NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Panen yang Bermutasi

Beberapa pekan berlalu dengan cepat setelah hari yang mengejutkan itu. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari panen raya.

Pagi itu, udara dingin masih menusuk tulang di Desa Perbatasan. Langit kelabu bergulung rendah, seolah hendak menumpahkan badai kering lainnya ke bumi yang malang.

Yang Wei berdiri di teras rumah kayu mereka yang mulai rapuh. Ia mengikat erat tali anyaman bambu pada keranjang panennya yang sudah usang. Sesekali ia meringis pelan, memijat lututnya yang pincang.

"Bagaimana lututmu, Suamiku?" tanya Bing Chan, berjalan keluar sambil membawa sepasang sabit kecil yang sudah diasah tajam sampai berkilau.

Yang Wei tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit kaku karena udara dingin ini."

Ia menatap ke arah langit yang muram dengan cemas. Khawatir membayangi pikirannya, terutama karena cuaca buruk yang menimpa desa perbatasan kemarin malam.

"Aku hanya takut," bisik Yang Wei, suaranya agak serak. "Bagaimana jika tanaman kita mendadak menyusut atau membusuk di hari-hari terakhir ini?"

Logika sederhananya sebagai petani fana selalu berbisik tentang kegagalan. Cuaca seburuk ini biasanya menghancurkan seluruh jerih payah mereka.

Bing Chan menepuk pundak suaminya dengan lembut. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita sudah merawatnya setiap hari."

Meskipun menghibur, matanya sendiri memancarkan kegelisahan yang sama. Mereka benar-benar tidak boleh gagal kali ini karena utang klan sudah sangat dekat tanggal jatuhnya.

"Tenang saja, Ayah, Ibu," sela Yang Chan yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa sebotol air hangat.

Ia menggendong keranjang anyaman yang paling besar di punggungnya. Wajahnya tampak sangat santai, seolah-olah mereka hanya akan pergi berjalan-jalan sore.

"Hari ini kita pasti membawa pulang hasil yang sangat banyak. Aku jamin itu," lanjut Yang Chan dengan senyum lebar yang menenangkan.

Yang Wei hanya bisa menghela napas pasrah melihat tingkat kepercayaan diri anaknya. "Semoga saja begitu, Nak. Semoga langit berbaik hati."

Mereka bertiga kemudian mulai melangkah, menyusuri jalan setapak tanah liat yang dingin menuju ladang keluarga Yang di ujung desa.

Kabut tipis masih menyelimuti perbatasan ladang saat mereka tiba di sana. Namun, begitu kabut itu sedikit terangkat oleh embun pagi, mata mereka langsung disuguhi pemandangan yang tidak masuk akal.

Ladang keluarga Yang tidak lagi tampak seperti lahan pertanian biasa yang gersang dan penuh debu.

Hamparan tanaman sayur di depan mereka tumbuh begitu subur hingga hampir menutupi seluruh permukaan tanah yang hitam. Daun-daunnya berwarna hijau pekat, tebal, dan berkilau seperti batu giok yang baru saja dipoles.

Tidak ada satu pun daun yang menguning atau layu karena kualitas tanah ataupun badai dingin. Semuanya berdiri kokoh, memancarkan kesegaran yang mutlak.

Yang Wei menghentikan langkahnya dengan mendadak. Keranjang di punggungnya hampir saja tergelincir jatuh ke tanah karena tubuhnya mendadak kaku.

"Ini... ini benar-benar kubis dan sawi kita?" tanya Yang Wei dengan suara bergetar, matanya menganga lebar tanpa berkedip.

Tumbuhan itu tidak hanya sekadar besar. Ukurannya hampir tiga kali lipat dari ukuran sayuran normal yang biasa mereka lihat di pasar kota terdekat.

Bing Chan bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia melangkah maju dengan perlahan, seolah takut pemandangan di depannya hanyalah ilusi optik.

Aroma segar yang sangat menenangkan tiba-tiba tercium oleh hidung mereka. Wanginya bersih, sedikit manis, mirip seperti wangi hutan pegunungan suci.

Tetesan air ajaib yang disiramkan Yang Chan diam-diam ternyata telah bekerja terlalu baik. Bahkan lebih baik dari yang diharapkan.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Yang Wei berlutut di tepi bedengan tanah. Ia menyentuh selembar daun sawi raksasa yang terasa sangat dingin, tebal, dan basah oleh embun murni di jemarinya.

"Sangat padat... dan sangat berat, mereka tidak layu, sungguh sebuah keajaiban mereka bisa bertahan," bisik Yang Wei dengan mata berkaca-kaca karena haru yang luar biasa.

