NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Tali gaun tidur tipis itu merosot lambat melewati bahu halus Andrea, menampakkan kulit indahnya yang langsung bersentuhan dengan udara malam yang dingin. Namun, dingin itu segera menguap ketika telapak tangan Bara yang kokoh dan hangat kembali mendarat di sana, mengusap kulit tubuh Andrea dengan intensitas yang membuat gadis itu melenguh pasrah.

"Kak ... Kak Bara .... " suara Andrea terdengar seperti bisikan parau yang hampir tenggelam di antara deru napas mereka. Kedua tangannya yang kini bebas bergerak, spontan naik mencengkeram bahu kekar Bara, menenggelamkan jemarinya di sana seiring dengan sensasi luar biasa yang kian membakar kesadarannya.

Rasa panas, geli, dan nikmat bercampur menjadi satu dalam tubuh Andrea.

Bara benar-benar tidak memberinya ruang untuk berpikir. Pria itu menunduk lagi, memindahkan fokusnya dari bibir ranum Andrea menuju ke leher jenjangnya yang terekspos sempurna. Ia memberikan hisapan-hisapan dalam yang menuntut, meninggalkan tanda kemerahan yang kontras di atas kulit putih gadis itu. Setiap ke cu pan Bara malam ini terasa begitu protektif, seolah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya.

"Ahhh ... Kak .... "

"Kau suka?" bisik Bara sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Andrea dan memberikan lumatan lembut di sana.

"Enghhh .... " Andrea kembali mendesah pelan, memejamkan mata erat-erat saat merasakan sapuan lidah hangat Bara di area telinganya, dan saat ciuman itu turun perlahan, tubuhnya gemetar semakin hebat.

Rasanya seperti ditarik ke puncak gairah yang sama sekali belum pernah ia rasakan sebelumnya. Padahal semua itu diberikan oleh pria yang seharusnya ia takuti, tapi nyatanya Andrea tak bisa menolak. Ia justru terbawa arus menggelora yang pria itu ciptakan.

Sementara itu, di dalam kepala Bara, surat ibunya dan rasa lapar yang membakar tubuhnya kini melebur menjadi satu obsesi yang berbahaya. Sentuhan demi sentuhan yang ia berikan pada Andrea tidak lagi sekedar bagian dari rencana balas dendam.

Ada rasa kepemilikan yang nyata di sana. Tulisan tangan ibunya yang menyebut Andrea untuk selalu di sampingnya seolah memberikan pembenaran bagi keinginannya untuk mengklaim gadis ini seutuhnya.

Tangan Bara bergerak semakin berani, merayap naik dari pinggang hingga telapak tangannya menangkup penuh bagian sensitif di dada Andrea yang hanya terhalang kain satin tipis yang hampir turun. Detak jantung Andrea yang berpacu liar terasa jelas di bawah telapak tangannya, berdegup selaras dengan debaran kencang di dada Bara sendiri.

Tubuh Andrea semakin meliuk indah saat dua benda itu dipermainkan. Bibirnya pun kian meracau.

"Kamu milikku, Andrea ... dari awal kamu memang sudah menjadi milikku," bisik Bara dengan suara rendah yang bergetar penuh gai rah di sela-sela ke cu pannya yang kian turun ke dada seiring dengan tangannya yang terus meremas kedua bulatan indah milik Andrea.

Mendengar bisikan posesif dari bibir Bara, air mata Andrea kembali menetes, namun kali ini bukan karena ketakutan. Ada rasa pasrah yang teramat sanga.

Sebuah penyerahan diri dari seorang gadis yang tak mampu menolak akan pesona pria di atasnya dan telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada semua yang terjadi saat ini.

Andrea meremas rambut hitam Bara, menarik pria itu semakin dekat, membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam ke dalam dosa yang terasa begitu nikmat.

Namun, tepat ketika gairah di antara mereka berdua mencapai titik krusial dan Bara bersiap untuk menanggalkan sisa pakaian yang menghalangi tubuh mereka, sebuah bayangan kilat di luar jendela kamar menerobos masuk melalui gorden yang bergoyang akibat angin kencang.

Pantulan cahaya itu menyinari wajah tegang Bara yang terengah-engah di atas tubuh Andrea, dan membuat Bara mendadak tertegun. Di dalam cermin meja rias yang tepat mengarah kepadanya, ia melihat dirinya sendiri. Wajahnya yang dipenuhi gairah, namun matanya memancarkan kebencian yang teramat dalam.

