Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sarapan di atas bara api
Matahari pagi yang terbit di ufuk timur tidak mampu menembus tebalnya kabut yang menyelimuti perkebunan sawit di sekitar mansion Reynard. Cahaya yang masuk lewat celah gorden kamar hanya berupa semburat putih pucat yang dingin.
Tepat pukul enam pagi, aku sudah terbangun. Sebenarnya, aku nyaris tidak tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku kembali mendengar bunyi pecahan kaca di gudang pelabuhan, moncong pistol Axel yang dingin di pelipisku, dan bisikan mautnya yang melarangku menyentuhnya.
Setelah mandi Aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar mandi. Di balik balutan kemeja putih sutra dan rok sepan hitam pilihan Axel yang pas di tubuhku, wajahku tampak sekuyu mayat. Lingkaran hitam di bawah mataku mempertegas ketakutan yang belum hilang.
"Ingat, Aira. Jam tujuh tepat kau harus ada di meja makan."
Pukul 06.55, dengan tangan yang meremas ujung kemejaku sendiri, aku memutar knop pintu dan melangkah keluar ke koridor Barat. Suasana mansion di pagi hari terasa sangat sepi, namun ketegangannya justru berlipat ganda. Di setiap sudut koridor, beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam dan alat di telinga, mereka berdiri tegak.
Pandangan mereka lurus ke depan, mengabaikan keberadaanku seolah aku hanyalah hantu yang lewat. Namun, aku tahu, gerakan sekecil apa pun dariku akan langsung dilaporkan pada tuan mereka.
Aku menuruni tangga melingkar dengan langkah sepelan mungkin, mencoba menahan bunyi sepatu hak rendahku agar tidak menggema.
Di ujung tangga, Pak Bara pelayan paruh baya yang kulihat semalam sudah menunggu dengan posisi membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Nona Aira. Mari, Tuan Muda Axel sudah menunggu di ruang makan," ucapnya formal.
"Selamat pagi, Pak," jawabku pelan. "Panggil Aira saja... saya bukan Nona."
Pak Bara tidak menyahut, dia hanya berbalik dan membimbingku melewati koridor panjang menuju bagian belakang mansion. Di sana, sebuah ruangan dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang yang berkabut telah disulap menjadi ruang makan yang megah. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu jati solid berkilau di bawah lampu gantung.
Dan di ujung meja itu, duduk Axel Reynard.
Dia sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan urat tangan dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya yang hitam disisir rapi ke belakang. Dia sedang membaca selembar koran bisnis sambil sesekali menyesap kopi hitam dari cangkir porselennya. Wangi kopi dan aroma tembakau mahal yang samar langsung menyengat penciumanku.
"Duduk," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari koran. Suaranya yang berat memecah keheningan pagi, membuat jantungku berdenyut kuat karena terkejut.
Pak Bara menarikkan kursi di ujung meja yang berseberangan dengan Axel jarak yang cukup jauh, mungkin terpisah oleh bentangan meja jati Aku segera duduk dan bergumam, "Terima kasih."
Begitu aku duduk, beberapa pelayan wanita datang membawakan piring-piring perak berisi sarapan. Roti panggang, telur omelet, sosis premium, dan buah-buahan segar. Semua ini terlihat seperti hidangan hotel bintang lima, namun selera makanku benar-benar menguap Lambungku terasa melilit karena cemas.
Axel menurunkan korannya perlahan. Mata hitamnya yang dingin dan kosong kini tertuju sepenuhnya padaku. Dia menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, menilai penampilanku pagi ini.
"Kau tidak menyukai makanannya?" tanyanya, sebelah alisnya terangkat melihat piringku yang sama sekali belum disentuh.
"S_suka, Tuan. Hanya saja... saya belum terlalu lapar," cicitku, tidak berani menatap matanya terlalu lama Aku memilih menunduk, memandangi jemariku yang bertumpu di paha.
"Makan, Aira. Aku tidak memelihara barang pajangan yang kurus kering dan penyakitan di rumahku," perintahnya dingin, nadanya tidak menerima penolakan. "Kau punya jadwal kuliah jam sembilan pagi ini, bukan? Sopirku akan mengantarmu pukul delapan lebih lima belas menit."
Aku tertegun batin ku berkata. "Dari mana dia tahu jadwalku? Ah, bodohnya aku. Dia adalah Axel Reynard, donatur terbesar di kampusku. Mencari jadwal kuliah seorang mahasiswa miskin tentu semudah membalikkan telapak tangan baginya."
Dengan tangan gemetar, aku mengambil garpu dan mulai memotong omelet kecil-kecil, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasanya hambar di lidahku yang kelu, tapi aku memaksanya turun melewati tenggorokan yang tertahan.
