"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8 -Retakan di Meja Makan
Sementara itu dikediaman Narendra, ruang kerja Adrian terasa begitu hening. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menyesap kopi hitam buatan Bi Sri yang terasa lebih pahit dari biasanya. Pandangannya lurus menatap keluar jendela besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta yang mulai menyala seiring senja berganti dengan malam.
Ponselnya di atas meja bergetar singkat. Ada sebuah notifikasi pesan masuk. Adrian meraihnya cepat, mengira itu adalah pesan lanjutan dari Alyssa. Namun, kilatan kekecewaan yang samar lewat di matanya saat melihat nama pengirimnya: Hanum.
"Mas, sudah pulang kerumah? Tadi, aku sama Tante Indah jalan-jalan. Maaf ya! Ku pake uang kamu," kata Hanum pada pesannya, Adrian tersenyum tipis membaca pesan tersebut.
Menyusul sebuah foto selfie Hanum yang sedang tersenyum manis memegang segelas wine, dengan latar belakang restoran Perancis yang super elegan.
Adrian hanya menatap foto itu dengan datar. Entah mengapa, senyuman Hanum yang biasanya selalu berhasil menenangkan pikirannya, kali ini terasa hambar. Pikirannya justru melayang pada rumahnya yang terasa sepi. Biasanya, jam segini Alyssa sudah sibuk di dapur, menyiapkan makan malam atau menunggunya di ruang tengah dengan senyum tulus yang selalu ia abaikan.
Adrian mengetik balasan singkat, lalu menutup chat pesan dengan Hanum.
Setelah mengirim pesan itu, Adrian melempar ponselnya kembali ke meja. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ada sebuah perasaan asing yang tiba-tiba menggelitik hatinya—sebuah rasa bersalah yang samar, sekaligus rasa kehilangan yang tidak masuk akal.
Mengapa dia harus merasa kehilangan, padahal Alyssa hanya pergi menginap di rumah ibunya? Bukankah ini yang dia inginkan selama empat tahun ini? Kebebasan dan jarak dari wanita yang tidak pernah ia cintai itu?
“Mungkin aku hanya kelelahan,” gumam Adrian mencoba menepis ego di dadanya. Namun, matanya terus melirik ke arah pintu ruang kerja, seolah berharap sosok wanita dengan dress sederhana itu tiba-tiba mengetuk pintu dan membawakannya camilan malam.
Malam itu, ego dan keraguan di hati Adrian mulai bergesekan, tanpa ia sadari bahwa takdir perlahan-lahan sedang bergeser ke arah yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Di sisi lain, Alyssa sedang sangat menikmati momen menjadi seorang anak kembali. Di rumah ini, dia tidak perlu turun tangan menyiapkan makan malam untuk keluarga besar yang tak pernah menganggapnya, juga tidak perlu repot-repot menyiapkan air hangat untuk suaminya yang dingin.
Kini, justru ibunyalah yang melayani dirinya. Makan malam berlangsung dengan sangat sederhana, hanya diisi oleh kebersamaan mereka berdua.
"Sudah lama sekali kita gak begini ya, Sya," kata Tania, setelah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Iya, Bu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri selama ini," balas Alyssa dengan senyum getir. Dunia pernikahan yang menurutnya berakhir sia-sia.
Tania mengusap lembut punggung tangan sang anak. Dengan tatapan penuh kasih, Tania berkata bahwa jika suatu saat Alyssa sudah merasa tidak sanggup lagi bertahan, dia bisa kapan saja pulang ke rumah ini. Tania akan selalu menerima Alyssa kembali dengan tangan terbuka.
Makan malam kali ini terasa sangat hangat bagi ibu dan anak yang sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama itu. Pemandangan tersebut berbanding terbalik dengan situasi di kediaman Narendra, di mana suasana tegang justru menyelimuti meja makan.
Hal itu terjadi karena Tante Indah terus saja bercerita dengan antusias mengenai momen saat dirinya pergi bersama Hanum tadi siang. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah Maya yang perlahan-lahan mulai menggelap.
"Astaga, tadi Tante juga diajak makan siang di restoran mewah loh, Ad," kata Indah bercerita dengan nada menggebu-gebu pada Adrian.
"Indah," potong Maya tegas, membuat kalimat Indah langsung terhenti dan menatap kakak iparnya itu.
"Lebih baik besok kamu pulang saja. Daripada terus-menerus berada di sini, lebih baik kamu urusi saja keluargamu sendiri di sana," ujar Maya dengan suara yang teramat dingin. Rasanya ia sudah kepalang kesal karena Indah terus saja memprovokasi dan meminta Adrian berpisah dengan Alyssa.
"Kamu mengusir aku, Mbak? Ini rumah kakak kandungku, jadi aku juga punya berhak untuk ada di sini!" balas Indah tidak terima, wajahnya memerah.
"Aku tahu ini rumah kakakmu. Tapi kamu sudah terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangga anakku!" jawab Maya menahan emosi yang membakar dadanya hingga tangannya mengepal kuat.
"Aku..."
"Cukup, Indah. Besok kamu kembali ke Jogja. Kamu sudah terlalu lama di sini, kasihan anak dan suamimu ditinggal," sela Bagas dengan nada berat yang tak terbantahkan. Pria itu menatap Maya yang juga sedang menatapnya balik. Bagas sengaja menengahi karena tidak ingin istri dan adik kandungnya terus berseteru di depan meja makan.
"Dan kamu, Adrian. Tolonglah jadi suami jangan terlalu cuek. Sekali-kali ajak Alyssa pergi jalan-jalan," ujar Bagas mengalihkan pandangannya pada anak sulungnya.
Sementara itu, Arden hanya duduk diam menyimak kegaduhan tersebut sembari mengunyah makanannya dengan santai. Mendengar ucapan sang papa, sebuah dengusan geli keluar dari hidungnya.
"Heh! Mengajak Alyssa jalan-jalan? Mimpi," bisik Arden teramat lirih, hampir menyerupai gumaman tak terdengar.
Seketika semua orang terdiam. Suasana meja makan mendadak hening seketika. Tidak ada jawaban ataupun pembelaan yang keluar dari mulut Adrian maupun Indah.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