Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sore harinya, Anton kembali ke Penthouse Apartemen Grand Royal Residence setelah menyelesaikan urusan administrasi PT Star Technology.
Langkah kakinya terasa mantap saat dia keluar dari pintu lift lantai dua belas.
Namun, langkah Anton mendadak terhenti ketika melihat sosok wanita yang berdiri cemas di depan pintu unit apartemennya.
Wanita itu mengenakan gaun merah yang mencolok, memegang tas tangan sintetis, dan terus membolak-balik ponselnya.
Itu adalah Rina.
Wajah Rina tampak sembap dengan riasan yang sedikit luntur, memperlihatkan betapa kacaunya perasaannya setelah insiden memalukan di dealer mobil kemarin.
"Rina?" panggil Anton dengan nada suara yang sangat dingin.
Rina langsung menoleh cepat ke arah suara tersebut.
Mata Rina seketika berbinar gembira dan dia langsung berlari kecil mendekati Anton.
"Anton! Akhirnya kamu pulang juga!" seru Rina dengan nada suara yang sangat lega.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku tinggal di sini?" tanya Anton sambil menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh rasa tidak suka.
"A-aku bertanya pada teman-temanmu, Anton..." jawab Rina gugup dengan nada suara memelas.
"Aku mencari alamatmu seharian ini karena aku benar-benar menyesal," bisik Rina sambil mencoba memegang tangan Anton.
Set!
Anton menggeser tubuhnya sedikit ke samping, menghindari sentuhan tangan Rina dengan sangat mudah.
"Jangan buang waktumu di sini," tegur Anton datar.
"Aku sudah bilang kemarin, hubungan kita sudah berakhir sejak kamu membuang cincin itu dan memilih Dimas," lanjutnya tegas.
Wajah Rina mendadak pucat dan air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
"Anton, tolong maafkan aku!" tangis Rina pecah di koridor apartemen yang hening itu.
"Aku khilaf, Anton! Dimas itu pria jahat, dia cuma memanfaatkanku saja!" aku Rina meminta maaf tanpa rasa malu sedikit pun.
"Kemarin setelah kamu pergi, dia membentakku di depan umum dan memutuskan aku begitu saja!" serunya lagi dengan nafas terengah-engah.
Anton hanya mendengus geli mendengar pengakuan mantan pacarnya itu.
"Itu urusanmu dengan Dimas, bukan urusanku lagi," balas Anton tanpa ada rasa iba sedikit pun di hatinya.
"Tapi Anton, aku masih mencintaimu!" teriak Rina histeris.
"Aku tahu dulu aku salah karena meremehkanmu!"
"Tapi sekarang kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, kan?" puji Rina sambil menatap Anton dengan tatapan memohon yang sangat dalam.
"Kita bisa tinggal di penthouse mewah ini bersama-sama, seperti impian kita dulu!" tambahnya tanpa rasa malu.
Anton tersenyum sinis melihat betapa menjijikkannya sifat serakah wanita di depannya ini.
Dulu saat Anton miskin, Rina membuangnya seperti sampah di atas aspal.
Sekarang saat Anton kaya raya dan tinggal di penthouse, Rina datang berlutut memohon cinta dengannya.
"Kamu mencintaiku, atau kamu mencintai uang dan kemewahan ini, Rina?" tembak Anton dengan kalimat yang sangat menohok.
Rina terpaku di tempatnya, lidahnya mendadak terasa kaku untuk menjawab pertanyaan tajam tersebut.
Cklek!
Tiba-tiba, pintu lift lantai dua belas terbuka lebar.
Seorang wanita cantik berpenampilan anggun dengan pakaian kasual mewah melangkah keluar dari dalam lift.
Itu adalah Caca, agen pemasaran senior apartemen yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
Caca membawa sebuah berkas dokumen pelengkap fasilitas apartemen untuk Anton.
"Selamat sore, Pak Anton," sapa Caca dengan senyuman yang sangat manis dan hangat.
"Maaf mengganggu waktu Anda, saya hanya ingin menyerahkan berkas kartu akses tambahan ini," ucap Caca ramah.