Keheningan kembali merajai ruangan Hanya ada suara denting garpuku yang sesekali membentur piring porselen. Axel sendiri kembali menyesap kopinya, mengawasiku seperti seekor predator yang sedang memantau gerak-gerik mangsanya dari kejauhan. Tatapannya pagi ini terasa berbeda dari semalam. Jika semalam tatapannya penuh dengan kekejaman yang frontal, pagi ini ada kilatan lain di matanya sesuatu yang lebih dalam, tajam, dan... penuh dendam yang tertahan. Aku tidak mengerti mengapa dia menatapku seolah-olah aku telah melakukan kesalahan besar.
"Tuan Axel..." panggilku ragu, menghentikan kegiatanku memotong sosis.
"Em."
"Ponsel... ponsel yang Anda berikan semalam," aku menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Apakah saya benar-benar boleh menggunakannya untuk menghubungi pihak panti? Saya... saya takut Ibu pengasuh mencari saya karena saya tidak pulang semalam."
Axel menaruh cangkir kopinya ke atas tatakan dengan bunyi ting yang tajam. Dia bersandar pada kursinya, melipat tangan di dada. Tato ular di lehernya tampak berkilau samar diterpa cahaya pagi dari dinding kaca.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengirimkan pesan ke pantimu lewat nomor lamamu yang sudah dihancurkan. Mengatakan bahwa kau mendapat proyek fotografi mendadak di luar kota selama beberapa minggu ke depan," jawabnya datar.
"Jadi, kau tidak perlu menghubungi mereka. Fokus saja pada kuliahmu, dan pada aturan di rumah ini."
Napas menderu pelan dari hidungku. Setidaknya mereka di panti tidak melaporkanku sebagai wanita yang telah hilang ke polisi. "Terima kasih, Tuan."
"Jangan berterima kasih padaku, Aku melakukan ini bukan karena peduli padamu atau pantimu," desisnya, tubuhnya kembali condong ke depan, memangkas jarak imajiner di antara kami. "Aku hanya tidak suka milikku diusik oleh pihak luar. Ingat posisimu."
Aku mengangguk patuh. "Saya ingat."
Axel menatapku beberapa detik lebih lama sebelum dia melirik jam tangan mewahnya. Dia berdiri dari kursinya, membuatku refleks menegakkan punggung karena tegang. Pria itu berjalan memutari meja panjang, melangkah mendekat ke arah tempat dudukku. Instingku meneriakkan tanda bahaya, menyuruhku bangkit dan menjauh, namun aku memaksa kakiku untuk tetap diam di tempat.
Aturan ketiga Jangan bergerak, jangan menyentuh.
Axel berhenti tepat di samping kursiku. Dia merunduk sedikit, tangan kanannya bertumpu pada sandaran kursiku, mengurungku dalam aromanya yang maskulin namun mengancam. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mendengar helaan napasnya yang teratur.
"Satu hal lagi, Aira Pramesti," bisiknya di dekat telingaku, suaranya rendah dan sarat akan penekanan yang membuat bulu kudukku meremang. "Di kampus nanti, bersikaplah seolah-olah kita tidak saling kenal. Jika aku melihatmu menatapku, atau mencoba mendekatiku di area kampus... hukumanmu tidak akan terjadi di mansion ini, melainkan di depan seluruh mahasiswa. Paham?"
"P_paham, Tuan Axel," jawabku dengan suara yang nyaris habis.
"Bagus." Axel menegakkan tubuhnya kembali. Dia melirik Pak Bara yang berdiri di dekat pintu masuk ruang makan. "Bara, pastikan dia masuk ke mobil sekarang. Dan pastikan pengawal menjaganya dengan ketat di kampus."
"Baik, Tuan Muda," jawab Pak Bara sigap.
Axel berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi, jubah keangkuhannya berkibar seiring langkah kakinya yang tegas. Begitu punggungnya hilang di balik pintu lorong, aku langsung membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Tanganku yang memegang garpu gemetar hebat hingga alat makan itu terlepas dan jatuh di atas meja.
Sarapan pagi ini rasanya seperti duduk di atas bara api yang siap membakar seluruh tubuhku kapan saja.
"Mari, Nona Aira. Mobil Anda sudah siap di depan," suara Pak Bara menginterupsi lamunanku.
Aku berdiri dengan kaki yang masih agak lemas, merapikan rok hitamku, dan mengambil tas kuliah baru yang sudah disiapkan di dekat pintu. Aku melangkah keluar dari mansion mewah yang dingin itu, menuju Bentley hitam yang akan membawaku kembali ke duniaku yang lama dunia kampus yang kini rasanya tidak akan pernah sama lagi. Aku tidak tahu apa yang menungguku di sana, terlebih dengan status baruku sebagai barang pajangan milik Tuan Mafia paling kejam.
kalo berkenan mmpir juga thor😉