Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Penguasa Malam
Derum mesin mobil sport bermesin V12 melaju kencang membelah jalanan kota yang sepi, melapisi heningnya malam yang diselimuti badai salju. Di dalam kabin mobil mewah berdinding kulit hitam itu, atmosfer terasa begitu menekan.
Di balik kemudi, duduk Tuan Devan—seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan rahang tegas, tatapan mata tajam bagaikan elang, dan aura dominan yang sanggup membuat siapa saja bertekuk lutut. Devan bukan sekadar pengusaha sukses di mata publik; di dunia bawah tanah, namanya adalah sebuah legenda yang ditakuti. Ia adalah pemimpin tertinggi dari sindikat mafia kelas kakap yang menguasai berbagai jaringan bisnis internasional. Devan adalah sosok pria yang dingin, rasional, dan tak pernah mengenal rasa takut ataupun kasihan. Baginya, kelemahan adalah dosa terbesar.
Malam itu, Devan sengaja mengemudikan mobilnya sendiri tanpa pengawalan ketat setelah menyelesaikan sebuah urusan bisnis yang cukup rumit. Ia menyukai kecepatan saat jalanan sepi, membiarkan derum mesin menjadi satu-satunya suara yang menemaninya.
Namun, saat mobilnya melaju tajam melewati belokan jalan yang agak gelap, lampu sorot depan kendaraannya yang terang benderang menangkap sebuah bayangan aneh yang tergeletak di tepi jalan.
Sebuah gundukan kecil yang tertutup salju tipis.
Devan mengencangkan cengkeramannya pada setir. Dengan refleks yang sangat cepat, ia menginjak pedal rem dalam-dalam. Roda-roda mobil sport itu mencicit keras, berdecit di atas permukaan es sebelum akhirnya berhenti hanya beberapa meter dari objek tersebut.
Devan mematikan mesin, namun membiarkan lampu depan tetap menyala terang. Dengan alis yang berkerut dalam dan tatapan mata penuh kewaspadaan, pria itu mendorong pintu mobil dan melangkah keluar. Sepatu kulit mewahnya menginjak tumpukan salju tebal, menimbulkan suara renyah di tengah keheningan malam.
Ia berjalan mendekati gundukan itu. Begitu jaraknya makin dekat, Devan menyadari bahwa itu bukanlah tumpukan sampah atau dahan pohon, melainkan seorang wanita yang sedang meringkuk pasrah menahan dingin.
Devan membungkukkan tubuhnya yang tinggi tegap. Dengan jemarinya yang terbiasa memegang senjata, ia membalikkan tubuh wanita itu secara perlahan.
Sesosok wajah yang sangat cantik dan halus terhampar di depan matanya. Namun, wajah itu kini pucat pasi bagaikan mayat, bibir tipisnya yang mungil berubah warna menjadi kebiruan akibat hipotermia, dan bulu matanya dipenuhi oleh kristal-kristal es tipis. Devan mendekatkan jarinya ke bawah hidung wanita itu; hembusan napasnya sangat lemah dan tipis, namun detak nadinya di leher masih bertahan secara ajaib.
Mata tajam Devan menatap dalam-dalam wajah polos Kirana yang tampak begitu rapuh dan tak berdaya di tengah cengkeraman malam yang membeku. Di dunia Devan yang keras dan penuh darah, orang yang lemah biasanya ditinggalkan untuk mati. Namun, saat menatap wajah gadis asing yang tergeletak di atas salju ini, ada sebuah getaran aneh yang belum pernah Devan rasakan sebelumnya—sebuah naluri protektif yang memicu dadanya.
"Gadis bodoh... apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" gumam Devan dengan suara beratnya yang bernada rendah.
Tanpa ragu sedikit pun, Devan merengkuh tubuh dingin Kirana ke dalam dekapan dadanya yang hangat. Ia mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah dalam posisi menggendong, menyadari betapa ringannya bobot tubuh Kirana. Devan membawa Kirana masuk ke dalam kabin mobilnya yang hangat, menyandarkannya dengan hati-hati di kursi penumpang, lalu menyalakan sistem pemanas mobil ke tingkat maksimal.
Setelah mengambil dua koper besar milik Kirana yang tergeletak di tak jauh dari sana dan memasukkannya ke dalam bagasi, Devan kembali ke kursi pengemudi. Ia menatap sejenak ke arah Kirana yang masih tak sadarkan diri, lalu menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melaju cepat membelah kegelapan malam, membawa gadis asing yang malang itu menuju mansion megah milik sang penguasa malam.
