Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16: Kedatangan Para Penguasa
Kemeriahan di dalam Grand Ballroom Hotel Mulia mencapai puncaknya setelah pidato Rendy selesai. Bunyi denting gelas kristal dan gelak tawa para manajer yang sedang menjilat sang CEO baru memenuhi setiap sudut ruangan. Ibu Ratna dan Riko bahkan sudah ikut berbaur di dekat meja VIP, merasa bahwa derajat mereka telah naik beberapa kasta malam itu.
Namun, suasana meriah itu mendadak terhenti ketika pintu ganda kayu jati raksasa di ujung ballroom dibuka paksa dari luar. Dua baris pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam legam dan alat komunikasi di telinga mereka melangkah masuk dengan barisan yang sangat rapi. Mereka langsung membentuk barikade, mensterilkan jalur tengah ballroom.
Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah mencekam. Musik klasik yang mengalun lembut langsung dimatikan oleh operator atas perintah darurat.
"Ada apa ini? Siapa yang berani mengacaukan acara saya?!" bentak Rendy dengan wajah memerah, melangkah turun dari panggung dengan nada suara yang sangat murka. Dia merasa otoritasnya sebagai CEO sedang diinjak-injak.
Soni yang berada di dekatnya ikut panik dan langsung berteriak pada petugas keamanan hotel. "Security! Kenapa orang-orang ini bisa masuk?! Usir mereka sekarang!"
Sebelum petugas hotel sempat bergerak, seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa besar melangkah masuk ke dalam ballroom. Pria itu mengenakan jas formal dengan pin emas khusus di kerahnya—pin berbentuk lambang naga dan mahkota kerajaan, simbol mutlak dari jajaran direksi tertinggi Pratama Group pusat. Pria itu adalah Bapak Subroto, Direktur Utama Eksekutif yang mengawasi seluruh anak perusahaan Pratama Group di seluruh Indonesia.
Melihat sosok tersebut, lutut Rendy mendadak terasa lemas.
Seluruh arogansinya menguap begitu saja. Rendy buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi semanis mungkin, lalu berlari kecil mendekati pria paruh baya itu sambil membungkuk hormat.
"B-Bapak Subroto! Sungguh sebuah kehormatan yang luar biasa Anda berkenan hadir di acara gathering daerah kami," ucap Rendy dengan suara yang sedikit bergetar, mengulurkan tangannya yang mendadak berkeringat. "Jika saya tahu Anda akan datang, saya pasti sudah menyambut Anda di lobi utama sejak sore tadi, Pak."
Bapak Subroto tidak membalas jabat tangan Rendy. Dia hanya menatap Rendy dengan pandangan mata yang dingin dan menusuk, lalu melirik ke sekeliling ballroom. "Rendy Wijaya. Kedatangan saya ke sini bukan untuk menikmati pesta kemewahan yang kamu buat menggunakan uang kas perusahaan."
Rendy menelan ludah dengan susah payah, senyumnya mendadak terasa kaku. "M-maksud Bapak apa, ya? Ini adalah acara tahunan yang sudah dianggarkan—"
"Diam kamu!" potong Bapak Subroto dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat seluruh isi ballroom seketika terdiam seribu bahasa. "Saya datang ke sini bersama tim legal dan dewan komisaris pusat untuk menindaklanjuti laporan darurat mengenai pelanggaran hukum, manipulasi jabatan, dan penggelapan dana investasi sebesar lima puluh miliar rupiah yang terjadi di anak perusahaan ini!"
Mendengar angka lima puluh miliar disebut, Ibu Ratna dan
Riko yang menonton dari kejauhan langsung saling berpandangan dengan wajah pucat. Sementara Kirana merasakan jantungnya berdegup kencang, firasat buruk mulai merayapi pikirannya.
.
.
.
Wajah Rendy seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh rona darahnya di bawah sorotan lampu kristal ballroom. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja mahalnya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa orang pusat tahu soal pemindahan dana ke rekening luar negeri itu? Semua dokumennya kan sudah kubersihkan dengan rapi! teriak Rendy dalam hatinya, mulai panik setengah mati.
"P-Pak Subroto... ini pasti ada kesalahpahaman yang sengaja diembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menjatuhkan reputasi saya sebagai CEO baru," bantah Rendy dengan suara yang semakin gugup, matanya melirik ke arah Soni, memberi kode agar manajer keuangannya itu ikut membantunya membela diri.
Soni yang mengerti kode tersebut langsung melangkah maju dengan tubuh gemetar, mencoba ikut bersuara demi menyelamatkan posisinya sendiri. "B-benar, Pak Subroto.
Saya sebagai Manajer Keuangan baru di sini bisa menjamin bahwa seluruh sirkulasi kas perusahaan di bawah kepemimpinan Pak Rendy berjalan dengan sangat transparan. Jika ada tuduhan penggelapan, pelakunya pasti adalah mantan manajer sebelum saya, yaitu Aldi Pratama, yang kemarin baru saja kami turunkan jabatannya karena terbukti korupsi dua ratus juta!"
Mendengar nama Aldi Pratama disebut di depan umum, Kirana tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia melangkah maju dari barisan staf, terdorong oleh rasa bersalah yang berkecamuk. "Pak Subroto, mohon maaf... saya Kirana, istri dari Aldi Pratama. Suami saya memang dituduh melakukan kelalaian transfer dana, tapi saya yakin dia tidak akan pernah melakukan penggelapan dana sebesar lima puluh miliar itu! Tolong jangan sangkut pautkan suami saya dengan masalah besar ini!"
Ibu Ratna yang melihat tindakan nekat Kirana langsung menjerit tertahan di belakang. "Kirana! Kamu gila ya?!
Kenapa malah maju membela pria pembawa sial itu di depan orang-orang pusat?!" Riko juga berusaha menarik lengan kakaknya mundur, namun Kirana menepisnya dengan kuat.
Bapak Subroto menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu pandangannya beralih kembali pada Rendy dan Soni. Sebuah senyum sinis yang penuh arti muncul di wajah sang Direktur Utama pusat.
"Oh... jadi kalian menuduh mantan manajer keuangan kalian yang bernama Aldi Pratama sebagai pelaku kriminalnya?" tanya Bapak Subroto dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun sarat akan jebakan mematikan.
"Benar sekali, Pak! Aldi Pratama itu orangnya sangat mencurigakan, dan dia sekarang sudah kami tempatkan di gudang belakang sebagai staf logistik kasar untuk menebus kesalahannya," sahut Soni cepat, merasa di atas angin karena mengira orang pusat akan mempercayai kata-katanya.
Rendy ikut mengangguk dengan percaya diri yang mulai kembali terkumpul. "Benar, Pak. Pria seperti Aldi itu memang tidak punya kapasitas untuk berada di jajaran pimpinan. Dia hanya parasit yang memanfaatkan posisinya demi uang receh."
Bapak Subroto tidak membalas ucapan mereka. Dia justru berbalik badan, menghadap ke arah barisan pengawal jas hitamnya, lalu memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang tegas. "Panggil dan bawa kemari pria yang kalian sebut sebagai 'staf logistik kasar' itu sekarang juga."