NovelToon NovelToon
Dari Menantu Menjadi Istri

Dari Menantu Menjadi Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.

Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.

Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teguran dimeja Makan

"Mas Raka," panggil Luna. "Mas ngapain?" tanya Luna saat melihat Raka membopong seprei beserta bedcover keluar dari kamar.

Raka yang terkejut lantas menoleh. Jantungnya berdegup kencang, melihat Luna sudah berada di dekatnya.

Alih-alih menjawab, Raka justru melamun.

"Mas, aku bertanya loh. Kenapa malah diam?" tanya Luna dengan suaranya yang lembut.

"Itu … aku mau pergi ke laundry," jawab Raka sedikit tergagap membuat kening Luna langsung mengernyit curiga

"Laundry?" ulang Luna.

Raka mengangguk cepat. "Sepreinya kotor jadi aku mau bawa ke laundry."

"Kotor?" Kening Luna kembali mengernyit. "Sepreinya kemarin baru aku ganti loh."

GLEK

Raka menelan ludah sebelum menjawab. "Sebenarnya aku gak sengaja numpahin air minum dan makanan tadi."

"Oh, kalau begitu aku saja yang antar. Kamu katanya capek. Istirahat saja." Luna berusaha mengambil seprei dari tangan Raka.

Namun dengan sigap Raka menariknya menjauh.

"Gak usah. Aku saja," cegahnya cepat. Nada suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.

"Gak apa-apa, Mas? Aku saja." Luna masih berusaha membujuk Raka untuk menyerahkan barang-barang itu.

Raka menggeleng cepat. "Sebaiknya kamu masak saja. Mungkin sebentar lagi papa akan pulang."

Pada akhirnya Luna mengalah. Ia menghela napas sebelum melanjutkan. "Baiklah, aku ke dapur dulu," ucap Luna meskipun masih menyimpan rasa heran.

Detik berikutnya, Luna mulai melangkah jauh, kembali ke dapur untuk membantu menyiapkan makanan.

"Huff, nyaris saja."

Begitu Luna menghilang dari pandangan, Raka menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa sedikit lebih lega.

Raka lalu melirik waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. "Sudah sore rupanya,"

Tanpa membuang waktu, ia segera berjalan cepat sambil membawa seprei. Raka memeluk erat seprei itu, seperti menyimpan rahasia besar dalam hidupnya dan tidak ingin diketahui oleh siapa pun.

Sementara itu, Luna bersikeras untuk membantu menyiapkan makan malam. Kali ini sang pelayan tidak bisa mencegahnya, karena wanita itu bersikeras untuk turun tangan sendiri.

Pada akhinya makan malam selesai disiapkan dalam waktu satu jam lebih. Luna melepas apron yang dikenakannya dan menggantungnya di tempat semula lantas membawa satu persatu hidangan ke meja makan dan menatanya dengan begitu rapi. Sementara sang pelayan membersihkan dapur.

Aroma masakan hangat segera memenuhi ruangan. Pada saat yang bersamaan, Bara pun datang. Senyum tipis tergambar jelas di wajahnya yang dingin.

"Papa sudah pulang?" tanya Luna.

"Aroma makanan ini tercium dari luar, membuatku lapar," ucap Bara.

Ucapan Bara membuat Luna tersenyum tipis.

"Kalau begitu ayo kita makan bersama. Aku masak spesial untuk merayakan sesuatu," ucap Luna.

"Ada perayaan?" tanya Bara.

Luna mengangguk antusias. "Kata mas Raka, keuangannya sudah membaik."

Bara manggut-manggut. "Itu kabar bagus."

"Kalau begitu, Papa tunggu di sini. Aku akan memanggil mas Raka. Setelah itu kita makan malam bersama," ucap Luna.

"Hmmm." Bara bergumam untuk merespon ucapan Luna.

Tidak lama kemudian Luna datang bersama Raka. Mereka berjalan berdampingan dengan tangan Luna melingkar di lengan Raka. Keduanya nampak bahagia, seolah tak pernah terjadi masalah.

"Malam, Pa," sapa Raka.

"Malam," balas Bara singkat.

"Ayo Mas kita duduk. Cobain masakan aku dan Bibi," ajak Luna dengan senyum hangat.

Semuanya mengangguk, Luna dan Raka mengambil posisi duduk saling berseberangan. Ketiga duduk mengelilingi meja makan yang lebarnya tidak seberapa.

Luna mulai menghidangkan makanan. Ia lebih dulu mengambil piring Bara, mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk juga sayur. Luna juga melakukan hal yang sama pada Raka.

"Silahkan, Pa, Mas," ucap Luna ramah.

"Berikan piringmu," ucap Bara tiba-tiba.

Luna menoleh begitu juga dengan Raka. "Untuk apa, Pa?"

"Aku akan menyajikan makanan untukmu," jawab Bara.

"Tidak usah, Pa. Aku akan menyajikannya sendiri," tolak Luna cepat.

Namun Bara sudah lebih dulu mengambil piring Luna tanpa menunggu persetujuannya. Dengan tenang ia mengisi piring itu dengan nasi dan beberapa lauk.

"Pa, itu tidak perlu." Luna merasa sungkan diperlukan seperti itu oleh ayah mertuanya. Padahal ia tak tahu jika Raka tak pernah sekali pun melakukan hal itu.

"Kenapa mamangnya? Kamu sudah menyajikan makanan untukku lalu kenapa aku tidak boleh melakukannya," ucap Bara.

"Itu sudah tugasnya melayani kita," ucap Raka.

Bara langsung menoleh ke arah Raka.

