Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Lama yang Kembali Muncul
Bab 9
Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai, menyentuh wajah Elena yang baru saja terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Di sampingnya, Alvaro masih terlelap pulas, tangan kecilnya mencengkeram ujung baju tidur Elena erat seolah takut kehilangan. Sedangkan di sisi lain tempat tidur, tempat Leonid biasanya berbaring, sudah kosong sejak tadi pagi.
Elena bangun perlahan, berusaha tidak membangunkan anak itu. Saat ia melangkah menuju kamar mandi, ia melihat selembar kertas kecil tergeletak di meja samping tempat tidur. Tulisan tangan yang tegas dan rapi tertulis di sana: "Aku pergi sebentar mengurus urusan kemarin. Jangan khawatir. Jangan keluar rumah dulu sampai aku kembali."
Hati Elena terasa hangat sekaligus cemas. Ia tahu Leonid sedang berusaha melindungi mereka, tapi ia juga tahu bahwa dunia tempat pria itu berada penuh bahaya yang tak terduga.
Setelah merapikan diri dan membangunkan Alvaro dengan lembut, mereka turun ke ruang makan. Pelayan menyambut mereka dengan senyum yang jauh lebih tenang dan tulus. Saat sarapan berlangsung, Elena mencoba mengajak Alvaro berbicara banyak hal—tentang warna langit, tentang burung yang terbang di luar jendela, tentang mainan apa yang paling ingin ia miliki. Untuk pertama kalinya, Alvaro berani menjawab dengan lantang, bahkan sesekali tertawa renyah tanpa rasa takut.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Saat Elena sedang membantu Alvaro mencuci tangan di wastafel, terdengar suara keributan samar dari arah ruang tamu. Suara orang berbicara dengan nada tinggi, disusul suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Jantung Elena kembali berdegup kencang. Ia segera menggendong Alvaro dan berjalan hati-hati mendekati pintu ruang tamu yang sedikit terbuka.
Di sana terlihat dua orang pria berjas hitam yang tak pernah ia lihat sebelumnya sedang berbicara dengan kepala pelayan. Wajah mereka kaku dan penuh tekanan.
"Kami mendapat perintah dari atasan untuk memeriksa seluruh dokumen dan barang-barang pribadi Nyonya Elena," ucap salah satu pria itu dingin. "Ada indikasi bahwa ada catatan transaksi mencurigakan yang melibatkan nama Nyonya."
Kepala pelayan tampak bingung namun tetap berusaha menghalangi. "Tuan Leonid belum pulang. Saya tidak berwenang mengizinkan kalian masuk ke kamar pribadi Nyonya..."
"Kami tidak butuh izinmu!" potong pria itu kasar. "Kami bertindak atas nama keamanan kelompok ini. Jika kau menghalangi, kau akan dianggap bersekongkol!"
Elena menahan napas. Ia tahu ini pasti berkaitan dengan apa yang dilakukan Elena asli bersama Rian dulu. Mungkin ada uang yang dicuri, ada dokumen yang dipalsukan, atau janji-janji yang tak terpenuhi. Dan sekarang dampaknya jatuh tepat di pundaknya.
Tanpa sadar ia melangkah maju. "Cukup."
Semua mata seketika beralih padanya. Kedua pria itu menatap Elena dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik dan penuh penghakiman.
"Aku Nyonya Elena," ucapnya tegas, berusaha menahan getaran suaranya sambil tetap memeluk Alvaro yang mulai ketakutan. "Kalian boleh memeriksa apa saja yang perlu diperiksa. Tapi kalian tidak boleh bersikap kasar pada pelayanku, dan kalian tidak boleh membuat anakku takut."
Pria pertama menyeringai sinis. "Wah, tuan putri yang angkuh akhirnya muncul juga. Dengar baik-baik, Nyonya. Banyak hal yang kau sembunyikan dari Tuan Leonid. Dan kami akan memastikan semuanya terungkap bersih-bersih. Termasuk kemana saja kau menghabiskan uang yang seharusnya menjadi milik kelompok."