Ia mencoba mencabut sebatang tanaman, dan ia harus menggunakan cukup banyak tenaga karena akarnya yang sangat kuat mencengkeram tanah spiritual yang kini sangat gembur.

Sementara suaminya sibuk mengagumi ukuran fisik sayuran tersebut, Bing Chan justru merasakan hal yang jauh berbeda.

Sebagai seorang praktisi terselubung yang menyembunyikan kekuatannya di desa terpencil ini, indra spiritualnya jauh lebih tajam dari manusia biasa di sekitarnya.

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan energi di sekitarnya mengalir menyentuh kulit wajahnya.

Ia bisa merasakan ada aliran energi spiritual murni yang bersirkulasi dengan sangat lancar di dalam serat-serat daun sayuran tersebut. Alirannya sangat bersih, tanpa ada sedikit pun kotoran atau racun dari tanah tercemar yang tersisa di sana.

'Kualitas ini... Tapi bagaimana mungkin?' batin Bing Chan, jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa kuat.

Ia menatap tanah hitam di bawah kakinya yang sekarang terasa sangat kaya akan energi bumi. Sesuatu yang sangat besar telah terjadi di ladang ini tanpa ia sadari sama sekali. Sesuatu yang melindungi ladang ini dari buruknya keadaan di wilayah ini.

"Ibu?" panggil Yang Chan, membuyarkan lamunan panjang ibunya yang tampak kebingungan itu.

"Ah... iya, Nak?" jawab Bing Chan, buru-buru menyembunyikan ekspresi terkejutnya dan kembali bersikap seperti seorang ibu rumah tangga biasa yang lugu.

"Ayo kita mulai memotongnya. Semakin cepat kita memanen, semakin cepat kita bisa menjualnya ke kota," ucap Yang Chan sambil menyerahkan sabit kecil ke tangan ibunya yang terasa sedikit dingin.

Bing Chan mengangguk pelan, mencoba menepis segala kecurigaan di dalam kepalanya untuk sementara waktu. "Benar. Mari kita mulai."

Mereka pun mulai memanen dengan cekatan di bawah langit kelabu. Setiap kali sabit memotong batang sayuran, suara renyah terdengar di udara, melepaskan aroma segar yang sangat harum.

Yang Chan berdiri beberapa langkah di belakang kedua orang tuanya, memperhatikan punggung mereka yang kini tampak sangat bersemangat memotong sayuran raksasa itu.

Ia tersenyum puas melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah ayah dan ibunya setelah sekian lama didera oleh rasa cemas yang mendalam.

Dalam benaknya, ia teringat kembali wajah congkak utusan Klan Li yang menagih utang dengan nada merendahkan tempo hari.

Mereka mengira keluarga Yang akan hancur dan terpaksa menyerahkan tanah ini karena tidak mampu membayar utang saat masa panen raya tiba.

'Sekarang lihat ini,' gumam Yang Chan dalam hati, menatap tumpukan kubis spiritual yang terus menggunung di dalam keranjang mereka.

Satu ikat sayur spiritual murni ini saja nilainya pasti berkali-kali lipat dari sayur biasa di pasar Era Pasca-Kebangkitan. Menjual beberapa keranjang saja sudah lebih dari cukup untuk melunasi seluruh utang mereka tanpa sisa sepeser pun.

Ia sangat bersyukur karena keputusannya menggunakan Mata Air Kehidupan secara rahasia dan bertahap berjalan dengan sangat mulus tanpa ada kendala yang berarti.

Ia tidak perlu memamerkan kekuatannya kepada dunia, tidak perlu terlibat pertarungan berdarah yang merepotkan jiwanya yang tenang, dan yang paling penting, identitas sistemnya tetap aman tersimpan tanpa diketahui siapa pun.

Cukup menjadi seorang pemuda desa biasa yang rajin membantu orang tuanya bertani, namun memiliki hasil panen yang bisa membuat seluruh praktisi klan kuno menangis iri jika melihatnya.

"Chan-er, kemari! Bantu Ayah mengangkat keranjang yang ini! Ini terlalu berat untuk punggung tua Ayah!" seru Yang Wei dengan nada riang yang sudah sangat lama tidak terdengar oleh telinganya.

"Baik, Ayah! Aku datang!" sahut Yang Chan dengan nada santai, berjalan mendekati ayahnya yang pincang dengan langkah yang sangat ringan dan penuh kemenangan kecil dalam hatinya.

Langkah awal untuk hidup tenang dan berumur panjang di dunia yang penuh dengan kekacauan ini baru saja dimulai dari sepetak ladang kecil yang tersembunyi ini.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!