ya, Sayang?" bingung Ara padahal itu bisa dikerjakan sendiri.

"Sering tersendat kalau macet, bisa turun sendiri," jawab Sean dengan wajah serius, sementara Bimo dan bodyguard sampai melotot dengan wajah masamnya.

Sean benar-benar keterlaluan mengatakan hal seperti itu pada pacar kecilnya yang masih polos.

1
Linda Ayu Tong-Tong
akhirnya nicholas koit jg..jahat sih🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
gaaaaass lanjut kak..iiih keren daddy nya ara..tuh kamu harus banyak belajar dri daddy ara sean...
Dewi kunti
semangat seaaaaann
Yel
sean sweet bet 😭
Dewi kunti
hadeeeeehhh cinta buta
Dewi kunti
melupakan kali yaaaa
Yel
chapter 100 pun gas ini mah 🤣
Arin
Kalau sampai Nicholas tau Ara di mana, berarti Irene yang bocorkan informasi nya
Linda Ayu Tong-Tong
waduh masa ara mau diculik
Adinda
Ara anaknya Alex sama lala ya Thor,berarti lala punya kakak cowok dua ya
Yel
nikah nikah nikah 🤭
Arin
Namanya perempuan.... biarpun Ara dari keluarga kaya. Kalau di belikan pacar pasti gak nolak lah..... apalagi kalau yang di belikan barang mahal yang limited edition🤭🤭🤭
Yel
jgn lupa acara nikah nya thor, udh 50an chap soalny 😍
Linda Ayu Tong-Tong
kpn mreka nikah thor..dah gk sabaaarrr
Linda Ayu Tong-Tong
iiih baguussss🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka ara lu ngajari camermu ngambekk🤣🤣🤣🤣🤣
Yel
ihiww double date 🤭
Linda Ayu Tong-Tong
wawawawak.....nakal sih ara🤣🤣🤣
Arin
Kalau sudah tau kebenarannya, jangan sampai Ara meninggalkan Sean lagi. Jika sampai terjadi..... Sean gila beneran
Yel
ribet amat peraturan kek keluarga kerajaan aja ya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!