"Aku tidak mengambil apa pun untuk kepentinganku sendiri," jawab Elena mantap, meski dalam hati ia tahu ia tak bisa membuktikannya. "Dan apa pun yang terjadi, Tuan Leonidlah yang berhak memutuskan semuanya. Bukan kalian."
"Kau berani mengajari kami cara bekerja?" bentak pria itu maju selangkah.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, terdengar suara derap langkah kaki berat yang mendekat. Suara yang membuat semua orang seketika terdiam seribu bahasa.
Leonid berdiri di ambang pintu. Wajahnya hitam pekat, matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Udara di ruangan itu seketika terasa menekan dada siapa saja yang ada di sana.
"Siapa yang memberimu izin berbicara begitu pada istriku?" suaranya rendah, namun setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris napas.
Kedua pria itu seketika pucat pasi. Mereka mundur terhuyung-huyung, menunduk dalam-dalam. "Maaf, Tuan... kami hanya menjalankan tugas memeriksa laporan yang masuk..."
"Aku yang memegang kendali di sini," potong Leonid dingin. "Dan kau berani datang ke rumahku, mengancam istriku, dan menakuti anakku? Kau lupa pada siapa kau bekerja?"
"Kami... kami tidak bermaksud begitu, Tuan..."
"Keluar. Sekarang. Dan sampaikan pada siapa pun yang mengutus kalian... jika ada yang ingin menuduh istriku, biarkan mereka menghadapiku langsung. Jika ada bukti, bawalah padaku. Tapi jangan pernah injak kaki kalian ke rumah ini lagi tanpa izinku."
Pria-pria itu tak berani menatap lagi. Mereka segera mundur dengan tergesa-gesa, menghilang begitu saja seolah dikejar setan.
Setelah suasana kembali hening, Leonid berbalik menatap Elena dan Alvaro. Amarah di wajahnya perlahan mereda berganti rasa khawatir yang mendalam. Ia segera melangkah mendekat, menyentuh pipi Elena dengan lembut.
"Kau baik-baik saja? Dia tidak menyakitimu?"
Elena menggeleng pelan, air mata hampir menetes bukan karena takut, tapi karena rasa haru melihat pria itu membela dirinya sekuat tenaga. "Kami tidak apa-apa. Terima kasih, Leonid."
Leonid menatapnya lama, lalu mengalihkan pandangan pada Alvaro yang kini berani memeluk lehernya. "Mulai sekarang, jangan hadapi siapa pun sendirian. Tak peduli seberapa kecil masalahnya. Panggil aku. Atau panggil pengawal. Kau istriku. Kau tidak perlu berdebat dengan orang rendahan seperti itu."
Siang itu, setelah memastikan mereka aman, Leonid duduk bersama Elena di ruang kerja pribadinya. Ia meletakkan selembar berkas di meja.
"Ini catatan-catatan lama," ucapnya pelan. "Ada transaksi aneh, ada surat-surat yang ditandatangani atas namaku tanpa sepengetahuanku. Rian memang tidak bekerja sendirian. Dan kau... kau dulu terlibat di dalamnya."
Elena menunduk dalam. "Aku tahu. Dan aku siap menerima segala konsekuensinya."
Leonid menarik tangannya, lalu menatap lurus ke manik mata Elena. "Dengar aku baik-baik. Masa lalu itu sudah terjadi. Tapi sekarang kau milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan kesalahan masa lalumu untuk melukaimu atau anakku. Kita akan membereskannya bersama. Kau tidak perlu membawa beban itu sendirian lagi."
Kalimat itu terasa seperti penenang yang paling ampuh bagi hati Elena yang selama ini gelisah. Meski banyak rahasia yang masih ia simpan, meski identitas aslinya masih terbungkus rapat, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar diterima—bukan sebagai Elena yang dulu, tapi sebagai wanita yang sedang berusaha menjadi lebih baik.
Namun di sudut hati Leonid, masih ada tanda tanya yang tak kunjung terjawab. Perubahan Elena terlalu sempurna, terlalu tulus, dan terlalu jauh berbeda dari wanita yang ia kenal selama bertahun-tahun. Ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang belum terungkap. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menemukan jawabannya—entah berapa lama waktu yang dibutuhkannya.
Bersambung...