Bayangan perse tu bu han yang dilakukan Selina dan Ayahnya, di tengah rasa kesakitan ibunya kembali terlintas. Semua itu membuat kedua tangan Bara yang masih berada di antara tubuh Andrea, terkepal erat.

Perlahan Bara menatap wajah Andrea di bawahnya. Gadis itu tampak begitu berantakan, matanya sayu dipenuhi kabut ga i rah, bibirnya juga bengkak kemerahan, dan dadanya masih naik turun dengan napas tersengal-sengal.

Bara tahu benar, Andrea sudah terbawa oleh arus yang ia ciptakan. Ia siap menyerahkan segalanya malam ini. Namun, tiba-tiba ia khawatir kalau dirinya akan menghancurkan seseorang yang mungkin tidak seharusnya ia seret masuk ke pusaran dendamnya.

Dengan sentakan napas yang berat, Bara mendadak menarik dirinya mundur. Ia melepaskan kukungannya pada Andrea. Bara bahkan langsung berdiri tegak di samping ranjang dengan nafas yang masih naik turun.

Andrea menatapnya dengan sorot mata yang berkabut. Lagi-lagi ia menatap Bara dengan tatapan kosong dan bingung yang mendalam. Kehangatan yang membakar tubuhnya tiba-tiba hilang, meninggalkannya dalam kondisi kedinginan dan penuh tanya. "Kak ... Bara ... kenapa?"

Bara tak menjawab. Ia justru memunggungi Andrea, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lengannya terlihat. Ia sedang berusaha keras menekan gejolak panas di bagian bawah perutnya yang masih meronta-ronta menuntut adanya pelepasan, tapi yang terjadi justru ....

"Rapikan pakaianmu!" ucap Bara.

Suaranya kembali berubah, tidak lagi serak penuh gai rah, melainkan dingin dan datar. Sebuah topeng yang langsung ia pasang kembali demi menyembunyikan badai dalam batinnya.

Andrea terpaku. Perubahan drastis Bara yang selalu berhenti tepat di ambang batas membuat perasaannya seperti diaduk-aduk. Dengan tangan gemetar, ia menarik kembali tali gaun tidurnya ke atas bahu dan memeluk lututnya, menatap punggung tegap Bara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kenapa ... kenapa Kakak selalu seperti ini?" tanya Andrea dengan suara bergetar, menahan tangis yang siap pecah karena merasa ditolak sekaligus dipermainkan. "Jika Kakak membenciku karena aku anak Mama Selina, katakan saja! Jangan buat aku seperti ini, Kak ... dan tolong jangan berbuat begini lagi padaku. Aku punya perasaan."

Bara memejamkan mata sejenak mendengar rintihan pilu itu. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Andrea dengan tatapan gelap yang sulit diartikan.

"Aku tidak membencimu Andrea, tapi ada hal-hal di dunia ini yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kebencian. Dan malam ini ... kamu beruntung karena aku masih memilih untuk mengingatnya." jawab Bara pendek, suaranya terdengar misterius di keheningan kamar. Setelahnya, Bara bergegas melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi.

Klek ....

Pintu kamar tertutup rapat, meninggalkan Andrea sendirian dalam keheningan malam yang sunyi, ditemani rasa penasaran yang kini telah berubah menjadi sebuah obsesi untuk bisa menaklukkan sosok Bara Adikara.

Sementara itu, di koridor yang gelap, Bara bersandar pada dinding. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kertas usang tulisan tangan ibunya, lalu menatapnya dengan redup. Gairahnya yang belum tuntas kini sepenuhnya berganti menjadi ambisi yang dingin.

"Bara tidak akan berhenti Ma ... Bara tahu kalau Mama sebenarnya juga tahu, tapi Mama memilih diam, tapi kali ini Bara tak akan diam," desis Bara dengan senyum tipis yang mengerikan di sudut bibirnya. "Aku tidak akan menghancurkanmu Andrea ... aku akan memanfaatkanmu untuk menghancurkan mereka yang sebenarnya pantas untuk dihancurkan, tapi jika memang suatu saat nanti aku harus melakukannya, pasti akan kulakukan dan akan kuanggap kau sebagai masalalu yang tak perlu diingat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!