Mobil sport milik Devan membelah jalanan bersalju dengan kecepatan tinggi. Di sampingnya, Kirana terkulai lemah tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat pasi kini sedikit merona karena kehangatan sistem pemanas kabin yang bekerja maksimal, namun tubuhnya masih terus gemetar secara reflektif akibat paparan dingin yang luar biasa.
Devan sempat melirik ke arah Kirana di sela-sela fokusnya mengemudi. Di dunia bawah tanah, Devan dikenal sebagai sosok tanpa belas kasihan. Namun, di balik bayang-bayang kegelapan yang melingkupinya sebagai pemimpin mafia kelas kakap, ia juga memegang peran penting di dunia legal. Devan adalah seorang CEO karismatik dari Devan Corp, sebuah perusahaan konglomerat ternama yang menguasai berbagai sektor bisnis terkemuka. Jabatan CEO yang terhormat itu adalah topeng sempurna yang sengaja ia ciptakan untuk menyembunyikan identitas aslinya dari jangkauan hukum dan publik.
Malam ini, rencana pulangnya yang tenang terganggu oleh kehadiran seorang gadis yang berada di ambang kematian. Gadis yang kini tergeletak di sampingnya adalah sosok yang benar-benar asing dan malang.
Kirana tidak memiliki siapa-siapa di kota ini. Dua puluh lima tahun perjalanan hidupnya dihabiskan dalam pengasingan—masa kecil dan remajanya dihabiskan di dalam tembok asrama yang jauh, sedangkan masa dewasanya dihabiskan untuk menuntut ilmu di Australia. Ia tidak memiliki teman dekat tempat bersandar, apalagi keluarga yang bersedia membukakan pintu. Saat melangkah masuk ke rumah ayahnya beberapa jam lalu, Husein tidak hanya mengusirnya dan melontarkan kata-kata kejam, tetapi juga merampas seluruh fasilitas finansial yang ia pegang. Semua akses kartu ATM dan rekening atas nama Kirana telah diblokir dan diambil alih oleh ayahnya secara sepihak. Kirana benar-benar disisakan tanpa tempat untuk pulang dan tanpa sepeser uang pun di kantongnya.
Tak butuh waktu lama, kendaraan mewah Devan memasuki gerbang besi tinggi berukir megah yang terintegrasi dengan sistem keamanan tingkat tinggi. Mobil melaju menyusuri jalan setapak berkerikil menuju sebuah mansion berdiri megah di tengah rahasia malam.
Devan menghentikan mobil tepat di depan pintu utama yang menjulang tinggi. Sebelum ia sempat turun, belasan bodyguard bersetelan jas hitam rapi yang berjaga ketat di area mansion langsung berdiri sigap. Salah satu pengawal berbadan tegap menyambut dan membukakan pintu mobil untuk Devan dengan membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Devan," ucap pengawal itu dengan nada tegas penuh kepatuhan.
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu langsung melangkah mutlak ke pintu penumpang, membuka pintu, dan merengkuh tubuh Kirana yang rapuh ke dalam garapan tangannya yang kokoh. Para pengawal yang menyaksikan hal itu saling bertukar pandang terkejut; belum pernah sekalipun sang penguasa dingin membawa seorang wanita—terlebih dalam keadaan pingsan dan mengenakan pakaian biasa—ke dalam kediaman pribadinya.
"Bawa koper-koper di bagasi ini ke atas. Ikuti aku," perintah Devan dengan suara bernada rendah namun memancarkan otoritas penuh yang tak boleh dibantah.
"Baik, Tuan!" jawab pengawal itu cekatan, segera mengambil dua koper besar Kirana dari bagasi mobil.
Dengan langkah tegap dan tenang, Devan menggendong Kirana melewati lorong-lorong mansion yang megah berlantai marmer. Pilar-pilar tinggi, lampu gantung kristal yang anggun, serta karya seni berharga mahal menghiasi setiap sudut ruangan, memancarkan atmosfer kekuasaan dan kemewahan yang tak tertandingi. Devan menaiki tangga melingkar menuju lantai atas, disusul oleh pengawalnya yang membawa koper-koper di belakangnya, membawa sang gadis malang menuju tempat yang mungkin akan mengubah takdir hidupnya selamanya.