"Tugasku juga untuk membalas kebaikannya," balas Bara. Tatapannya berubah tajam. "Atau … jangan-jangan kamu tidak pernah melakukan itu?"

Raka terdiam beberapa detik.

"Pa, itu karena aku sudah lelah bekerja," ucap Raka. "Lagi pula ini hanya masalah kecil. Luna juga gak merasa keberatan."

"I-iya, Pa. Tidak apa-apa," imbuh Luna cepat, berusaha meredakan suasana yang semakin memanas.

Bara menggeleng pelan lantas tatapannya ia arahkan kepada Raka. Dingin dan menusuk.

"Kamu pikir istrimu juga tidak lelah melakukan pekerjaan rumah sendiri?" ucap Bara sarkas. "Kamu jangan egois, Raka. Bukan hanya laki-laki yang lelah mencari uang, tetapi istri juga pasti lelah mengurus rumah tangga yang serba kekurangan."

Ucapan itu membuat Raka membisu. Rahangnya pun mengeras. Ia sadar ucapan ayahnya tidak sepenuhnya salah. Dalam diam, jemarinya menggenggam sendok begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Harga dirinya terasa ditampar, membuatnya kesal dan juga malu.

"Pa, tidak apa-apa. Lebih baik kita makan saja. Nanti keburu makanannya dingin," sela Luna sambil tersenyum canggung, mencoba mencairkan suasana yang mulai menegang.

Ketiganya terdiam. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu, menciptakan suasana sunyi yang semakin mencekam.

Luna diam-diam melirik dua laki-laki yang ada di hadapannya. Bara tetap makan dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumya. Sikap ayah mertuanya berbanding terbalik dengan Raka. Sang suami terlihat kaku. Wajahnya nampak datar, tetapi terlihat masih menyimpan kekesalan.

Beberapa menit kemudian, Bara meletakkan sendoknya. Ia meneguk air putih lantas mengeringkan bibirnya dengan tisu.

"Aku sudah selesai makan," ucap Bara. Ia lalu menoleh ke arah Luna. "Terima kasih untuk makanannya. Sangat enak."

"Sama-sama, Pa," balas Luna. "Aku senang jika Papa puas dengan makananku."

Bara mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan kursi dengan lantai. Ia berdiri, lalu memasukan kedua tangannya di saku celana. Wajahnya datar dan juga dingin membuat kewibawaannya semakin terpancar.

"Selesai makan kalian temui aku di ruangan tengah. Ada yang mau aku bicarakan."

"Baik, Pa," ucap Raka dan Luna nyaris bersamaan.

Tanpa bicara apa pun lagi, Bara pergi dari ruangan makan. Sementara Luna dan Raka saling memandang sejenak. Keduanya sama-sama bertanya-tanya mengenai pembicaraan yang akan disampaikan oleh Bara, meskipun tak satu pun dari mereka mengutarakannya.

1
partini
good story
partini
melihat seperti itu masa luna ga ngehh kalau mereka ada something
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
MamDeyh: Luna Luna masih aja bodoh dan naif..
total 1 replies
partini
paling lihat di hotel atau temen ehem lainnya,,ada drama live streaming ga Thor secara ini alur cerita kan hote hote
ig: Marica_Author: gak lah, gerah sendiri ntar🤭
total 1 replies
say't
aq jd luna raka bisa bersenang2 dngn jalangx aq jg bs brsenang2 dngn ayahx raka.hayo mana yg lbh sakit hati nantix hayo 🤣
say't
pst smbil mmbayangkan luna nih 🤣
say't
wow 😍 bara yg sll mmbuat bara dihati luna 🤣 kalo aq jd luna aq lngsung cerai n sm barax ja 🤭 persetan dngn omongan netizen yg penting aq dpt yg lbh matang mahal dari anak tirix
say't: butul butul butul
total 3 replies
partini
papah mertuahhhh ga ada flashback ini Thor ,,pasti ada something kan
ig: Marica_Author: ada dong
total 1 replies
MamDeyh
Nah bagus Luna udah mulai pinter
partini
mau di permalukan Ampe darah" toh serem juga si gundik ini
OMG kalau terjadi she so dammm sad man
MamDeyh
Jgn kelamaan bodoh nya ya Luna.. Emak online gregetan
MamDeyh
Wadidawwwww
partini
jadi ini karya nada Thor ,,aku baca kaya gini ceritanya tapi udah di hapus udah pulang si Luna ke rumah nanti Raka pulang juga ada lingerie warna merah nanti di kasih ke Luna padahal bekas
ig: Marica_Author: Terima kasih sudah mampir Kak😍
total 6 replies
MamDeyh
Up lagi kak
MamDeyh
Wahhh Luna kamu melihat adegan 21+++ yaaaa/Tongue/
MamDeyh
Lanjuuut Kakkk
MamDeyh
Wahduuuuh siapa yg nyolong itu 🤔
ig: Marica_Author: siapa ya🤔
total 1 replies
Indriani Kartini
cepet atuh ketauan kesel bngt, Luna juga knpa ga ada rasa curiga bngt, dah dua taun juga rumahntangga
MamDeyh
Pleaseee kak jgn kelamaan bikin Luna teraniaya
ig: Marica_Author: Sabar ya kak🤭🤭🤭🤭. Aku pun tak sabar up bab baru lagi. Tak tamatin dulu yang satu itu.
total 1 replies
MamDeyh
Naaaahhh/Panic/
MamDeyh
Luna jgn klemar klemer kek jd istri😒
MamDeyh: Aku setiaaaa menunggu kakaaa
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!