Caca kemudian menoleh ke arah Rina yang sedang berdiri menangis dengan gaun merah mencoloknya.
Dahi Caca berkerut heran melihat penampilan Rina yang sangat kontras dengan lingkungan elit apartemen tersebut.
"Pak Anton, apakah wanita ini mengganggu kenyamanan Anda?" tanya Caca dengan nada khawatir dan profesional.
"Jika dia mengganggu, saya bisa langsung memanggil petugas keamanan untuk mengawalnya keluar dari gedung ini," tawarnya tegas.
Rina terbelalak kaget mendengar tawaran dari Caca.
Dia menatap Caca dari atas ke bawah, merasa sangat minder dengan kecantikan dan keanggunan alami yang dimiliki wanita tersebut.
"K-kamu siapa?!" bentak Rina pada Caca karena merasa harga dirinya terancam.
"Aku ini pacar Anton! Jangan ikut campur urusan kami!" teriak Rina berbohong di depan umum.
Anton menatap Rina dengan pandangan yang penuh dengan rasa jijik.
"Mantan," ralat Anton dengan suara keras dan jelas.
"Kamu cuma mantan yang dibuang, Rina," tegas Anton menghancurkan kebohongan Rina seketika.
Wajah Rina merah padam karena rasa malu yang amat sangat mendalam.
"Caca, tolong panggilkan keamanan sekarang juga," perintah Anton tanpa keraguan.
"Orang asing ini sangat mengganggu ketenanganku di sini," lanjut Anton dingin.
"Baik, Pak Anton, segera saya proses," jawab Caca cepat sambil menekan tombol panggilan di radio jalurnya.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, dua petugas keamanan apartemen berbadan tinggi besar tiba di lantai dua belas.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak Anton?" tanya salah satu petugas keamanan dengan sangat hormat.
"Tolong bawa wanita ini keluar dari area gedung apartemen ini," tunjuk Anton pada Rina.
"Dan pastikan dia tidak bisa masuk lagi ke kawasan ini di masa depan," tambah Anton tegas.
"Siap, Pak!" jawab kedua petugas keamanan itu serentak.
Mereka langsung memegang kedua lengan Rina dengan kuat dan menariknya mundur menuju lift.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Rina histeris sambil memukul-mukul tangan petugas keamanan.
"Anton! Jangan lakukan ini padaku, Anton!"
"Aku mencintaimu! Tolong beri aku kesempatan kedua!" jerit Rina bergema di sepanjang lorong lift.
Anton mengabaikan jeritan memelas Rina dan tidak membalikkan badannya sedikit pun hingga pintu lift tertutup rapat.
Brak!
Suara pintu lift tertutup menandakan hilangnya sosok Rina dari kehidupan Anton secara tragis dan memalukan.
Caca menghela nafas lega dan menatap Anton dengan tatapan penuh simpati.
"Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Pak Anton," ucap Caca lembut.
"Kami akan meningkatkan pengawasan di area bawah agar hal seperti ini tidak terulang lagi," janjinya dengan sopan.
Anton tersenyum hangat menatap Caca, menghargai profesionalisme wanita cantik itu.
"Tidak apa-apa, Caca, ini bukan salahmu," jawab Anton santai.
"Terima kasih atas bantuanmu hari ini," tambah Anton sambil menerima berkas dokumen dari tangan Caca.
Jari-jari mereka sempat bersentuhan sedikit saat menyerahkan berkas tersebut, membuat pipi Caca mendadak memerah halus.
"S-sama-sama, Pak Anton. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Caca sedikit malu-malu lalu berbalik menuju lift.
Anton menatap punggung Caca yang melangkah pergi, lalu tersenyum puas.
Dia membuka pintu penthouse mewahnya, melangkah masuk, dan menutup pintu rapat-rapat.
Hari ini, satu lagi benalu dari masa lalunya telah dibersihkan secara tuntas tanpa sisa.
Kini, fokus utamanya adalah membesarkan PT Star Technology dan mengumpulkan lebih banyak kekayaan untuk menjadi penguasa sejati.